
Club malam Diagonal.
Tiga orang pria tampan tengah menikmati malam mereka dengan berkumpul bersama, ditemani dengan sebotol minuman red wine yang telah tersedia di atas meja.
Diantara ketiga pria tampan, hanya salah seorang dari mereka yang terlihat sangat murung. Siapa lagi jika bukan Daniel. Baru pertama kalinya bagi Daniel, ia berkumpul dengan kedua sahabatnya dengan rasa yang tidak nyaman.
Ya, Daniel merasa tidak nyaman setelah mengetahui kedua sahabatnya kini berkaitan dengan Amara. Rio adalah kakak dari saingan terberatnya saat ini. Sedangkan Dokter Frans adalah orang yang sudah menampung Amara bekerja di Cafe miliknya.
Ada rasa takut di hati Daniel, Amara akan jatuh cinta pada ketampanan sahabatnya ini. Yang juga sangat pandai merayu wanita. Namun tak pandai dalam mempertahankan hubungannya dengan wanita-wanitanya karena kesibukannya.
Sejak kedatangannya, Daniel hanya sibuk memperhatikan kedua sahabatnya. Terutama Dokter Frans yang terlihat begitu ceria dari biasanya.
Bagaimana Dokter Frans tidak ceria. Ia selalu mendapatkan lagu spesial dari Amara. Amara melakukan hal ini, tentunya bukan atas keinginannya. Tapi atas keinginan Tiara, sahabatnya. Yang berniat ingin menjodohkan mereka, meski Amara telah menolaknya.
"Eh, Bro. Kenapa diem saja dari tadi. Lo sakit Bro?" Tanya Rio sembari menepuk pundak Daniel.
"Gue gak sakit, cuma lagi banyak pikiran." Jawab Daniel sembari melirik tajam ke arah Dokter Frans.
Dokter Frans yang dilirik sangat paham, apa yang ada di isi kepala Daniel saat ini. Tak ingin merusak persahabatannya karena seorang wanita. Akhirnya Dokter Frans membuka suaranya. Menjelaskan mengenai Amara pada Daniel.
"Dia datang bersama adik sepupu gue dan juga adiknya Rio. Gue nggak bisa menolak permintaan Tiara. Sorry kalau Lo gak suka, dia kerja di cafe gue. Tapi Lo sama dia sudah berakhir kan?"
Mendengar ucapan Dokter Frans, Daniel seketika naik pitam. Ia tak suka Frans mengatakan ia dan Amara sudah berakhir. Padahal pada kenyataannya memang seperti itu.
"Siapa yang bilang gue dan dia sudah berakhir hah?" Tanya Daniel yang berdiri dan mencengkram kerah kemeja Dokter Frans.
"Wow...wow... Daniel. Tenang Bro! Jangan begini Bro! Kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik." Ucap Rio yang mencoba melerai kedua pria yang sudah siap untuk baku hantam.
Daniel akhirnya melepaskan cengkraman tangannya, setelah Rio berhasil menarik tubuh Daniel menjauh dari tubuh Dokter Frans.
Dokter Frans segera merapikan pakaian yang ia kenakan dengan mata yang tak lepas menatap tajam ke arah Daniel.
"Gue tahu semua tentang Amara dan Lo dari Tiara. Adik sepupu gue itu sahabat baik Amara, yang Lo klaim sebagai wanita Lo."
"Apa AMARA? Tunggu-tunggu! Apa yang kalian maksud Amara Ayudia, sahabat Thomas dan Tiara?" Tanya Rio yang nampak terkejut ketika Dokter Frans menyebut nama Amara.
Kedua pria tampan itu kompak menjawab pertanyaan Rio dengan mengangguk.
Mendapati jawaban dari kedua sahabatnya, Rio lantas menepuk jidatnya.
"Apa Lo suka sama dia juga Frans? Apa penyanyi cewek yang baru kerja di cafe Lo, yang Lo bilang suaranya sangat memukau hati Lo itu Amara juga?" Tanya Rio lagi.
Daniel makin menatap tajam Dokter Frans saat mendengar pertanyaan Rio.
"Ya. Itu Amara." Jawab Dokter Frans singkat.
Rio kembali menepuk jidatnya dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Gila ini gila." Ucap Rio.
Sementara Daniel sudah berdiri dan siap menyerang Dokter Frans.
