Geng Motor And School

Geng Motor And School
Olahraga Gabungan Antar kelas



"Keisha tau gak kenapa Alvares kenapa gak datang tadi malam pas bakar bakar ikan". Tanyak Dina kepo. Sambil menatap Keisha sedang menguncir rambut nya.


"Gak". Jawab singkat Keisha. Setelah selesai menguncir rambut nya.


Kini mereka abis selesai ganti baju seragam dengan baju olahraga. Dan akan mengikuti pelajaran olahraga gabungan dengan kelas IPA Xl¹. Kenapa di gabung? karena guru mata pelajaran IPA Xl³ Gak hadir.


"Kok gak tau sih". Sewot Dina. Ia merasa kesal melihat Keisha gak tau informasi kenapa Alvares gak hadir. Padahal Keisha bukan siapa-siapa Alvares mana taulah ia cowok itu kenapa gak hadir.


Keisha mendengus pelan mendengar sewotnya Dina. Ia pun melenggang pergi tanpa menggubris panggilan dina di belakang nya. Neha melihat Dina menggerutu sendiri, melihat Keisha langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan nya.


Para siswi IPA IX³, pada senang sekali bisa Olahraga gabungan dengan kelas IPA Xl¹, yang cowok nya banyak yang ganteng seperti bak dewa. Apalagi Alvares paling ganteng diantara siswa lain, Dah pintar, Ketos lagi. Sayangnya sifatnya dingin seperti dinginnya kutub Utara walaupun begitu ia tetap banyak di dambakan cewek cewek di SMA school teladan.


Para seluruh siswa siswi kelas IPA satu dan IPA tiga kini telah berdiri di lapangan, berbentuk barisan yang rapi, dengan berdiri di matahari Siang ini yang cukup terik.


"Gila lama lama gue bisa gosong". Ucap Dina kepanasan karena sinar matahari.


Banyak para siswi mengeluh karena panas nya sinar matahari. Dan ada juga siswi mereka ternganga melihat cowok yang begitu tampan kenak sinar matahari.


Keisha terlihat santai namun dalam hatinya sangat mengumpat! kenapa guru matematika tu harus jadi guru olahraga. Dari tadi mereka hanya berdiri di lapangan dan belum memulai apapun, guru tu terlihat santai duduk di tempat dingin, yang cahaya matahari tertutup oleh pohon.


Mereka semua hanya diam tidak ada berani mengeluarkan suara, apalagi bertanya karena di pastikan akan kenak ceramah yang akan menghabis banyak waktu.


Neha berjongkok karena tidak sanggup berdiri lagi. "Duuh capek". Ngeluhnya.


"Kamu yang jongkok itu". Ucap pak Bobby dengan suara begitu keras. Seperti mengunakan mikrofon tapi ia tidak mengunakan mikrofon. Neha yang merasa jongkok sendiri langsung berdiri, dan menunduk pandangan nya serta mengigit bibir bawahnya karena merasa takut.


"Andi lu tanyak sana! sama pak Bobby gak di mulai kah pelajaran olahraga nya". Tanyak Dino yang tidak sanggup berdiri di panasnya matahari, sudah satu menit mereka semua hanya diam berdiri.


Andi mendelik tajam kearah Dino. "Lo pengen gue kenak marah kah". Balas Andi kesal.


"Kan gue cuman bilang, Andi coba lo-".


"Lo aja bilang sendiri sana gausah suruh suruh gue". Potong Andi ketus. Ia gak mau bertanya sama pak Bobby terkenal killer itu, yang ada ia di kenak marah.


Dino mendesah pelan. Gak ada yang satupun murid mengeluarkan suara dan bertanya kapan mulai olahraga nya. Dan setidaknya kalau gak olahraga gausah di jemur kek ikan asin gini. Dino sendiri pun tidak berani bertanya.


Dino menatap Alvares yang berdiri di samping nya dengan pandangan menunduk kebawah. Kedua ujung bibir nya kini terangkat menjadi senyuman yang lebar. Sekarang Harapan satu-satunya adalah Alvares. Cowok yang banyak disegani oleh semua guru dan semua penghuni sekolah. Karena Alvares sosok yang sangat tegas dan pandai dalam mengatur murid, melanggar aturan. Makanya banyak mereka dan mendukung Alvares jadi ketua OSIS. Dan banyak cewek tidak tinggal diam untuk mendapatkan hati seorang lelaki yang menjabat menjadi ketos.


"Alvares". Panggil Dino pelan. Merasa namanya di panggil Alvares menoleh kesamping di mana dino berada. Bisa di liat bahwa cowok tu sangat tampan dengan keringat yang membasahi dahinya.


