Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Ditolak



Mansion utama keluarga Jaya.


Ya, Daniel membawa Amara pulang ke mansion utama. Entah apa yang ada di isi kepalanya saat ini. Sehingga ia memberanikan diri membawa Amara pulang ke kediaman keluarga besarnya. Di mana terdapat kedua orang tua dan juga adik satu-satunya bersama keluarga kecilnya yang tinggal di sana.


Jujur saja selama bertahun-tahun ia menjalin kasih dengan Tara, sampai mereka memutuskan ingin menikah. Daniel tidak pernah membawa Tara ke Mansion utama. Entah apa alasannya, yang pasti hanya Daniel dan Tuhanlah yang tahu alasannya.


"Kita sudah sampai, kenapa kamu masih diam di sini? Ayo cepat turun!" Ucap Daniel dari balik kemudi.


Ia membalikkan tubuhnya, menatap Amara yang tak bergeming. Sementara Clara sudah turun dari mobil sang Papi, setelah seorang pelayan mendekati mobil Daniel untuk membukakan pintu dan membawakan tas ransel gadis kecil itu.


"Kita memang sudah sampai. Tapi kita sampai pada tujuan Bapak dan bukan pada tujuan saya." Sahut Amara ketus dari posisi duduknya yang tidak berubah.


Mendengar jawaban Amara, Daniel sedikit menghela nafasnya kemudian mengusap kasar wajahnya. Ingin sekali ia benturkan kepalanya ke stir mobil yang ada di hadapannya, karena tak sanggup meladeni sikap keras kepala Amara saat ini.


Ok. Baiklah. Saat ini kamu benar-benar menguji kesabaran ku. Jika aku salah mengambil sikap sedikit saja. Aku pasti akan kehilangan mu, dan aku tidak mau itu terjadi. Batin Daniel.


Daniel kemudian keluar dari mobilnya. Ia kembali masuk ke mobil dan duduk di samping Amara.


"Amara maafkan saya, saya mengaku salah. Tolong maafkan saya. Saya tarik kata-kata yang sudah saya ucapkan kemarin pada mu. Saya sangat menyesal. Sungguh sangat menyesal. Saya ingin kamu tetap menjadi wanita saya." Ucap Daniel sembari menggenggam tangan Amara yang sulit ia raih sebelumnya.


"Maaf? Semudah itu Bapak minta maaf, setelah menyakiti hati saya. Tidak segampang itu untuk memaafkan Bapak, yang sudah memperlakukan saya seperti seonggok sampah." Sahut Amara dengan cepat sembari menghentakkan tangannya dari genggaman Daniel.


Daniel terdiam mendapatkan penolakan dari permintaan maafnya pada Amara. Padahal ia sangat tulus memohon maaf pada Amara.


Melihat Daniel hanya diam menatapnya, Amara kembali melanjutkan ucapannya.


"Satu lagi, mungkin wanita diluar sana, sangat bangga jika Anda Claim menjadi wanita Anda, tapi tidak dengan saya. Sehina-hinanya saya, seburuk-buruknya saya di mata Anda. Saya tidak mau jadi mainan Anda, Pak Daniel yang terhormat."


"Kalau kamu tidak ingin jadi wanita saya, lantas kamu ingin jadi apa dalam hidup saya, Amara?" Balas Daniel yang membalikkan pertanyaan pada Amara.


Daniel menatap dalam manik mata Amara yang kini terdiam sejenak.


"Saat ini sudah tidak ada rasa ingin itu dalam diri wanita hina ini, Pak Daniel. Karena rasa kecewa, sakit hati dan trauma dicampakkan lebih besar dari rasa ingin itu."


"Amara, maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti mu." Sesal Daniel yang mencoba menghapus air mata yang menetes dari netra gadis malang di hadapannya, namun Amara terus menepis tangan Daniel.


"Terlalu tinggi saya menaruh harapan untuk dicintai oleh Anda yang memiliki kasta terlampau tinggi bagi saya. Kejadian hari Minggu kemarin menyadarkan saya betapa tidak pantas diri ini berharap untuk tetap bersama Anda, yang tak akan pernah sudi mencintai saya, wanita yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa."


"Amara, cukup! Jangan merendahkan dirimu sendiri!" Pinta Daniel.


Aku memang tak bisa mencintaimu karena aku masih mencintai Tara. Tapi aku juga tak bisa kehilangan mu, Amara. Aku sangat bergantung pada mu. Maafkan aku yang egois ini. Maafkan aku yang menggantung dirimu dengan ketidak pastian perasaan ku ini, Amara. Batin Daniel.


"Kenapa saya tidak boleh merendahkan diri saya sendiri, Pak? Bukankah bagus saya merendahkan diri saya sendiri, yang artinya saya sudah sangat sadar diri dengan diri saya yang sangat hina ini. Oh saya tahu. Mungkin hanya Bapak yang boleh merendahkan diri saya? Jika iya lakukanlah Pak! Tenang saja saya sudah terbiasa terhina, tersakiti, dicampakkan dan tak dianggap. Tidak usah perdulikan bagaimana perasaan saya dan rasa trauma yang akan saya alami dengan semua ini. Lakukanlah seperti yang telah mereka lakukan pada saya. Jangan ragu-ragu! Lagi pula semua rasa yang pernah ada di hati saya untuk Bapak telah mati. Jadi apapun yang akan Bapak lakukan, saya pastikan tidak akan berpengaruh pada hidup saya."


