Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Tara dan Hanna



Brakk!!


[Pintu ruang kerja Dokter Frans tiba-tiba terbuka dengan kasar]


Muncul seorang wanita mengenakan dress mini namun terlihat cukup elegan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Di mana dirinya tengah berbicara empat mata dengan sahabat kecilnya.


"Owh... karena ini kamu tidak bisa ditemui rupanya." Ucap Tara dengan memandang remeh ke arah Hanna yang tengah duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Dokter Frans.


"Ada urusan apa kamu menemui ku? Aku tidak punya waktu untuk bicara dengan wanita macam dirimu." Sahut Dokter Frans tanpa menatap Tara yang masih berdiri di muka pintu.


"Kau tidak punya waktu untuk ku tapi punya banyak waktu untuk mantan istri calon suamiku." Balas Tara sembari berjalan mendekati Dokter Frans.


Mendengar Tara mengaku-ngaku Daniel adalah calon suaminya. Hanna malah tertawa, seakan mengejek ucapan Tara barusan.


"Calon suami hahaha... apa aku tidak salah mendengarnya Frans?"


"Tentu tidak Nyonya Hanna, aku adalah calon istri mantan suamimu. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Hidup berbahagia bersamanya hanya berdua saja. Aku akan menyingkirkan anakmu yang tidak berguna itu." Balas Tara yang berhasil membuat Hanna naik pitam.


Sebagai seorang ibu, ia pasti akan marah ketika anak kandungmya dihina tidak berguna oleh seseorang. Terlebih dari mulut wanita komersil yang selalu menilai sesuatu dengan materi.


"Apa kau bilang, anakku tidak berguna? Kau yang tidak berguna Tara. Ibu macam apa kau ini, meninggalkan putrimu yang masih membutuhkan air susu mu hanya karena ingin menikah dengan mantan suamiku?"


Deg!


Tara membolakan matanya, tak menyangka jika Hanna tahu rahasia besar yang ia tutup-tutupi.


Hanna yang melihat raut terkejut Tara yang begitu nampak jelas makin menyudutkan Tara.


"Kenapa? Apa kau terkejut aku mengetahuinya? Sepintar-pintarnya kamu menyimpan bangkai kebusukan mu. Pasti akan ketahuan juga. Sadarlah siapa dirimu dan siapa kami?"


Mendengar perkataan Hanna yang menyudutkannya. Tara mengalihkan pandangannya ke arah Dokter Frans yang duduk dengan santai sembari memainkan bolpoinnya.


"Kau. Pasti kau yang mengatakan pada mereka tentang kehamilan ku? Dasar Dokter sialan!" Tunjuk Tara pada Dokter Frans yang hanya tersenyum miring menanggapinya.


"Kau menuduh sahabatku? Hahaha... kenapa kau harus menuduhnya? Apa karena Daniel selalu mengatakan mulutnya yang ember? Hahaha... Mulutnya ember hanya sebuah candaan kami. Untuk apa dia mengurusi kehidupan mu yang bobrok itu Tara? Kau yang terlalu bodoh memeriksa kehamilan mu di rumah sakit di mana keluarga Daniel memiliki saham besar di dalamnya. Kehamilan mu bukanlah sebuah rahasia lagi. Daniel pun sudah mengetahuinya, dan kini kau bernasib sama seperti ku. TERHEMPAS DAN TERBUANG!" tutur Hanna tegas.


Tiba-tiba saja Tara merasa kakinya tidak lagi bertulang, saat ia mendengar penuturan Hanna.


"Tidak-tidak. Kau sedang memperdayaku karena ingin kembali pada Daniel bukan?" Kata Tara tak percaya.


"Kau masih belum menerima kenyataan rupanya. Apa kau tidak sadar perusahaan mu saat ini hampir gulung tikar karena apa?" Balas Hanna yang mencoba membuka pikiran Tara.


Melihat lawan bicaranya diam, Hanna pun melanjutkan ucapannya.


"Tentu saja karena Daniel yang memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan dirimu dan juga keluarga mu. Daniel tidak suka dibohongi, apalagi dikhianati. Kau akan mengalami kehancuran seperti diriku, Tara. Saranku, pergilah kembalilah pada putri mu. Sebelum kau menyesal seperti diriku. Ketahuilah Tara, anak adalah harta yang paling berharga di dunia ini. Jangan sia-siakan anak mu! Aku yakin kau pun merasa sedih berjauhan dengan putri mu. Tapi karena obsesi mu ingin memiliki Daniel dan juga hartanya, kau kesampingkan perasaan sedihmu itu." Terang Hanna yang sedikit memberikan saran pada Tara.


"Jangan mengguruiku!" Ucap Tara pada Hanna.


"Aku tidak mengguruimu. Untuk apa kamu bertahan dan memperjuangkan Daniel mati-matian. Sedangkan Daniel sudah menikah dengan wanita lain. Wanita yang sangat di cintai Daniel dan juga putriku. Wanita beruntung yang memiliki hati tulus mencintai mereka."


"TIDAK!!" Pekik Tara yang terlihat frustrasi mendengar perkataan Hanna.


"Jika kamu tidak percaya, aku akan mengantarmu melihat bagaimana Daniel dan putriku sudah hidup bahagia dengan wanita itu." Ajak Hanya yang kemudian menarik Tara keluar dari ruangan kerja Dokter Frans.


Hanna membawa Tara ke sekolah di mana Claea dan Amara berada. Saat mereka baru tiba di sekolah tersebut, suatu kebetulan mereka melihat mobil Daniel yang juga baru tiba. Tara ingin segera turun untuk menghampiri Daniel, namun Hanna melarangnya.


