
"Ade," panggil seorang pria bertubuh kekar dan tegap masih lengkap dengan pakaian dinasnya.
Amara yang mengenali suara siapakah itu, segera menoleh dan menyingkirkan tangan pria tersebut dari bahunya.
"Jangan sentuh aku! Haram tubuhku ini tersentuh oleh manusia brengs(e)k seperti mu." Ucap Amara dengan sinis dan nada bicara penuh penekanan.
Tak hanya itu Amara juga membulatkan matanya, meski air matanya terus saja terjun bebas membasahi lesung pipinya yang menjadi daya tarik tersendiri ketika gadis ini tersenyum.
"Kamu baik-baik saja 'kan De?" Tanya Pria itu yang tak lain adalah Erdi, mantan kekasih Amara yang kini menjadi kakak iparnya.
Ya, Pria dihadapan Amara ini adalah pria pertama yang menggores hati Amara sedemikian dalam, dan menjadi salah satu sumber penderitaan Amara hingga saat ini. Pria ini juga yang mencampakkan Amara dengan begitu tega, menjadikan gadis malang ini seonggok sampah tak berharga hanya karena keegoisannya ingin memiliki Novita.
Amara menatap tajam wajah Erdi yang terlihat sangat perduli dengannya, senyum getir terbit di wajah cantiknya setelah ia mendengar pertanyaan yang dilayangkan Erdi padanya.
"Aa bertanya apa sedang mengejek aku hah? Pasti Aa sudah melihat bagaimana Rendra mencampakkan aku tadi 'kan? Iya 'kan? Tertawalah Aa. Tertawakan aku sepuas Aa. Jalan hidupku ini memang pantas untuk ditertawakan." Ucap Amara yang kemudian kembali menitikan air mata.
Amara tak malu untuk menangis dihadapan pria brengs(e)k ini. Bukan karena ia ingin menunjukkan sisi lemahnya. Namun ia perlu meluapkan kesedihannya demi kewarasannya menghadapi pahit dan kejamnya dunia ini padanya.
"Cukup Ara. Jangan menangisnya lagi!" Erdi berusaha mendekati Amara dan ingin berusaha menenangkan tangis Amara yang memilukan dan menyayat hatinya.
Jujur saja setelah kepergian Amara dari kediaman mertuanya. Erdi merasa kehilangan sosok Amara. Separuh jiwanya seperti menghilang, terbawa bersama Amara yang pergi.
Di belakang Novita, Erdi rela menjadi seorang penguntit adik iparnya sendiri, hanya demi melihat dan memastikan kondisi Amara baik-baik saja. Rasa khawatir yang begitu tinggi pada Amara, kerap kali membuatnya sulit memejamkan mata. Bahkan biduk rumah tangganya saat ini terasa hambar.
"Jangan mendekat! Dan jangan sok perduli dengan apa yang menimpaku! Aku tidak perlu rasa empati pria brengs(e)k tak punya hati seperti Aa. Meninggalkan aku seenak jidat hanya demi Kak Novi yang lebih segalanya dariku dan sudah membuat kedua kakakku menginginkan aku pergi dari rumah. Sekarang aku hidup sendirian seperti ini. Kamu jahat Aa! JAHAT!! Asal Aa tahu. Jalan hidupku seperti ini semua karena Aa. Karena Aa! Aa paham itu bukan? Semua penderitaan yang aku alami semua ini karena Aa!" Pekik Amara dengan isak tangisnya
Amara terus memundurkan langkahnya. Ia menghindar dari Erdi yang ingin memeluknya. Ia sungguh tak sudi disentuh pria pengkhianat macam Erdi.
"Maafkan Aa, Amara. Maafkan Aa. Aa benar-benar menyesal. Tolong maafkan Aa!" Ucap Erdi yang terlihat sangat menyesal atas perbuatannya pada Amara.
Amara kembali tersenyum getir mendengar permintaan maaf Erdi padanya. Amara merasa bosan terus mendengar Erdi hanya bisa meminta maaf.
"Maaf? Apa kata maaf Aa akan mengembalikan jalan hidup Ara seperti dulu? Tidak. Itu tidak akan mungkin terjadi bukan Aa? Jadi jangan harap Aa akan mendapatkan maaf dari Ara. Karena sampai kapan pun Ara tidak akan pernah sudi untuk memaafkan Aa."
Mendengar pernyataan Amara yang tak bisa memafkannya, Erdi terus menggelengkan kepalanya sembari merasakan sesak di dada. Kini rasa bersalah dan kehilangan sosok Amara yang ternyata masih bertahta di hatinya kini tengah menguasai dirinya.
Amara yang sama sekali tak perduli dengan reaksi Erdi saat ini, memilih untuk pergi meninggalkan Erdi.
