
Daniel yang menghampiri kedua orang tua Amara segera saja mengajak keduanya bersalam, ia bahkan mencium punggung tangan kedua orang tua Amara secara bergantian. Ia memperkenalkan dirinya pada kedua orang tua Amara hingga sangat mendetail.
Baik Tomo dan Riana terus mendengarkan Daniel bercerita panjang lebar tentang dirinya dan juga Amara.
Untuk pertama kalinya Tomo menangis tersedu-sedu di hadapan orang asing. Ya Daniel adalah orang asing bagi Tomo dan juga Riana. Tomo menangis ketika mendengarkan cerita Daniel mengenai pencapaian putrinya yang tak dapat ia lihat dan juga saksikan karena keinginan Novita yang selalu minta di temani keduanya.
Novita seakan sengaja melakukannya demi melukai perasaan hati Amara. Yang ia yakini menjadi alasan terkuat kepindahan suaminya secara tiba-tiba ke kota kelahiran suaminya ini.
"Dua bulan yang lalu, bapak dan ibu berhalangan hadir di acara wisuda Amara, saya dan Putri sayalah yang mengantikan posisi kalian berdua diacara terpenting di hidup Amara itu, yang mungkin akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya." Ucap Daniel yang cukup membuat kedua orang tua Amara terkejut karena Daniel dan Putrinya yang hadir, karena setahu mereka Mba Tri dan pacarnyalah yang hadir ke acara wisuda Amara.
"Jika saja kalian datang memenuhi undangan, mungkin Amara tidak akan bersedih saat berjalan menuju podium. Di mana saat namanya dipanggil pertama kali sebagai mahasiswi dengan nilai kelulusan terbaik dikampusnya. Sebagai orang tua, kalian pasti akan sangat bangga dengan pencapaian putri kalian ini bukan? Karena banyak sekali orang tua di sana yang berharap anak mereka yang berada di posisi Amara saat itu, menjadi satu-satunya mahasiswi lulusan terbaik di kampusnya dengan jurusan yang Pak Tomo impikan dan paksakan pada calon istri saya." Tekan Daniel pada kalimat terakhirnya.
Deg! Nyess!
Hati Tomo dan Riana kembali dibuat terkejut dengan perkataan Daniel. Begitu pula dengan Chandra yang tidak menyangka dengan pencapaian sang adik. Karena yang ia ketahui hanya keburukan Amara atas tuduhan Novita yang selama ini diceritakan Novita padanya.
"Dia begitu menuruti keinginan Bapak, tak hanya sekedar menuruti, tapi dia sangat totalitas melakukannya, bukan? Mungkin jika saya yang ada diposisinya. Menempuh pendidikan yang bukan keinginan saya, mungkin saya tidak akan melakukan sebaik yang Amara lakukan demi menyenangkan hati Bapak dan ibu. Apalagi dia harus mencari biaya kuliah sendiri tanpa bantuan dari siapa pun dan berusaha survive seorang diri di tengah masalah keluarga yang terus mendera dirinya. Terkucilkan dan terlupakan tanpa sedikit pun perhatian dari kalian." Lanjut Daniel menampar mereka dengan kata-katanya.
Riana yang menyadari kesalahannya sebagai seorang ibu, air matanya sudah berlinang dan membanjiri pipinya. Begitu pula dengan Tomo. Kedua orang tua Amara ini hatinya berhasil diporak porandakan oleh perkataan Daniel tentang Amara yang ia ketahui luar dan dalamnya.
"Sebagai calon suaminya, saya sangat bangga padanya, saya ini memiliki segalanya. Materi dan kedudukan bukanlah masalah bagi saya. Siapa yang tidak mengenal Daniel Prayoga, putra dari Cristiano Prayoga. Pemimpin perusahaan Jaya Crop. Seharusnya dengan berada disisi saya, Amara tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya selama ia menepikan diri tanpa perhatian keluarganya. Namun apa? Dia tetap bekerja keras, bahkan ia bekerja sampai di dua tempat yang berbeda, hanya demi tidak menggantungkan hidupnya dengan saya." Lanjut Daniel yang berhasil membuat Riana makin menangis histeris. Mengetahui beratnya perjalanan hidup putrinya.
Daniel yang tidak perduli dengan tangisan Riana, terus saja melanjutkan ucapannya. Karena bagi Daniel, tangis Riana tidak akan mengubah semua hal yang telah terjadi pada Amara.
"Perlu Bapak dan Ibu ketahui, di acara wisuda kemarin, saya sangat-sangat bangga mendampingi Amara. Bukan hanya karena gelar cumlaude yang ia dapatkan. Tapi di saat acara itu Amara juga langsung di rekrut oleh salah satu sekolah swasta bertaraf internasional terbaik di negera ini karena buah dari prestasinya. Saat ini putri kalian tidak ada di sini karena sedang mengajar, seperti impian Pak Tomo. Bukan sedang bekerja di perusahaan saya. Saya sangat bersyukur atas berkesempatan yang diberikan pada Tuhan untuk menyaksikan keberhasilan Amara, yang telah disia-siakan oleh Bapak dan Ibu." Lanjut Daniel yang makin membuat Tomo dan Riana makin menyesali akan ketidak hadiran mereka.
