Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Peristiwa yang tak diinginkan terjadi



Di sebuah jalan besar menuju kota. Sebuah Bus mengalami kecelakaan. Jalanan nampak tersendat karena banyaknya orang berusaha mencoba membantu para korban.


Rendra yang kebetulan baru menyelesaikan kegiatan sosialnya disebuah desa terpencil yang tidak jauh dari tanah kelahiran Erdi pun melewati tempat terjadinya kecelakaan.


Rendra segera meminta tim medis yang ikut bersamanya untuk turut membantu para korban. Sungguh tidak diduga Tomo, ayah Amara adalah salah satu dari korban kecelakaan.


"Ayah!" Panggil Rendra saat ia melihat Tomo dalam kondisi bersimbah darah dipapah oleh beberapa orang sukarelawan.


"Ren-dra." Sahut Tomo terbata-bata karena menahan sakit.


"Jangan bawa Beliau kemana-mana! Masukkan saja ke dalam mobilku sekarang! Dia ini orang tuaku." pungkas Rendra yang segera berlari ke mobilnya.


Kedua orang yang memapah tubuh Tomo pun mengikuti langkah Rendra. Setelah Tomo berhasil di masukkan ke dalam mobilnya. Rendra memberikan beberapa lembar uang pada kedua orang itu yang telah berbaik hati menolong Tomo. Meski awalnya mereka menolak, namun karena terus dipaksa. Akhirnya mereka mau menerima.


Segera saja Rendra membawa Tomo ke rumah sakit terdekat. Setelah luka-luka Tomo sudah ditangani dan diobati. Rendra lantas mengurus kepindahan perawatan Tomo ke rumah sakit yang ada di kota. Agar dapat dijangkau oleh Amara dan keluarganya dengan mudah.


Tepat pukul 11 malam, setelah ia dan Tomo sudah sampai di salah satu rumah sakit yang ada di kota. Rendra mencoba menghubungi Amara untuk memberikan kabar buruk mengenai kecelakaan yang dialami oleh ayah Amara ini.


Ponsel Amara terus berdering. Amara yang tengah terlelap tidur bersama Daniel dan Clara pun akhirnya terbangun. Setelah Daniel membangunkannya.


"Ponselmu terus berdering, coba lihat siapa yang menghubungi mu! Siapa tahu orang tua mu." Ucap Daniel dengan suara paraunya.


Dengan mata yang masih berat untuk terjaga. Amara mengambil ponselnya. Amara memandang malas saat melihat nama Rendra yang tertera di layar ponselnya.


"Ada apa Mas Rendra telepon malam-malam begini? Aku lagi malas berdebat, berpikir apalagi ribut. Aku cuma mau tidur." Gumam Amara yang didengar oleh Daniel.


"Angkatlah siapa tahu penting! Jika tidak penting dia tidak mungkin menghubungi berkali-kali tengah malam seperti ini." Perintah Daniel dan Amara pun menurut.


"Hallo Mas, ada apa menghubungiku malam-malam seperti ini?" Sapa Amara dengan ada bicara sedikit kesal.


"Kamu di mana Ara? Cepatlah datang ke rumah sakit XCB! Ayahmu mengalami kecelakaan saat kembali ke kota."


"APA?" Amara sangat terkejut dengan informasi yang diberikan Rendra.


"Datanglah ke sini segera! Aku akan jelaskan setelah kamu berada di sini. Jangan lupa untuk hubungi anggota keluarga mu yang lain!" Ucap Rendra yang menjadi penutup pembicaraan mereka di sambungan telepon.


"Kenapa sayang?" Tanya Daniel pada Amara yang terlihat masih syok.


"Ayah. Ayah Pih. Ayah kecelakaan sewaktu kembali ke kota dan Mas Rendra sudah membawanya ke rumah sakit XCB. Dia memintaku segera ke sana." Jawab Amara dengan isak tangisnya.


"Tenanglah, jangan menangis! Bersiaplah, ganti pakaian mu dan jangan lupa untuk mengenakan baju hangat! Aku akan mengantarmu."


"Clara bagaimana?"


"Jangan khawatirkan Clara! Dia akan aku titipkan pada Dias, sebelum Angel dan suaminya datang menjemput."


