Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Nyonya Anne mulai turun tangan



Dengan tergesa-gesa Daniel menuruni anak tangga kosan Amara, sembari menggendong Amara yang tidak sadarkan diri. Usai sambung teleponnya dengan Mba Tri, Daniel kembali melihat Amara yang berjalan membungkuk ke arah dispenser, namun belum sampai tubuh Amara sampai di dispenser itu, tiba-tiba Amara kehilangan keseimbangan. Sebelum sempat tubuhnya terjatuh ke lantai, Daniel sigap menangkap tubuh Amara.


Kini Daniel melajukan mobilnya dengan cepat menuju sebuah rumah sakit, di mana perusahaan Jaya Crop menanam saham cukup besar di sana. Rumah sakit tempat di mana Dokter Frans bekerja.


"Frans, apa hari ini Lo ada jadwal praktek?" Tanya Daniel melalui sambungan teleponnya.


"Ada. Kenapa? Lo masih kangen sama gue? Apa tadi malam masih kurang puas bertemu dengan gue Niel? Sini samperin gue ke rumah sakit, kalau Lo masih kangen." Sahut Dokter Frans dengan santainya. Ia tidak tahu, jika wanita yang ia cintai tengah tak sadarkan diri.


Semalam, keduanya bertemu di club malam yang biasa mereka datangi. Keduanya bicara dari hati ke hati mengenai Amara.


Daniel meminta Dokter Frans untuk mengikhlaskan Amara bersamanya. Ia pun menceritakan jika ia telah menghabiskan malam bersama dengan Amara di Bali.


Raut wajah kecewa begitu terlihat saat Daniel menceritakan hal ini pada sahabatnya. Tak ingin Amara dipandang buruk oleh Dokter Frans, Daniel pun menjelaskan. Jika ia melakukannya karena Amara dalam kondisi mabuk, dan mabuknya Amara kembali karena salah meminum minumannya.


"Seharusnya Lo gak ajak dia ke Club lagi, Niel. Dia terlalu ceroboh dengan kepolosannya. Gue khawatir orang jahat macam Lo diluar sana akan memanfaatkan situasi ini, untungnya Lo mau bertanggung jawab. Coba kalau orang lain yang melakukannya. Bagaimana nasib dia?" Protes Dokter Frans.


"Ini terakhir kalinya gue buat acara di club. Karena setelah ini gue gak akan terjun langsung dalam event-event gue, begitu pula dengan dia. Gue akan menggantikan posisi Daddy di Jaya Crop di beberapa Minggu ke depan ini." Balas Daniel.


Dokter Frans yang lebih mengedepankan persahabatannya, lantas menerima begitu saja permintaan Daniel dengan berusaha berjiwa besar.


Namun ia menekankan pada Daniel, jika suatu hari nanti Amara terlepas dari genggaman Daniel. Jangan salahkan dia, jika ia akan berusaha untuk mendapatkan hati Amara untuk ia miliki.


Dan saat Dokter Frans menyinggung tentang Tara. Daniel mengatakan jika Amara adalah masa depannya.


"Lo harus tunggu gue di depan IGD sekarang! Gue bawa Amara, tubuhnya demam dan dia gak sadarkan diri."


"Apa??" Dokter Frans terkejut.


Daniel yang tidak perduli dengan keterkejutan Frans lantas memutuskan sambungan teleponnya. Ia kembali fokus mengendarai mobilnya. Sementara Dokter Frans langsung saja berlari dan bersiap menunggu kedatangan Daniel dan Amara di pelataran ruang IGD.


Tak berapa lama kemudian mobil Daniel tiba. Dokter Frans langsung berlari menghampiri dengan menarik brangkar rumah sakit.


Daniel turun dan ikut membantu mengeluarkan Amara.


"Dia tadi ngeluh sakit perut, gue ajak periksa ke Dokter dia gak mau. Malah tidur, bangun tidur dia demam terus jatuh pingsan." Ucap Daniel memberikan informasi pada Frans.


"Lo udah sempat kasih dia minum obat belum Niel?"


"Belum. Gue cuma tanya dia udah makan apa belum. Dia jawab udah, tapi dia gak mau jawab pas gue tanya dia habis makan apa." Jawab Daniel lagi.


"Ok. Lo tenangkan diri Lo. Biar Amara gue observasi dulu."


Hampir tiga puluh menit Dokter Frans melakukan pemeriksaan. Daniel dibuat panik dan khawatir seorang diri di ruang tunggu, tanpa seorang pun teman menemaninya.


Jika aku tidak ada bersama mu tadi, bagaimana jadinya dirimu, Amara? Kenapa mereka begitu kejam padamu? Batin Daniel yang merasa sedih dengan nasib Amara.


"Niel!" Panggil Dokter Frans pada sahabatnya yang terduduk sembari melamun.


Karena Daniel tak menyahut, ia pun datang menghampiri.


"Niel, Amara sudah sadar. Lo mau bawa pulang atau di rawat di sini?" Tanya Dokter Frans pada Daniel.


