
Alvares terjatuh akibat dorongan Arif. Semua orang kaget, melihat cara main mereka yang begitu kasar. Arif tersenyum seringai melihat Alvares yang sedang duduk kesakitan. Rasa sakit di punggung itu mulai terasa. Baru saja luka itu kering. Sekarang luka itu mulai terasa perih kembali.
"Alvares." Andi dan Dino datang menghampiri cowok itu.
Andi yang gak terima teman nya didorong. Ia membalik mendorong tubuh Arif.
"Maksud loh apa hah. Dorong tubuh teman gue." Ucap kesal Andi seraya mendorong Arif. Yang kini sudah berada di tempat Alvares. Menatap penuh emosi Kepada Arif.
"Udah Andi gue gpp. Lebih baik kalian atur formasi" Ucap Alvares seperti menahan sakit di belakang punggungnya.
"Lemah." Ucap Arif dengan nada merendahkan.
Buk
Bogeman mentah mendarat di rahang Arif. "Sialan." Ia memegang rahang yang terasa nyeri akibat pukulan tersebut. Cowok itu pun ingin membalas pukulan dari Andi. Namun wasit sudah datang tempat mereka berada dan melerai pertikaian tersebut.
"Kamu saya keluarkan dari lapangan." Ucap wasit kepada Arif. Dengan muka kesal Arif keluar dari lapangan. Sedangkan Alvares sudah di bawa ketempat t
ruang perawatan.
"Dasar curang uuuu.." Teriakan di atas Tribune untuk Arif cukup memekakkan telinga. Sampai Arif menunduk kebawah karena malu. Apa yang telah ia lakukan.
Mereka semua pun mengatur kembali formasi. Jump ball pun di lakukan oleh wasit. Dengan cepat nya Ryan mengambil bola basket tersebut. Permainan begitu sengit pun dimulai. Poin demi poin mereka kejar.
Poin pun diraih tertinggi oleh regu SMA harapan. Tapi tidak membuat regu sekolah SMA school teladan nyerah, untuk meraih poin tersebut.
Kini Jefri anak tim basket SMA harapan. Di kepung oleh regu SMA school teladan. Cowok tu pun nampak bingung harus gimana. Ia melihat ada Ryan yang berada di sampingnya. Cowok tu pun segera melempar bola basket ke atau Ryan.
"Ryan tangkap bolanya." Pekik Jefri. Ntah kenapa bola itu tidak di tangkap oleh Ryan. Cowok itu dari tadi asik melamun menatap kepergian Keisha menuju tempat ruang perawatan. Jika ada kecenderaan saat bermain ruang tersebut di bawa.
Dino yang berada di situ segera mengambil bola basket tersebut. Dengan gaya lay up cowok itu memasukkan bola basket itu ke Ring. Teriakkan heboh di atas Tribune kembali terdengar.
"Yeaaayy." Pekik Dina senang melihat bola basket itu masuk ke ring. Neha menatap sebelah nya dan merasa ada kekurangan sesuatu.
"Dina, Keisha mana." Tanyak neha yang melihat disampingnya tidak ada Keisha. Padahal sebelumnya cewek itu ada tapi. Sekarang gadis itu sudah menghilang ntah Kemana.
Dina pun melihat kesamping Neha. "Yah juga ya. Kemana anak tu". Balasnya. Dan mengeryitkan dahinya bingung.
"Ryan. Lo kenapa gak nangkap bolanya tadi." Ujar Jefri. Berada di hadapan cowok itu.
"Maaf-maaf. Tadi gue kurang fokus" Balas Ryan.
"Yaudah lain kali jangan gitu." Ucap Jefri seraya menepuk pundak Ryan dengan pelan. Cowok itu mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
Di tempat lain. Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Dan menampilkan seorang gadis yang cantik. Dan juga seorang gadis itu telah membuat nya tertarik pada dirinya.
Alvares bukan nya menjawab pertanyaan Keisha. Melainkan melontarkan kembali pertanyaan kepada Keisha. "Gimana pertandingan nya."
