Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Camping ground 1



Mobil yang dikemudikan Daniel, kini telah berhenti tepat di tempat parkir khusus wali murid yang disediakan oleh sekolah Clara.


Kosong. Itulah kondisi pertama kali yang ketiganya lihat saat sampai di parkiran area Camping.


"Yey, aku jadi murid pertama yang datang ke tempat camping." Seru Clara yang terlihat begitu senang dan bahagia, menjadi murid pertama yang tiba di acara camping tahun ini.


Tapi tidak dengan sang Daniel yang terlihat tak suka. Saat ini ia seperti orang yang terlampau rajin saat, sama sekali tidak mencerminkan dirinya, yang selalu santai dalam menghadapi apapun, kecuali saat memberi perintah pada anak buahnya.


Sedangkan Amara yang sudah terlanjur duduk di kursi depan, hanya bisa memandangi ekspresi wajah berbeda dari Ayah dan anak yang sedang bersamanya


Kalian ini saling bertolak belakang. Terlihat lucu sekali. Batin Amara.


Amara menyunggingkan senyum tipis yang terlihat oleh Daniel yang tengah memperhatikan dirinya diam-diam. Gemas. Itulah yang Daniel rasakan saat melihat senyum tipis yang terbit di bibir Amara.


Senyum mu itu selalu membuat ku tergoda Amara. Jika saja tidak ada Clara, sudah ku terkam bibir mu saat ini. Batin Daniel.


"Aku mau susul Miss Rachel untuk absen. Papi dan Kak Amara tunggu saja di sini, ya! Jangan kemana-mana!" Ucap Clara yang kemudian dengan cepat keluar dari mobil.


Clara berlari ke arah sebuah tenda di mana beberapa guru, memang sudah terlihat ada di sana. Manik mata Amara terus saja memperhatikan Clara yang berlari. Ia sangat khawatir Clara terjatuh karena lari begitu cepat. Kekhawatiran Amara ini ternyata terbaca oleh Daniel, yang tak bisa memalingkan perhatikannya dari sosok Amara yang selalu ia claim sebagai wanitanya.


"Tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Dia itu sudah besar." Ucap Daniel berdecak sebal, seperti orang yang tengah cemburu saja.


"Dia memang sudah besar Pak, tapi tetap saja saya khawatir dia terjatuh karena ia berlari terlalu cepat dan tergesa-gesa. Jika dia terluka bagaimana?" Sahut Amara yang kemudian membalikkan pandangannya ke arah Daniel. Di mana kini Daniel terlihat menekuk wajahnya.


"Ibu kandungnya saja tak pernah mengkhawatirkannya. Kamu terlalu baik hati sekali mengkhawatirkan putri saya, dan saya tidak suka itu. Daripada kamu khawatikan orang lain, lebih baik kamu khawatikan diri kamu sendiri Amara." Ucap Daniel.


Yang kemudian dengan gerakan cepat langsung saja meraup bibir Amara yang menggemaskan dirinya sejak tadi. Bibir yang selalu ingin terus ia pandangi dan selalu menggoda dirinya untuk segera mengeksekusinya dengan cara menyesap, Mel(u)mat lebih dalam, bahkan menggigitnya hingga Amara mend(e)sah dan membuatnya semakin terbakar dengan hasrat berc(u)mbu.


Kini tak hanya bibir Daniel yang bekerja memberikan sentuhan pada Amara, tapi juga dengan satu tangan Daniel yang terus saja membelai rambut panjang Amara yang tergerai hingga sebahu, sedang satu tangan Daniel yang lain. Tak kalah mengambil perannya. Di mana tangan Daniel yang satu ini terus berusaha menahan tubuh Amara yang memberontak dan mencoba melepaskan diri dari Daniel.


"Mmmmmphhh...." Suara lenguhan la(k)nat pun keluar dari mulut Amara.


Bohong jika Amara tak menikmati serangan mendadak Daniel di pagi ini. Meskipun dirinya terus berusaha menolak dengan mencoba melepaskan diri, namun tubuhnya terus menerima, menikmati setiap permainan handal bibir Daniel yang memabukkan. Bahkan sekarang ia menginginkan sentuhan yang lebih dari sekedar ini.


