
Setelah hari itu, hubungan Daniel dan Amara terjalin begitu dekat. Tidak ada yang berubah saat mereka berada di perusahaan. Tentu saja hal itu berkat Anto, asisten Daniel yang sudah mengultimatum seluruh karyawan Daniel untuk tidak menjadikan hubungan Amara dan Daniel topik pembicaraan mereka. Jika mereka masih ingin mengais rezeki di perusahaan Angkasa Jaya milik Daniel.
Menjadi wanita spesial di hati Daniel, tak menjadikan diri Amara tinggi hati apalagi bertindak semena-mena di perusahaan Angkasa Jaya milik Daniel. Ia tetap menjadi pribadi Amara yang sederhana, ceria, santun, pekerja keras dan baik hati.
Mungkin inilah satu alasan pendukung rekan kerjanya menjadi sungkan pada kepribadian Amara yang baik. Tidak enak hati untuk membicarakan Amara yang hampir tanpa cela. Mereka malah mendukung hubungan Amara dan Daniel bisa sampai ke jenjang pernikahan.
Hampir dua bulan hubungan mereka terjalin, hampir dua bulan pula Rendra tanpa kabar berita. Amara yang masih merasa kecewa dan terbuai dengan sikap manis Daniel, membuat Amara melupakan begitu saja sosok Rendra.
Tak pernah sedikit pun diantara Amara dan Rendra saling bertukar kabar. Padahal Rendra sangat menunggu-nunggu Amara menghubunginya terlebih dahulu, seperti biasanya.
Drastis semenjak kejadian di club malam yang Rendra lihat, kondisi kesehatan Rendra memburuk. Itu karena Rendra merasa terpuruk dan merasa Amara telah meninggalkan dirinya demi pria yang menjadi malaikat penyelamat kekasihnya itu.
Kondisi Rendra yang semakin mengkhawatirkan dengan mogok makan pun akhirnya membuat keluarganya terpaksa membawa Rendra ke rumah sakit.
Hasil diagnosa Dokter yang mengatakan Rendra sedang mengalami tekanan membuat Kakak sulung Rendra bernama Bastian meradang. Sebagai kakak sulung dan mengganti posisi mendiang sang Ayah sebagai pemimpin. Ia pun segera mengambil perannya.
"Katakan pada Abang, kamu sedang menghadapi masalah apa Ren? Apa ada yang mengancam mu selama ini? Dan kenapa pula Amara tidak pernah terlihat bersama mu lagi akhir-akhir ini? Apa kalian sedang ada masalah?" Bastian mencecar Rendra dengan pertanyaan-pertanyaannya, tak perduli dengan kondisi sang adik tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Mendengar pertanyaan sang Kakak tentang Amara, bukannya menjawab Rendra malah menangis sejadi-jadinya.
Rendra mengeluarkan sisi lemahnya sebagai seorang laki-laki di depan sang Kakak tanpa rasa malu.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini Ren? Kamu ada masalahkah dengan Amara? Berhentilah menangis Ren! Kamu ini laki-laki, mana sikap kesatria mu. Apa Papi mengajarkan kamu bersikap lemah seperti ini?"
Rendra menjawab dengan menganggukkan dan menggelengkan kepalanya, ia berusaha menghentikan tangisannya, namun sangat sulit ia lakukan.
"Jika kamu punya masalah dengan Amara, seharusnya kamu selesaikan baik-baik dengannya. Bukan terpuruk seperti ini Ren. Kamu ini laki-laki, tak sepantasnya bersikap lemah seperti ini. Bagaimana kamu bisa menjadi pemimpin, jika kamu bersikap lembek seperti ini Ren? Menjadi laki-laki itu harus kuat dan tegar. Karena tugas dipundak seorang laki-laki di dunia maupun di akhirat itu tidaklah mudah dan tidak bisa dianggap enteng."
"Aku tahu itu Bang. Aku mengakui aku berbuat salah dan posisiku saat ini sedang serba salah, Bang. Terlebih aku sedang berada dalam ancaman. Saat ini aku seperti orang bodoh yang harus mengikuti perintah orang yang terus mengancam ku."
"Apa? Siapa yang berani mengancam mu? Katakan siapa yang sudah berani mengancam mu? Masalah apa dan kesalahan apa yang sebenarnya terjadi hingga kamu mendapatkan ancaman? Ceritakan semuanya pada Abang, Ren! Jangan ada yang dirahasiakan!" Tanya Bastian yang tak terima adiknya mendapatkan ancaman.
Sebagai seorang kakak sulung dan menjadi pemimpin keluarga. Ia berkewajiban melindungi anggota keluarganya. Jika pun anggota keluarganya yang salah ia harus koperatif dalam mengambil keputusan, tidak bersikap tumpang tindih.
Setelah diminta menceritakan oleh Bastian. Rendra akhirnya berterus terang tentang masalah yang ia hadapi hingga ia jatuh sakit seperti ini. Dengan berlinang air mata ia mengadukan semua kegundahan hatinya pada Bastian dan semua yang terjadi selama ini padanya.
Di akhir ceritanya Rendra pun memberi tahu Bastian, siapa yang selama ini mengancamnya dan memerintah dirinya untuk melakukan sesuatu agar Amara membenci dan meninggalkannya.