"Gimana sih ni cowok lagi sakit. Masih aja pikirin pertandingan basket itu. Ntah apa yang hebat tentang pertandingan basket tersebut" Batin Keisha. Bagi Keisha pertandingan basket itu hal membosankan. Dan tidak mengasih pengaruh apa apa. Padahal jika pertandingan basket itu menang dapat mengharumkan nama sekolah.
"Dah menang." Balas malas Keisha. Membuat Alvares bukannya senang mendengar kan. Bahwa pertandingan basket nya sudah menang. Malah menatap Keisha dengan penuh tanda tanya.
"Serius." Tanyak datar Alvares dengan penuh selidik. Keisha menatap cowok itu. Dengan menaikkan alisnya sebelah.
"Sejuta rius." Balas jutek Keisha. Cowok itu pun segera bangkit dari brangkar. Melihat cowok itu bangkit dari brangkar. Dengan segera Keisha mencekal lengan Alvares.
"Mau kemana lu." Tanyak Keisha heran. Apalagi cowok itu aja baru mengalami cendera.
"Mau bertanding basket." Balas datar Alvares. Dan melepaskan cekalan tangan Keisha.
"Hah. Bertanding basket. Gila lu ya, pertandingan basket sudah berakhir. Yang menang SMA kita" Bohong Keisha. Padahal permainan masih saja berlangsung.
Alvares bukan tipe orang yang mudah di bodohin. Ia tau kalau cewek sedang membohongi dirinya."Lu bohong ya." Tanyak Alvares seraya menatap wajah Keisha begitu dekat.
Melihat Alvares wajahnya begitu dengan nya. Membuat Keisha jadi gegelapan. Dan mendorong bahu cowok itu. Agar menjauh dari nya.
"Gue gak bohong." Balas singkat Keisha seraya menaruk beberapa helaian rambut di belakang kupingnya.
Alvares tersenyum miring melihat Keisha yang masih tetap saja membohongi nya."Gue anak basket Kei. Jadi jangan bohongi gue. Karena aku tau kapan jam berapa pertandingan itu berakhir." Ujar Alvares. Merasa cowok itu mengetahui kalau dirinya sedang berbohong padanya. Keisha memutar bola matanya jengah.
"Kalau gue bohong kenapa. Ada masalah, gue tu khawatir sama lu Alvares." Ucap Keisha dengan tulus.
"Khawatir karena apa. Karena suka." Perkataan yang keluar mulut dari Alvares. Nyaris membuat jantung Keisha loncat keluar.
"Bukan suka. Melainkan rasa tanggung jawab. Karena lu dah nolongin gue." Balas Keisha. Setelah menetralkan detak jantung nya.
Alvares menghela nafas panjang. Dan ingin melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun tetap di cekal oleh Keisha. Cowok itu kebelakang menatap tangannya di cekal oleh Keisha. Bahkan menatap Keisha dengan raut wajah bingung.
"Lebih baik Lo istirahat. Percuma bertanding basket lagi. Soalnya SMA kita sudah tertinggal jauh pointnya. Pastinya SMA kita bakal kalah" Ujar keisha enteng. Bahwa percuma cowok itu ikut bertanding basket kembali. Karena poin SMA harapan dan SMA school teladan. Sudah terpaut jauh pastinya bakal tidak ada waktu lagi mengejarnya.
Alvares pun segera melepaskan cekalan tangannya. Cowok itu pun memajukan kan langkah kakinya. Sampai Keisha refleks mundur beberapa langkah. Bahkan sekarang kini tidak ada ruang lagi untuk mundur. Karena belakang nya ada tembok."
"Kalau gue menang. Gue gak mau tau kita harus pacaran."
*****
Sorak penuh kemenangan begitu terdengar di seluruh di lapangan untuk SMA school teladan. Alvares dengan gaya cool menaikin panggung untuk mengambil trofi piala basket. Permainan basket kini di menangkan oleh SMA school teladan. Walaupun mereka tadi sempat tertinggal jauh pointnya. Tidak membuat mereka patah semangat. Dengan hebatnya Alvares dapat mengimbangi poin tersebut dan berhasil memenangkan nya.
Para tim basket semua mengangkat tubuh Alvares dan melempar nya ke udara. Atas kemenangan pertandingan basket. Dari kejauhan keisha menatap mereka, dengan tatapan panik dan seperti takut akan sesuatu.