
Terjadi perdebatan antara Nyonya Anne dan dokter yang baru saja tiba di ruangan rawat Amara. Beberapa Dokter Obgyn yang telah menyelesaikan tugasnya, segera pergi menyingkir. Mereka tidak mau terseret para petinggi rumah sakit tempat mereka mengais rezeki.
"Jangan kau ikut campur Frans! Saya melakukan hal ini untuk kebaikan wanita ini."
"Kebaikan yang mana yang Nyonya maksud? Apakah bisa dinilai sebuah kebaikan, ketika seseorang merencanakan untuk memisahkan kedua orang yang saling mencintai?" Sindir Frans terhadap Mommy Daniel yang berdiri dengan congak di hadapannya ini.
Nyonya Anne yang sadar jika Frans sedang menyindir dirinya, tentang tindakannya yang dulu pernah memisahkan Daniel dan juga Hana akhirnya terpaksa buka suara. Ia gerah selalu dipandang buruk oleh orang-orang yang mengenal dirinya dan juga sang mantan menantu. Sebenarnya berat baginya untuk mengatakan alasan mengapa ia melakukan hal itu kepada Daniel dan juga Hana.
"Kamu tidak tahu apa-apa Frans. Wanita yang kalian anggap baik itu, sebenarnya tidak baik dan tidak bermoral. Putra saya sangat dibutakan oleh cinta. Hingga ia tidak bisa membedakan mana wanita baik-baik dan tidak. Untuk menyadarkan putra saya itu, saya harus berusaha keras dan memiliki bukti. Dan bukti yang saya miliki, tidak perlu saya jabarkan kepada semua orang, termasuk dirimu, Dokter Frans."
"Apa maksudnya Nyonya mantan menantu Nyonya, Hana itu kurang baik? Lalu kriteria menantu baik seperti apa yang nyonya Anne harapkan untuk putra kesayangan Anda itu? Apa Tara adalah kriteria menantu idaman Nyonya?" Dokter Frans terus memberondong pertanyaan kepada Nyonya Anne yang malah tersenyum mengejek ketika Frans menyebutkan nama Tara dalam pertanyaannya.
"Ya Hana bukanlah wanita baik-baik. Dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya, tanpa Daniel dan kalian ketahui. Sebagai seorang ibu saya tidak terima putra saya dikhianati oleh wanita macam Hana. Dan jika kamu bertanya apakah Tara adalah kriteria menantu idaman saya? Tentu saja bukan. Kamu jangan pura-pura tidak mengetahui kondisi Tara saat ini, Frans!"
Frans menarik senyum miringnya, ketika Nyonya Anne mengingatkannya untuk tidak berpura-pura tidak mengetahui kondisi Tara saat ini.
Andai Daniel adalah orang yang mudah untuk menerima sebuah informasi tentang kebenaran yang Frans dan orang sekelilingnya berikan. Mungkin Frans akan mudah mengatakannya tanpa harus mencari bukti seperti yang dilakukan Nyonya Anne, tentang siapa Tara sebenarnya dan apa yang tengah Tara lakukan saat ini di luar negeri.
"Baiklah saya tidak akan berpura-pura di depan Nyonya. Tadi Nyonya bilang sebagai seorang ibu? Bagaimana Anda bisa bilang anda adalah seorang ibu, jika kelakuan Anda saja sungguh tega memprovokasi Daniel untuk memisahkan seorang ibu dengan anaknya. Di mana letak hati nurani Anda Nyonya?"
Nyonya Anne tersenyum miring mendengar pertanyaan Frans yang seakan memojokkan dirinya.
"Kelihatannya kamu sangat membela Hana, Frans. Apa kamu menaruh perasaan pada wanita tak bermoral itu?" Nyonya Anne balik bertanya pada Frans dengan senyum miring yang tak lepas dari bibir wanita separuh abad itu
"Tidak ada perasaan lebih kecuali rasa empati saya terhadap Hana, Nyonya. Karena dia adalah teman baik saya semasa kecil saya dulu."
Hahahaha....! tawa Nyonya Anne menggelegar di seisi ruangan rawat Amara, karena mendengar jawaban Dokter Frans.
Amara yang dalam pengaruh obat tidur tidak terusik sama sekali dengan suara tawa Nyonya Anne yang memecahkan kesunyian di ruang rawatnya itu.