"Gue peringkatkan sama Lo. Jangan dekati wanita gue, Frans! Gue gak perduli Lo sahabat gue atau bukan. Jangan coba-coba mengambil milik gue. Karena sampai kapanpun gue dan dia tidak akan pernah berakhir."
"Kalau Lo mau sama dia, bagaimana dengan Tara, hah? Apa Lo mau kedua-duanya? Lo serakah Daniel!" Balas Dokter Frans, yang untuk pertama kalinya memberanikan diri melawan Daniel si penguasa.
"Itu bukan urusan Lo." Sahut Daniel.
Rio terpancing emosinya dengan sahutan yang diberikan Daniel. Keduanya kini sudah saling mencengkram kerah baju satu sama lain.
"Apapun tentang Amara akan jadi urusan gue. Karena gue berniat akan mendekati dia dan menjadikan dia istri gue, bukan hanya sekedar menjadikan dia sebagai wanita pengisi kekosongan hati seperti Lo." Balas Dokter Frans singit.
"Jangan bermimpi!" Sahut Daniel yang Amarahnya sudah berapi-api.
Brakkk!
Dokter Frans terjatuh karena didorong kencang oleh Daniel.
"Sialan kudanil!" Umpat Dokter Frans.
"Arghh kalian berdua ini. Amara lagi Amara lagi. Ya Tuhan!!!" ucap Rio yang terlihat frustrasi dan pusing kembali, melihat kedua sahabatnya bertengkar dan berkelahi.
Bagaimana tidak pusing, niat hati malam ini bersenang-senang untuk merilekskan pikirannya. Setelah Thomas membuat kekacauan di keluarga besarnya pagi tadi. Di mana Thomas mengatakan keinginannya membatalkan rencana pernikahannya sendiri bersama dengan Tiara, yang tinggal di depan mata. Hanya karena ia sangat mencintai Amara.
Prankk!!
Rio tiba-tiba memecahkan dua botol Yang ada di dekatnya secara bersamaan.
Ia memberikan satu botol untuk Daniel dan satu botol lagi untuk Dokter Frans. Keduanya menerima pemberian Rio dengan wajah yang bingung.
"Lanjutkan pertengkaran dan perkelahian kalian ini! Ini sangat seru sekali dan cukup menghibur. Kalian bertengkar merebutkan satu wanita. Kalau perlu kalian berdua saling bun(u)h-bun(u)han saja ya. Supaya adik gue, si Thomas itu gak punya saingan lagi. Gue pusing! Dimana-mana Amara-Amara lagi. Arghhh!! Amara, kau ini seperti sebuah berlian saja diperebutkan banyak orang." Ucap Rio yang kemudian kembali duduk dan memandangi kedua sahabatnya dengan guratan frustrasi yang sangat jelas tergambar di wajahnya.
Prank!
Daniel dan Dokter Frans kompak membuang botol yang diberikan oleh Rio tadi. Keduanya berjalan mendekati Rio.
"Thomas juga suka sama Amara? Terus adik sepupu gue nasibnya gimana Yo?" Tanya Dokter Frans yang terlihat sangat mengkhawatirkan perasaan Tiara.
"Iya, adik gue suka sama Amara, bahkan bukan sekedar suka, tapi cinta mati sama Amara. Ya Tuhan. Pusing sekali rasanya menyebut nama itu hari ini."
"Terus nasib Tiara gimana Yo? Lo gak bisa biarin dong adik Lo berpindah haluan kaya gini. Pernikahan mereka tinggal berapa minggu lagi. Tiara kurang baik apa selama ini terus ngedampingin adik Lo." Tekan Dokter Frans lagi.
"Jangan tekan gue! Tekan tuh si Thomas!" Sahut Rio yang terlihat sangat pusing. Sampai-sampai ia sudah berkali-kali memijat batang hidungnya sendiri.
"Ok. Lo yang suruh ya? Jangan salahkan gue, kalau gue buat adik Lo babak belur malam ini."
"Silahkan! Asal sisakan nyawanya!" Sahut Rio yang mengizinkan sahabatnya membuat adiknya babak belur saat ini.
Dokter Frans pun segera pergi tanpa pamit pada kedua sahabatnya. Amara tak lagi penting baginya saat ini. Di isi kepalanya hanya ada Tiara dan Tiara lagi. Saudara satu-satunya yang ia miliki. Sementara Daniel masih setia menemani Rio.
"Jadi Thomas dan Tiara akan menikah?" Tanya Daniel yang ingin memastikan apa yang ia dengar sebelumnya.
