
Acara pembukaan Camping bersama keluarga di sekolah Clara telah selesai di mulai. Daniel, Amara dan Clara nampak seperti sebuah keluarga kecil yang harmonis.
Di depan banyak orang terutama teman-teman kelasnya, Clara terus memanggil Amara dengan sebutan Mami. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Clara mengikuti acara Camping yang selalu diadakan di akhir tahun pelajaran dengan rasa penuh bahagia.
Kebahagiaan yang begitu tergambar diraut wajah Clara, membuat seorang wanita yang menatap Clara dari kejauhan, menitikkan air mata sembari tersenyum getir.
Jika dia yang kamu pilih menjadi pengganti diriku, aku lebih rela Daniel. Karena dia mampu membuat putriku tersenyum bahagia. Aku berharap wanita itu bisa menjembatani diriku bertemu dengan putriku dari dekat. Sungguh aku sangat merindukan putriku. Batin Hanna, yang merupakan mantan istri Daniel.
Hanna selalu datang dan ikut hadir disetiap kegiatan sekolah putrinya. Namun ia selalu tidak bisa dan mendapatkan kesempatan untuk mendekati sang putri, karena pengaruh Nyonya Anne yang cukup kuat di sekolah cucunya.
Ya, Nyonya Anne adalah nama Mommy Daniel. Hubungan antara mantan mertua dan menantu ini sungguh tidak terjalin dengan baik.
Selama menikah dengan Daniel. Hanna merasa tertekan, karena Nyonya Anne terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Apalagi saat ia baru saja melahirkan Clara.
Di mana saat itu, ia sedang mengalami Baby blues. Nyonya Anne bukannya membantu dirinya, namun malah memperburuk keadaan. Nyonya Anne berhasil membuat Daniel membenci dan berpikir jika dirinya tak senang memiliki anak dari Daniel.
Lambat laun Hanna merasa kejiwaannya mulai terganggu dengan gesekan yang terus dilakukan Nyonya Anne yang memang tidak menyukai dirinya.
Ya, Nyonya Anne tidak menyukai menantunya karena mereka berbeda. Bukan karena Hanna berasal dari keluarga tak mampu. Tapi karena keyakinan Hanna yang berbeda.
Hanna memang menikah dengan Daniel tanpa merubah keyakinannya. Selain itu dahulu Daniel terlihat sangat mencintai Hanna yang merupakan cinta pertama Daniel.
Daniel sangat memanjakan Hanna pada saat itu. Karena sebagai seorang lelaki Daniel sangat merasa beruntung, bahagia dan bangga dapat memiliki cinta pertamanya. Di mana tak banyak orang dapat merasakan apa yang Daniel rasakan.
Cemburu adalah satu alasan kuat Nyonya Anna membenci menantunya. Hingg ia selalu berkeinginan kuat untuk menyingkirkan menantunya dari hidup putra kesayangannya.
Sementara itu di acara yang di usung sekolah Clara. Pertandingan demi pertandingan terus Clara ikuti bersama Daniel dan Amara. Amara yang terbiasa dan tak asing dengan perlombaan yang diselenggarakan sekolah Clara terus memberikan arahan kepada Daniel dan juga Clara. Tak ayal, acara Camping tahun ini Clara terus memborong semua hadiah dan piala juara 1.
"Yey, Papi Mami, kita menang lagi." Pekik Clara saat bakiak mereka sudah berada di garis finish.
Clara memeluk Amara dengan berjuta rasa kebahagiaan. Begitu pula dengan Daniel yang terbawa suasana. Ia mengecup putrinya dan juga bibir Amara.
"Kita akan merayakan kemenangan kita nanti," ucap Daniel saat usai mencium Amara.
Amara, hanya terdiam dan tersemu malu, karena Daniel mencium bibirnya di muka umum. Tak ayal aksi Daniel ini mencuri perhatian semua orang. Daniel terlihat biasa saja apalagi merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.
Derap jarum jam pun berputar begitu cepat. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Perlombaan pun berakhir. Tepat pukul 19.00 nanti, setelah makan malam. Akan diadakan pembagian hadiah, acara hiburan dan api unggun.
Mereka pun bergegas ke tenda masing-masing. Sesampainya di tenda. Amara membantu menyiapkan pakaian couple untuk mereka bertiga.
Sewaktu Amara tengah menyiapkan pakaian untuk mereka. Tiba-tiba Clara memeluk tubuh Amara dari belakang.
"Kak Amara, terima kasih untuk hari ini ya?"
"Iya Clara sama-sama. Clara senang tidak hari ini?" Sahut Amara yang kemudian membalikkan tubuhnya.
Ia berjongkok di hadapan putri Daniel sembari menatap manik mata Clara yang terlihat berkaca-kaca.
"Bukan hanya senang, tapi Clara bahagia sangat Kak," jawab Clara sembari menitikan air mata.
"Kalau bahagia, kenapa Clara menangis sayang?" Tanya Amara sembari membasuh air mata Clara yang membasahi pipinya.
"Clara sedih Kak, karena kebahagiaan ini hanya sementara. Setelah pulang dari sini. Clara sudah tidak bisa memanggil Kak Amara dengan sebutan Mami lagi." Ucap Clara yang kemudian kembali memeluk Amara dan menumpahkan tangis kesedihannya.