"Jangan cari mati, Tara! Saat ini mereka dalam pengawasan Nyonya Anne. Wanita itu sudah mendapatkan restu dari seorang Nyonya Anne, yang tidak pernah kita miliki." Ucap Hanna saat menahan tubuh Tara.


Tara pun mengurungkan niatnya menghampiri Daniel. Keduanya akhirnya tetap menunggu di dalam mobil. Selang tak berapa lama, Daniel keluar bersama Clara dan juga Amara. Clara berjalan riang sambil menggandeng Amara di depan Daniel yang sibuk membawa tas ransel milik Clara dan juga tas laptop milik Amara. Suatu pemandangan yang tidak biasa dilihat oleh keduanya. Di mana Daniel tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.


"Papi kita makan Chicken dulu ya? Aku dan Mami mau makan Chicken." Ucap Clara pada Daniel yang mereka dengar.


"Ya, putriku memanggilnya dengan sebutan Mami dan Daniel pun juga memanggil wanita itu dengan sebutan Mami."


"Apa?" Sahut Tara terkejut.


"Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan pada putriku. Tapi wanita itu bisa membuat putriku bahagia. Aku sangat mencintai putri kandung ku. Aku mohon padamu, Tara. Jangan rusak kebahagiaan putriku dengan obsesi mu ingin memiliki Daniel. Jika hanya uang yang kau inginkan. Aku akan memberikannya. Sebutkan nominal yang kau inginkan!" Ucap Hanna denga berderai air mata.


Melihat Hanna menangis dengan kerelaannya. Hati Tara tergugah. Ia juga kini sudah menjadi seorang ibu. Ia dapat mengerti apa yang dirasakan oleh Hanna.


"Maafkan aku Hanna, bolehkah aku memanggilmu Hanna?"


Hanna mengangguk, mengizinkan Tara memanggilnya tanpa sebutan Nyonya seperti biasanya mereka ketika bertemu.


Ya, keduanya dulu sering bertemu. Hanna yang selalu mengajak Tara bertemu, demi memohon bantuan Tara untuk mempertemukan dan mendekatkan dirinya dengan putrinya. Namun kembali lagi usaha Hanna tidak pernah berhasil karena akan selalu ada Nyonya Anne yang menjadi penghalang.


"Sekali lagi maafkan kesalahanku padamu dan juga putrimu. Terima kasih sudah menyadarkan aku tentang pentingnya anak dalam kehidupan kita, seorang ibu. Kini Aku sadar jika aku salah. Aku berjanji padamu tidak akan mengusik kebahagiaan putrimu dan juga Daniel. Tapi tolong bantu aku untuk kembali ke USA bertemu dengan putriku." Ucap Tara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau tidak perlu kembali ke USA untuk menemui putrimu. Mereka masih ada di negara ini, bersama kekasihmu. Tuan Christiano baru saja melakukan test DNA ulang, untuk mengetahui putrimu benar-benar bukan anak Daniel."


"Apa? Benarkah? Antar aku ke sana Hanna! Kau mau mengantarkan ku kan?" Ucap Tara yang terlihat bahagia putrinya ada di negara ini.


Hanna yang tidak keberatan pun akhirnya mengantarkan Tara menemui kekasih gelapnya dan juga putri kandungnya. Hanna mengetahui hotel di mana kekasih gelap Tara menginap, sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari Dokter Frans.


Hari itu juga Tara langsung saja bertolak ke USA, memulai hidupnya yang baru dengan kekasih gelapnya dan juga putri kandung mereka, tanpa sempat bertemu dengan Daniel ataupun keluarganya terlebih dahulu.


Sementara itu, Amara yang tidak lagi bekerja di Jaya Crop. Seusai mengajar langsung kembali ke kosannya. Dan seperti biasa. Clara akan tidur siang bersama Amara di dalam kamar kosan.


"Arghhh kenyang sekali, besok-besok jangan pesan menu yang spesial seperti itu. Porsinya terlalu banyak. Aku jadi mengantuk 'kan?" Ucap Amara dengan alasannya.


"Alasan. Memang kamu itu tukang tidur!" Sahut Daniel yang memukul pelan tubuh Amara dengan guling.


Amara sedikit tertawa kemudian memejamkan matanya. "Papi, cepatlah pergi bekerja! Carilah uang yang banyak untuk kami!" Perintah Amara pada Daniel yang tersenyum melihat Amara tidur dengan menjadikan tubuh Clara sebagai gulingnya.


Pantas saja Clara selalu ingin tidur siang di sini. Kamu selalu memeluknya seperti ini. Batin Daniel bahagia.


"Aku pergi ya? Aku sudah pasangkan alarm, jangan lupa untuk bangun!" Ucap Daniel yang sudah beranjak berdiri.


"Hemm... kalau gak bangun mati dong aku?" Balas Amara dengan suara sedikit parau. Bertanda jika ia hampir terlelap dalam tidurnya.


"Kamu jangan mati! Karena aku tidak sanggup hidup tanpa mu." Balas Daniel.


"Hemm... iya... aku akan hidup abadi jadi vampir untuk menemani mu." Sahut Amara lagi dengan suara yang makin lama makin menghilang.


Sadar jika Amara sudah mengantuk berat. Daniel pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar kosan Amara dan kembali bekerja.


Ceklek! [Pintu terbuka]


Betapa terkejutnya Daniel melihat Rendra ada di depan pintu kamar kos Amara.


Hayoo kira-kira mau ngapain ya Rendra...


Cuss... tungguin episode selanjutnya ya...


Detik-detik penentuan nih...


Yuk aku mau minta-minta nih...


Minta tinggalin jejak kalian Vote, komen, like.


Terserah mau komen apa aja.. yang penting rame aja cihuyy... jangan lupa follow aku supaya tahu kalau aku buat karya baru hehehe.. canda karya Baru..