"Su....dah...mmmphhhh..." Ucap Amara yang ingin menyudahi serangan Daniel. Ia benar-benar khawatir akan kebablasan.


Amara memukul-mukul dada bidang Daniel dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Alih-alih dilepaskan, Daniel malah makin memperdalam ciumannya pada bibir Amara yang begitu candu. Kini tangannya semakin aktif bergerilya.


"Ahh....Pak Daniel ja-ngan!" Tolak Amara.


Amara terus menghalangi gerak tangan Daniel. Ia kembali memukul, bahkan sampai mencubit tangan nakal Daniel yang sudah masuk ke dalam bagian depan dadanya ini. Namun hal itu sama sekali tak menghentikan aksi nakal Daniel pada Amara yang ia claim sebagai wanitanya.


"Auuuu..." Rintih Daniel ketika pada akhirnya Amara menghentikan Aksi nakal Daniel dengan menggigit kuat bibir Daniel hingga berdarah.


Hanya cara inilah satu-satunya yang ampuh untuk melepaskan diri dari aksi keagresifan serangan Daniel yang selalu membuat Amara kewalahan.


Kini Daniel yang sudah melepaskan pangutannya dan juga menghentikan tangannya, yang sedang menjelajah ke sebuah gunung pun, terus saja sibuk mengusap berkali-kali bibirnya, yang terasa sangat sakit karena gigitan Amara yang cukup kuat.


"Sadis sekali kamu. Kamu ini pantas disebut kanibal. Bibir saya digigit sampai berdarah seperti ini." ucap Daniel, sembari menunjukkan darah yang ada di jari tangannya pada Amara.


Alih-alih merasa bersalah, Amara malah nampak biasa saja dan malah berani membalas perkataan Daniel.


"Maaf, itu saya lakukan karena salah Bapak sendiri main sosor aja kaya bebek."


"Apa bebek kamu bilang? Saya kan hanya memberikan kamu kecupan selamat pagi, apa itu salah?" Balas Daniel.


Salahlah Pak. Kecupan selamat pagi itu tidak seperti ini. Ini tuh kaya power play kaya mau nganu-nganu. Kalau saya istri Bapak. Dikasih ciuman selamat pagi kaya gini, ya gak akan nolak. Tapi saya ini apa? Status gak jelas. Ngomong cinta ga pernah, tapi ngeclaim wanita ku. Udah berasa kaya selir alias wanita simpanan. Batin Amara menjawab ucapan Daniel.


Kini keduanya saling menatap satu sama lain dalam diam. Jujur Daniel masih ingin kembali menyesap bibir Amara yang masih menggodanya, tak perduli jika bibirnya akan berdarah kembali karena gigitan Amara. Apalagi saat ini kondisi bibir Amara sedikit maju karena tengah merajuk padanya. Posisi bibir Amara seperti saat ini sangat menantang bagi Daniel.


Ceklek... Blemp! Suara pintu kembali terbuka dan tertutup ketika Clara datang.


Hoss..hossss...! Suara nafas Clara yang terdengar ngos-ngosan dari kursi belakang jelas terdengar.


"Aku sudah dapat kunci tenda untuk kita. Kata Miss Rachel, sarapan pagi kita sudah ada di dalam tenda, dan acara akan dimulai pukul 09.00 nanti. Masih ada waktu untuk kita istirahat di tenda." Ucap Clara pada keduanya.


Sayang perkataan Clara kali ini terlihat tak dipedulikan oleh kedua orang dewasa yang duduk di kursi depan. Keduanya terkesan mengacuhkan dirinya.


Papi dan Kak Amara kenapa? Kok kaya orang marahan. Kak Amara kenapa rambutnya acak-acakan kaya gitu, Papi juga.


Clara berbicara demikian di hatinya karena mendapati kedua orang dewasa yang ada di kursi depan sama-sama kompak membuang pandangan mereka kearah jendela dengan penampilan sedikit berantakan.


"Kalian berdua kenapa? Bertengkarkah?"