Di rumah sakit XCB.


Daniel dan Amara yang sudah tiba, segera kemeja informasi, menanyakan kebenaran berita yang disampaikan Rendra. Daniel dan Amara segera melangkahkan kaki mereka menuju ruang rawat di mana Tomo tengah terbaring lemah ditemani oleh Rendra yang terlihat lelah.


Hati Amara tiba-tiba kembali merasa bersalah pada pria yang tengah terlelap itu.


Ya, Tuhan. Dia masih bersikap baik. Meski aku sudah menyakitinya. Wanita macam apa aku ini. Terlalu egois. Batin Amara.


Dengan melangkah ragu, Amara menghampiri kedua pria yang tengah terlelap itu.


"Mas," Amara membangunkan Rendra yang tertidur di kursi samping ranjang tidur Ayahnya.


Mendengar suara Amara yang sudah lama tak ia dengar. Rendra perlahan membuka matanya.


"Kamu sudah datang? Sama siapa?" Tanya Rendra yang belum menyadari keberadaan Daniel yang sudah duduk di sofa.


"Pulanglah Mas! Kamu terlihat lelah. Terima kasih sudah menolong Ayahku." Ucap Amara tanpa mau menjawab pertanyaan Rendra.


"Aku akan menemanimu di sini Ara." Tolak Rendra saat Amara memintanya pulang.


"Tidak apa Ara, aku tidak akan sakit hanya karena menemani mu. Lagi pula aku tidak akan membiarkan mu sendirian." Ucap Rendra yang masih berusaha bertahan tetap ingin menemani Amara.


"Aku tidak sendirian Mas. Sudah ada yang menemani ku." Balas Amara yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Daniel yang sejak tadi hanya diam menatap keduanya saling tolak menolak.


Deg! Nyess!


Terkejut dan seketika hati Rendra teremas kuat, melihat sang penguasa bisnis ada dihadapannya. Semenjak Daniel memimpin perusahaan Jaya Crop. Rendra kerap bertemu dengan Daniel. Dalam urusan bisnisnya Rendra selalu mengalami kendala karena selalu dipatahkan oleh Daniel, yang selalu menganggapnya saingan terberat.


Tak ingin ribut dan membuat masalah disaat yang tidak tepat. Rendra pun pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Meski ia merasakan sakit tak berdarah seorang diri.


Jika dalam hal bisnis kamu selalu menjadi pemenangnya, tapi tidak dengan Amara. Karena aku tidak akan membiarkan kamu merebut milikku terlalu lama. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan berhasil meminang Amara? Batin Rendra saat melangkah pergi melewati Daniel dengan tatapan bermusuhan.


Sebenarnya Daniel mengerti arti tatapan Rendra padanya. Namun untuk kali ini Daniel hanya diam saja tak menanggapi tatapan permusuhan dari Rendra. Ia juga memahami kondisi Amara yang kini tengah mengkhawatirkan kondisi Tomo dengan tidak bertingkah dan membuat masalah.


Apapun rencana mu, sedekat apapun kamu dulu dengan kedua orang tua Amara. Aku akan tetap berusaha mendapatkan restu dari kedua orang tua Amara. Batin Daniel


Usai Rendra pergi. Daniel berjalan menghampiri Amara yang sedang menatap wajah sang Ayah yang terlelap.


"Hubungi keluarga mu yang lain, terutama Kakak mu, sayang! Jangan menundanya lagi!" Ucap Daniel mengingatkan Amara yang masih enggan menghubungi Chandra.


"Besok pagi saja. Mereka semua pasti sedang istirahat saat ini, lagi pula kondisi Ayah baik-baik saja." Tolak Amara.


"Kamu jangan seperti itu, sayang! Jika kamu tidak mau mengganggu istirahat ibu mu, aku masih izinkan. Tapi Kakakmu harus segera kamu beritahu sayang. Jika beberapa menit ke depan ada sesuatu yang tak dinginkan terjadi pada Ayah mu, kamu adalah orang yang akan paling disalahkan nantinya." Ucap Daniel menasehati.


