
Hari-hari kembali berlalu. Setelah hari itu Nyonya Anne sangat sulit mendekati menantu wanita satu-satunya yang ia miliki, karena Daniel memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di apartemen. Di mana ia harus melakukan perjanjian dengan Daniel terlebih dahulu sebelum bertemu dengan menantu dan cucunya itu.
Semenjak tinggal di apartemen keluarga kecil Daniel makin harmonis. Terlebih setelah pelepasan alat kontras(e)psi yang dipasangkan Nyonya Anne pada tubuh Amara, dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama Amara di nyatakan hamil.
Daniel sangat menjaga kehamilan istri tercintanya, kebahagiaan makin terasa dihari Daniel saat ia mengetahui calon anaknya berjenis kelamin laki-laki, seperti yang ia harapkan.
Tak hanya Daniel yang kini nampak bahagia, begitu pula dengan sang mantan istri yang kembali fokus pada hubungannya dengan pria yang dulunya menjadi pria idaman lain sang mantan istri.
Setelah Daniel menikah dengan Amara, tak lama kemudian Hanna pun menikah dan kini tengah mengandung buah cintanya dengan sang suami. Kehamilan Hanna berjarak satu bulan lebih tua dengan kehamilan Amara.
Hari ini, tanpa di sengaja kedua pasang suami istri ini bertemu di rumah sakit untuk memeriksa calon buah hati mereka. Baik Hanna dan Daniel saling berdiri terpaku memandang satu sama lain. Sedangkan pasangan mereka hanya diam tanpa mengerti apa-apa.
Clara yang tidak pernah absen untuk ikut memeriksa calon adiknya, saat melihat sosok ibu kandungnya ada dihadapannya langsung saja memegang erat tangan Amara. Ia khawatir akan ada prahara yang terjadi dalam beberapa menit ke depan.
Amara yang tahu arti gesture tubuh putri sambungnya langsung saja mengerti. Ia ikut memandangi wanita hamil yang tengah berdiri tak jauh dari dirinya.
Menyadari wanita hamil yang ada dihadapannya memiliki kemiripan pada putri sambungnya. Amara pun berjalan menghampiri Hanna.
"Saya Amara. Senang bisa bertemu Anda di sini." Ucap Amara sembari menjulurkan tangannya. Ia mengajak Hanna berjabat tangan.
Hanna tidak langsung menerima ajakan Amara untuk berjabat tangan. Ia malah memandangi wajah teduh Amara yang begitu friendly.
"Saya Hanna. Saya juga senang bisa bertemu dengan mu di sini." Balas Hanna yang akhirnya menerima ajakan Amara untuk berjabat tangan.
Keduanya saling melempar senyum ramah mereka satu sama lain.
"Clara sayang kemarilah! Beri salam pada Mommy dan Daddy sambung mu! Perintah Amara sembari menatap tajam kearah Daniel dan juga Clara.
"Kamu beruntung sekali karena akan memiliki dua adik sekaligus." Lanjut Amara sembari menuntut Clara untuk mencium tangan Derry, suami Hanna dan juga Hanna.
Seketika Hanna menitikkan buliran air matanya, ketika putri yang ia lahirkan ke dunia ini mencium tangannya untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka dipisahkan.
"Clara sayang. Kamu sudah besar ya? Boleh Mommy peluk kamu sayang?" Tanya Hanna pada Clara yang tangannya sama sekali tidak ia lepaskan.
Clara tidak bisa menjawab pertanyaan ibu kandungnya karena merasa takut pada Daniel, meskipun hatinya ingin.
"Tentu boleh, peluklah! Clara juga anak mu." Jawab Amara mewakili Clara, yang berhasil membuat Daniel membulatkan kedua bola matanya.
"MAMI!!" Panggil Daniel dengan intonasi sedikit meninggi.
Namun Amara mengabaikan panggilan suaminya.
Hanna jadi ragu untuk memeluk putrinya yang tidak pernah dapat ia jangkau sedekat ini. Karena melihat raut tidak mengizinkan Daniel yang tergambar jelas diwajahnya.
"Peluklah putri mu, Kak!" Perintah Amara dengan menyebut Hanna dengan panggilan Kakak.
"Bolehkan aku memanggilmu Kakak?" Tanya Amara ketika ia melihat Hanna sedikit tersentak saat ia memanggilnya dengan sebutan Kakak.
Hanna mengangguk sembari tersenyum bahagia. Ia lantas mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Clara.
Kamu tidak salah mendapatkan Amara, Daniel. Dia begitu baik. Batin Hanna.
Clara terus saja menatap Daniel yang terlihat tak rela putrinya berdekatan dengan ibu kandungnya sendiri. Sadar akan hal itu, Amara pun kembali berbicara.
"Jangan ragu-ragu, peluklah putrimu! Jangan takut dengannya! Jika dia berani menjauhkan mu dengan putri mu. Aku pun akan menjauhkan dia dengan calon putranya yang ada di dalam kandungan ku. Biar ia merasakan bagaimana rasanya dipisahkan." Ucap Amara yang sedikit mengancam Daniel.
"Peluklah Mommy mu sayang! Mami mengizinkan mu. Ingat siapa yang berkuasa diantara kita?" Ucap Amara berusaha meyakinkan putri sambungnya yang merasa takut dan ragu.
Saat ini Daniel tidak bisa berkutik dengan ancaman yang dilontarkan Amara padanya. Ia hanya bisa menyaksikan mantan istrinya melepas rindu dengan putri kesayangannya.