Amara mengusap punggung Clara yang menangis memeluknya dan hal itu dilihat oleh Daniel yang sejak tadi memang mengamati keduanya dari sofa yang tengah ia duduki.
Tangis Clara yang begitu memilukan, menggugah hati Daniel untuk menghampiri putrinya.
"Clara sayang, sudah jangan menangis Nak! Jika Clara ingin panggil Kak Amara dengan sebutan Mami setelah acara camping ini, Papi tidak akan marah dan melarangnya. Clara tidak perlu takut dan cemas." Ucap Daniel yang ikut berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan posisi putrinya dan juga Amara.
Mendengar ucapan Daniel, Clara mengurai begitu saja pelukannya. Ia membalikkan tubuhnya ke arah Daniel yang berada di belakang tubuhnya.
"Tapi, Kak Amara bagaimana Papi? Papi dan Kak Amara belum menikah. Mana mungkin Kak Amara mau dipanggil Mami oleh ku?" Tanya Clara sambil terisak.
Sembari menghapus air mata putrinya, Daniel menjawab pertanyaan Clara tanpa bertanya terlebih dahulu pada Amara.
"Kak Amara mu pasti tidak keberatan, jika kamu terus memanggilnya dengan sebutan Mami. Dan untuk Papi dan Kak Amara mu menikah. Kamu tidak perlu memikirkannya sayang. Karena kamu terlalu kecil untuk berpikir sejauh itu." Jawab Daniel yang seakan enggan memberikan kepastian tentang sebuah ikatan pernikahan.
Amara terus menelaah ucapan Daniel yang baru saja ia dengar. Amara merasa Daniel seakan seperti orang yang tengah trauma dengan sebuah pernikahan, hingga bicara seolah menggantung menurut pemikirannya.
Jika Bapak melamar saya saat ini, mungkin saya akan berkata iya, karena saya juga butuh bapak untuk menjadi sandaran hidup saya.Bukan karena Bapak bergelimang materi, tapi Bapak selalu membuat saya nyaman, meskipun bapak terkadang menyebalkan dengan kelakuan mesum Bapak itu. Batin Amara yang merasa sudah banyak bergantung dengan Daniel.
Amara terus menatap interaksi Ayah dan anak di depannya. Hingga Daniel menggendong putrinya masuk ke kamar mandi.
"Bersihkan diri mu sayang, bersiaplah yang cantik untuk acara puncak malam nanti!" Ucap Daniel saat menurunkan Clara di dalam kamar mandi.
Tanpa menunggu jawaban Clara, Daniel segera menutup pintu kamar mandi. Amara berharap Daniel akan menghampirinya dan menjelaskan maksud perkataan Daniel pada putrinya tadi.
Namun sayang, alih-alih menghampiri Amara yang masih mematung di posisinya. Daniel malah pergi meninggalkan tenda dengan wajah muram, entah kemana.
Dia kenapa? Kenapa raut wajahnya jadi muram seperti itu? Batin Amara bertanya-tanya dengan perubahan wajah Daniel yang begitu cepat.
Setelah hampir satu jam menghilang, Daniel kembali ke tenda dan langsung menuju kamar mandi. Ia keluar dengan keadaan yang lebih segar. Tak lagi Amara dapati wajah muramnya.
"Bapak mau ikut makan bersama kami?" tawar Amara.
Saat Daniel menghampiri Clara dan dirinya yang tengah menyantap jatah makan malam mereka.
"Hemm, siapkan saja." Sahut Daniel dengan nada bicaranya yang datar dan terkesan dingin.
Dia kenapa? Apa ada yang salah dengan sikap dan ucapanku?
Amara menyiapkan makan untuk Daniel dan kemudian kembali menghabiskan waktu dengan Clara.
Sampai di puncak Acara, dari awal hingga akhir acara Daniel nampak bersikap dingin pada Amara. Tetapi tidak saat Clara sedang membutuhkan dirinya dan juga Daniel. Bahkan senyum yang Daniel tampakkan terlihat begitu dipaksakan hingga sedikit menyinggung perasaan Amara.
Apa sebenarnya dia tidak suka Clara memanggil ku dengan sebutan Mami? Apa dia sebenarnya tidak suka aku bergantung padanya? Jika iya, setelah ini aku akan menjaga jarak dengan Clara dan juga pada mu, Pak. Tak hanya akan menjaga jarak, aku bahkan akan menjauh dari hidup kalian. Seperti aku menjauhkan hidup ku dari keluarga yang sudah tak menginginkan diriku. Aku tidak mau memaksakan keberadaan ku yang tak diinginkan oleh mu. Lagi pula kuliah ku sudah selesai, minggu depan pun aku sudah akan diwisuda. Aku yakin akan mudah mendapatkan pekerjaan baru setelah mendapatkan ijazah sarjanaku. Semangat Amara. Selalu menghabiskan waktu bersama belum tentu diinginkan untuk selamanya menjadi teman hidupnya. Batin Amara lirih sembari menatap Daniel yang terfokus pada Clara.