"AMARA!!" pekik Daniel yang tak tahan dengan perkataan Amara yang menyakitkan hatinya.


Daniel seolah tak mau mendengar lagi Amara merendahkan dirinya sendiri dan menyamakan diri Daniel dengan orang-orang kejam yang ada disekitar Amara.


Sadar jika Daniel tak ingin ia melanjutkan perkataannya. Amara pun diam sejenak lalu memilih pamit pergi.


"Maaf Pak, sepertinya saya sudah terlambat. Saya ada janji dengan seseorang yang akan memberikan pekerjaan, untuk saya bertahan hidup di dunia yang tak mudah untuk saya taklukan seorang diri." Ucap Amara yang kemudian keluar dari mobil Daniel dengan tergesa-gesa.


Amara berlari menuju pintu gerbang mansion utama keluarga Jaya yang menjulang tinggi. Sementara Daniel masih duduk di posisinya. Ia hanya terdiam dalam kesedihan dan penyesalannya.


Dia telah mencintaiku seperti mau ku, tapi aku malah menyakitinya. Heh...


Daniel tertawa getir sembari menitikan air matanya.


Sementara Clara dari atas balkon bersama sang Tante Angel, menatap sedih kepergian Amara yang berlari sembari menangis.


"Dia Mamiku yang aku ceritakan Tante. Pasti Papi baru saja menyakitinya seperti kemarin. Mamiku tidak seperti Tante Tara. Mamiku menyayangi Papi dan aku tanpa memandang uang dan siapa kami. Dia tulus, aku bisa merasakan ketulusannya itu, Tante." Ucap Clara sembari memeluk Angel.


"Ya, Tante tahu itu sayang. Serahkan semua pada takdir. Jika memang mereka berjodoh. Mereka akan tetap dipersatukan, tapi jika mereka tidak berjodoh. Kita tidak bisa memaksakan takdir sang Pencipta." Balas Angel yang berusaha menenangkan kesedihan keponakan satu-satunya ini.


"JONOOOOOOO!!!" Pekik Daniel saat ia keluar dari mobilnya.


"Iya Tuan muda." Sahut Jono yang lari terbirit-birit menghampiri Daniel.


"Ikut saya!" Pinta Daniel yang sudah berada di dalam kemudi.


Jono terlihat bingung, kenapa dia harus ikut dengan Daniel yang mengendarai mobilnya sendiri.


"Jono masuk!" Pekik Daniel lagi karena mendapati Jono yang terdiam dengan kebingungannya.


"I-iya Tuan." Jawab Jono yang langsung masuk ke dalam mobil.


Daniel segera menancap gas, menyusul kepergian Amara yang ia yakini belum jauh pergi. Dan benar saja. Amara masih berjalan di dalam area kompleks mansion elit para pengusaha ibu kota.


"Tunggu! Jangan pergi seperti ini Amara!" Ucap Daniel saat menarik tangan Amara yang tetap berjalan pergi meski ia sudah melihat keberadaannya.


"Saya tidak mau kamu pergi dengan cara seperti ini. Mari kita mulai semua dari awal lagi. Saya ingin kamu tetap di sisi saya. Mari kita pacaran. Mulai saat ini kita pacaran saja. Bagaimana?" Daniel bicara dengan menahan rasa malu dan groginya.


Ia meminta Amara untuk berpacaran dengannya dengan kecanggungan yang begitu nampak jelas terlihat.


"Tidak. Saya tidak ingin berpacaran dengan Anda Pak." Tolak Amara tegas.


"Kenapa? Bukankah kamu butuh kejelasan status?" Tanya Daniel yang kecewa dengan penolakan Amara.


"Terlambat, Bapak sudah terlambat memintanya, saya sudah tidak butuh itu lagi Pak." Jawab Amara dengan wajah datarnya.


"Kejam sekali kamu berkata seperti itu. Jangan bilang kamu ingin kembali dengan kekasih kamu dan meninggalkan saya? Kamu mau campakkan saya begitu?" Cecar Daniel yang sangat takut Amara kembali pada Rendra.


Ya, Rendra yang sebenarnya tak ada cela untuk Amara, jika saja tidak di manipulatif oleh Erdi.


"Saya tidak pernah mencampakkan seseorang, karena saya manusia yang punya hati nurani. Kembali atau tidaknya saya dengan Mas Rendra, itu bukan urusan Bapak."


"Jelas jadi urusan saya. Saya mau kamu tetap di sisi saya. Kamu itu milik saya, Amara. Saya tidak rela kamu kembali bersama dia. Meskipun dia lebih baik dari saya." Balas Daniel yang mengakui Rendra lebih baik darinya.


"Saya ini masih milik Ayah saya, Pak. Belum ada satu orang pria manapun yang memiliki saya, selain Ayah saya." Balas Amara telak.


