Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Wisuda



Acara Wisuda.


Seorang MUA didatangkan langsung oleh Daniel ke tempat kos Amara. Untuk membantu Amara merias dirinya. Hari ini Daniel berbohong ada acara event keluar kota dan akan kembali di sore hari untuk merayakan kelulusan Amara.


Amara sama sekali tidak curiga, karena ia juga tidak mengharapkan kehadiran Daniel di acara wisudanya karena ia sudah terlanjur memberikan undangan yang seharusnya untuk kedua orang tuanya kepada Mba Tri dan Patrick, pacar Mba Tri itu.


Mba Tri dan Patrick tetap mendampingi Amara sesuai dengan rencana yang disusun oleh Daniel. Di mana keduanya menjemput Amara di tempat kosnya.


Di ballroom kampus. Amara bergabung dengan teman-temannya. Ia berbaris berdampingan dengan Tiara seperti biasanya. Nampak Thomas pun sudah hadir dan berdiri dibaris yang berbeda bersama dengan teman prianya yang lain, sebelum dipersilahkan masuk ke dalam ballroom.


Rasanya semua lelah dan letih selama menempuh pendidikan dapat terbayar melalui momen wisuda. Alangkah lengkapnya kebahagiaan Amara jika di momen wisudanya hadir orang-orang yang ia sayangi seperti orang tua, teman, atau bahkan kekasih hati yang kebetulan mengucapkan selamat atas kelulusan yang telah Amara capai.


Namun sayang Amara hanya bisa memandang iri pada teman-temannya yang datang bersama kedua orang tuanya, tidak seperti dirinya yang hanya datang bersama teman kerja yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Sementara itu kehadiran Daniel yang sengaja terlambat, tetap saja memancing kehebohan para petinggi kampus. Terutama keluarga Tuan Yohanes dan juga Tuan Monarco.


"Tuan Muda Daniel, senang bertemu Anda di sini." Sapa Tuan Monarco pada Daniel yang hanya datang berdua dengan Clara.


"Saya juga senang bertemu dengan Anda Tuan Monarco." Balas Daniel yang kemudian mengajak Tuan Monarco dan Tuan Yohanes berjabat tangan.


"Apa kedatangan Tuan Daniel kesini karena mendapatkan undangan khusus dari kampus ini?" Tanya Tuan Monarco sembari menarik sebelah alisnya.


"Tidak, kedatangan saya tidak diundang secara khusus oleh kampus ini, Tuan Marco. Tapi kedatangan saya di sini karena diundang secara khusus oleh calon istri saya, yang akan diwisuda hari ini." Jawab Daniel dengan bangganya atas kebohongannya sendiri.


"Ohhh ya?" Tuan Monarco cukup terkejut mendengar jawaban Daniel.


"Ya, Tuan Monarco. Sepertinya pembicaraan kita sudahi dulu, karena saya ingin menyaksikan acara wisuda calon istri saya." Daniel berkata sembari tersenyum, kemudian berlalu pergi sembari menggandeng Clara yang mengenakan gaun senada dengan Amara.


Tak berapa lama Daniel dan Clara duduk di kursi yang sesuai dengan undang yang ada ditangannya. Acara wisuda Amara pun di mulai.


Nama Amara dipanggil lebih dahulu karena menjadi salah satu lulusan terbaik tahun ini. Gelar cumlaude pun diberikan pihak kampus pada Amara dan tidak hanya itu, Amara pun langsung mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu Sekolah swasta terbaik di negeri ini.


Semua orang bertepuk tangan untuk Amara. Amara begitu bahagia dan terharu dengan pencapaiannya. Namun dari rasa kebahagiaannya ini terselip rasa kesedihan, karena tidak ada kedua orang tuanya apalagi saudaranya yang melihat keberhasilan atas pencapaiannya yang penuh perjuangannya ini.


Ayah, Ibu. Andai kalian ada di sini. mungkin kalian akan merasa sangat bangga dan terhormat dengan pencapaian ku ini. Buah hasil perjuanganku selama empat tahun untuk menggapai cita-cita mu Ayah. Tapi sayangnya kalian tidak ada di sini. Karena pencapaian ku bukanlah prioritas kalian. Batin Amara teriris.