"Mungkin Bapak dan ibu memiliki alasan tersendiri atas ketidak hadiran kalian dalam acara bersejarah bagi Amara saat itu. Tapi setidaknya sempatkanlah sedikit waktu untuk bertanya pada dia, bagaimana dengan acara wisudanya. Bukan hanya berdiam diri hingga sampai saat ini. Mungkin jika saya tidak menceritakan hal ini, sampai kapan pun kalian tidak akan pernah tahu betapa membanggakannya putri kalian. Jika kalian berharap Amara akan menceritakannya begitu saja pada kalian. Itu tidak mungkin terjadi. Karena dia sudah trauma dengan hinaan dan tuduhan yang selalu ia dapatkan dari kakak kandungnya sendiri." Ucap Daniel yang kini melirik ke arah Chandra yang menundukan kepala.
Betapa bodohnya Tomo melupakan permintaannya pada sang putri yang sebenarnya tidak pernah bercita-cita sama sekali untuk menjadi seorang guru. Putrinya itu sejak kecil sangat bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Inilah alasan mengapa Amara memiliki suara yang begitu merdu dan enak didengar, dan tidak rela untuk melepas pekerjaannya di cafe Kokoro milik Dokter Frans.
Usai mengutarakan semuanya Daniel pun terdiam, ia memberikan sedikit waktu untuk Tomo dan Riana meluapkan penyesalannya sebagai orang tua dengan menangis. Ketika tangis kedua orang yang ada di hadapannya mereda. Daniel pun meminta izin untuk segera menghalalkan Amara menjadi istrinya dalam waktu dekat.
"Sudah sangat lama, saya dan Amara menantikan kedatangan Bapak dan Ibu kembali ke kota ini. Mungkin terlalu cepat dan tidak pantas membicarakan niat baik saya saat ini, tapi saya dan Amara sudah cukup lama menunggu Bapak dan Ibu untuk mendengar permintaan izin saya untuk menikahi Amara. Kami saling mencintai dan ingin segera meresmikan hubungan kami ini. Saya mohon kesediaan Bapak dan Ibu memberikan izin pada saya untuk menikahi Amara." Tutur Daniel dengan tegas sembari menatap kedua orang tua Amara.
Riana nampak terkejut dengan lamaran Daniel, namun tidak dengan Tomo. Tomo tersenyum saat mendengar Daniel meminta putrinya.
"Nak Daniel, saya hargai semua kebaikan Nak Daniel pada Amara. Saya juga berterima kasih atas segala support yang Nak Daniel berikan pada Amara. Begitu pula dengan informasi yang telah Nak Daniel berikan saat ini. Namun untuk memberikan izin untuk menikah Amara. Saya tidak bisa memberikannya." Tolak Tomo dengan hati-hati.
Seketika hati Daniel luluh lantang, untuk pertama kali dalam hidupnya lamarannya ditolak. Padahal diluar sana orang lain berlomba-lomba untuk menjadikan seorang Daniel menantunya.
"Kenapa Bapak menolak niat baik saya? Saya dan Amara saling mencintai. Apa karena saya ini seorang Duda beranak satu?" Tanya Daniel menggebu-gebu.
"Tidak. Bukan karena Nak Daniel seorang duda. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan akan hal itu." Jawab Pak Tomo.
"Keyakinan kita berbeda Nak. Mungkin di luaran sana ada yang bisa menerima pernikahan dengan perbedaan keyakinan. Tapi tidak dengan prinsip hidup saya." Jawab Tomo yang membuat Daniel terdiam karena Tomo menyinggung tentang prinsip hidup seseorang yang tidak mungkin tergoyahkan.
"Ketahuilah Nak, saya adalah salah satu korban dari kegagalan pernikahan kedua orang tua saya yang berbeda keyakinan. Mereka menikah dengan Bapak saya yang mengalah mengikuti keyakinan Ibu saya. Namun lambat laun, seiring berjalannya waktu. Keyakinan yang dipaksakan pasti akan membuat sebuah masalah dikedepannya nanti, dan yang menjadi korban adalah anak-anak mereka." Tambah Tomo dengan menceritakan kehidupannya.
"Tapi saya janji tidak akan seperti itu, Pak. Saya akan menuruti semua syarat yang Bapak berikan asal saya bisa menghalalkan Amara." Mohon Daniel sembari bersimpuh di hadapan Tomo.
