
Irama jantung Daniel yang terus berdenyut tak menentu saat sedekat ini dengan Amara, tak menyurutkan keinginan Daniel untuk menyentuh bibir mungil Amara yang mengecap saat tertidur, dengan jemarinya.
Tatapan mata Daniel terus terfokus pada bibir Amara yang terus bergerak layaknya seseorang yang sedang mengunyah makanan, meski jemarinya telah menempel dan berusaha menghentikan pergerakan di bibir mungil berwarna merah jambu itu.
"Jangan memprotes ku saat aku sedang memandangimu, karena entah mengapa tatapan mataku tak mampu berpaling darimu. Semua yang ada di dalam dirimu seperti magnet yang terus menarik diriku. Dan hanya dengan menatap mu, aku mendapatkan kedamaian." Ucap Daniel yang kemudian mendaratkan kecupan pada bibir Amara, seraya memejamkan kedua bola matanya.
Amara yang tertidur pulas sama sekali tak merespon dengan kecupan yang diberikan Daniel. Cukup lama Daniel mengecup bibir Amara. Membiarkan bibirnya lebih lama berada di atas bibir Amara.
Di akhir kecupan yang Daniel berikan, ia sedikit menyesap kuat bibir mungil itu, hingga Amara sedikit melenguh dan meraih kedua rahang tegas Daniel.
Daniel melepaskan bibir Amara dan tersenyum, ia dapati mata Amara yang masih tertutup rapat.
"Aku kira kamu terbangun dan membalas kecupanku. Tapi ternyata kamu masih tertidur. Sepertinya kamu lelah sekali. Tidurlah! Aku akan menjagamu." Ucap Daniel seraya mengusap lembut ujung kepala Amara.
Tepat pukul 04.00 pagi. Daniel yang sebelumnya ikut berbaring di sofa memeluk Amara sepanjang malam, terbangun karena dering suara ponselnya.
Daniel beranjak dari sofa, menghampiri ponsel yang sedang ia charger di atas meja kerjanya.
My Angel calling ~
Daniel mengangkat panggilan telepon dari putri semata wayangnya. Ya, Daniel adalah seorang duda yang memiliki seorang anak perempuan berusia delapan tahun.
Pernikahan pertama Daniel kandas karena sang istri yang tak bisa menerima keberadaan kedua orang tuanya yang tinggal bersama dengan mereka. Daniel memilih menceraikan istrinya yang tak bisa menghormati dan menghargai kedua orang tuanya.
"Papi, kenapa tidak pulang-pulang sampai saat ini? Sekarang Papi ada di mana?" Tanya putri Daniel yang bernama Clara dengan suara sedihnya.
"Maafkan Papi sayang. Papi lembur semalam dan terkunci di kantor." Jawab Daniel jujur.
"Terkunci? Papi baik-baik saja 'kan sekarang? Tidak ada sesuatu yang buruk 'kan yang menimpa Papi? Kenapa Papi tidak menghubungi ku atau polisi untuk membantu Papi sih?" Tanya gadis kecil ini kembali dengan nada bicara yang sangat mengkhawatirkan sang Papi.
"Papi baik-baik saja, bahkan Papi baru saja terbangun karena kamu menelepon. Papi tidak menghubungi mu karena ponsel Papi kehabisan baterai. Sekarang kembalilah tidur sayang, ini masih terlalu pagi untuk mu bersiap-siap ke sekolah." Jawab Daniel dengan mata yang terus menatap ke arah Amara yang meringkuk kedinginan di atas sofa, setelah terlepas dari pelukannya.
"Syukurlah jika Papi baik-baik saja. Aku menyayangi mu, Pih."
"Papi juga menyayangi mu Nak, kembalilah bermimpi indah."
"Heum... baiklah. Bye Papi."
"Bye sayang,"
Usai Clara, sang putri menutup sambungan teleponnya. Daniel kembali menghampiri Amara. Ia tak lagi ikut berbaring, berbagi kehangatan di atas sofa yang sempit itu. Ia datang menghampiri Amara untuk menyelimuti tubuh Amara yang kedinginan dengan jas kerja yang ia letakkan di atas meja semalam.