"Tidak," jawab keduanya kompak.


"Benarkah?" tanya Clara tak yakin.


"Benar," jawab keduanya lagi dengan kompak.


"Ok. Baiklah jika memang benar kalian tidak bertengkar. Papi, Kak Amara ayo kita turun!" Ajak Clara yang masih memandang curiga pada keduanya.


"Iya." Jawab Amara dan Daniel kompak.


Meskipun mengiyakan ajakan Clara. Namun tak ada satupun dari keduanya yang bergegas untuk turun dari mobil.


"Pih, kenapa sih kok ga turun juga? Kalau Papi gak turun Kak Amara juga gak turun." Tanya Clara pada Daniel.


Gadis kecil ini menarik wajah Daniel yang tengah Daniel sembunyikan. Daniel sebenarnya tak ingin memperlihatkan kondisi bibirnya yang baru saja berdarah karena perbuatan Amara dan ulahnya sendiri.


Belum sempat Daniel menjawab. Clara sudah melihat kondisi bibir Daniel yang masih mengeluarkan darah.


"I-ini i-tu di- mmmmm... Digigit kucing betina. Iya di gigit kucing betina." Jawab Daniel dengan mata yang mengarah pada Amara yang seketika membulatkan matanya.


Sialan sekali. Dia sebut aku kucing betina. Dia yang kucing garong. Balas Amara di dalam hatinya.


"Hah, mana ada kucing betina di sini, Papi? Ish... Si Papi mengarang bebas saja bisanya. Bilang saja Papi ngantuk dan terbentur stir mobil. Makanya kan sudah Clara bilang jangan kecanduan kopi. Jadi beginikan jadinya." Omel Clara yang tak mempercayai jawaban Daniel.


"Maaf Clara, Papi akan berusaha tidak kecanduan kopi lagi. Asalkan diizinkan minum susu dari pabriknya." Ucap Daniel yang terdengar mesum di telinga Amara.


Daniel menunduk sembari melirik ekspresi wajah kesal Amara yang tentu mengerti akan maksud terselubung dari jawabannya pada sang putri.


"Ok, kali ini aku maafkan. Sekarang ayo turun Pih! Papi bisa tidur dulu sebentar sebelum acara dimulai."


Ketiganya pun segera turun dari mobil. Untuk kali pertama Amara melihat Daniel membawa sebuah tas ransel besar yang berisi pakaian ketiganya yang sengaja digabungkan oleh Daniel. Entah apa maksud menggabungkan pakaian mereka. Yang pasti Amara sama sekali tak membawa beban apapun saat ini. Ia hanya bergandengan tangan bersama Clara sepanjang berjalan kaki menuju tenda.


Sebelum menuju tenda mereka, Clara menyempatkan waktu membawa Daniel dan Amara menghampiri beberapa guru yang berada di sebuah tenda parkiran.


"Miss Rachel, perkenalkan ini Mami baru aku, namanya Mami Amara."


Daniel dan Amara sangat terkejut dengan ucapan Clara yang memperkenalkan Amara sebagai Mami barunya pada guru kelasnya.


Pembohong kecil, bukan Papi yang suka mengarang bebas, tapi kamu. Batin Daniel yang ingin segera membekap mulut putrinya yang asal mengaku-ngaku saja Amara sebagai Mami barunya.


Haduh nih anak ngajakin main ibu-ibuan di depan banyak orang. Astaga naga-naga. Clara oh Clara. Batin Amara.


Tak ingin Clara malu. Amara pun mengikuti apa mau Clara dengan bersandiwara menjadi Mami pura-pura putri Daniel ini.


"Amara," ucap Amara ketika ia berjabat tangan dengan Miss Rachel yang terlihat senang bertemu dengan Amara.


"Miss Rachel, sedang bisa bertemu dengan Mami Clara. Pantas Clara beberapa hari ini selalu terlihat ceria, sudah punya Mami baru rupanya." Balas Miss Rachel dengan senyum ramahnya.


Maafkan Papi, nak. Hidupmu terasa berat karena keegoisan Papi dan Mami kandung mu.