Daniel terdiam, tak lagi mampu ia mengembalikan kata-kata yang baru saja Amara ucapkan.


Saya tidak mungkin meminta dirimu pada Ayah mu, Amara. Sebelum aku bisa memastikan kamu atau Tara yang akan aku jadikan teman hidupku kelak. Batin Daniel.


"Permisi, saya harus pergi."


"Jangan pergi, jika kamu hanya ingin mencari pekerjaan. Kembalilah bekerja di perusahaan saya. Masa kontrak mu belum habis. Saya akan menuntut ganti rugi jika kamu tidak kembali bekerja di perusahaan saya." Pinta Daniel dengan ancamannya seperti biasa.


"Baik, saya akan kembali bekerja besok. Tapi sekarang saya harus tetap pergi. Saya tidak mau ingkar janji dengan sahabat saya." Balas Amara dengan tatapan datarnya.


Seakan jawabnya ini hanya ingin cepat-cepat terlepas dari Daniel yang tak menginginkan dirinya pergi.


"Kalau kamu memaksa pergi, saya akan memaksa untuk mengantar kamu."


"Tolong, berhentilah memaksa saya! Saya sangat tertekan akan sikap Bapak seperti ini pada saya. Dengan Bapak terus memaksa saya setiap detik, saya merasa sangat tidak nyaman dan ingin pergi menjauh saja dari Bapak." Pinta Amara dengan wajah yang kesal.


"Ok-ok. Baiklah kalau begitu saya tidak akan ikut, tapi biarkan supir saya mengantar kamu. Saya yang membawa kamu ke sini dan saya bertanggung jawab untuk mengantarkan kamu kembali." Sahut Daniel.


Tanpa menunggu jawab Amara. Ia menarik tubuh Amara untuk masuk ke dalam mobilnya, tanpa ia ikut serta masuk ke dalam mobilnya.


"Antar dia ke tempat tujuannya Jon!" Perintah Daniel pada supir pribadi putrinya.


"Baik Tuan." Sahut Jono yang sudah ada di balik kemudinya.


Entah kapan Jono berpindah duduk di sana. Yang pasti daripada ia menyaksikan drama perdebatkan Tuan mudanya lebih baik ia kembali duduk di posisi seharusnya.


Ketika mobil miliknya yang membawa Amara sudah melaju pergi meninggalkannya. Daniel kembali ke Mansion utama dengan berjalan kaki. Hal yang tak pernah ia lakukan dalam hidupnya. Berkorban untuk seorang wanita.


"Pak, tolong berhenti sampai di sini saja!" Pinta Amara pada Jono saat melihat ada sebuah Halte di depan jalan yang akan mereka lewati.


"Tapi Non, saya di minta mengantar Nona sampai tujuan oleh Tuan Muda." Ucap Jono yang terlihat takut.


Tapi meskipun demikian Jono juga mengabulkan permintaan Amara untuk menghentikan mobil yang ia kendarai.


"Ini tujuan saya Pak. Halte." Jawab Amara dengan senyum ramahnya pada Jono.


Masha Allah, cantik banget senyumannya. Pantes Tuan muda kelepek-kelepek. Batin Jono mengagumi kecantikan Amara di saat Amara menerbitkan senyum ramahnya.


"Hati-hati ya Nona cantik. Semoga selamat sampai tujuan." Ucap Jono sedikit menggombal.


Amarah kembali tersenyum menanggapi gombalan Jono. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada supir putri Daniel itu.


"Makasih banyak atas tumpangannya. Bapak juga hati-hati ya."


Iya, saya memang harus hati-hati, tentu saja itu pasti. Sebentar lagi saya pasti diamuk Tuan Muda. Tapi gak apa-apa demi Non saya rela diamuk Tuan Muda. Jawab Jono di dalam hatinya.


Tentu saja ia sangat yakin akan mendapatkan amukan dari Daniel, karena tidak mengantarkan Amara sampai ke tempat tujuannya dan membiarkan Amara naik kendaraan umum.


Namun demikian Jono tetap berada di sana dan Jono baru pergi dari halte itu, ketika ia sudah melihat Amara naik ke dalam sebuah bus kota. Alih-alih kembali ke Mansion. Jono yang sudah tahu tugasnya, lantas mengikuti kemana arah bus kota itu melaju membawa Amara pergi.


Tepat di sebuah cafe bernama Kokoro, Amara turun dari bus kota yang membawanya ke tempat tujuannya. Demi memastikan keberadaan Amara di cafe itu. Jono pun terus mengamati Amara, hingga Amara memasuki Cafe tersebut.


Dengan cepat ia melaporkan semuanya pada Daniel. Daniel yang keletihan berjalan terlampau jauh ke mansion utama tidak langsung membaca pesan dari Jono. Ia malah terduduk dan akhirnya berbaring di rerumputan halaman mansionnya.


"Cinta telah membuatku menjadi laki-laki bodoh dan gila. Sial!!" Umpat Daniel dengan suara yang cukup memekakkan gendang telinga orang yang mendengarnya.