Usai menyelimuti Amara, Daniel kembali ke meja kerjanya. Ia duduk di bangku kebesarannya, kemudian memutar arah kursi itu menghadap dinding kaca yang berada tepat di belakangnya.
Ia kembali menatap gedung-gedung pencakar langit dengan perasaan kosong dan hampa. Hatinya kembali teriris mengingat perkataan Tara yang membatalkan rencana pernikahan mereka dan meminta untuk mengakhiri sementara waktu jalinan kasih diantara mereka.
"Kenapa kau begitu egois Tara? Aku memang mencintai mu, aku takut kehilangan mu. Tapi tidak berarti kau bisa mengatur dan mengubah keyakinan ku dalam sekejap mata." Tutur Daniel sembari menitikan air mata.
Daniel yang berstatus duda, ingin sekali mengakhiri masa dudanya dengan menikahi Tara, wanita yang selama ini ia cintai. Tara menerima lamaran Daniel.
Semua berjalan begitu indah, hingga tiba saat dimana Daniel resmi melamar Tara pada keluarga Tara. Di sinilah keluarga Tara muai mempermasalahkan keyakinan mereka yang berbeda.
Meski lamaran Daniel diterima dengan baik oleh keluarga Tara. Namun keluarga Tara dan juga Tara sendiri, menuntut Daniel untuk merubah keyakinannya sebelum hari pernikahan mereka tiba. Hal itu sangat berat dan sulit untuk seorang Daniel lakukan.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Amara yang sudah puas dengan jam tidurnya, mulai mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya. Hal itu tak luput dari pandangan Daniel.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana tidur mu semalam? Apa sangat nyenyak?" Daniel memborong pertanyaan yang membuat Amara terkejut dan lompat seketika dari sofa.
"Hah?" Mata Amara membulat mengamati keberadaannya saat ini.
Daniel tersenyum tipis melihat penampilan natural Amara dengan rambut singanya yang acak-acakan.
Kini Amara menyadarinya betul keberadaannya sekarang. Di mana ia telah bermalam di ruang kerja atasannya. Padahal ia ingat betul jika dirinya tertidur di anak tangga terakhir tangga darurat.
"Pak Daniel. Kenapa saya bisa ada di sini?" Tanya Amara dengan wajah yang sangat lucu di mata Daniel.
Daniel menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Seolah ia ingin terus menjahili Amara yang terlihat lucu pagi ini.
"Hah?" Amara garuk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat Daniel mengangkat kedua bahunya.
Sejenak Amara terdiam dan berpikir bagaimana bisa ia berada di ruangan kerja atasannya. Merasa pusing tak mendapatkan jawaban dari dalam otaknya. Amara pun segera pamit undur diri pada Daniel dengan membungkukkan kepalanya.
"Maaf atas kelancangan saya tertidur di ruang kerja Bapak. Saya sungguh menyesalinya. Saya pamit undur diri Pak. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Amara yang membuat Daniel beranjak dari kursi kebesarannya.
Daniel berjalan menghampiri Amara yang sudah siap meninggalkan ruang kerja Daniel dengan rambut singanya.
"Kamu sudah mau pergi, dengan keadaan seperti ini?" Ucap Daniel yang dengan beraninya menyentuh rambut Amara yang berantakan.
Amara terkesiap dengan sentuhan lembut Daniel pada helaian rambutnya.
Dug...dug...dug...
Jantung Amara kembali bergemuruh, berdekatan sedekat ini dengan Daniel.
"Maaf. Biar saya sendiri saja,Pak." Amara memundurkan langkahnya, sedikit menjauhkan dari Daniel yang terus merapikan rambutnya.
Amara terus menggerakkan kedua tangannya merapikan penampilan rambutnya. Setelah selesai ia kembali menundukan tubuhnya, berpamitan kembali pada Daniel yang masih berdiri memandanginya.
Amara melangkahkan kakinya menuju muka pintu. Saat tangannya ingin membuka handle pintu. Sepasang tangan kekar tiba-tiba kembali memeluk dirinya dari belakang.
"Kenapa saya tidak rela melihat mu pergi? Bisakah kamu tetap di sini, menemani saya?" Bisik Daniel tepat di telinga Amara. Seketika itu aliran darah Amara berdesir sangat hebat. Ia hanya bisa berdiri emaung menatap Daniel.