"Tidak Nak. Saat ini kamu bisa bicara seperti ini, tapi tidak dengan kedepannya nanti. Ketika Amara tidak lagi membanggakan mu, dia yang hanya menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak-anak mu, tak secantik wanita-wanita yang kamu temui diluaran. Apalagi dengan sikap arogan yang kamu miliki. Saya sama sekali tidak yakin dengan janjimu." Tolak Tomo yang berhasil membuat Daniel berderai air mata.
Ya, kini posisi berbalik, jika tadi Daniel yang berhasil membuat Tomo dan Riana menangis. Kini giliran Tomo yang membuat Daniel menangis.
Chandra di ujung sana sudah tertunduk lemas, mendengar penolakan sang Ayah atas lamaran Daniel untuk sang adik.
Kenapa Ayah menolaknya. Ayah sudah menjerumus aku kejurang kesengsaraan. Sebentar lagi aku pasti akan jadi gembel. Batin Chandra yang egois.
Setelah terus berusaha memohon namun terus dipatahkan oleh Tomo, Daniel pun akhirnya undur diri, setelah sebelumnya memberikan kwitansi pembayaran biaya rumah sakit yang telah ia bayar.
"Saya pamit undur diri, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Biaya rumah sakit sudah saya lunasi, bahkan biaya rawat jalan Bapak juga sudah saya bayar sebelumnya. Bapak hanya tinggal datang saja ke dapannya nanti. Maaf jika kata-kata saya menyinggung perasaan Bapak dan Ibu. Satu hal lagi yang perlu saya ucapkan. Terima kasih atas penolakan yang Bapak berikan pada saya. Meskipun aBaoak telah menolak saya, saya akan tetap berjuang untuk menikahi Amara. Karena Amara adalah bagian terpenting bagi hidup saya " Ucap Daniel yang membungkukkan dirinya, sebagai tanda hormanya pada Tomo dan Riana. Kemudian perlahan ia memundurkan langkahnya dan berlalu pergi.
Tidak perduli dengan niat baikku yang sudah ditolak mentah-mentah oleh calon mertua ku. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan restu darinya. Ya, Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Tolonglah hambamu ini untuk membolak balikkan kerasnya hati calon mertua hamba. Batin Daniel saat berlalu pergi.
"Ibu harus hubungi Amara sekarang, Ayah. Kita harus segera bicara dan meminta maaf padanya." Ucap Ibu Riana saat Daniel telah meninggalkan mereka.
"Tidak. Jangan ganggu dia, Bu! Dia sedang bekerja. Ayah yakin hari ini ia akan pulang ke rumah kita, tanpa kita hubungi. Kita akan bicara ketika ia pulang nanti." Sahut Tomo mencaram istrinya untuk tidak menghubungi Amara saat ini.
Bekerjalah dengan baik sayangku, urusan biaya rumah sakit sudah aku tangani. Tulis Daniel dalam pesan singkatnya pada Amara.
Daniel hanya menginformasikan hal yang pasti masih menjadi bahan pikiran wanita yang ia sayangi saat ini. Tanpa ingin menceritakan penolakan yang telah ia dapatkan dari Tomo.
Amara yang mendapatkan pesan dari Daniel langsung saja membacanya. Ia menitikkan air mata terharunya karena Daniel lagi-lagi menjadi malaikat yang selalu membantunya. Meskipun terkadang Daniel lebih sering menjadi seorang Devil dikehidupan Amara sehari-hari. Mengganggu dan menggodanya tanpa henti.
Larut dalam kesedihan membuat Amara lama membalas pesan Daniel. Hal ini membuat Daniel kesal karena tidak sabar menunggu respon Amara atas tindakannya.
Sudah membaca tapi tidak membalas pesanku. Apa Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih sedikit pun padaku? Atau kamu sedang mempersiapkan omelanmu itu untuk memarahiku? Kamu tidak suka ya aku menolong mu humm? Tulis Daniel dalam pesannya.
Amara yang membaca pesan kedua Daniel berhasil dibuat tersenyum. Ia tersenyum karena sifat tidak sabaran Daniel yang begitu menggelikan baginya.
Terima kasih Papi, I Love you. Aku sangat suka Papi menolong ku. Papi emang superhero ku. Balas Amara yang kini berhasil membuat hati Daniel berbunga-bunga. Ia sedikit bisa melupakan penolakan Tomo yang melukai hati dan jiwanya karena kata-kata manis Amara dalam pesan singkatnya.
Dengan cepat Daniel langsung membalasnya. I love you to Mami. Ingat Mami Clara tersayang, bantuanku ini tidak gratis. Sampai jumpa sore nanti untuk membayarnya. Tulis Daniel kembali dalam balasan pesan singkatnya.
Amara yang membacanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia sudah tahu bayaran apa yang harus ia lakukan untuk membayar semua kebaikan Daniel, yang pasti mereka tidak akan melakukan penyatuan mereka kembali. Karena mereka sepakat akan kembali melakukannya ketika sudah terikat dalam sebuah ikatan pernikahan.