"Gue gak tahu, mereka jadi menikah sesuai rencana orang tua kami atau tidak. Yang pasti semuanya terlihat kacau sekarang. Thomas itu kalau sudah punya keinginan sangat sulit digoyahkan."
"Tapi wanita yang dia cintai, gak cinta sama adik lo, Bro. Amara hanya mencintai gue."
Rio mengkerutkan alisnya mendengar perkataan Daniel yang penuh percaya diri.
"Gue tahu Amara sangat mencintai gue, karena Gue denger sendiri dari mulut dia, kalau dia sangat mencintai gue, Rio." Tambah Daniel meyakinkan Rio.
"Tapi, bukannya dia punya pacar, kalau gak salah namanya Rendra. Dia itu anaknya almarhum Tuan Fadlan. Salah satu rekanan bisnis anak perusahaan gue."
"Mereka sudah putus." Pungkas Daniel.
Ohh. Pantas saja Thomas ingin membatalkan rencana pernikahannya. Ternyata wanita itu sudah putus dengan pacarnya. Batin Rio.
"Dan gue-lah, yang menjadi orang ketiga dari hubungan mereka. Dia meninggalkan Rendra karena merasa bersalah telah menyakiti Rendra dengan berselingkuh dengan gue." Tambah Daniel.
"Jahat Lo, Niel! Amara itu wanita baik-baik. Dia gak pernah memanfaatkan kekayaan siapapun, meskipun dekat dengan adik gue dan juga Tiara. Dia pekerja keras. Bokap gue saja, sampai nawarin pekerjaan untuk dia, tapi dia tolak. Dia mau cari kerja sendiri tanpa referensi dari siapapun."
"Terus kalau dia baik, kenapa Lo pusing, adik Lo mau batalin pernikahannya sama adik sepupunya si Frans. Kenapa gak Lo dukung aja?"
"Jangan pura-pura bodoh Daniel! Rencana pernikahan mereka tentunya ada kaitannya dengan kesepakatan bisnis. Bisa kacau semuanya kalau pernikahan mereka batal. Om Yohanes tidak punya anak laki-laki untuk meneruskan usahanya. Frans, bisa bertindak gila jika Tiara disakiti Thomas. Dia tidak akan memandang gue ini sahabatnya." Jawab Rio yang terdengar takut.
"Thomas, Lo jadi nganterin gue ke kantor gak?" Tanya Amara dari sambungan teleponnya.
"Nggak." Jawab Thomas singkat sembari menahan sakit di sekujur wajah dan tubuhnya yang lain.
"Ihh, dasar PHP Lo. Terus Tiara gimana?"
"Gak tahu. Bye, gue mau tidur!" Jawab Thomas yang langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja.
"Aneh nih mereka berdua. Tiara gak bisa dihubungin. Thomas mendadak begini. Kesambet apa sih mereka. Awas aja kalau kangen sama gue nanti." Gumam Amara yang pada akhirnya harus berangkat sendiri dengan motor matic yang sudah lama tidak ia gunakan, karena Ojek yang biasa mengantar jemput dirinya, istrinya tengah melahirkan.
"Pagi Mba Amara, sudah mau berangkat ya?" Sapa Udin scurity kosan yang menghampiri Amara.
"Iya Pak Udin. Bisa bantu keluarin motor saya gak? Agak susah nih." Pinta Amara pada Pak Udin.
Ia masih sibuk berurusan mengeluarkan motor miliknya yang berada di paling dalam parkiran karena jarang digunakan. Tanpa menoleh ke arah Pak Udin yang sudah berdiri dengan seorang pria tampan yang sedang menatap lekat dirinya.
"Tidak perlu bawa motor, saya sudah datang menjemput mu. Kemarilah!" Ucap Daniel sembari melambaikan tangan pada Amara.
Alih-alih menghampiri Daniel. Amara masih berusaha mengeluarkan motor matic miliknya. Merasa panggilannya tak dihiraukan oleh Amara. Daniel segera menghampiri Amara. Ia lantas menarik paksa Amara menjauh dari motor matic miliknya.
"Pak Udin, tolong bawakan tas Amara ke mobil saya!" Perintah Daniel seenaknya pada scurity kosan Amara itu.
Namun anehnya scurity kosan Amara, langsung saja menuruti perintah Daniel. Hal itu membuat Amara curiga.
