
Lima bulan kemudian. Setelah serangkaian panjang perjalanan cinta Amara dan Daniel. Mereka pun akhirnya bersatu dalam sebuah pernikahan yang sah, baik secara agama maupun hukum negara.
Daniel telah memeluk keyakinan yang sama dengan Amara. Ia belajar menjadi kepala keluarga yang baik untuk Amara dan juga Clara putrinya. Meski ia sudah berpindah keyakinan. Daniel sama sekali tidak memaksa Putri untuk mengikuti jejak dirinya berpindah keyakinan.
Hal itu ia lakukan karena ia tidak ingin memaksa kehendaknya pada sang putri. Jika pun suatu saat nanti Clara akan mengikuti jejaknya, biarkan itu terjadi karena kata hati putrinya sendiri dan bukan karena paksaan serta keharusan dari perintah Daniel sebagai seorang ayah.
Semenjak pernikahan Amara dan Daniel. Amara segera saja diboyong oleh Daniel untuk tinggal bersama keluarga besar Daniel di rumah utama. Dimana Tuan Cristiano dan Nyonya Anne juga tinggal di sana. Mereka hidup rukun dengan mengedepankan toleransi beragama di dalamnya.
Kebahagiaan kini dapat Amara rasakan, begitu pula dengan Clara yang kembali ceria seperti anak pada usianya. Mereka merasakan kehangatan keluarga yang begitu lengkap.
Dengan menikah Daniel, Amara jadi memiliki adik ipar yang usianya lebih tua daripada dirinya, sehingga demi menghormati adik iparnya yang usianya lebih tua dari dirinya, Amara memanggil adik kandung Daniel itu dengan sebutan Kakak.
Hubungan mereka begitu akrab. Tidak seperti hubungan antara Amara dan Novita. Mereka sering berbagi banyak hal, dari mulai cerita, pengalaman, makanan, pakaian bahkan skincare.
Angel adik Daniel selalu rajin menawarkan brand skincare ternama yang cocok pada kulit Amara. Juga mengajari Amara cara merias wajahnya yang sudah cantik dari bawaan lahir itu. Ia ingin sekali istri kakaknya ini tampil lebih cantik lagi.
Namun tidak dengan Daniel yang selalu khawatir jika Amara terlalu cantik. Daniel kerap kali mengomel saat Angel mengajari Amara merias wajahnya.
"Angel, kau apakan istri ku hah? Dia mau tidur bukan ingin pergi ke pesta!" Pekik Daniel di depan pintu kamar adiknya.
Namun yang keluar selalu Charlie, adik iparnya yang dijadikan tameng oleh sang adik.
"Angel sedang menidurkan putraku, Kak. Tolong jangan berisik!" Ucap Charlie sedikit menahan tawanya.
"Apa kau bilang aku berisik?" Charlie langsung saja mengangguk.
"Aishh... menyebalkan sekali kau ini. Apa kau belum pernah merasakan sendalku ini menempel di pipi mu?" Charlie lantas menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mau mencobanya? Sini berikan pipimu ini padaku!" Daniel segera melepas sendal rumah miliknya dan bersiap memukul pipi adik iparnya dengan sandal.
"Ja-jangan Kak! Besok aku ada meeting dengan client. Tolong jangan buat aku malu dengan penampakan pipiku yang ingin kau ukir dengan sendalmu itu." Tolak Charlie sembari memundurkan langkahnya.
"Kalau kau menolak ku ukir wajahmu dengan sandal mahal ku ini. Tolong ajari istrimu untuk tidak mengajari hal yang tidak-tidak pada istriku!"
"Baik, akan aku usahakan mengajarinya." Balas Charlie yang lantas masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu Daniel pergi dari depan kamarnya.
Kini keluarga Daniel terasa ramai dan penuh kehidupan. Tak hanya Clara yang senang dengan adanya Amara di kediaman mereka, tapi juga semua orang yang tinggal di rumah utama.
Kini sudah tiga bulan sudah Daniel dan Amara menikah. Amara lagi-lagi tertunduk lemas, ketika ia kembali datang bulan.
"Aku palang merah lagi, Pih." Ucap Amara sewaktu ia menghampiri Daniel yang sedang berbaring di ranjang.
"Gak apa-apa, besok kita coba lagi. Aku masih kuat kok. Tenang saja." Sahut Daniel sembari membelai rambut Amara yang kini berada di dalam pelukannya.
"Tapi Clara sudah minta adik terus. Gak tega aku bilang ke dia kalau sampai saat ini calon adiknya belum juga ada tanda-tanda akan hadir." Balas Amara dengan suara bersedihnya.
"Biar nanti Papi coba kasih pengertian padanya. Sekarang yang terpenting Mami gak usah stress dan banyak pikiran ya? Sekarang tidurlah, hari sudah malam. Kalau kamu tidak mau tidur. Biar Papi tidurin dulu bagaimana?" Ucap Daniel dengan senyuman menggoda.
"Ishh... Papi, Mamikan lagi palang merah."
"Oh, iya lupa. Puasa lagi dong ya? Ya udah kita tidur saja yuk!
Keduanya pun akhirnya tertidur dengan posisi saling berpelukan.