"Lu tanyak cepat! Olahraga gak? kalau gak olahraga kami boleh olahraga bebas kan sendiri?". Ujar Dino. Alvares mendengar penuturan dino menghela nafas panjang. Dan langsung keluar dari barisan nya dan melangkah menuju di mana pak Bobby berada.


Dino mendengus kesal menatap Alvares berjalan menuju ketempat pak Bobby. "Setidaknya di jawab kek bilang ya gitu! jangan asal pergi aja". Umpat kesal nya dalam hati. Tapi ia juga merasa bahagia karena mereka gak perlu berdiri lama lagi di tempat panas.


"Pak Kapan mulai olahraga nya". Tanyak Alvares datar tapi dengan nada suara sopan. Sekarang ini ia sudah berada tempat pak Bobby.


Pak Bobby mendongak melihat Alvares yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar."Sekarang kok di mulai nya, pelajaran olahraga Harini adalah main basket". Balas pak Bobby dengan nada biasa tidak nada tinggi.


"Terima kasih pak". Balas Alvares. Dan pak Bobby menjawabnya dengan anggukan kepala. Alvares kembali kepada barisannya.


Berselang beberapa jam pelajaran olahraga nya pun berakhir. Semua nya pada bubar menuju kekantin untuk mengistirahatkan diri Karena capek bermain basket. Dan ada juga masih beberapa orang berada di lapangan.


"Alvares keren banget loh main basket nya". Seru Dina heboh mengingat Alvares begitu jago bermain basket sampai orang Kualahan melawan nya. Dan bisanya ia melempar bola basket ke ring dengan jarak jauh. semua melihat nya bertepuk tangan dan banyak menyoraki namanya.


Keisha memutar bola matanya dengan malas. Soalnya dari itu mulu perkataan nya keluar dari mulut Dina, dan juga beberapa kali ia memuji Alvares membuat kuping Keisha jadi panas mendengar nya. Sedangkan Neha sudah pergi ke kantin duluan gadis itu sudah sangat haus dan ingin segera minum air yang dingin.


"Bisa gak sih gausah lebay". Ketus Keisha sambil berjalan. Merasa dina terlalu dan berlebihan memuji-muji Alvares.


"Enggak". Balas dina sambil cengengesan. seraya menyamai langkah kaki Keisha. Mendengar balasan Dina, Keisha memutar bola matanya dengan jengah.


"Kapan ya! aku bisa memiliki Alvares". Ucap Dina dengan wajah sendu. Ia dari dulu sangat menyukai cowok tu. Saat, pertama masuk sekolah dirinya sudah menyukai Alvares. Alvares adalah cinta pertama nya dan mungkin akan jadi yang terakhir.


Keisha melihat wajah Dina kini menjadi sendu. Dirinya, merasa hati nya sedikit tersentil. Ia merasa kasian Dina harus menyukai cowok seperti Alvares yang dingin enam belas pintu kulkas itu.


Dina menatap Alvares yang banyak kerumunan cewek cewek. Para cewek berada dekat Alvares ingin mengasih minuman ke Alvares. Alvares terlihat seperti biasa diam, datar, cuek, dingin.


"Buat gue gak dikasih". Tanyak Andi sambil memainkan alisnya. Ia melihat banyak cewek cewek yang mengasih air botol untuk Alvares.


"Beli sendiri sana punya uang kan". Ketus Bianca yang berdiri, dekat antara mereka.


"Jangan lu bilang gak ada uang lagi". Timpal Bella yang memengang minuman dan banyak jajanan untuk ia kasih ke Alvares. Dan tawa mereka pun pecah mendengar ejekan Bella pada Andi.


Andi menekuk wajahnya kesal mendengar cibiran mereka. "Yang sabar ya emang itu kenyataan kok". Ucap Dino dengan nada mengejek. Tangan Andi mengepal kuat ia segera meninju rahang Dino. Dan mendapat Ringissan pelan dari empunya.


Muka Keisha terlihat masam rasanya kuping ingin pecah mendengar penuturan Dina itu saja asik yang di ulang. Keisha tadi merasa iba ke Dina pasti banyak saingan mendapatkan hati Alvares, sekarang rasa iba nya berubah menjadi rasa kesal.


Keisha tidak terlalu memperhatikan jalan dan menubruk punggung Alvares. Keisha meringis pelan merasa sakit di dahinya. Empunya merasa ada orang yang menabrak punggung nya, ia pun membalikkan badannya dan tatapan mereka bertemu.