Tinggal di apartemen tanpa pengaruh ibu mertuanya. Amara jadi mengetahui jika Clara selama ini sangat merindukan sosok ibu kandungnya.
Amara mengetahui akan hal itu ketika membuat sebuah perjanjian dengan putri sambungnya. Di mana diantara mereka tidak boleh merahasiakan sesuatu. Mereka berjanji untuk terbuka dalam segala hal. Amara adalah sosok ibu sambung yang dapat menempatkan dirinya sebagai seorang ibu, teman, sahabat dan juga guru untuk Clara.
Clara menangis tertahan, ketika tubuhnya yang sangat merindukan sentuhan Hanna ini dipersatukan dalam pelukan yang begitu erat.
"Mommy," panggil Clara dengan suara yang berbisik yang hanya dapat di dengar oleh Hanna.
"Ya sayang," jawab Hanna dengan suara berbisik pula.
Seolah keduanya tak ingin orang tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku merindukan mu," ungkap Clara yang kemudian tangis memilukan ya pecah.
"Mommy juga," balas Hanna yang ikut menangis. Keduanya saling berpelukan erat.
Amara yang terbawa suasana pun ikut menangis, ia kemudian melirik suaminya yang berada di belakangnya. Di mana suaminya nampak datar dan tidak tersentuh sama sekali.
Terbuat dari apa hatimu Pih? Cuek sekali, datar sekali seperti jalan tol. Menyebalkan! Batin Amara.
Pasti kamu sedang mengumpati diriku! Andai kamu sedang tidak berbadan dua. Sudah aku tarik kamu dan Clara menjauh dari mereka. Batin Daniel yang masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya.
"Sini Pih! Mami lagi nangis nih, Papi sudah gak mau meluk Mami lagi ya?" Ucap Amara pada Daniel yang menatap kesal padanya.
Meskipun Daniel merasa kesal, namun ia tetap menghampiri istri tercintanya ini. Daniel segera menghampiri dan memeluk tubuh Amara.
"Papi, tolong jangan keraskan hatimu! Semua orang butuh kesempatan kedua. Jangan menghakimi seorang ibu dengan menjauhkan buah hatinya karena amarahmu! Karena yang tersiksa bukan hanya mantan istri mu tapi juga Clara, putri kita. Aku mohon padamu, Papi. Lakukan ini demi kebahagiaan Clara. Karena dia tak hanya butuh aku, tapi juga butuh Kak Hanna. Bagaimana pun sosok ibu kandung tak akan pernah tergantikan." Ucap Amara dalam pelukan Daniel.
Mendengar permohonan Amara, manik mata Daniel kini terfokus pada Hanna dan juga Clara. Daniel mendapati raut kerinduan yang belum terobati dalam di wajah putrinya.
Ya, Tuhan. Aku harus bagaimana? Tolong tunjukkan jalan bagiku untuk melupakan semua yang telah terjadi di masa laluku yang kelam itu. Batin Daniel sembari meratapi wajah Clara yang berderai air mata.
Sontak semenjak pertemuan kali itu, Daniel yang mendapatkah hidayah kemudian membebaskan Hanna menemui Clara. Mulai dari saat itu pula Hanna, Clara dan Amara kerap menghabiskan waktu bersama setelah pulang sekolah. Dan hal ini akhirnya terdengar ditelinga Nyonya Anne. Ia nampak tidak suka dengan berita yang ia dengar. Baru saja ia ingin bertindak. Tuan Cristiano menghadang dirinya.
"Mau apa Mih? Mau ikut campur lagi dengan urusan rumah tangga putramu hum?" Tanya Tuan Christiano pada istrinya yang hendak pergi mendatangi Amara di apartemen.
Belum sempat menjawab Tuan Christiano kembali melanjutkan ucapannya. "Tidakkah Mommy jera dengan kepergian mereka dari rumah ini hum?"
"Tapi Dad?" Nyonya Anne ingin membantah namun kembali terpatahkan oleh Tuan Christiano.
"Amara bukan seperti Hanna, dia wanita yang memiliki pendirian, mandiri dan tegas. Selangkah saja Mami salah mengambil keputusan. Dia akan pergi meninggalkan putra mu. Dan Daddy yakin Daniel pasti akan gila jika ditinggalkan Amara. Lagi pula Daddy yakin, Amara melakukan pendekatan dengan Hanna atas keinginan Clara. Bukan karena inisiatif dia sendiri. Bukankah Mommy sudah dengar dengan jelas, mereka tidak sengaja bertemu awalnya?"
"Tapi Pih?"
"Tidak ada tapi-tapi Mom. Kita sudah tua, sebaiknya kita jangan terlalu banyak mengatur yang akan membuat kita rugi sendiri. Mereka sudah besar dan dapat menentukan yang baik dan tidak. Cukup dengan mereka memilih meninggalkan rumah ini, tapi tidak dengan melupakan kita karena kamu yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu." Ucap Tuan Christiano tegas.
Ia pun segera meninggalkan istrinya yang berdiri mematung, memikirkan ucapannya barusan.
Pada akhirnya Nyonya Anne mengikuti perkataan suaminya untuk tidak ikut campur dengan urusan pernikahan putranya. Ia pun tetap bersikap baik pada Amara. Meski ia belum bisa menerima Hanna kembali didekatnya.
Sekian dulu ya, cerita Daniel dan Amara...
Kita akan bertemu Daniel dan Amara di kisah cinta Tiara dan Thomas oke...