Kok, mau aja sih Pak Udin nurutin perintah Pak Daniel? Pak Daniel kan bukan siapa-siapa Pak Udin? Batin Amara bertanya-tanya.
"Gak usah heran Pak Udin menuruti kata-kata saya, karena sejak dua hari yang lalu kosan ini sudah resmi menjadi milik saya dan sebentar lagi akan jadi milik kamu." Ucap Daniel yang bisa menebak apa isi kepala Amara.
"APA??" Amara cukup terkejut mengetahuinya.
"Tidak usah terkejut seperti itu. Sekarang bersikaplah lebih manis. Karena ada seseorang yang sedang merindukan mu di dalam mobil." Ucap Daniel yang langsung memasukkan Amara ke dalam bagian belakang mobil, di mana sudah ada Clara di dalamnya. Kemudian ia pun ikut masuk bersama dibagian belakang mobil.
Di saat Amara ingin protes, karena tubuh besar Daniel menggeser tubuhnya. Tiba-tiba Clara memanggil dirinya dan lantas memeluknya.
"MAMI!!!"
"Clara sayang, apa kabar?" Sapa Amara yang langsung membalas pelukan putri Daniel ini.
"Tidak baik. Karena aku selalu merindukan Mami." Jawab Clara yang terlihat bersedih.
"Oh ya, benarkah hanya karena rindu kamu tidak baik-baik saja?"
"Iya Mami. Rindu itu sangat menyiksa. Mami tidak bisa aku hubungi. Apa nomorku, Mami blokir?" Tanya Clara yang membuat Amara terdiam untuk memutar otaknya.
Amara berusaha mencari alasan untuk apa yang telah ia lakukan. Karena memang benar, Amara memblokir nomor Daniel dan juga Clara. Hal ini ia lakukan karena ingin benar-benar mengakhiri dan melupakan perasaan dan harapannya untuk hidup bersama dengan Daniel.
"Buruknya sifat Mami mu, Clara. Jika marah dia akan memblokir nomor kita." Sahut Daniel yang duduk di samping Amara, dengan posisi tubuh sangat menempel dengan tubuh Amara. Karena Amara belum sempat menggeser tubuhnya, Clara langsung mendekat dan memeluknya.
"Auuu...." rintih Daniel saat Amara mencubit bagian pahanya karena ucapannya barusan.
"Sakit!" Keluh Daniel saat Amara melirik tajam dirinya.
"Rasakan." Ucap Amara dengan suara pelan dengan posisi gigi yang masih terlihat rapat.
"Kejam!" Umpat Daniel dengan berbisik di telinga Amara.
"Clara, tolong bergeser sedikit sayang! Sepertinya Papi mu belum sikat gigi, mulutnya beraroma tak sedap." Pinta Amara pada Clara.
Putri Daniel segera menggeser tubuhnya sembari tertawa mendengar ucapan Amara tentang aroma mulut sang Papi. Sementara Daniel hanya melirik tajam ke arah Amara yang mengacuhkannya.
Pagi itu sebelum berangkat ke kantor. Amara dan Daniel mengantar Clara ke sekolah. Hati Clara begitu berbunga-bunga menikmati suasana pagi ini diantarkan ke sekolah dengan Amara dan juga Daniel.
"Mami dan Papi. Hati-hati ya ke Balinya. Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!" Pekik Clara dari kejauhan.
Clara seakan sengaja melakukannya agar teman-temannya mendengar, Amara yang diketahui oleh teman-temannya adalah Mami sungguhannya akan pergi ke Bali bersama Daniel, Papinya.
"Ah, anak itu." Gumam Daniel saat mendengar pesan putrinya itu.
Sementara Amara hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Anaknya minta oleh-oleh tuh Pak. Jangan lupa dibelikan!" Ucap Amara ketus saat ingin kembali masuk ke mobil.
"Saya akan kasih kamu uang, kamu yang belikan. Kan kamu Maminya." Sahut Daniel yang kembali diabaikan oleh Amara.
Sesampainya di perusahaan. Ketika mobil yang dikemudikan oleh Tarman sudah berhenti di lobby perusahaan. Amara segera turun dari mobil Daniel.
"Terima kasih atas tumpangannya." Ucap Amara dengan wajah datar dan dinginnya.
Amara sama sekali tidak berubah, meski Daniel sudah berusaha kembali mendekatkan dirinya dengan bantuan anaknya.
