Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Selalu menjadi Tom and Jerry



Tok...tok...tok!


Suara keras ketukan dari luar pintu kamar Daniel, membuat Amara terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya yang masih terasa sangat lengket, dengan kepala yang terasa teramat sakit, begitu pula dengan tubuhnya yang terasa remuk karena pergulatan dengan Daniel semalam. Semakin membuatnya merintih saat bangun


"Arghhh badan aku sakit banget kaya habis digebukin warga satu kampung. Ini siapa sih berisik banget, ganggu waktu orang tidur saja?" Pekik Amara sembari memukul-mukul keras sesuatu yang ia peluk dalam tidurnya.


Amara belum sadar betul, jika yang ia peluk bukanlah benda mati seperti biasanya, tapi seseorang manusia yang masih kelelehan setelah puas menggaulinya semalam.


Daniel seketika terbangun dan membuka matanya lebar-lebar, merasakan sakit luar biasa dengan pukulan Amara yang sekuat tenaga. Sementara Amara kembali memejamkan matanya yang masih terasa lengket dan berat untuk terjaga.


"Sakit, kamu tuh suka sekali menyiksa saya sekarang ya?" Protes Daniel dengan suara khas orang yang baru bangun sembari merintih kesakitan, tanpa menyingkirkan Amara yang masih memeluk erat tubuhnya, tangannya terus saja membelai rambut Amara dengan penuh cinta.


Mendengar suara Daniel, seketika Amara terlonjak dari tidurnya. Ia duduk menatap Daniel yang tidur dengan bertelanjang dada. Sontak saat Amara terbangun, Daniel mendapatkan pemandangan indah dipagi hari. Amara belum sadar jika dirinya saat ini sama sekali tak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi aset pribadi miliknya, yang kini terpampang nyata di mata Daniel.


Daniel terus tersenyum dengan matanya yang terfokus pada bagian dada Amara yang seakan menggodanya.


"Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu semalam. Pasti nyenyak ya." sapa Daniel membuka pembicaraan diantara mereka.


Kini Daniel bangun dari posisi berbaringnya, ia ikut duduk dengan bersandar pada tepian ranjang tidurnya. Ia menatap dalam Amara yang menatap sinis dirinya. Tanpa menjawab sapaan dari Daniel.


"Jangan menatap saya seperti itu, sayang! Menakutkan sekali tatapan mu itu." Ucap Daniel sembari mengusap wajah Amara dari atas hingga ke bawah.


"Saya atau Bapak yang menakutkan hah?"


"Saya sedang tidak ingin bertengkar dengan mu. Saya hanya mau mendiskusikan rencana pernikahan kita. Karena setelah pulang nanti kita akan melangsungkan pernikahan."


"Saya tidak mau menikah dengan Bapak." Tolak Amara.


"Kamu tidak bisa menolak saya, karena bisa jadi dalam beberapa waktu dekat ini, kamu akan mengandung buah cinta kita semalam." Ucap Daniel dengan tangan yang bergerak mengusap lembut rambut Amara.


Duar!


Amara membelalakkan bola matanya mendengar perkataan Daniel. Ia lantas melihat kondisi tubuhnya. Ia terkejut dengan bagian dadanya yang ternyata terekspos sejak tadi, kemudian menyingkap selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya.


Mata Amara makin terbelalak, saat mendapati ia benar-benar tak mengenakan sehelai benang di tubuhnya. Dan saat ia bergerak bagian intinya terasa sakit dan perih. Rasa yang sama setelah ia dan Rendra pernah melakukannya untuk pertama kali.


"Brengsek!!" Umpatnya ke arah Daniel. Amara terus memukuli Daniel. Hingga Daniel kembali berbaring di atas ranjang.


Keduanya sama sekali tak memperdulikan ketukan pintu yang sangat kencang di depan pintu kamar Daniel.


"Ampun! Sakit!" Rintih Daniel yang sama sekali tak dihiraukan oleh Amara.