"Jangan berandai-andai Pih! Jangan paksa aku menghubunginya. Besok pagi saja ya? Saat dia datang besok pagi, aku akan pergi meninggalkan Ayah. Lebih baik aku bekerja saja Pih." Jawab Amara yang membuat Daniel seketika membolakan kedua matanya.


Daniel tidak suka dengan jawaban Amara yang akan bekerja disaat kondisi Ayahnya sangat membutuhkan Amara.


"Kamu masih mau bekerja dengan kondisi Ayahmu seperti ini? Tidak Amara. Aku tidak mengizinkannya. Kamu ini Workaholic sekali. Jika kamu niat bekerja mati-matian hanya karena uang, aku akan memberikannya berapapun yang kamu mau. Jangan begini caranya memperlakukan orang tua yang membesarkan mu, merawat mu!" Omel Daniel dengan sedikit mencengkram tangan Amara yang ia genggam tadi.


"Sakit ah, kamu tuh suka kasar tiba-tiba." Balas Amara yang menghempas tangan Daniel begitu saja.


"Aku kasar karena kamu sudah tidak waras. Orang tua mu lebih penting dari segalanya. Jangan tinggalkan dia hanya karena sebuah pekerjaan!" Ucap Daniel dengan suara penuh penekanan.


"Aku bekerja hanya karena ingin menghindari Kak Chandra. Jika tidak ada dia, aku tidak akan masuk bekerja dan memilih menemani Ayah di sini sepanjang waktu." Jelas Amara yang menatap Daniel dengan manik mata yang berkaca-kaca.


Daniel sejenak terdiam. Lalu akhirnya meminta maaf atas prasangkanya terhadap Amara. "Maafkan aku Mih."


"Heemm." Sahut Amara singkat.


Keduanya melanjutkan tidur mereka di ruang rawat Tomo. Daniel tidur di sofa panjang, sedang Amara tidur di kursi yang berada di samping ranjang tidur Tomo.


"Haus... air...air..." ucap Tomo yang baru terbangun dari tidurnya, ketika suara adzan subuh berkumandang.


Daniel yang tidak dapat tidur dengan nyenyak pun akhirnya terbangun dan menghampiri ranjang tidur Tomo. Ia memberikan dan membantu Tomo meminum air mineral yang ada di meja nakas.


"Anda siapa?" Tanya Tomo pada Daniel seusai ia menengguk air mineral dari tangan Daniel.


"Saya, calon suami putri Anda, Pak Tomo." Jawab Daniel yang seketika itu juga membuat mata Tomo terbelalak.


Daniel. Ya, pasti ini adalah Daniel yang diceritakan oleh Erdi dan Rendra tadi pada ku. Batin Tomo yang sudah mengetahui tentang Daniel sedikit banyaknya dari Erdi dan juga Rendra yang ia tanyai kelanjutan hubungannya dengan Amara, putrinya.


Erdi memang sudah menceritakan tentang siapa Daniel. Erdi lebih banyak menceritakan sisi kejelekan dan keburukan Daniel daripada sisi baiknya. Ia seakan sengaja membangun image buruk Daniel di benak ayah mertuanya.


Bahkan kembalinya Tomo ke kota secara mendadak dan tiba-tiba ini, karena penuturan Erdi tentang Daniel dan Rendra yang tengah memperebutkan Amara.


Sedangkan Rendra, mengatakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada hubungannya dengan Amara tanpa membumbui sedikit pun. Bahkan ia mengatakan hadirnya Daniel adalah buah dari kesalahannya.


"Istirahatlah Pak, kita akan bicara setelah kondisi Bapak lebih baik. Jangan berpikir yang macam-macam terlebih dahulu, fokuslah pada kondisi kesehatan Bapak!" Ucap Daniel dengan senyum ramahnya.


Daniel kembali ke sofanya dan membaringkan tubuhnya yang terasa sakit dengan sofa yang terasa keras baginya. Sementara Tomo memandangi Amara yang tertidur pulas memegangi tangannya.


Kenapa kamu menunggu Ayah bersama dengan pria ini nak? Kemana Rendra? Apakah kalian mengusirnya? Batin Pak Tomo saat ia melihat Amara terlelap sembari memeluk sebalah tangannya.