"Ternyata tidak hanya Daniel yang ia bodohi, tapi juga kamu frans. Saya tahu taktik wanita itu. Dia ingin berusaha mendekatimu untuk mempengaruhi putra saya, agar memberinya kesempatan untuk mendapatkan hak asuh Clara. Itu tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun. Karena perlu kau tahu Frans. Wanita yang kau katakan adalah teman baikmu sewaktu kecil itu, masih begitu penasaran dengan bapak biologis dari Clara."
"Apa?" Dokter Frans begitu terkejut dengan pernyataan Nyonya Anne.
"Kau terkejut? Wanita rubah itu sangat membenci saya, yang sudah mengetahui keberukannya. Daniel masih berbaik hati tidak membeberkan kelakuan buruk mantan istrinya itu pada semua orang termasuk dirimu sahabatnya, hal itu dia lakukan karena dia masih memikirkan masa depan Clara. Bagaimana sikis dan mentalnya, jika mengetahui kelakuan tidak bermoral ibu kandungnya?"
Dokter Frans terdiam, ia sama sekali tak menyangka Hana teman baiknya pernah mengkhianati sahabatnya. Setelah beberapa lama terdiam. Dokter Frans kembali membahas tentang Amara.
"Lalu bagaimana dengan Amara? Kenapa Nyonya lakukan ini? Saya butuh alasan dan penjelasan Nyonya yang konkrit, atau jika tidak saya akan membeberkan apa yang telah Nyonya lakukan ini pada Daniel!" Tanya Dokter Frans dengan mengancam.
Kembali Nyonya Anne tersenyum miring mendengar pertanyaan dan ancaman dari Dokter Frans.
"Saya sudah mengetahui semua hal tentang wanita malang ini. Mudah bagi saya untuk mendapatkan informasi tentang Amara. Termasuk dirimu yang juga sama-sama mencintai wanita ini seperti Daniel."
Glek!!!
Dokter Frans menelan salivanya dengan susah payah. Tidak menyangka jika perasaan terdalamnya pada Amara dapat diketahui oleh Nyonya Anne.
"Saya memang mencintainya tapi saya tidak berniat untuk merebutnya dari tangan Daniel. Karena saya sadar diri wanita ini sangat mencintai putra kesayangan Anda, Nyonya."
"Jika kamu mencintainya, seharusnya kamu tidak banyak protes dengan apa yang saya lakukan Frans. Dia wanita baik-baik dan berhati baik. Saya tidak perduli dengan bibit bebet dan bobotnya. Saya tidak ingin putra saya merusak masa depannya dan saya tidak ingin ada anak yang tak berdosa lahir atas kesalahan putra saya. Kamu paham itu Frans.L?"
"Tapi Nyonya____," Dokter Frans baru saja ingin menanggapi perkataan Nyonya Anne, tapi Nyonya Anne langsung saja menyela perkataan Frans.
"Sekarang Daniel masih bersikap manis padanya karena Tara tidak ada di negara ini, tapi bagaimana jika Tara telah kembali? Bagaimana dengan nasib wanita malang ini Frans? Saya sangat mengenal bagaimana perangai putra saya, dan bagaimana pintarnya wanita komersil itu mempengaruhi otak dan pikiran putra saya. Apa kamu tega membiarkan dia menerjang badai yang diciptakan oleh dua manusia egois itu?" Ucap Nyonya Anne sembari menitikan air mata dan mengusap dengan lembut rambut Amara yang tergerai.
Nyonya Anne sangat berterima kasih pada Amara yang telah memberikan kasih sayang pada Clara, cucunya. Hingga ia ingin melindungi Amara dengan caranya sendiri.
Dokter Frans terdiam, memikirkan perkataan Nyonya Anne barusan. Setelah menghapus jejak air mata yang jatuh ke pipinya. Nyonya Anne lantas meninggal ruang rawat Amara. Ia membatalkan dirinya untuk bicara empat mata dengan Amara.
"Aku sangat mencintaimu Amara. Aku jatuh cinta pada kepribadian dan juga suara indahmu. Tapi aku sadar cintamu hanya untuk Daniel. Meski aku tak bisa memiliki mu, aku akan tetap bersama mu dan terus menyayangi sebagai sosok kakak untuk mu." Ucap Dokter Frans yang kemudian meninggalkan Amara seorang diri di ruangan rawatnya.
Hari-hari pun kembali berlalu, setelah 2 hari dirawat di rumah sakit Amara pun diperbolehkan pulang. Dan mulai disaat Amara telah kembali tinggal di kosannya, Daniel pun ikut tinggal bersama Amara.
