Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Keakraban Amara dan Clara



"Tidak usah takut sayang, Kakak kerja di sini kok, bukan penculik apalagi penjahat." Lanjut Amara yang menyadari jika gadis kecil dihadapannya ini tengah menaruh rasa curiga padanya.


Demi meyakinkan gadis kecil dihadapannya Amara sampai mengeluarkan ID pengenal perusahaan Angkasa Jaya yang ada di dalam tas ranselmua dan menunjukkannya pada gadis kecil yang terlihat masih tak percaya itu.


"Amara Ayudia," ucap gadis kecil itu setelah ia membaca nama Amara yang tertera di ID pengenalnya.


"Iya, nama kakak Amara Ayudia. Kalau kamu siapa namanya?"


"Clara, aku Clara Kak."


"Owhh Clara, nama yang cantik. Ngomong-ngomong kamu kenapa duduk di sini? Lagi nungguin siapa?"


"Aku lagi nungguin Papi, Kak. Kalau kakak sendiri, kenapa tidak masuk ke dalam untuk bekerja dan malah duduk di sini?" Clara menjawab dan membalikan pertanyaan pada Amara.


Amara tersenyum ramah meski kalimat jawaban dan pertanyaan Clara terkesan seperti Bos yang tengah menegur anak buahnya.


"Kakak sedang menunggu Abang Ojol yang bawa pesanan kakak."


"Pesanan?"


"Iya kakak lagi mesan dimsum untuk makan siang, kamu suka dimsum, Clara?"


"Suka," jawab Clara dengan cepat dan tak lama berselang suara riuh dari perut gadis kecil ini berbunyi.


"Kamu lapar ya?"


Clara mengangguk malu kemudian sedikit menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


"Mau pergi ke kantin bersama Kakak? Kakak temani kamu untuk makan siang.


Clara menggeleng. "Aku mau makan siang bersama Papi saja nanti." Tolak Clara.


Gadis kecil ini sangat merindukan waktu makan siang bersama Daniel yang selalu sibuk bekerja dan juga sibuk dengan wanitanya. Jika dahulu Daniel sibuk dengan Tara, saat ini ia sibuk dengan Amara. Hingga gadis kecil nan malang ini terabaikan.


"Baiklah kalau begitu. Apa kamu mau Kakak berikan dimsum? Kamu bisa memakannya nanti bersama Papi mu." Tawar Amara yang di sambut bahagia oleh Clara.


Clara mengangguk dan mengembangkan senyum manisnya pada Amara.


"Baiklah Clara, mari kita tunggu Abang Ojol pembawa Dimsum. Semangat!! Tapi sambil menunggu kamu bisa memakan permen ini. Ini bisa membantu mu menahan lapar."


Amara menyodorkan permen kaki kesukaannya pada Clara.


Clara menggeleng. "Naynay bilang Clara tidak boleh makan permen, Kakak. Nanti bisa sakit gigi." Tolak Clara yang selalu mengingat ucapan sang Nenek padanya.


"Hahahaha begitu ya?" Clara mengangguk sembari memajukan bibirnya.


Ia nampak tergiur dengan Amara yang asik menyesap permen kaki di mulutnya, hingga sampai menelan salivanya berkali-kali.


"Mungkin kalau sedikit dan rajin menggosok gigi tidak akan sakit gigi sayang. Buktinya Kakak tidak pernah sakit gigi. Bagaimana kamu mau mencobanya. Permen ini sangat enak." Tambah Amara meyakinkan Clara.


Clara yang tergiur dengan cepat menyambar permen kaki yang ada di tangan Amara. Ia seakan lupa dengan pesan sang nenek padanya. Ia mengupas bungkus permen tersebut dengan bersemangat. Lalu dengan segera ia memasukkan permen tersebut ke mulutnya. Clara merasakan kenikmatan rasa permen kaki yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga matanya terpejam dan berkali-kali melenguh nikmat.


"Mmmmmm.... Ternyata memang benar-benar enak sekali Kak. Menyesal sekali jika aku tidak mencobanya."


Keduanya pun akhirnya bercengkrama dengan begitu akrab. Sesekali keduanya tertawa dengan obrolan mereka seputar makanan, film kartun dan juga makanan kesukaan mereka.


Seorang security yang tengah berjaga di lobby perusahaan hanya dapat memandangi ke akraban keduanya sambil bergumam di dalam hati.


Mba Amara cocok jadi ibu sambung putri Pak Daniel. Semoga mereka berjodoh hingga kepelaminan.


Tak lama dari perbincangan mereka, seorang Ojek Online datang membawa pesanan paket Amara.


"Iya,"


"Ini paketnya, biaya pengiriman sudah di bayar oleh Mba Tiara." Ucap Ojek Online itu sembari menurunkan isi pesanan paket Amara dan memberikannya pada Amara.


