
Keisha bergelut dengan pikirannya sendiri, sambil menatap lampu ruang operasi yang masih merah. Yang Pastinya, di dalam ruang operasi tersebut ada Alvares, sedang berjuang hidup antara mati.
Mereka bisa sampai disini. karena Abang nya Keisha, yang telah bawa mereka kesini. Vino bisa sampai sekolah, karena ia bingung kenapa adiknya perempuan itu kenapa belum pulang-pulang dari sekolah. Padahal waktu pulang anak sekolah sudah lewat.
Flash back
Cowok yang berpakaian kaos hitam, celana pendek dan rambutnya terlihat masih basah. Dan sedang rebahan sambil menatap langit langit kamar nya. Cowok yang sedang rebahan itu, adalah vino. Dia baru saja pulang dari Ekskul basket nya sudah dua jam lalu. Sekarang sudah pukul tujuh belas lebih.
Vino bangkit dari kasur nya, cowok itu berjalan dekat pintu, terus memutar handle pintu kamarnya. Ia pun keluar dari kamar nya, setelah pintu kamarnya tertutup dari luar. Vino menuruni tangga, dan pergi menuju arah dapur.
Vino kini sudah berada di dapur. Dia melihat punggung pembantu rumah nya, yang sedang lagi cuci piring. "Bibi apa sha sudah pulang."
Pembantu rumah nya yang sedang mencuci piring itu pun, memberhentikan kegiatan nya itu. Ia berbalik badan menatap anak majikannya. "Belum Den". Balas nya lembut sambil menggeleng kepala pelan.
Vino mengehela nafas berat, Karena sudah pukul jam berapa adiknya kini belum saja pulang dari sekolah nya. Sebagai saudara sekaligus Anak pertama, ia merasa khawatir pada Keisha, walaupun mereka sering bertengkar. Itupun biasa karena setiap saudara pasti ada bertengkar nya walaupun, karena masalah kecil dan besar.
"Emang nya ada apa den." Tanyak bibi yang melihat vino diam saja sambil memikirkan sesuatu. Pembantu rumah nya bernama Siti. Wanita terlihat paruh baya itu sudah berkepala empat.
Lamunan vino Buyar. "Gak ada apa apa bi." Sahut vino. Pembantu bernama Siti itu pun, mengangguk paham. "Bibi kalau tau Keisha kemana ya belum pulang-pulang?". Tanyak vino. yang penasaran mengapa adiknya belum pulang-pulang.
"Saya tidak tau den, mungkin saja dia ada Ekskul di sekolah nya." Sahut bibi siti dengan ramah.
"Tapi sekarang sudah jam berapa, masak iya belum pulang-pulang, tadi aja saya sudah telepon berkali-kali tetap saja tidak angkat." Ujar vino.
Bibi siti pun nampak bingung, kenapa nona Keisha belum pulang-pulang. "Coba aja den telepon kawan nya nona Keisha mungkin aja mereka tau, atau aja nona Keisha lagi sama mereka." Saran bibi siti.
Vino pun mengangguk setuju. Ia pun mencoba menelpon kawan Keisha. Namun vino urungkan, Karena, vino tidak punya nomor telepon kawan Keisha.
Cowok itu melihat nomor telepon, siapa yang ada nomor telepon kawan Keisha. Ia teringat kalau Alvares, ketos di sekolah tempat Keisha otomatis, pasti cowok itu punya nomor kawan nya keisha. Sudah vino telepon Alvares berkali-kali tetap saja tidak diangkat oleh Alvares dan jawaban nya maaf panggilan yang ada hubungi nomor nya tidak aktif.
Vino mencoba berpikir siapa temannya, yang punya nomor ponsel kawan Keisha, Dan pikirannya pun teringat kepada Andi kalau cowok itu juga satu sekolah dengan mereka. Cowok itu pun, segera menelpon Andi. Dan selang beberapa menit Andi pun mengangkat.
"Ada apa paketu." tanyak Andi yang di seberang sana. Merasa kepo kenapa, vino menelpon nya.
"Andi! lu ada gak sih nomor kawannya Keisha". Ujar vino.
Andi pun mengerutkan dahinya sejenak dan setelah itu senyuman bibir nya pun mengembang . "Jangan bilang Lo naksir sama kawan Keisha, siapa yang lu naksir. Dina, neha, atau lu suka dua duanya. Payah buat acara besar besar ni. Paketu yang terlihat kejam sama musuh kini sudah mulai suka suka sama cewek" Ujar Andi sambil terkekeh ringan.