Meski Amara telah menolak ribuan kali untuk Daniel tidak tinggal bersamanya, namun dengan sikap pemaksanya akhirnya Daniel mendapatkan keinginannya untuk tinggal bersama Amara dengan alasan menjaga Amara.
Saat ini di perusahaan Angkasa jaya.
"Tri, tolong keruangan saya sekarang!" Perintah Daniel pada Mba Tri melalui sambungan intercom.
"Baik Pak." Jawab Mba Tri.
Ia segera keruangan Daniel yang berada di lantai 7.
"Tanpa banyak basa-basi Tri, tolong berikan undangan acara wisuda Amara yang ada pada kamu ke saya sekarang!"
"Tapi Pak,"
"Tidak pakai tapi-tapi. Saya yang akan datang bersama putri saya. Kamu dan pacar kamu tetap datang tapi tidak masuk sebagai tamu undangan. Pihak kampus akan menyiapkan tempat tersendiri untuk kalian."
"Kalian?" Tanya Mba Tri tidak mengerti.
"Ya kalian semua akan datang ke acara wisuda Amara. Saya akan membuatnya terkejut dan bahagia, akan kedatangan kalian semua yang tidak ia sangka-sangka di acara wisuda yang sangat dia nanti-nantikan. Dia sangat cerdas Tri. Saya bangga atas pencapaiannya dan perjuangannya sampai dititik ini." Ucap Daniel dengan senyuman yang tidak memudar.
"Baik Pak. Saya akan berikan undangan itu, tapi tidak bisa sekarang, karena saya tidak membawanya."
"Ok saya tunggu. SECEPATNYA!!"
Di kediaman Tiara.
Kini Amara datang ke kediaman Tiara bersama dengan putri Daniel. Hari ini Daniel masih memintanya untuk beristirahat dengan ditemani oleh Clara. Namun siapa sangka. Keduanya yang merasa jenuh setelah berjam-jam berada di dalam kamar kos. Malah pergi tanpa pamit dan izin pada Daniel.
Di kamar Tiara, Tiara terus memandangi interaksi antara Amara dan Clara. Keduanya seperti ibu dan anak kandung sungguhan. Tiara meminjamkan boneka Barbie koleksinya untuk dimainkan oleh Amara. Berharap Clara akan sedikit menyingkir dari Amara yang ingin bicara serius dengan Tiara.
Namun sayang, Clara tetap tidak ingin menyingkir sejengkal pun dari Amara. Ia malah bermain boneka Barbie sembari berbaring di atas pangkuan Amara.
"Dia manja banget sama Lo, Ra?" Tanya Tiara dengan senyum penuh arti.
"Iya, bapak sama anak sama-sama manja. Begini kali ya rasanya kalau udah punya anak dan suami?" Jawab Amara sembari mengusap kepala Clara yang tidur dipangkuannya.
"Hahahaha... bisa jadi. Kalau Lo jadi sama suger Daddy Lo ini, Lo akan dapat paket komplit ya kan?" Ucap Tiara berbisik meledek Amara.
Tiara kembali bisa tertawa dan melupakan kesedihannya saat melihat Amara datang bersama dengan Clara. Awalnya kedatangan Amara ditolak oleh keluarga Tiara. Karena mereka mengetahui kesedihan Tiara bermuara pada Amara.
Namun saat melihat Amara datang dengan putri Daniel yang mereka kenali. Keluarga Tiara pun mengizinkan Amara untuk masuk.
"Hahahaha bisa aja Lo." Sahut Amara menepuk lengan Tiara.
"Eh Tiara. Lo tahu gak apa maksud gue datang ke sini?" Lanjut Amara yang mulai membahas tujuan kedatangannya ke kediaman mewah sahabatnya ini.
"Nggak tahu, Lo belum ngomong." Jawab Tiara dengan suara yang datar.
"Sebenarnya gue pingin minta penjelasan sih sama Lo. Gue ngerasa dibodohi sama Lo dan Thomas. Jujur gue gak tahu kalau kalian tuh sebenarnya punya hubungan. Dan sekarang kalian bersikap seperti ini sama gue yang gak tahu apa-apa. Sedih sih gue jadinya." Ungkap Amara dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar.
"Mami kenapa? Kok nangis?" Tanya Clara yang mendapati mata Amara berkaca-kaca.
"Mami tidak apa-apa sayang, cuma kelilipan." Jawab Amara berbohong.
"Tante, nakalin Mami aku ya?" Tuduh Clara dengan berani menatap tajam Tiara.
"Tidak, Tante tidak melakukan apa-apa sama Mami kamu, Clara." Jawab Tiara sembari menahan tawanya.