Sejak pagi hingga sore hari tiba Amara disibukkan dengan persiapan keberangkatan menuju kota Bali, begitu pula dengan Daniel.
Amara yang baru pertama kali masuk full daripagi hari rasanya ingin menyerah bekerja di perusahaan Daniel. Ia tidak sanggup, tubuh dan pikirannya terasa letih.
Selama perjalanan menuju bandara, Amara terus memejamkan matanya. Ia begitu nyaman tidur bersandar di bahu Mba Tri. Ketika sudah tiba di bandara, Mba Tri harus terpaksa membangunkan Amara yang terlihat sangat lelah.
"Ra, bangun kita udah sampai bandara!" Ucap Mba Tri sambil menepuk-nepuk pipi Amara.
"Ngantuk banget ya Tuhan!" Gumam Amara yang terpaksa harus bangun.
Setelah turun dari mobil, terlihat Endah dan Dias membagikan tiket pesawat yang lupa ia bagikan saat di kantor. Beginilah saking sibuknya hingga pembagian tiket sering terlupakan.
Amara yang masih mengantuk tidak menyadari jika tiketnya berbeda dengan teman-temannya. Begitu pula dengan teman-temannya yang sama sekali tidak menyadari dengan tiket Amara yang berbeda.
Mereka pun kini sudah berada di ruang tunggu, setelah melakukan check in terlebih dahulu. Kembali Amara tidak menyadari dengan jenis tiketnya yang berada di kelas bisnis, tidak seperti teman-temannya yang berada di kelas ekonomi. Saat melakukan check in, Amara hanya manggut-manggut saja dan sesekali menguap.
Amara kembali menyadarkan kepalanya di bahu Mba Tri dan melanjutkan tidurnya. Daniel yang melihat Amara dapat tidur di mana saja, hanya terkekeh geli seorang diri.
Seharusnya kamu tidur di bahuku, Amara. Susah sekali meluluhkan hatimu. Batin Daniel
Saat proses boarding, Amara yang nyawanya belum terkumpul, akhirnya berjalan terpisah dari rombongannya. Tapi Daniel masih setia mengikuti dan memperhatikannya dari belakang.
Amara yang baru pertama kali naik pesawat langsung saja meminta bantuan Pramugari untuk mencarikan di mana tempat duduknya yang sesuai dengan tiket yang ia miliki.
Amara tak sama sekali curiga dengan penampakan kursi yang ia duduki saat ini, karena ia belum melihat kursi kelas ekonomi yang ada dibagian belakang. Lagi-lagi ia kembali melanjutkan tidurnya, setelah meletakkan tasnya di kompartemen bagasi cabin.
Selama 1 jam 55 menit Amara menikmati perjalanan menuju Bali dengan memejamkan matanya. Jika sejak awal keberangkatan ia tidur dengan nyaman di bahu Mba Tri. Kali ini ia tidur dengan nyaman di dalam dekapan Daniel yang sengaja memeluknya.
Daniel terus memandang lekat wajah damai Amara yang tertidur dalam dekapannya. Tatapan Daniel berhenti pada bibir Amara yang sudah membuatnya candu.
"Aku sangat merindukanmu, Amara ku. Apalagi dengan lenguhan mu." Ucap Daniel berbisik yang kemudian menarik dagu Amara.
Ia mel(u)mat bibir Amara yang tertidur dengan pulasnya. Anehnya Amara yang tertidur dapat membalas lum(a)tan Daniel yang menuntut itu. Ia seperti sedang bermimpi sedang berc(u)mbu dengan seseorang.
Mendapati balasan dari Amara. Daniel terus memperdalam ciumannya. Tak lupa tangannya ikut beraksi mengeksplor bukit yang menantang dirinya.
"Eughhh..." lenguh Amara yang makin membuat Daniel bersemangat untuk menikmati bibir manis rasa strawberry milik Amara, dengan menambah sedikit rem(a)san tangannya pada bagian bukit Amara.
Kamu melenguh sayang, kamu sedang bermimpi berc(u)mbu dengan siapa hum? Jangan bilang Rendra, Thomas ataupun Dokter sialan itu! Kamu ini milik ku. Akan aku tenggelamkan mereka kelaut jika masih berusaha mengambil dirimu dari ku.Batin Daniel.
Daniel menghentikan aksi nakalnya, ketika seorang pramugari datang menawarkan minuman dan makanan untuknya, dan anehnya Amara tetap tertidur tanpa membuka matanya sedikit pun.