"Iya Pak makasih, tapi ini sekedar tambahan untuk membeli bensin Bapak di jalan nanti." Balas Amara sembari memberikan sejumlah uang pada ojek Online tersebut.


Bapak Ojek online itu segera menerimanya dengan suka cita. Sudah di bayar lebih oleh Tiara sebelumnya, tambah Amara yang juga memberikan tambahan tips untuknya. Bapak Ojek Online ini merasa beruntung hari ini.


Usai ojek online pergi meninggalkan perusahaan. Amara segera memberikan dua box dimsum untuk Clara.


"Clara, ini ambillah untuk mu dan Papi mu! Semoga kalian suka ya."


"Makasih Kak Amara." Ucap Clara dengan senyum manisnya.


"Sama-sama Clara. Kalau begitu kakak masuk dulu ya, takut dilihat atasan, kakak bisa dapat masalah nanti. Bye Clara, semoga kita bisa ketemu lagi ya."


"Iya Kak, semoga kita bisa bertemu lagi. Senang sekali hari ini Clara bertemu Kakak."


"Me too Clara, bye." Ucap Amara yang kemudian mencium hangat pucuk kepala Amara.


Clara tersentuh dengan perlakuan manis Amara padanya. Ia terus memandangi punggung Amara yang berlahan pergi menghilang dari pandangan matanya.


Andai Papi tidak bersama Tante Tara, Clara ingin sekali Kak Amara bersama dengan Papi. Menjadi pengganti Mami untuk Clara. Batin Clara penuh harap.


"Hei, anak Papi sedang lihat apa? Kenapa wajahnya bersedih seperti itu humm?" Sapa Daniel yang baru saja tiba dan berlari menghampiri Clara yang terduduk di tangga lobby perusahaan.


"Lihat kakak yang baik hati." Jawab Clara dengan wajah cemberutnya.


"Kakak yang baik hati?"


"He-em, dia memberikan dua box Dimsum untuk Papi dan aku makan bersama. Ayo kita keruangan Papi, aku sudah sangat lapar dan tak sabar mau menyantap dimsum ini. Pasti rasanya enak. Wanginya saja menggugah selera." Jawab Clara yang segera menarik tangan Daniel.


Sesampainya di ruang kerja Daniel. Daniel yang merasa penasaran dengan kakak baik hati yang dimaksud oleh Clara. Ia pun segera mengecek rekaman kamera Cctv perusahaan yang tepat berada di lobby. Sembari ia menunggu Clara mencuci tangannya dan melakukan ritual bersih-bersih di toilet yang ada di ruangan kerja Daniel.


Daniel tersenyum bahagia saat melihat Amara lah yang di maksud kakak baik hati oleh Clara, putri semata wayangnya. Segera Daniel menelepon Amara melalui sambungan intercom, dengan mata yang terus memandangi layar Cctv, di mana layar tersebut menampilkan Amara yang tengah membagikan dimsum pada rekan kerja satu ruangannya.


Daniel mengernyitkan dahinya, saat Amara tak mendapati dimsum untuk dirinya sendiri. Namun masi bisa tersenyum riang.


Selalu menjadi lilin, kamu terlalu baik hingga nampak terlalu bodoh di mata ku, Amara. Senyum mu yang seperti ini yang tidak aku suka dari mu.


Amara yang mendengar intercom di meja kerjanya berbunyi segera menghampiri meja kerjanya.


"Dengan Amara, bisa di bantu." Sapa Amara dengan ramah di sambungan intercom.


"Keruangan saya sekarang!" Perintah Daniel.


Seperti biasa, Daniel lantas menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.


Amara hanya bisa mendengus kesal mendapati perintah Daniel yang memaksa namun kerap kali berujung manis.


Kebiasaan suka semena-mena. inikan sudah mau jam istirahat.


"Bilang Thomas makasih atas traktirannya ya," pekik Mba Tri saat Amara hendak keluar dari ruangan.


Amara menghentikan langkahnya kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Mba Tri. Ia mengangguk dan melayangkan senyum ramah pada Mba Tri.


Kalau gue jadi Lo, gue bakal sama Thomas aja, daripada sama Pak Daniel ataupun Rendra. Udah kaya, Sholeh, loyal dan baik hati pula. Gerutu Mba Tri di dalam hatinya.


Mba Tri memang mengenal Thomas dan juga Tiara. Kedua sahabat baik Amara ini kerap kali mengajak Mba Tri untuk ikut serta setiap kali ingin jalan dengan Amara usai jam kerja sahabatnya berakhir, sejak mereka bekerja di tempat kerja mereka dahulu. Jadi sangat wajar jika Mba Tri berkata demikian.