Lucu sekali sih Clara ini, tidak mau Amara menangis dan dilukai siapapun. Batin Tiara.
Pembicaraan mereka terjeda beberapa saat. Keduanya mulai bicara kembali ketika Clara sudah tertidur di pangkuan Amara.
"Maafin gue Ra, gue menjauhi Lo karena gue butuh waktu untuk sendiri. Lo pasti ngerti bagaimana rasanya di posisi gue. Ketika orang yang Lo cintai membatalkan rencana pernikahan karena dia mencintai wanita lain, yang gak lain adalah sahabatnya sendiri. Meskipun Gue tahu lo nggak akan pernah mencintai Thomas. Karena gue tahu cinta Lo sudah terpatri sama Papinya anak ini, bukan?" Ucap Tiara dengan suara yang bergetar dan manik mata yang mulai menitikkan buliran bening.
"Iya Tya. Gue amat sangat mencintai Papinya anak ini. Meskipun gue gak yakin gue dan dia bisa bersatu. Karena gue sadar banyak jurang diantara kami. Sekarang gue hanya mengikuti arus waktu saja Tya dan menyerahkan semuanya pada takdir Tuhan. Karena sekeras apapun kita berusaha jika gue tidak di takdirkan dengan Pak Daniel, gue bisa apa?"
"Ya, Lo benar Ara. Seperti gue dan Thomas. Sekeras apapun gue berusaha mendapatkan hatinya, sekeras apapun gue menjaganya, tapi jika takdir dia bukan sama gue, dia pasti akan pergi meninggalkan gue."
Tangis Tiara kembali tumpah, keduanya akhirnya berpelukan dan menangis bersama. Tanpa mereka sadari tiga pasang mata tengah memperhatikan mereka yang sedang menangis bersama.
"Sudah cukup acara menangis bersamanya, ayo kita pulang! Saya suruh kamu istirahat bukan menangis di rumah orang." Suara Barito Daniel cukup mengejutkan Amara dan juga Tiara.
Ya, Daniel tiba-tiba sudah berdiri di muka pintu kamar Tiara bersama dengan kedua orang tua Tiara.
Amara dan Tiara mengurai pelukan mereka, keduanya menatap Daniel penuh tanya. Bagaimana Duda tengil ini bisa tiba-tiba datang kekediaman Tiara.
"Papi ngapain kesini ih?" Protes Amara pada Daniel.
"Jemput anak dan calon istri, apalagi? Ayo cepat bangun!" Jawab Daniel yang sudah menggendong Clara yang masih tertidur.
Amara pun segera bangkit, ia berjalan di belakang Daniel.
"Tuan Yohanes, maaf sudah merepotkan Anda dengan kedatangan anak dan calon istri saya yang tidak diundang ini dikediaman Anda." Ucap Daniel yang menekankan kata calon istri pada Tuan Yohanes.
"Tidak apa-apa Nak Daniel. Kamu tidak merasa direpotkan. Amara ini sahabat baiknya Tiara. Dulu dia sering main ke sini loh." Jawab Tuan Yohanes dengan senyum sumringah di datangi anak pengusaha nomor satu di negara ini.
"Oh, begitu ya. Kalau begitu kami pamit undur diri, sampai bertemu dilain kesempatan." Pamit Daniel yang kemudian menggandeng tangan Amara keluar dari kediaman Tuan Yohanes.
"Papi, Mami gak suka ya, disusulin kaya gini." Bisik Amara sembari mencubit lengan Daniel.
"Papi juga gak suka ya, Mami pergi gak minta izin apalagi pamit." Balas Daniel yang sengaja mengeratkan genggaman tangannya hingga Amara meringis kesakitan.
Plakk!! Satu tamparan mendarat di lengan Daniel.
"Terus KDRT! Terus!!"
"Terus bikin malu terus!!" Balas Amara yang kemudian menggigit lengan Daniel.
Daniel ingin sekali teriak meluapkan rasa sakitnya. Namun ia tahan karena masih berada di pekarangan kediaman Tuan Yohanes
"Pembangkang!" Umpat Daniel pada Amara.
"Pemaksa!" Balas Amara yang tidak mau kalah.
Keduanya saling bertatapan dan tak lama keduanya tersenyum lalu tertawa bersama.
Tiara yang melihat kelakuan Daniel dan Amara dari kejauhan terus tersenyum penuh arti. Tiara merasa Amara telah menemukan kebahagiaannya. Pria yang mampu membuat Amara tertawa lepas dan begitu ceria.