
Setelah perdebatan sengit antara Thomas dan Tiara. Pada akhirnya seperti biasa Thomas lah yang selalu keluar sebagai pemenangnya.
Di mana keputusan Thomas harus diikuti dan dijalani oleh Tiara maupun Amara. Keduanya tidak bisa membantah apalagi melakukan penawaran.
Mereka berdua sangat takut dengan ancaman Thomas yang akan pergi dari kehidupan mereka berdua. Sosok Thomas sangatlah penting bagi Amara dan terutama pada Tiara.
Meski Thomas menang dalam menghadapi perdebatan dengan Tiara yang membela seluruh keinginan Amara untuk mandiri. Tapi Thomas tetap mengizinkan keinginan Amara untuk bekerja tambahan di cafe Kokoro milik Dokter Frans, tentunya dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Amara, diantaranya.
Pertama. Amara tidak boleh lagi mengendarai kendaraan sepeda motornya seorang diri. Karena ia akan bekerja sebagai seorang penyanyi cafe yang hanya pentas di malam hari, bertepatan dengan jam makan malam.
Thomas akan menyediakan alat transportasi khusus untuk Amara, berikut beserta pengemudinya, untuk mengantarkan kemanapun Amara pergi, tanpa terkecuali.
Di dalam hal menentukan alat transportasi untuk dirinya, Amara sudah mengatakan rasa keberatannya jika Thomas memfasilitasi dirinya dengan alat transportasi mewah seperti mobil. Amara hanya ingin diantar jemput dengan sepeda motor atau seorang ojek online yang disewa khusus untuknya.
Jujur, saat ini Amara merasa tak enak hati dengan Tiara. Sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan apa yang kini dirasakan Tiara. Di mana pria yang dicintainya, terlihat perduli dan lebih memperhatikan wanita lain. Lupakan embel-embel persahabatan. Karena masalah hati tidak ada kaitannya dengan sebuah persahabatan.
Dengan dukungan Tiara, Thomas pun mengabulkan keinginan Amara itu. Namun ada pengecualian jika cuaca hujan, Amara harus mau tak mau diantar jemput dengan mobil yang akan disiapkan oleh Thomas.
Kedua, Thomas meminta pada Amara maupun Tiara untuk tidak merahasiakan sesuatu di belakang dirinya. Apapun yang terjadi pada Amara maupun Tiara, keduanya harus menceritakan kepada Thomas. Dan untuk hal ini baik Amara maupun Tiara kompak tidak bisa melaksanakan persyaratan dari Thomas, yang bagi mereka cukup berat.
Saat ini Thomas merasa ada yang sedang disembunyikan antara Amara dan Tiara. Bukan karena melihat gelagat kedua wanita spesial di hidupnya ini yang mencurigakan, tapi karena kata hatinya yang terus mengatakan, jika ada yang tidak beres dengan keduanya.
Thomas memiliki feeling yang sangat kuat. Di mana ia akan merasa kecewa dan hancur dengan apa yang telah keduanya sembunyikan dari dirinya. Hingga ia memutuskan akan mencari tahu sendiri, apa yang tengah keduanya sembunyikan.
Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi baunya tetap tercium juga, itulah peribahasa yang pantas untuk Amara dan Tiara yang tengah menutupi kesalahan yang pernah dijalani oleh Amara.
Ketiga, setelah Amara menolak penawaran dari Thomas maupun Tiara tentang tempat tinggal. Dimana Amara telah menolak untuk tinggal di apartemen milik Thomas maupun Tiara yang tidak ditempati oleh keduanya. Kini Amara diharuskan menerima bantuan dari Thomas ataupun Tiara dalam hal pembayar kos-kosannya dengan bentuk subsidi fifty fifty.
Amara sama sekali bukanlah tipe orang yang aji mumpung, memanfaatkan kebaikan dan kekayaan orang lain demi kepentingan dan kesenangamnya sendiri.
Saat ini meski ia merasa berat dan sangat merasa hidupnya telah merepotkan orang lain. Tapi demi persahabatan mereka, Amara pun menyetujui syarat yang telah diberikan Thomas. Karena bagi Amara, hanya tinggal Thomas dan Tiara yang masih perduli dengan hidupnya yang terasa sebatang kara di dunia ini.