"_____Kakak ipar Amara, Erdi Bang. Anak buah Abang yang membeli motor Abang setahun lalu itu."
"Sialan! Macam-macam dia sama adikku." Umpat Bastian yang segera pergi dengan emosi yang berapi-api.
Sementara itu di Perusahaan Angkasa Jaya. Anto tengah berbincang mengenai bisnis Christiano, Daddy Daniel yang sudah harus Daniel ambil kendali, karena kondisi kesehatan Christiano sudah mulai sering mengalami penurunan.
Di tengah pembicaraan mereka, terselip ingatan Daniel mengenai Erdi yang sempat ia lihat saat di jalan tadi, tepatnya saat ia mengantarkan Amara ke tempat kuliahnya.
Ya, semenjak mereka resmi menjalin hubungan. Drastis Amara sudah hampir tak pernah membawa Mugos, motor matic tuanya kemana pun ia pergi. Karena Daniel ataupun Tarman, supir pribadi Daniel selalu mengantar kemana pun Amara pergi.
Diperlakukan seperti seorang Cinderella membuat Daniel berhasil mengukir kebahagiaan di hidup Amara yang terasa kelam.
"Anto, apa kamu sudah cari tahu di kesatuan mana Erdi dinas?"
"Sudah Pak,"
"Kalau sudah kenapa kamu tidak lapor ke saya?"
"Maaf, saya kira itu tidak terlalu penting. Karena selama ini Bapak tidak pernah menayangkannya kembali."
"Argh kamu ini. Jangan suka menarik kesimpulan sendiri! Sekarang cepat katakan! Saya ingin ke sana menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan."
Bagus. Kena kau Erdi. Akan ku buang kau ke pelosok. Jangan panggil aku Daniel jika tak bisa membuang mu jauh dari Amara. Batin Daniel yang tersenyum menyeringai.
"Buatkan saya jadwal bertemu Pak Burhan satu jam dari sekarang! Siapkan rekaman CCTV di club malam waktu itu! Saya akan membawanya dan menunjukkan pada Pak Burhan." Perintah Daniel pada Anto.
"Baik Pak." Anto menyanggupi perintah yang diberikan Daniel padanya, kemudian pamit undur diri.
Drttt...drrttt...
My Angels calling...
"Hallo putri Papi, ada apa telepon Papi humm?" Sapa Daniel dengan suara ramah dan penuh kasih sayang pada putri semata wayangnya.
"Papi, Clara ingin ke perusahaan setelah pulang sekolah nanti. Ada hal penting yang ingin Clara pastikan sama Papi, SEGERA!! Ini mengenai acara sekolah Clara." Ucap Clara yang terdengar emosi pada Daniel.
"Calm down Baby, kita bisa bicarakan di rumah."
"Tidak bisa, Papi terlalu banyak janji dan terlalu sibuk bekerja." Paksa Clara yang malah memancing Daniel tertawa.
Owhh... Aku terlalu menikmati waktu ku dengan Amara, hingga melupakan putriku sendiri. Ok baiklah. Mungkin sudah saatnya Clara aku kenalkan pada Amara. Batin Deniel.
"Hahahaha... Ok baiklah sayang, datanglah ke perusahaan. Jika Papi belum datang, tunggulah dengan sabar kedatangan Papi, karena Papi hari ini ada janji bertemu dengan teman Papi di luar kantor."
"Heem baiklah. Bye Papi. Take care." Ucap Clara yang kemudian menutup panggilan teleponnya begitu saja, tanpa menunggu Daniel membalas ucapannya.
Daniel tersenyum tipis, mendapati putrinya bersikap seperti dirinya.
Belum sempat Daniel memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
Amara calling~
"Hallo Amara ada apa?" Sapa Daniel saat mengangkat panggilan telepon dari Amara.
"Hari ini saya izin tidak usah dijemput ya Pak. Saya mau pergi dulu cari kebaya wisuda sama teman-teman."
"Teman? Cewek atau cowok?" Tanya Daniel yang selalu menonjolkan sikap posesifnya.
"Dua-duanya Pak, tapi saya naik mobil Tiara. Isinya cewek semua kok. Boleh ya?"
"Sebelum makan siang sudah sampai di kantor ya. Ini perintah."
"Setelah makan siang gimana?" Amara mencoba tawar menawar dengan Daniel.
"Sebelum makan siang atau tidak sama sekali." Tolak Daniel tegas.
"Baiklah Pak Boss. Terima kasih."
"Heemm.."
"Bye, saya tutup ya?"
"Heemmm."
Meski hubungan mereka terasa masih kaku dan canggung, namun keduanya tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap merasa nyaman satu sama lain. Karena keduanya bisa menjadi diri mereka sendiri. Walaupun terkadang Daniel selalu memberi aturan pada Amara. Agar hidup Amara lebih terarah.
Kini Sosok Daniel sangat berperan penting dalam hidup Amara. Ia bisa berubah-rubah seperti seekor bunglon. Kadang ia menjadi sosok Ayah, kakak dan juga kekasih yang sangat perhatian dan posesif pada Amara. Semoga kebahagiaan yang datang di hidup Amara ini tak akan pernah berakhir.