Vino pun mendesah kesal, dengan penuturan anggota nya. Padahal dia sedikit pun tidak berpikir kalau ia menyukai kawan adik nya itu. "Gausah banyak nanyak, lu krem aja nomor ponsel mereka". Ucap tegas vino. Membuat Andi yang mendengar menjadi bergidik ngeri.
Andi pun mengirim nomor ponsel mereka berdua, Dina dan neha. "Itu nomor ponsel Dina dan neha tinggal lu pilih aja yang mana mau lu pacarin". Tawa Andi pun meledak pas di akhir kalimat.
Vino yang sebrang sana menjadi emosi, mendengar andi mencandai dirinya. "Mau mati kapan Lo!". Tanyak vino dengan nada yang mengerikan. Andi pun berhenti ketawanya, ia menelan salvina nya dengan susah mendengar penuturan vino terdengar tidak main main. Dan cukup mengerikan.
"Maaf maaf aku cuman becanda". Ucap Andi terbata-bata. Vino yang mendengar ucapan Andi terbata-bata, ia pun mengehela nafas panjang.
Hening sejenak. "Andi lo sama Alvares gak". Tanyak vino.
"Hmmm. gak, gue aja di rumah". Ucapnya dengan nada bicara terdengar sopan. "Kenapa?"
"Enggak, tadi gue telpon dia gak angkat angkat". Ujar vino.
"Ouhh". Balas Andi sambil mengangguk paham walaupun tidak terlihat oleh vino. "Vin, kek nya Alvares masih di sekolah. Soalnya tadi kami duluan pulang dari latihan basket di sekolah. Gak pulang bareng Alvares. kata dia, kalian pulang duluan aja gue masih mau latihan." Ujar Andi di akhir kalimat teringat Alvares tadi sekolah tidak mau pulang bareng mereka.
Vino pun mengangguk paham di seberang telefon "Yaudah lah terimakasih". Ucap vino sambil mengakhiri panggilan tanpa menunggu balasan Andi.
Andi yang melihat vino mengakhiri panggilan dari nya, Tanpa menunggu sahutan dari Andi. Ia pun Menghela nafas panjang. Tapi setidaknya gak kek Alvares, baru beberapa kata langsung di matiin sepihak, pesan aja cuman di read aja. Dan juga pernah di balas tapi, tunggu sudah beberapa jam atau sudah beberapa hari. Bahkan hpnya aja jarang banget aktif. Emang deh Alvares manusia paling dingin. Batin, Andi sambil tersenyum sendiri, mengingat betapa dinginnya sifat Alvares.
"Kira kira siapa ya! orang yang bisa cairin sifat dingin nya Alvares." Batin Andi Sambil menatap langit langit kamar.
Kini vino sudah berada di sekolah Keisha. Dan ia pun melihat belakang Alvares sudah terkenak golok. Alvares pun jatuh gak sadarkan diri. Setelah lelaki yang gak kenal itu menarik golok nya tertancap punggung Alvares.
Vino segera berlari menuju tempat Alvares. Dan di situ pun ada juga keisha. Keisha pun terduduk melihat Alvares gak sadar kan diri, dan baju basket nya Alvares sobek di belakang punggungnya. Ia mengangkat kepala Alvares dan menaruk kepalanya di paha nya. Gadis itu pun membangun Alvares yang mata nya terpejam itu.
Lelaki itu pun segera melayangkan golok nya lagi. Namun golok nya pun terjatuh sekaligus ikut dirinya juga tersungkur ketanah. Setelah vino menendang lelaki itu cukup kuat. Terlihat vino sangat emosi, urat leher menonjol, gumpalan tangan yang begitu erat. Tanpa menunggu lelaki itu bangun vino segera memberi pukulan sangat brutal. Sampai lelaki tidak ada kesempatan membalas nya.
Bugh
Bugh
Bugh
Pukulan sangat brutal dari vino membuat lelaki itu meringis kesakitan dan lelaki itu pun meminta ampun untuk vino memberhentikan pukulan brutal vino. Namun tetap saja vino tidak menggubris perkataan lelaki itu. Ia pun menarik kerah baju lelaki itu dan meninju rahang lelaki dengan sangat kuat. Dan nyeri nya sampai menjalar di Saraf lelaki itu.