Hari-hari pun berlalu, Amara kembali bekerja part time di perusahaan Daniel. Dan pada malam harinya, Amara bekerja di cafe milik Dokter Frans.
Sering kali Daniel menjemput Amara di tempat kosannya, dengan niat untuk makan siang bersama terlebih dahulu, lalu setelah itu baru ke perusahaannya. Namun sayang, niat Daniel selalu tidak pernah terealisasikan.
Daniel tak pernah berkesempatan menemui Amara di kosannya. Padahal Amara sudah tak lagi sibuk dengan kuliahnya. Saat Daniel datang Amara selalu sudah pergi terlebih dahulu, entah kemana.
Di perusahaan Angkasa Jaya.
Daniel yang tak patah arang untuk terus melakukan pendekatan diri dan mendapatkan kata maaf dari Amara. Kerap kali melakukan hal bodoh diluar nalarnya, tanpa ia sadari. Ia sering kali menghubungi Amara melalu sambungan intercom. Hanya untuk melepas kerinduannya dengan suara Amara.
Meski Daniel sering bersikap manis dan terkesan mengemis kepedulian Amara, namun Amara masih kukuh dengan pendiriannya. Ia sama sekali tak menanggapi apapun yang Daniel lakukan.
Amara hanya akan bersikap ramah dan hangat dengan orang lain, tapi tidak dengan Daniel. Saat berhadapan dengan Daniel, sikap Amara berubah menjadi datar dan dingin. Bahkan Amara sering kali menghindari dirinya dari Daniel.
Sore hari ini setelah selesai meeting bersama bagian tim creator. Daniel kembali mencoba menghubungi Amara dengan alasan minta dibuatkan kopi.
"Dengan Amara bisa dibantu," sapa Amara saat ia mengangkat panggilan intercom yang ada di meja kerjanya.
"Ya. Tentu ada. Saya mau kamu buatkan kopi hitam pekat untuk saya, sekarang!" Perintah Daniel.
"Maaf Pak, sepertinya Bapak salah sambung. saya ini staff account executive bukan office girl. Jika Bapak ingin secangkir kopi, segera saya akan sambungkan keruangan pantri." Balas Amara dengan suara yang datar, masih terkesan sopan.
Teman-teman satu ruangan yang mendengar jawaban Amara dan melihat bagaimana beraninya Amara menolak perintah seorang Daniel yang tidak bisa menerima penolakan dari anak buahnya, hanya bisa menggelengkan kepala mereka dan menahan tawa.
Ya, mereka menahan tawa. Membayangkan bagaimana ekspresi Daniel diperlukan seperti itu oleh Amara.
"Sial! Beraninya kamu menolak ku. Sudah aku katakan aku bukanlah orang yang bisa menerima penolakan." Ucap Daniel yang tersungkur emosi.
Ia segera beranjak dari kursi kebesarannya. Kemudian berjalan keluar ruangan kerjanya dengan tergesa-gesa. Saat ini banyak para pekerja merasa takut dengan tampang sangar yang diperlihatkan oleh Daniel. Mereka khawatir menjadi sasaran amukan Daniel yang sebenarnya tertuju pada Amara.
Ya, seluruh penghuni perusahaan Angkasa Jaya, sudah mengetahui retaknya hubungan mereka. Dan melihat bagaimana sekarang Daniel tengah berusaha keras memperbaikinya, meski terus mendapatkan penolakan dari Amara yang terlanjur mengeraskan hatinya.
Ceklek! Pintu ruangan kerja tim account executive terbuka.
Nampak Daniel datang bersama dengan Siska di belakangnya. Daniel berjalan menghampiri meja kerja Amara. Di mana Amara terlihat sibuk dengan berkas-berkas penting yang sedang ia input dan pelajari.
"Buatkan saya kopi, S E K A R A N G!" Perintah Daniel pada Amara yang sama sekali tak menoleh ke arahnya.
Amara sengaja menulikan pendengaran dan tak menganggap keberadaan Daniel.
"Amara, saya mau kopi!"