Amara menindih Daniel dan terus memukulinya tanpa ampun.


"Ampun sayang! Ampun!"


"Sayang-sayang, kepalamu peyang!" Sahut Amara tanpa berhenti memukul Daniel.


"Udah dong! Sakit, kamu sudah pukul wajah saya sampai luka seperti ini. Sekarang pukul saya membabi buta, saya bisa mati nanti. Nanti bagaimana dengan anak kita, kalau lahir tanpa saya yang mati di tangan Maminya?"


Mendengar ucapan Daniel, Amara menyingkir. Ia turun dari tubuh Daniel. Ia beranjak dari ranjang tempat tidur kemudian berjalan dengan menahan sakit ke kamar mandi.


Daniel ikut beranjak dari ranjang dengan maksud ingin membantu Amara. Namun Amara menolak, dan malah mendorong tubuh Daniel menjauh darinya.


Daniel segera menggunakan celananya, guna melihat siapa yang terus menggedor pintunya tanpa henti.


"Ya, tunggu!" Pekik Daniel pada orang yang sedang mengetuk pintunya. Namun orang yang mengetuk pintu Daniel tak akan mendengar suara pekikan Daniel.


Daniel memunguti pakai dirinya dan Amara terlebih dahulu, sebelum membuka pintu kamar hotel. Sementara Amara di dalam kamar mandi tengah membersihkan tubuhnya dan menyesali kebodohannya semalam di bawah guyuran shower.


Sial, aku benar-benar nampak seperti wanita murahan sekarang. Dia mau menikah karena takut ada benihnya yang berkembang di dalam rahim ku. Ayah ibu, maafkan aku. Batin Amara.


Ceklek! Pintu terbuka. Nampak Adis berdiri di depan kamar Daniel.


"Pak Daniel, lama sekali buka pintunya. Bapak lagi ngapain sih di dalam?"


"Bukan urusan kamu. Ngapain kamu ke sini?" Jawab Daniel ketus.


"Saya mau ajak Bapak bersenang-senang sebelum kita kembali malam nanti ke Jakarta Pak." Jawab Adis dengan nada bicara yang manja dan menggoda.


Adis meraba bagian dada bidang Daniel yang belum mengenakan sehelai benang pun.


"Saya tidak butuh, pergilah menjauh dari saya!" Daniel menyingkirkan tangan Adis dengan kasar dari bagian tubuhnya.


Amara yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, melihat Daniel berbicara dengan seorang wanita segera saja menghampiri.


Amara dapati wanita yang semalam bergelayut manja di tubuh Daniel di muka pintu, tanpa dipersilahkan masuk oleh Daniel.


Cih, pelakor! Umpat Amara di dalam hatinya.


"Siapa Pih?" Tanya Amara pura-pura tak mengetahuinya, dan memanggil Daniel dengan sebutan Papi seperti Clara memanggil Daniel.


Kemudian Amara dengan manjanya bergelayut di lengan Daniel, seperti apa yang dilakukan Adis semalam pada Daniel. Amara berhasil membuat Adis kepanasan karena merasa cemburu, sedangkan Daniel hatinya berbunga-bunga diperlakukan seperti itu oleh Amara.


"Adis, salah satu Usher yang kita sewa jasanya." Jawab Daniel yang kemudian merangkul Amara dalam dekapannya.


"Ohh, Adis namanya. Cepat selesaikan pembicaraan kalian, sebelum kesabaran saya habis!" Ucap Amara yang menatap tajam Daniel dan juga Adis secara bergantian. Kemudian ia kembali masuk untuk mencari pakaiannya.


Daniel yang takut Amara marah langsung saja mengusir keberadaan Adis dan menutup pintu kamarnya.


"Sepertinya terbiasa sekali Bapak sewa jasa plus-plusnya. Kalau saya gak di sini pasti Bapak sudah nganu-nganu sama dia ya semalam. Dasar laki-laki buaya darat." Ucap Amara sembari membalik pakaiannya semalam, yang ingin ia kenakan kembali.


