Geng Motor And School

Geng Motor And School
Pertengkaran sepupu



"Mana punya gue Neha" Pekik kesal Nana yang seperti sedang mencari sesuatu. Neha menatap malas pada Kakak sepupunya. Ya, mereka berdua adalah sepupu dari sebelah pihak ibu. Nana setiap hari datang kerumahnya hanya sekedar untuk bermain sama cewek itu. Tetapi kenyataannya Nana datang kerumah neha bukannya bermain atau cari hiburan. Yang ada bikin emosi.


"Gue gak tahu" Balas Neha ketus. Dirinya mana tahu dimana tas kakak sepupunya itu taruk. Padahal Nana sendiri taruk tasnya dimana tapi cewek itu sendiri lupa menaruk tas di mana.


Nana mencebik kesal, mendengar balasan perkataan Neha. Dan adik sepupunya itu juga seperti tidak ada niat ingin membantunya. Seharusnya sebagai sepupuan itu juga harus membantunya bila kesusahan. Bukan cuman saudara doang tapi sepupu juga harus begitu. Neha sendiri hanya rebahan di kasur sambil memainkan ponselnya. Tanpa ada niat membantu kakak sepupunya itu


"Lo gak ada niat bantuin, cariin tas gue gak sih Neha" Ucap Nana sambil mengacak rambutnya frustasi.


"Enggak" Balasnya acuh tak acuh. Buat apa dia bantu orang yang telah bikin dirinya malu. Neha masih ingat sekali di dalam kepala dimana Nana me-makeup dirinya seperti badut. Membuat cewek itu malu setengah mati dilihat oleh teman karibnya, yang wajahnya yang telah di makeup seperti badut. Dan lebih malunya lagi wajahnya di lihat oleh Andi, Dino dan Alvares. Duh, malunya gak ngotak di lihat oleh cowok most wanted bernama, Alvares.


Nana mendengar balasan perkataan Neha. Mendengarnya menjadi mengeram kesal terhadap adik sepupunya itu. "Awas aja Lo kalau susah gak gue bakal bantuin" Ancam Nana masih tetap mencari tasnya itu.Neha tidak menggubris dengan ancaman sepupunya ia hanya asik sibuk dengan ponselnya.


Beberapa selang detik tasnya pun, akhirnya di temukan di kolong kasur. Ia mengeryitkan dahinya bingung. Perasaan dia tidak pernah menaruk tasnya di kolong kasur. Dan otaknya pun terpikir siapa penyebab ini semua.


Neha berusaha menahan tawanya melihat kakak sepupunya sudah menemukan tasnya di kolong kasur. Siapa penyebab kenapa tasnya bisa di kolong kasur, orangnya adalah.


"Neha..." Suaranya begitu menggema satu kamar. Membuat Neha meringis mendengar teriakkan tersebut.


...***...


"Kayaknya Lo cocok sama Neha deh, Vin" Ucap Dino dan di tanggapi anggukan setuju dari Andi. Gilang mendengar perkataan mereka. Bahwa vino cocok sama Neha. Cowok itu bersikeras menolaknya jika vino harus jadian sama neha. Dia tidak suka Vino jadian sama neha. Gilang lebih suka Paketu-nya itu jadian sama Nana. Cewek yang satu sekolah dan satu kelas sama Vino dan gilang.


"Gue gak terima pak bos harus jadian sama Neha. Dia lebih cocok sama Nana" Seru gilang bahwa dirinya ingin vino itu jadian sama Nana bukan sama Neha.


Andi dan Dino menatap Gilang dengan penuh tanda tanya. "Siapa Nana?" Tanyak kompak Andi dan Dino kepo. Membuat Gilang kedua ujung bibir cowok itu terangkat. Dia membayangkan betapa cantiknya seorang Nagifa.


"Lo belum tau kan! dan belum juga kenal kan sama Nana." Mereka berdua langsung mengeleng kepalanya. Membuat senyuman Gilang makin lebar.


"Nana itu cewek primadona di sekolah kami. Cewek itu telah membuat Vino jatuh hati." Mengatakan seperti itu Gilang, dia di tatap oleh Vino dengan tatapan tajam. Seolah di tidak suka dengan perkataan Gilang.


Gilang melihat tatapan tajam dari Vino. Ia menelan saliva nya kasar melihat tatapan yang mematikan itu." Enggak maksudnya vino itu cocok sama Nana anak sekolah kami. Orangnya cantik cocok sama Paketu kita" Seru Gilang seraya berusaha untuk tenang walaupun kenyataannya gugup.


Vino mengehela nafas panjang. Mendengar celotehan anggotanya. Kenapa harus mereka yang sibuk dengan siapa yang akan menjadi kekasihnya. Padahal mereka juga belum memiliki kekasih. Tapi tetap saja mereka sibuk dengan kisah percintaannya. Walaupun kenyataannya dia tidak bakal tertarik dengan namanya cewek apalagi memiliki kekasih.


"Ngapain kalian yang ngatur sama siapa gue harus pacaran. Seharusnya yang kalian atur itu dan cari kekasih itu Alvares bukan gue." Cowok tampan yang tak tersentuh itu menatap heran pada Vino. Kenapa dia yang jadi kenak. Kan sedari tadi dia hanya diam saja kenapa harus dirinya yang ikut di perlibatkan.


"Gue udah punya kekasih." Ucapnya dingin dan menusuk itu membuat tempat mereka berada di markas itu menjadi hening.