"Maaf, Bapak salah ruangan. Ruangan pantri bukan di sini. Kalau Bapak mau kopi silahkan datang ke pantri." Sahut Amara dengan suara datar dan sikap dinginnya yang sangat Daniel benci. Apalagi ia bicara tanpa mau melihat ke arah Daniel sedikit pun.
Tentu saja Amara berani melawan Daniel. Ia terpaksa kembali bekerja karena takut dengan ancaman Daniel yang akan menuntut dirinya, jika tidak menyelesaikan kontrak kerjanya dengan perusahaan Daniel.
Amara sengaja membuat gara-gara agar ia dipecat langsung oleh Daniel. Dengan begitu ia akan pergi dengan mudah tanpa ancaman tuntut, menuntut lagi.
"Sayangnya, saya tidak mau membuatkannya Pak Daniel yang terhormat. Lagi pula membuat kopi tidak tertulis di dalam job deskripsi saya sebagai account executive." Tolak Amara dengan beraninya.
Mendengar penolakan Amara. Seketika rahang Daniel mengeras. Ingin rasanya ia meluapkan emosinya. Jika saja yang mengatakan hal ini bukanlah Amara. Mungkin orang tersebut akan Daniel pecat seketika itu juga.
Tapi sayang, yang mengatakan hal ini adalah Amara, dan lagi-lagi Daniel harus lebih mengasah kesabarannya lagi demi mendapatkan Amara kembali.
Daniel terlihat merenggangkan kembali buku-buku tangannya yang mengepal sempurna barusan. Nampak terlihat jelas jiplakan kukunya yang menancap pada telapak tangannya. Sebuah pertanda jika seorang Daniel menahan emosinya dengan melukai dirinya sendiri, tanpa meledakkannya langsung pada Amara.
Daniel menghela nafas panjang, lalu makin mengikis jarak diantara dia berdiri dengan meja kerja Amara.
"Sayang, bisakah kamu tidak bersikap seperti ini terus terhadap saya. Kita sudah lama bertengkar dan pertengkaran kita ini selalu menjadi konsumsi publik. Apa kamu tidak malu dengan semua ini?" Rayu Daniel sembari berjongkok di samping kursi kerja Amara.
Tanpa rasa malu dan terkesan sengaja, Daniel memanggil Amara dengan panggilan sayang. Panggilan itu begitu menggelitik di telinga Mba Tri dan juga Dias, namun tidak dengan karyawan lain yang merasa Amara begitu beruntung dipanggil sayang oleh seorang Daniel.
Daniel terus saja mengelus paha Amara yang di balut celana panjang berwarna Navy, hingga Amara merasa geli dan juga risih.
"Singkirkan tangan Anda, Pak Daniel! Tolong jaga kesopanan Anda!" Ucap Amara sinis tak lupa dengan lirikan mata yang mematikan pada Daniel.
Tak hanya mendapatkan lirikan tajam, Daniel juga mendapatkan pukulan cukup kencang dari Amara yang menyingkirkan tangannya.
Plak!!
"Au... Sakit sayang," rintih Daniel.
"Menyingkir!"
"Tidak mau. Saya akan menyingkir, jika sudah dibuatkan kopi oleh kamu dulu." Paksa Daniel sembari menatap penuh memohon, dengan tangan yang kembali mengelus-elus bagian pahanya.
Rasa geli dan bercampur desiran yang membangkitkan gairah kini Amara rasakan, karena ulah tangan nakal Daniel ini. Yang pada akhirnya membuat Amara terpaksa memenuhi permintaan Daniel untuk dibuat secangkir kopi.
"Arghhh... Baiklah akan saya buatkan. Dasar pemaksa!"
Siska yang mendengar jawaban Amara akan membuatkan kopi untuk Daniel. Segera saja meletakkan kopi, termos dan gelas yang ia bawa sejak tadi di atas meja kerja Amara.
Dengan penuh kesal, emosi dan dendam. Amara meracik kopi hitam pekat untuk Daniel. Penampakan kopi itu tak hanya sekedar pekat tapi sangat pekat bahkan terlihat sangat kental seperti adonan bakwan.