"Dia sakit apa? Perutnya kenapa?" Jawab Daniel yang malah balik bertanya.


"Dia sepertinya tertekan Niel, gue salah sudah cerita tentang masalah Tiara dan Thomas."


"Gak cuma itu Bro. Dia lagi kecewa sama kedua orang tuanya."


"Arghhh sial, gue harus cari strategi lagi, supaya dia mau gue nikahin."


"Hahahaha... semangat untuk berpikirlah keras Niel. Semoga kepala Lo gak cepat botak ya."


"Dasar Dokter sialan!" Umpat Daniel kesal.


"Oh iya Niel, satu lagi gue lupa sampai ke lo. Ternyata dia punya sakit maag sejak lama. Semalam dia minum kopi dan tadi dia ngaku, kalau bangun tidur pagi tadi dia langsung makan mie instan, karena lapar. Menurut pemeriksaan gue, dia bisa lakukan berobat jalan, tapi alangkah lebih baiknya jika..." ucapan Dokter Frans terpotong karena Daniel langsung menyelanya.


"Rawat saja di sini. Beri kamar terbaik di rumah sakit ini untuk dia. Gue akan ke administrasi untuk mengurus pembayarannya."


"Ok, baiklah."


Diruang rawat.


"Pak saya mau pulang!" Pinta Amara yang merengek-rengek pada Daniel.


Daniel mengacuhkan permintaan Amara, ia malah sibuk dengan layar laptopnya. Di mana ia tengah mengurus pekerjaannya yang harus segera ia kerjakan saat ini.


"Pak saya mau pulang!" Pinta Amara lebih dari 100 kali tapi tak diindahkan oleh Daniel.


"Pak-pak. Emang saya Bapak mu? Kamu bisa panggil Dokter sialan itu dengan panggilan Kak terus menerus, tapi panggil saya Papi hanya sesekali waktu." Protes Daniel saat sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Papi, Mami mau pulang!" Mohon Amara dengan langsung mengganti panggilannya pada Daniel.


"Anak pintar," ucap Daniel sembari memeluk Amara yang malah menekuk wajahnya.


"Dengar sayang, kamu itu sedang sakit. Memang sakitnya terlihat ringan. Tapi kamu harus mendapatkan perawatan ekstra karena kamu tinggal seorang diri, tanpa siapa pun yang bisa mengontrol pola makan kamu. Dengan kamu dirawat di rumah sakit. Saya yakin kamu akan lebih cepat pulih. Jadi menurutlah."


"Tapi saya takut tidur di sini sendiri kalau malam. Horor tau gak sih. Lebih baik istirahat di kosan saja."


"Saya akan menemani mu di malam hari hingga pagi hari, tapi saya tidak bisa menemanimu dari pagi hingga sore harinya, saya tidak bisa menemani kamu karena harus berkerja. Kamu mengertikan sayang?"


"Huum, saya mengerti."


"Teruslah menjadi wanita yang penurut. Saya sangat menyukai kamu yang seperti ini Amara." Ucap Daniel yang kemudian mengecup kening Amara dengan penuh kasih sayang.


Sementara itu di Mansion utama keluarga Jaya. Anne tengah berbicara dengan Anto, assisten Daniel. Mengenai hubungan Amara dan juga Daniel. Anto membeberkan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi pada nyonya besarnya.


"Besok antarkan saya ke rumah sakit, akan saya temui dia dan bicara secara langsung padanya." Ucap Nyonya Anne pada Anto.


Malam hari di rumah sakit. Amara tidak berani untuk tidur sendiri di atas ranjang. Daniel mau tak mau berbagi ranjang kecil dan sempit itu berdua dengan Amara.


Amara tertidur pulas dalam dekapan Daniel. Makin ke sini Daniel makin memperlakukan Amara dengan begitu baik.


Pagi harinya usai sarapan bersama, Daniel langsung meninggalkan Amara untuk pergi ke perusahaan. Dan pagi-pagi sekali, Nyonya Anne sudah datang ke rumah sakit dengan rencananya yang telah tersusun rapat.


Amara yang tertidur kembali, usai minum obat tidak menyadari kedatangan Nyonya Anne dengan beberapa Dokter Obgyn ke ruangan rawatnya.


"Pasangkan alat kontras(e)psi itu dengan baik dan benar. Jangan sampai ia kesakitan dan mencurigainya!" Perintah Nyonya Anne pada Dokter Obgyn yang bersamanya.


Maafkan saya Amara. Saya harus melakukan ini. Karena kamu adalah wanita baik-baik, yang tulus menyayangi cucu saya. Saya tidak bisa membiarkan putra saya merusak masa depanmu, sebelum dia mengatakan pada kami atas pilihannya pada mu dan meninggalkan sepenuhnya wanita komersil itu. Batin Nyonya Anne, saat melihat secara langsung alat kontras(e)psi dipasangkan pada bagian inti tubuh Amara.


"Nyonya apa yang Anda lakukan?" Tegur seorang Dokter tampan yang baru saja tiba di kamar rawat Amara.