"Iya, Miss." Sahut Amara singkat sembari membalas senyum ramah Miss Rachel dengan senyum khasnya yang begitu memesona.


Setelah saling berkenalan mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan menuju tenda mereka. Ketiganya mendengar dengan jelas jika para guru tengah memperbincangkan tentang Amara yang menjadi Mami baru untuk Clara.


"Masih muda dan cantik ya, Mami barunya Clara."


"Iya, betul masih muda."


"Pintar sekali Pak Daniel mendapatkan istri yang masih muda dan terlihat sayang dengan putrinya."


"Iya semoga, Mami barunya benar-benar tulus. Tidak hanya kedok diawal saja."


"Iya benar itu. Kita doakan yang terbaik untuk Clara."


Sesampainya di tenda. Clara sudah bersiap untuk mendapatkan teguran dari Daniel. Wajah tegang begitu tergambar di wajah gadis ini.


Namun, alih-alih menegur kelancangan putrinya. Daniel malah berbaring disebut ranjang. Setelah ia meletakkan tas yang cukup berat di lantai.


"Lelah sekali. Aku bisa patah tulang jika setiap hari membawa beban berat seperti ini." Keluh Daniel di atas ranjang.


Sementara Daniel berbaring, Amara mengedarkan pandangan di dalam tenda yang terlihat sangat mewah. Amara tersenyum senang ketika melihat ada satu sofa panjang yang bisa ia tiduri nanti malam. Tidak mungkin ia berada satu ranjang bersama Clara dan juga Daniel. Meski ranjang tidur di tenda itu berukuran king size.


Kini Clara ikut berbaring di samping Daniel. Ia menatap wajah Daniel dengan rasa bersalah.


"Papi, maafkan aku. Tapi apa boleh..."


Ucapan Clara terputus saat jemari Daniel menempel pada bibir mungil putrinya itu.


"Jangan minta maaf! Papi yang salah. Kamu bisa jadikan Kak Amara mu sebagai Mami untuk mu dua hari ini." Ucap Daniel yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Clara.


"Thanks you Papi. I love you." Ucap Clara yang begitu terharu. Ia hingga menitikan air mata.


"I Love you to Nak. Jangan menangis sayang, berbahagialah dengan apa yang kamu mau dua hari ini." Ucap Daniel yang berusaha ingin mengerti dan mengabulkan keinginan putrinya.


Usai memeluk Daniel, Clara segera beranjak. Ia berlari memeluk Amara yang tengah merapikan pakaian mereka yang ada di dalam tas ke dalam lemari pakaian yang tersedia di tenda Meraka.


"Clara, ya Tuhan. Mengejutkan saja. Ada apa?" Ucap Amara yang sedikit terhuyung saat Clara datang-datang langsung memeluknya.


"Dua hari ini izinkan aku panggil Kak Amara dengan sebuah Mami ya. Boleh ya?" Jawab Clara yang meminta izin pada Amara.


"Kalau Papi mu mengizinkan, Kakak tidak masalah. Tapi ingat satu hal Clara. Sebenarnya berbohong itu sungguh tidak baik. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan masalah karena kebodohan kamu ini." Amara mencoba menasehati Clara.


Clara hanya mengangguk dan tersenyum. Meski dalam hatinya berkata.


Aku akan membuat Kakak menjadi Mami ku. Aku yakin Tuhan pasti mengabulkan doaku.


"Arghhh.... Kalian berdua suka sekali bergosip. Papi mau tidur sajalah. Acaranya masih lama kan jam sembilan?" Ucap Daniel yang sejak tadi memperhatikan keduanya.


"Ya, tidurlah Papi. Jangan lupa untuk bangun kembali! Kalau Papi lupa bangun. Papi tahu sendiri kan itu artinya apa? Sahut Clara sembari tertawa cekikikan.


Brugh! Sebuah lemparan bantal tepat mengenai Clara dan juga Amara.


"Menyebalkan!" Umpat Amara dan Clara bersamaan.


"Kalian yang menyebalkan!" balas Daniel. Sebelum ia memeluk bantal dan memejamkan mata.