Geng Motor And School

Geng Motor And School
Bakar bakar ikan



Kini Keisha berada di sebuah rumah yang terlihat minimalis, mereka akan bakar bakar ikan nya di tempat markas Geng Bet Life, bukan di rumah nya, katanya lebih enak di tempat markas buat acara bakar bakar ikan.


"Ini tempat apa". Tanyak neha kepo. Pada rumah yang yang terlihat minimalis itu.


"Gak tau". Ucap Keisha acuh seraya berjalan ke halaman rumah minimalis itu.


Di halaman rumah terlihat minimalis itu sudah ada Vino, Dino, gilang, dan Andi. Mereka sedang menyiapkan tempat alat panggang ikan dan terlihat menyiapkan hal hal lainnya.


"ini ikan nya". Ucap neha seraya kasih tempat tempuwere yang berisi ikan.


"Makasih". Balas vino seraya menerima ikan dari tangan neha. Kini ia sedang menghidupkan kan api di tempat panggang ikan. Tinggal taruk ikan nya di perkakas penjepit. Ikan nya sudah duluan sudah di bersihkan oleh pembantu rumah Keisha.


"Sama sama". Balas neha dengan tersenyum malu-malu. Neha pun mendudukkan bokong nya di kursi, setelah tidak tau apa yang lagi di kerjakan.


Keisha mendudukan bokong nya kursi yang tersedia halaman itu. "Sha tolong kamu buatin sambal kecap nya". Pinta vino seraya mengipas ikan di tempat panggang.


"Hah! gak mau gue, lo aja yang buat". balas nya


"Lo gak liat gue lagi ngapain". ketus vino. Keisha pun melihat vino yang sedang mengipas ikan di tempat panggang, ia memutar bola matanya jengah dan ia pun bangkit dari kursinya dan menyiapkan mengambil bahan membuat sambal kecap.


Dengan raut wajah kesal Keisha membuat sambal kecap nya. Gilang pun membantu Keisha memotong beberapa bahan untuk membuat buat sambal kecap.


"Sha lu sama Alvares ada hubungan apa?". Tanyak Gilang penasaran. Melihat mereka tadi pagi berdua duduk bersebelahan di kursi yang sama.


Keisha mengerutkan dahinya. "Gak ada" Balas Keisha cuek seraya memotong bawang.


"Serius". Tanyak Gilang dengan nada naik yang beberapa oktaf.


"Ck' iya, kenapa sih lu tanyak ada hubungan apa sih gue sama Alvares, kalau aku ada hubungan sama si Alvares apa dengan urusan mu". Ketus Keisha. Ia merasa gak suka di tanyak tentang Alvares lagipun mereka gak ada hubungan apa-apa dan juga Keisha membenci Alvares.


Gilang tersenyum kecut mendengar Keisha yang bicara dengannya, dengan nada ketus, tapi ia pun merasa senang kalau Keisha sama Alvares gak ada hubungan apa-apa.


Neha dan vino menarukan ikan yang sudah di bakar di piring, tanpa sengaja bara api mengenai tangan neha. "Auww". Ringis neha yang panas pada tangannya.


"Ada apa". Tanyak Vino khawatir. Ia melihat tangan cewek tu memerah akibat kenak batu bara api. Vino memengang tangan neha yang terluka dan meniupnya.


Neha tercengang kagum melihat vino yang perhatian padanya. "Masih sakit?". Tanyak vino sambil meniup luka nya. Namun tidak sahutan neha diam terpaku melihat vino.


"Masih sakit?". Tanyak vino lagi dengan nada di naikin sedikit.


Lamunan neha pun buyar. "Hmm iya kamu bilang apa tadi?". Tanya neha dengan cengengesan.


Vino mengehela nafas panjang. "Masih sakit, lukanya?". Tanyak vino sambil menaikkan alisnya sebelah.


Neha menatap vino yang terlihat begitu dekat dengan nya. "Lumayan gak sakit lagi kok". Balas neha dengan tersenyum.


"Yaudah kamu tunggu disini Bentar ya". Titah vino melepas tangannya yang memegang tangan neha.