Melihat kepergian Amara, Erdi hanya bisa membiarkan Amara pergi meninggalkannya, tanpa mampu untuk mengerjarnya. Dari posisinya saat ini Erdi hanya bisa melihat punggung Amara yang perlahan menghilangkan dari pandangan matanya.
"Sepelik itu kisah cintamu ternyata. Pria dimasa lalu mu menjadi kakak iparmu dan pria yang kamu cintai mencampakkan mu demi wanita lain." Gumam Daniel yang sejak tadi mengikuti langkah Amara dan sedikit bersembunyi demi mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh Amara yang pergi begitu saja meninggalkan rekannya yang lain.
Amara yang kembali ke dalam ternyata sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Dias dan juga rekam kerjanya, termasuk Mba Tri yang setia membuat semua orang harus menunggu Amara.
"Darimana sih Lo Ra? Bok(e)r lo ya?" Tanya Mba Tri tanpa saringan.
"Hahahaha..." Sebagian orang tertawa mendengar pertanyaan Mba Tri yang dilayangkan untuk Amara itu.
Amara yang paham bagaimana karakter Mba Tri hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Mba Tri. Meski kenyataannya tidak seperti itu.
"Pantesan lama. Nabung dulu ternyata ckckckck..." Sambar Dias yang mulai bersiap-siap untuk pulang.
"Jadi gak Yas? Anak bawang lo dan Tri udah nongol nih." Tanya Adit, kepala bagian Creative pada Dias.
"Jadi dong." Jawab Dias.
"Kuylah..." Sahut semua anak buah mereka dengan kompak.
"Kita mau kemana Mba Dias?" Tanya Amara pada Dias yang memang kebetulan duduk di sampingnya.
"Hangout, olahraga malam. Besokkan hari sabtu. Jadi santaikan jiwa-jiwa lelah kita yang bekerja mem(e)rah otak." Jawab Dias dengan senyum ramahnya yang khas.
"Olahraga malam? Fitnes maksudnya?" Tanya Amara tak mengerti.
"Fitnes? Cape amat pake fitnes segala. Ajep-ajep Ara. Ikutlah kali-kali biar gak katrok." Sambar Mba Tri, yang membantu Dias untuk menjawab pertanyaan Amara.
"Ajep-ajep?" Amara yang polos sama sekali tidak mengerti maksud keduanya.
"Clubbing Ara. Ya ampun polos banget nih bocah." Jelas Dias sembari mengusap kepala Amara.
"Oooohhh... Clubbing..."
"Gimana? Mau ikut gak?" Tanya Dias yang kini menatap intens wajah Amara.
Amara terdiam dan berpikir. Sebenarnya ia enggan untuk ikut. Namun karena suasana hatinya sedang tak baik-baik saja dan otaknya yang juga butuh hiburan, akhirnya ia memutuskan untuk ikut ke clubbing bersama rekan kerjanya.
Di sebuah club. Daniel dan Anto yang sudah terlebih dahulu datang dan memesankan tempat untuk anak buahnya. Cukup terkejut dengan kehadiran Amara yang ikut serta.
"Kenapa dia ikut?" Tanya Daniel dengan manik mata yang memandang lurus ke arah Amara, pada Anto yang duduk tepat di sampingnya.
"Sepertinya Dias yang membawanya, Pak." Jawab Anto menebak-nebak.
"Jaga dia, jangan sampai dibawa pria hidung belang. Dia wanitaku." Perintah Daniel pada Anto, assisten pribadinya.
Untuk pertama kalinya Daniel mengklaim Amara sebagai wanitanya dan itu ia katakan hanya pada Anto, asisten pribadinya yang mengetahui dan mengenal sepak terjang cinta seorang Daniel. Hingga ia tak terejut ketika Daniel mengklaim Amara sebagai wanitanya.
"Baik Pak." Jawab Anto yang segera beranjak pergi menjalankan tugasnya.
Dentuman musik yang terdengar begitu keras membuat gendang telinga Amara terasa sakit. Ini merupakan pertama kalinya Amara menginjakkan kaki ke sebuah club malam. Wajar jika ia tak terbiasa dengan suara musik yang memekakkan indra pendengarannya.
Amara duduk bersama Mba Tri dan juga Dias. Ketika semua orang mulai memesan minuman beralkohol dan mulai menikmati alunan musik Dj. Amara hanya berdiam diri tanpa berkeinginan untuk memesan minum. Takut. Itulah yang ia rasakan saat ini. Ia tak mengerti harus memesan jenis minuman apa. Ingin meminta air mineral saja pun ia takut ditertawakan oleh rekan kerjanya yang lain.