"Jangan suka pakai pakaian yang sudah kotor, Amara!"


"Jangan juga pernah dekat-dekat dengan laki-laki kotor yang suka jajan diluar rumah, ya kan Pak Daniel!" Balas Amara yang memacu Daniel tersenyum sinis pada wanita dihadapannya.


"Saya tidak sekotor yang kamu pikirkan. Saya tidak sengaja menidurinya kala itu, karena saya baru saja berpisah dengan mantan istri saya."


"Ya-ya, percaya. laki-laki itu sangat pintar memberikan alasan dibalik kesalahannya yang memalukan." Timpal Amara yang kembali membuat Daniel tersenyum.


"Terserah apa kata kamu, yang terpenting saya tidak seperti itu. Tunggu di sini, jangan kemana-mana. Saya akan ambilkan tas kamu."


Daniel segera mengenakan baju dan pergi mengambil tas Amara yang berada di kamar para karyawatinya. Kedatangan Daniel sempat membuat heboh para karyawati, apalagi ia datang hanya untuk mengambil tas Amara. Ditambah kondisi wajah yang terdapat beberapa goresan luka. Menandakan pertengkaran mereka semalam sangat hebat hingga Daniel terluka seperti itu.


"Ganas juga ya Amara, sampai luka gitu wajah tampan atasan kita."


"Calon suami-suami takut istri kayanya Pak Daniel."


"Ah. Jadi penasaran muka Amara sekarang kondisinya gimana? Luka kaya Pak Daniel gak ya?"


Ucap beberapa karyawati yang seketika menggibah setelah Daniel kembali pergi menuju kamarnya.


Menjelang siang, Daniel dan Amara baru menikmati sarapan pagi mereka yang terlambat. Amara terus menekuk wajahnya karena tak diizinkan berkumpul kembali bersama teman kerja satu timnya.


Padahal siang ini adalah acara bebas, sebelum malam nanti mereka kembali ke kota Jakarta. Daniel lagi-lagi menggunakan Clara sebagai alasan untuk menahan keberadaan Amara untuk tetap di sisinya.


"Habis makan kita cari oleh-oleh untuk Clara ya Mami!" Ajak Daniel sembari menggoda Amara yang merajuk.


"Terserah!" Sahut Amara ketus sembari menyantap makanannya.


Kini Amara dan Daniel berada di central oleh-oleh. Keduanya memilih oleh-oleh untuk Clara sembari melakukan panggilan video call bersama Clara. Gadis kecil itu ikut memilih barang-barang yang diperuntukkan untuknya.


"Mami aku mau itu, belikan lebih banyak karena aku ingin membagikannya untuk teman sekelasku." Unjuk Clara pada tas rotan yang terlihat lucu.


"Hah berapa banyak? Mami tidak bisa bawanya jika membeli lebih dari pada dua, sayang. Barang-barang yang tadi saja sudah banyak. Kamu kaya mau jualan saja Clara." Sahut Amara keberatan.


"Sudah belikan saja, nanti biar para karyawan yang membawanya." Ucap Daniel yang kali ini berbaik hati pada putrinya.


"Ishhh... suka sekali membebani orang!" Balas Amara sembari menatap tajam Daniel.


"Tidak Clara, kali ini Mami tidak akan mengikuti kemauan mu. Mami tidak akan membelikannya lebih dari dua. Kamu jangan terbiasa hidup boros, belajar menabung dari sekarang. Sudah ya! Mami sudahi sesi belanja oleh-oleh yang berlebihan ini." Omel Amara untuk pertama kalinya pada putri Daniel.


Ia menutup panggilannya begitu saja. Clara yang dimarahi bukannya bersedih tapi malah tertawa geli.


"Lihatlah Mami baruku marah padaku Naynay!" Ucap Clara pada sang Nenek yang ikut menguping pembicaraan cucunya dengan Amara.