"Emangnya kamu mau kemana". Tanyak neha kepo. Namun vino sudah duluan pergi sebelum mendengar pertanyaan nya. Vino pergi masuk ke dalam markas dan mengambil Pepsodent di dalam kamar mandi markas.


Keisha dibuat pusing sama Gilang. Dari tadi cowok tu banyak tanyak yang menurut nya gak penting. Membuat nya pusing harus jawab pertanyaan cowok tu.


"Lo bisa diam gak sih". Celetuk Keisha. Ia tidak sanggup mendengar ocehan lagi dari Gilang.


"Enggak bisa". Balas Gilang sambil cengengesan.


Keisha memutar bola matanya malas. Gilang melihat keringat di dahi cewek tu dan mengambil sapu tangan nya dan mengelap nya. Keisha memperhatikan gilang mengelap di keringat di dahinya.


"Ada keringat di dahi lo jadi ku menggelap nya pakai sapu tangan". Ucap gilang selesai mengelap dahi Keisha dan menarukan balik sapu tangan nya di sakunya.


"Makasih". Balas Keisha yang sedang mengulek.


"Sama sama". Balas Gilang lembut.


Vino berjalan melangkah mendekati neha. "Sini tangan kamu yang luka". Pinta vino yang sudah berada dekat neha.


"Buat apa". Tanyak Neha balik. Ia melihat cowok tu membawa Pepsodent di tangan nya. Melihat neha yang banyak tanyak membuat vino menarik tangan neha yang terluka dan mengobati nya.


Neha merasa dingin di luka bakarnya yang di obati oleh vino. "Masih sakit lagi gak lukanya". Tanyak vino yang sudah mengoles odol gigi itu di tangan neha.


"Ngak lagi kok, malahan lukanya terasa dingin". Balas neha tersenyum. Luka bakar yang di oles odol gigi sama vino terasa dingin dan tidak terasa sakit lagi.


Vino pun lanjut melakukan kegiatan nya, dan neha di suruh duduk saja oleh vino. Lagipun tangan neha terluka jadi lebih baik duduk saja dari pada terjadi apa-apa lagi.


Dina baru sampai sama Andi dan Dino. Ia di tugaskan membeli minuman dan beberapa cemilan. Dina merasa kesal dan marah, harus pergi bersama Andi dan Dino. Begitu juga Andi dan Dino merasa kesal harus pergi sama Dina dari tadi cewek tu asik merepet mulu kayak nenek, bantu gak yang ada asik di suruh suruh.


Andi dan Dino berjalan sambil membawa banyak cemilan dan kontak yang berisi air yang bersoda. "Oi Dina Bantuin". Teriak Andi meminta tolong yang gak sanggup angkat kotak minuman yang berjumlah tiga kotak. Tiga kotak itu air nya pun berbeda mancam.


"Gak, angkat aja sendiri". Ketus Dina berjalan ke area halaman markas.


Muka Andi memerah menahan amarahnya, sedangkan Dino juga Kualahan mengangkat kresek yang berisi banyak cemilan.


"Kok banyak Banget ke beli". Tanyak Keisha sedang menghidangkan kecap sambal di atas meja. Melihat begitu banyak kotak berisi minuman dan cemilan.


"Ntah ini si nenek". Cibir Andi yang sedang duduk si kursi setelah meletakkan kotak yang berisi minuman.


"Apa lu bilang Anj*Ng". Tanyak Dina yang merasa tersindir dengan penuturan Andi.


Mereka mendesah pelan melihat dina dan Andi adu mulut.


...***...


Alvares meminjit pelipisnya. Ia sudah beberapa jam memeriksa berkas berkas, dan harus begadang untuk menyelesaikan nya. Waktu remaja yang harus untuk bersenang senang kini ia harus merelakan nya untuk mengurus bisnis ayahnya. Cowok tu suatu saat nantik akan jadi satu satu penerus perusahaan company Lergan.


Alvares menghela nafas berat, padahal seharusnya kini ia sudah bersenang senang sama kawannya, bakar bakar ikan. Kini ia tidak bisa hadir karena harus menghandle perusahaan papanya. Papa nya terlalu memaksa Alvares dan terlalu banyak mengantur hidupnya, ia bukan mendapatkan kasih sayang orang tua nya malahan banyak penututan dari orang tuanya.