Jujur Amara sama sekali tak pernah menyentuh minuman keras, bermabuk-mabukan pun tak pernah ia lakukan. Meski beban dan penderitaan hidupnya cukup pelik dan menguras air matanya selama ini.
Anto yang sedang menjalankan tugasnya menjaga Amara selama di club ini, segera saja memberikan sebotol air mineral pada Amara.
"Minumlah, ini hanya air mineral. Kamu membutuhkannya bukan?" Ucap Anto ketika menyodorkan sebotol air mineral dalam kemasan botol kaca dan sebuah gelas berisi es batu.
Dias dan Mba Tri saling memandang satu sama lain. Keduanya benar-benar menaruh curiga dengan perhatian kecil yang sangat istimewa dari seorang Anto pada Amara.
Pasalnya asisten Daniel ini sangat terkenal cuek dan tak perduli dengan siapapun. Ini hal yang sangat luar biasa bagi mereka, melihat perhatian yang dilakukan Anto untuk Amara.
Terlebih sepasang mata kini tengah intens mengawasi Amara dari kejauhan. Ya, sepasang mata itu adalah mata Daniel.
"Ada udang di balik bakwan," seloroh Mba Tri sembari menatap Amara yang masih tidak menyadari bola mata pria tampan dan berkuasa di perusahaan itu tengah memperhatikannya.
"Enak Tri, bakwan pakai udang. Hahaha.... Istilah yang benar itu gak ada api kalau gak ada si Asep." Sahut Dias menanggapi dengan candaan.
"Lo, benaran gak ada hubungan apa-apa sama Pak Daniel 'kan Amara?" Tanya Mba Tri sembari menggenggam sedikit kuat tangan Amara. Kali ini Mba Tri bertanya dengan tatapan mata yang cukup mengintimidasi Amara.
"Beneran gak ada Mba, kok Mba Tri nanya hal yang sama lagi? Mba Tri lagi gak percaya sama Ara ya?" Amara menjawab dan membalas tatapan mata Mba Tri yang terus menelisiknya.
"Bukan gak percaya. Lo lihat noh! Pak Daniel terus ngeliatin lo terus Ra. Gak mungkin kalau gak ada apa-apa." Mba Tri bicara sembari mengarahkan pandangannya pada Daniel yang tak memutuskan pandangannya pada Amara.
Amara mengikuti arah pandang Mba Tri, di mana Daniel memang tengah menatapnya.
Deg!
Jantung Amara kembali bergemuruh, saat tatapan kedua bola matanya bertemu dengan bola mata Daniel.
Dengan cepat Amara membuang pandangannya guna menetralisir detup jantungnya yang terus bergemuruh. Namun sayang saat ia membuang pandangannya. Lagi-lagi tanpa sengaja Amara mendapati Erdi tengah membuntuti dirinya.
"Brengs(e)k!" Umpat Amara saat melihat sosok pria yang ia benci terus mengikutinya hingga ke club yang ia datangi.
Hilang sudah gemuruh jantung yang dirasakan Amara. Kini hanya ada rasa kesal, marah dan benci yang Amara rasakan untuk Erdi yang juga tengah menatapnya dengan intens.
Termakan rasa kesal pada Erdi membuat Amara tak fokus menuang minuman yang hendak ia minum. Alih-alih menuang air mineral, Amara malah menuang wine ke dalam gelasnya.
Mata Daniel membola saat melihat Amara menuang wine dalam jumlah banyak ke dalam gelasnya.
Glek!!
Amara menengguknya hingga habis.
"Ahhhh....!! Apaan nih?" Tanya Amara yang merasakan sensasi berbeda pada minumannya yang ia tengguk.
"Hahahaha... wine itu Ra. Salah nuang lo hahahaha.... Lihat apa sih lo sampai kesetan gitu?" Mba Tri tertawa geli melihat kesalahan yang dilakukan Amara.
"Arghh... Sial. Memang brengs(e)k pembawa sial!" Umpat Amara sarkas.
Erdi yang melihat Amara menengguk minuman keras segera menghampiri table Amara.
"Ayo kita pulang! Kamu sudah tersesat terlalu jauh Amara! Sudah cukup semua ini!" Ucap Erdi sembari menarik kuat tangan Amara.
"Lepas!" Amara menghempas kuat tangan Erdi dan kembali membenarkan posisi duduknya.
"Ayo pulang! Ayah dan Ibu pasti kecewa melihat kelakuan mu seperti ini." Ucap Erdi kembali menarik Amara untuk pulang.
"Nggak mau! Berhenti menjadi pemaksa. Sepertinya mereka akan lebih kecewa lagi saat mereka tahu menantu kesayangan mereka menguntit anak gadisnya yang merupakan mantan kekasih menantunya ini. Menantu kesayangan yang mencampakkan putri bungsu mereka demi menikahi anak perempuannya yang lain. Novita, kakak ku yang lebih dari segalanya... wanita sempurna untuk mu hahahaha." Balas Amara yang mulai terpengaruh dengan minuman keras yang ia tengguk.