Terlihat Nyonya Anne tersenyum tipis mendengar ucapan sang cucu.


Kelihatannya, dia wanita baik-baik dan tidak memanfaatkan kekayaan putraku. Aku akan mencari tahu tentang dia secepatnya. Batin Nyonya Anne.


"Hem, bayar tuh sepuluh juta, cuma buat beli oleh-oleh. Dua bulan gaji saya tuh Pak." Gerutu Amara saat Daniel membayar oleh-oleh yang diminta putrinya.


"Saya akan berikan kamu yang lebih dari ini, jangan iri dengan anak sendiri." Sahut Daniel setelah membayar belanjaannya, kemudian kembali menggandeng Amara keluar toko central oleh-oleh itu.


"Saya tidak mau, pasti akan ada udang dibalik bakwan." Balas Amara dengan cepat. Kemudian menyingkirkan tangan Daniel yang merangkulnya.


Siang itu Amara ditemani Daniel menikmati pulau Dewata. Beberapa kali Daniel mencuri pose terbaik Amara dalam jepretan kamera ponselnya.


Cantik, kamu sangat cantik di mata saya. Batin Daniel yang mengagumi kecantikan Amara.


Pukul 19.30. Daniel dan seluruh karyawan yang ikut ke Bali, termasuk para telent yang ia sewa jasanya sudah berada di bandara udara i Gusti Ngurah Rai Bali.


Amara ingin sekali menghampiri Mba Tri dan teman-temannya, namun Daniel tidak memberikan izin dan terus menggenggam erat tangan Amara agar tidak menjauh darinya sedikit pun. Melihat hal ini Adis merasa sangat terbakar api cemburu. Ia terus menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Udah si Dis, yang bucin Pak Danielnya. Bukan ceweknya. Lihat aja tuh! Ceweknya pengen kabur tapi Pak Daniel gak ngasih, sampai rela dipukulin, dicubitin kaya gitu di depan banyak orang." Ucap salah seorang teman Adis pada Adis.


"Sial, padahal gue lebih cantik dan seksi dari cewek itu." Balas Adis yang tak bisa berhenti melihat keduanya.


Di kosan Amara. Daniel mengantar Amara hingga pintu kamar kosannya dengan membawakan tas Amara dan beberapa oleh-oleh yang Amara beli dengan uangnya sendiri.


"Sudah sana pulang! Saya mau masuk." Usir Amara sembari mendorong tubuh Daniel yang tak ingin beranjak pergi.


"Kamu masuk dulu, nanti saya pulang." Tolak Daniel yang malah memerintahkan Amara.


Dengan berdecak sebal. Amara kemudian membuka pintu kamar kosannya. Bola mata Amara kembali dibuat terbelalak dengan penampakan interior kosannya yang berubah.


"Arghhh Pak Daniel!!" Pekik Amara yang terlihat tidak senang dengan kemewahan interior kamar kosan Amara yang baru diperbaharui


"Apa? Kok marah-marah terus sih sayang. Baguskan kamar kita." Ucap Daniel yang kemudian menyelonong masuk ke dalam.


Daniel membuka lemari pakaian baru yang memanjang sepanjang ruangan. Ia tersenyum senang, saat mendapati pakaian kerja dan pakaian sehari-harinya ada di dalam lemari itu.


"Apa kita? Yang benar saja, kita belum nikah udah bilang kamar kita."


"Ya kan kita sebentar lagi akan menikah sayang." Sahut Daniel yang kemudian menghampiri Amara. Ia mengecup kening Amara dengan cepat. Dan Amara hanya diam saja, saat Amara melakukannya.


"Istirahat yang cukup ya Mami. Jangan lupa bersihkan dirimu sebelum tidur! Papi pulang dulu, sampai ketemu di kantor." Pamit Daniel yang kemudian pergi meninggalkan Amara.


Dasar Duda tengil, suka sekali berbuat seenaknya. Umpat Amara di dalam hatinya.