Baik Siska dan karyawan lain yang melihat bagaimana Amara meracik kopi untuk Daniel hanya mengerutkan alis mereka. Tak dapat dibayangkan betapa pahit rasa kopi buatan Amara itu. Mereka juga yakini kopi buatan Amara sama sekali tidak dapat di minum.
Sementara Daniel hanya tersenyum senang melihat Amara sedang meracik racun untuk lambungnya. Usai membuat kopi, Amara sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tak sama sekali mempersilahkan Daniel untuk mengambil kopi buatannya yang ia biarkan begitu saja di atas meja.
Kamu pasti tidak akan tega memintaku untuk meminumnya, bukan? Aku sangat tahu bagaimana sifat mu, Amara. Aku lebih baik kamu marah daripada diam dan menghindari ku. Batin Daniel.
Disaat keheningan tercipta diantara mereka, karena tak ada satupun dari mereka yang berbicara dan Amara malah kembali menatap layar monitor komputernya. Tiba-tiba ponsel Amara berdering.
Daniel menyernyitkan alisnya saat melihat siapa yang tengah menghubungi Amara.
Rendra calling.
"Ya, Mas." Sahut Amara saat menerima panggilan telepon dari Rendra di hadapan Daniel.
"Besok aku sudah boleh pulang, apa kamu mau membantuku merapikan barang-barangku? Hari ini Mami pergi ke Surabaya dan baru kembali besok pagi. Saat ini aku hanya seorang diri di rumah sakit." Ucap Rendra yang tak dapat Daniel dengar.
Besar harapan Rendra, Amara mau menghabiskan waktu bersamanya berdua di rumah sakit. Tapi sayang harapan Rendra tidak akan berbuah manis.
Mungkin hari ini sudah saatnya aku bicara dengan Mas Rendra. Aku tak bisa membuang waktu ku lagi dengan rasa bersalah yang merusak mentalku. Semuanya harus selesai hari ini. Batin Amara.
"Oh ya, aku senang mendengarnya, jika kamu sudah diperbolehkan pulang. Baiklah Mas, pulang kerja nanti aku akan langsung ke rumah sakit. Sampai ketemu nanti ya, sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu. Bye..." Jawab Amara yang kemudian menutup panggilan teleponnya.
Kesal, marah dan terbakar api cemburu karena merasa cara bicara Amara yang begitu manis pada Rendra. Akhirnya membuat Daniel pergi begitu saja. Daniel pergi dengan membanting pintu ruangan kerja Amara, tanpa sempat mengambil kopi buatan Amara yang masih ada di meja kerjanya.
Cih, dia jealous. Begitu saja sudah kena mental. Bagaimana kalau dia melihat cara Thomas memperlakukan Amara dengan manis. Pasti bisa kebakaran jenggot dan kejang-kejang dia. Batin Mba Tri yang mulai tak simpatik lagi pada Daniel, setelah mengetahui apa yang Daniel lakukan pada Amara.
Tepat pukul 17.00 seorang pria berpostur tubuh cukup proporsional, yang selama ini menjadi ojek antar jemput Amara. Sudah siap menunggu Amara di lobby perusahaan.
Melihat Amara berjalan bersama dengan Mba Tri. Asep, ojek jemputan Amara pun datang menghampiri keduanya.
"Non, Amara." Panggil Asep sembari menyodorkan helm untuk Amara.
"Bang Asep, hari ini kita ke rumah sakit dulu ya." Ucap Amara ketika menerima helm dari tangan Asep.
"Baik Non, saya akan antarkan kemanapun Non pergi sesuai perintah Tuan Thomas." Jawab Asep yang kemudian jalan lebih dahulu untuk mengambil motornya.
Daniel yang kini masih berada di ruang kerja, sorot matanya yang tajam tak berpaling sedikit pun dari layar Cctv. Di mana ia terus memandangi sosok Amara hingga sosok itu tak lagi tersorot oleh kamera Cctv diperusahaannya.
Dia lebih memilih kekasihnya daripada aku. Teganya kamu mencampakkan aku, Amara. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau kamu kembali padanya. Kamu harus bersama ku. Batin Daniel.
Daniel segera beranjak, ia berjalan cepat keluar dari ruang kerjanya demi menyusul Keberadaan Amara.