Vino pun menghempaskan lelaki dengan kuat sampai kepalanya kebentur cukup kuat dan mengeluarkan darah. Vino terlihat bukan orang seperti biasanya, kini ia seperti orang kerasukan setan.
Vino pun melihat lelaki itu tidak sadar kan diri. Dengan nafas vino memburu. Ia pun melihat di samping itu ada golok ia pun mengambil golok dan ingin menancap kan pada lelaki itu. Namun diurungkan niatnya karena mendengar teriakkan histeris Keisha.
"Berhenti kak vino". Pekik gadis itu dengan nangis tersedu-sedu. Vino pun mengalihkan pandangan menatap wajah adiknya yang sudah pucat.
"Jangan jadi pembunuh kak, Kalau Alvares tau kakak jadi pembunuh. Pasti dia gak suka sama kak vino." Ucap Keisha dengan bibir bergetar. Apa yang di bilang Keisha benar. semarah-marah Alvares, ia tidak pernah punya niat membunuh orang. Kalau Alvares jadi vino pasti akan melakukan yang sama. Apa yang di lakukan vino, tapi tidak sampai membunuhnya. Biar pihak berwajib yang mengurus nya.
Vino pun melepaskan golok yang berada di tangan nya. Apa yang di bilang Keisha benar. Vino tidak mau sahabat nya itu membenci nya dan tidak mau berteman dengan nya lagi.
"Argh sial, sial." Pekik Vino meluapkan emosi nya. Dengan nafas naik turun ia pun menginjak tubuh lelaki itu tiga,kali sampai lelaki itu memuntah darah berwarna hitam dan cukup kental.
"Udah vin, jangan di ituin lagi. Jangan sampai Lo kotorin tangan Lo". Ucap seseorang. Tapi bukan Keisha melainkan Alvares. Mendengar suara Alvares, keisha pun tersenyum sambil meneteskan air mata.
"Alvares." Ucap Keisha bergetar tanpa sadar Keisha memeluk kepala Alvares yang berada, di pahanya.
"Lo masih bisa bertahan kan, gue akan segera bawa Lo kerumah sakit". Ujar vino dengan nada khawatir.
"Vin, kek nya gue ga bakal lama lagi deh." Ujar Alvares dengan suara menahan sakit. Rasa sakit di sekujur tubuhnya begitu sangat terasa sakit nya.
"Kamu jangan bilang gitu". Ucap Keisha gak suka dengan pembicaraan Alvares.
"Lo ngomong apaan deh gue gak suka, Lo harus bakal tetap hidup". Ucap vino.
Alvares tersenyum tipis."Kalau aku ada kesalahan. aku minta maaf ya". Ucap Alvares terdengar suara nya cukup pelan nyaris tidak terdengar. Dan Alvares pun tidak sadar kan diri lagi. Keisha pun di situ nangis histeris sambil mendekat wajah nya dengan Alvares.
Flash off
Vino berlari kecil mendekati ruang operasi Alvares. Dan disusul beberapa orang di belakang vino. Dengan wajah terlihat panik sekaligus khawatir.
Keisha pun berdiri melihat vino yang berjalan mendekati nya dan Keisha pun menghamburkan pelukan sama vino. "kak gimana kalau dia benaran pergi". Ucap Keisha dengan sesenggukan.
"Jangan bilang gitu dia tetap bakal hidup." Balas vino dengan suara tercekat.
Andi, Dino, gilang, duduk di kursi sambil menatap ruang operasi Alvares. Mereka bergelut dengan pikiran sendiri sambil melihat pintu operasi tertutup rapat.
Dina dan neha datang juga untuk melihat kondisi Alvares. Mereka sangat terkejut mendengar kondisi Alvares saat ini. Dan melihat baju seragam sekolah Keisha berdarah.
Mereka merasa kepo dan ingin bertanya apa yang telah terjadi. Namun di urungkan karena kondisi tidak memungkinkan untuk bertanya. Neha dan Dina pun memberikan usapan di badan Keisha agar semangat. Mereka berdua pun baru kalini melihat Keisha yang barbar kini sangat rapuh. Apalagi yang ia tangisin orang yang tidak suka.
Berselang beberapa jam lampu merah operasi kini jadi hijau. Dokter pun keluar dari ruang operasi dan wajah nya terlihat sendu bahwa telah terjadi apa-apa.
...----------------...
...Konflik Mulu deh bucinnya kapan? ðŸ˜...
...apa sad ending aja....
...Jangan lupa dukunganya ya teman-teman!...