Amara terus melanjutkan kata-katanya sembari menusuk-nusuk dada bidang Erdi tanpa henti. Dan Erdi membiarkan hal itu.
"Pria brengs(e)k seperti mu seharusnya dibuang ke laut saja. Hati dan hidup aku sudah hancur karena tertipu cinta bullshit mu, Aa. Bullshit!!!"
Amara terus bicara tanpa perduli dengan rekan kerjanya yang menyaksikan dan mendengar jelas drama masalah pribadinya, yang kini menjadi konsumsi publik tanpa disengaja, karena ia mabuk.
"Bukankah cinta Aa lebih besar untuk Kak Novi. Kenapa terus menguntit ku sejauh ini heh? Mau lihat aku lebih hancur lagi atau mau kembali pada ku? Apa aku masih terlihat menarik di mata mu Aa? Atau Aa masih merasa kurang melihat penderitaanku sejauh ini? Aku ini sudah seperti orang terbuang, berilah aku belas kasih Aa."
Amara terus memberondong Erdi dengan pertanyaan. Namun tak satu pun pertanyaan yang Amara lontarkan dijawab oleh Erdi. Erdi hanya diam dan menatap sedih wajah Amara yang akhirnya mengungkapkan seluruh isi hatinya yang terluka karenanya.
"Hidup sendiri di luar tanpa ada satu orang pun untuk ku jadi sandaran. Aa pikir itu mudah hah? Atau maksud Aa masih terus menguntit ku karena Aa penasaran ingin menjamah tubuhku ini?"
Amara menarik tangan Erdi untuk menyentuh bagian dadanya. Namun Erdi menolaknya. Amara tersenyum getir saat Erdi menolak menyentuhnya.
"Kenapa menolak? Bukankah Aa ingin merasakannya seperti Rendra dan setelah itu mencampakkan ku. Bukan begitu? Katakan di mana aku harus melakukannya dengan Aa. Mari kita lakukan dan setelah itu pergilah menjauh dari hidupku. Ara sudah tidak tahan lagi. Melihat wajah Aa terus seperti ini, membuat Ara ingat bagaimana rasa sakit yang Aa torehkan di sini." Ungkap Amara sembari menangis dan menunjuk dadanya.
Mba Tri yang tahu permasalahan pelik hidup Amara terus menitikan air mata. Begitu pula dengan Dias yang kurang lebihnya mengetahui masalah pelik hidup Amara dari Mba Tri.
"Tidak Ara, jangan bicara seperti itu. Ayo kita pulang! Pulanglah ke rumah kedua orang tua mu, Ara. Kembalilah ketengah-tengah keluarga mu. Jika kamu kembali, Aa janji akan pergi jauh dari hidupmu. Berhentilah berjalan dijalan yang salah!" Erdi menyentuh bahu Amara dan Amara kembali menepis tangan Erdi.
"Pulang?" Amara tersenyum kecut mendengar ajakan Erdi untuk pulang.
"Iya, kamu harus pulang. Kamu melangkah terlalu jauh Amara. Kembalilah seperti Amara yang dulu. Jangan kecewakan kedua orang tua mu."
"Hahahaha... Kecewa?" Amara tertawa dalam tangisnya.
"Aku tidak akan pulang. Mereka lebih membutuhkan Aa dibandingkan aku. Pergilah!" Tolak Amara yang kemudian membalikan tubuhnya membelakangi Erdi.
Amara kembali menungguk wine sembari melirik Erdi yang terlihat geram dengan penolakan Amara. Amara sengaja menengguk wine langsung dari botolnya dihadapan Erdi. Meski rasanya sangat tak Amara sukai, namun ia terus paksakan untuk menelannya. Erdi makin mengepalkan kedua tangannya melihat tingkah Amara yang salah di matanya.
Erdi yang tersulut emosi dan masih memiliki rasa pada Amara. Akhirnya menarik paksa tubuh Amara. Erdi meraup paksa bibir Amara di depan umum.
Bugh!
Sebuah pukulan berhasil membuat Erdi jatuh tersungkur.
"Jangan sentuh wanita ku!" Geram Daniel pada Erdi dengan tatapan mata yang mematikan.
Hati Daniel mendidih melihat wanitanya di sentuh pria lain. Dua kali sudah Daniel mendapati Erdi membuat Amara menangis.
"WHAT'S???? WANITA KU???" seluruh karyawati Daniel menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar pernyataan Daniel yang mengklaim Amara adalah wanitanya.