Saat sang fajar belum muncul. Amara yang terbiasa menyiapkan sarapan di dapur bersama para pelayan. Hari ini hanya berdiam diri dengan tatapan kosongnya di kursi meja makan. Nyonya Anne yang kebetulan lewat untuk mengambil minum pun melihat menantunya murung langsung saja segera menghampiri.
"Kamu kenapa Nak?" Tanya Nyonya Anne sembari menepuk pelan bahu Amara.
"Mommy, astaga. Mommy cukup mengejutkan ku."
"Kamu terkejut karena sedang melamun Ara. Aneh sekali kamu pagi-pagi seperti ini sudah melamun. Apa kamu dan Daniel sedang ada masalah? Jika ada berbagi ceritalah dengan Mommy, Mommy siap mendengarkan dan membantu mu." Ucap Nyonya Anne yang kini sudah duduk di samping Amara.
"Aku tidak ada masalah dengan suamiku Mom, tapi aku yang merasa bersalah karena sampai saat ini belum bisa memberikan adik untuk Clara. Padahal dia terus meminta adik pada ku. Aku tidak bisa melihatnya kecewa terus menerus."
Deg!
Kali ini Nyonya Anne yang tersentak dengan ungkapan sedih dari hati menantunya. Ia hingga menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Bagaimana ia bisa lupa untuk melepas alat kontras(e)psi yang ia pasangkan di tubuh menantunya itu?
"Ya Tuhan, Amara. Maafkan Mommy. Mommy melupakan sesuatu. Hari ini kamu tidak perlu masuk bekerja. Kita harus ke rumah sakit segera, sebelum Mommy lupa lagi." Ucap Nyonya Anne dengan suara berbisik.
"Mau ngapain Mom, kita kerumah sakit?"
"Sudah jangan banyak tanya, pokoknya hari ini kita harus ke rumah sakit ya sayang. Mommy mau hubungi Dokter Frans dulu." Ucap Nyonya Anne yang nampak misterius di mata Amara. Ia meninggalkan begitu saja Amara yang diselimuti beribu pertanyaan dibenaknya.
Tepat pukul 06.30 pagi, setelah sarapan bersama. Daniel menunggu dua bidadarinya turun dari kamar mereka. Karena seperti biasa semenjak menikah dengan Amara. Daniel memiliki tugas tambahan sebelum ke perusahaan. Yaitu mengantar kedua bidadarinya ke sekolah.
Meski Amara sudah menjadi seorang istri dari pengusaha konglomerat, Amara tetap hidup sederhana dan bekerja seperti biasanya. Hanya saja jadwal menyanyinya di cafe milik Dokter Frans makin berkurang, karena statusnya kini sudah menjadi istri Daniel yang memiliki banyak kewajiban yang harus ia penuhi.
"Kok masi pakai baju rumah, Mami gak ngajar hari ini?" Tanya Daniel ketika Amara turun bersama Clara, dengan masih menggunakan pakaian rumahan.
"Gak Pih, Mami izin. Mau pergi ke rumah sakit sama Mommy." Jawab Amara yang membuat Daniel menyernyitkan kedua alisnya.
"Kamu sakit Mih?" Tanya Daniel yang segera mengecek suhu tubuh Amara.
"Nggak ih, aku gak sakit. Gak usah nempelin telapak tangan kamu kaya gitu ih, aku habis pakai skincare." Jawab Amara yang segera menyingkirkan tangan Daniel.
"Ughh... skincare aja dibela-belain. Kamu gak tahu aku ini khawatir." Dengus Daniel kesal.
Amara jika sudah pakai cream skincare. Wajahnya sama sekali tidak mau di sentuh bahkan di cium oleh Daniel.
"Mami cuma diajak bukan berarti Mami yang sakit, Pih."
"Ya, ngomong dong. Sini cium dulu, Papi mau berangkat kerja!" Sahut Daniel sedikit sewot, sembari melambaikan tangannya meminta Amara mendekatinya.
"Gak mau ah, aku baru pakai skincare." Tolak Amara lagi.
"Arghh skincare lagi skincare lagi. Besok-besok jangan pakai skincare! Aku tidak izinkan. Kalau masih saja pakai. Aku tutup semua merek skincare yang kamu pakai." Omel Daniel kesal.
"Ihh... jangan dong Pih! Nanti kalau Mami buluk Papi pasti minggat." Tolak Amara yang selalu berani menjawab Daniel.
"Kata siapa? Papi suka kamu apa adanya. Percuma juga kalau glowing, di cium aja gak bisa." Balas Daniel masih dengan raut wajah yang kesal.
Putri Daniel terus saja menunggu dengan sabar dan selalu menikmati perdebatan orang tuanya yang terjadi setiap pagi tanpa terkecuali. Keributan kedua orang tuanya ini layaknya sebuah film kartun Tom and Jerry yang selalu saja bertengkar namun lucu.
"Kata Kak Angel-lah, siapa lagi?" Jawab Amara santai yang membuat Clara kini tertawa.
Tante habislah kau. Mami ku membawa-bawa dirimu dalam perdebatannya dengan Papi. Batin Clara terkikik geli.
Hah, Angel lagi Angel lagi. Batin Daniel kesal.
"ANGEL!!! Pekik Daniel memanggil adiknya.
Angel yang berada tak jauh dari mereka hanya tersenyum kaku sembari mencubiti lengan suaminya. Ia sudah tahu apa yang akan dilayangkan kakaknya karena kelemesan mulut istri kakaknya itu.