Daniel yang melihat Amara berjalan tidak bersemangat menuju podium pun mengambil tindakan.


"SEMANGAT SAYANG, AKU DISINI!!" pekik Daniel yang berhasil menghebohkan seisi gedung.


Seluruh mata tertuju pada Daniel yang berdiri di tribun para undangan. Menjadi pusat perhatian bukannya malu. Daniel malah memperkenalkan dirinya, sebagai calon suami Amara, sembari melambaikan kedua tangannya.


Amara yang melihat tingkah Daniel selain terkejut, ia juga merasa malu.


Dasar Duda tengil, lihat saja nanti, tidak ada ampun bagi mu! Gerutu Amara dalam hatinya.


Jika seluruh orang digedung itu jadi bersorak-sorai gembira, berbeda dengan Thomas yang hatinya panas, mendengar pengakuan Daniel sebagai calon suami Amara.


Kau pasti cemburu kan Thomas. Kamu tidak tahu apa-apa tentang Amara. Tidak tahu berapa Amara sangat mencintai sahabat kakak mau itu. Batin Tiara yang terus menatap wajah Thomas yang terbakar api cemburu.


Kamu harus menjelaskan semua ini pada ku, Amara. Bagaimana bisa Kak Daniel, jadi calon suami mu? Batin Thomas yang terus menatap tak suka ke arah Daniel.


Cinta selalu membuatmu tidak waras Daniel. Kamu benar-benar gila. Kalau sampai kamu tidak jadi menikah dengan Amara. Siap-siap saja kamu akan menyesal, karena Frans akan siap menampung Amara. Batin Rio kakak Thomas yang juga hadir diacara wisuda adiknya.


Kamu tidak akan bisa mendapatkan Amara, Nak. Dia sudah berada dalam genggaman Tuan Daniel. Semoga kamu berjiwa besar menerima kenyataan ini. Batin Tuan Monarco.


Usai acara wisuda, dan kini Amara tengah mengantri untuk sesi foto bersama. Amara tidak berhenti memukuli dan menggigit lengan Daniel. Clara yang melihat kelakuan Amara dan Daniel terus tertawa geli tanpa mau membantu Daniel lepas dari amukan Amara.


"Rasakan Papi, rasakan!"


"Ampun Mami, Ampun!! Clara tolong bantu Papi dong!"


"Tidak mau, lanjutkan terus Mami, lanjutkan! Hahaha..."


"Katanya ada event keluar kota, kenapa ada di sini. Dasar pembohong! Pembuat onar, bikin malu!!"


"Ampun sayang, udah dong sakit."


"Biar, biar kapok!" Balas Amara yang setelah itu malah memeluk tubuh kekar Daniel yang selalu nyaman untuk dipeluk.


"Terima kasih sudah datang Papi,"


"Heem, sama-sama sayang." Balas Daniel yang kemudian mengecup pucuk kepala Amara.


Thomas yang melihat keromantisan Daniel dan Amara semakin panas hatinya. Ia benar-benar tidak merasakan kebahagiaan diacara wisudanya saat ini.


Tiara yang melihat calon suaminya di selimuti api cemburu lantas datang mendekati.


"Amara sangat mencintai Kak Daniel yang biasa di panggil Pak Daniel olehnya dan sekarang dipanggil Papi. Amara putus dengan Rendra bukan tanpa sebab. Bukan pula karena sikap buruk Rendra saja, tapi karena ada cinta lain yang berhasil membuat hidupnya merasakan kembali kehangatan keluarga. Biarkan dia bahagia Thom, kamu boleh tetap membatalkan rencana pernikahan kita. Aku ikhlas tapi jangan usik kebahagiaannya. Ingat bagaimana hidupnya sudah menderita karena keluarganya sendiri. Jangan sampai kita sama seperti mereka, hanya bisa melukai hatinya tanpa memberi dia kesempatan untuk bahagia." Ucap Tiara yang kemudian pergi kembali.


Thomas memikirkan baik-baik seluruh ucapan Tiara padanya.


Setelah selesai sesi foto bersama teman-teman sesama wisudawan dan wisudawati, Amara dikejutkan dengan kedatangan seluruh rekan kerjanya dari Angkasa Jaya. Manik mata Amara berkaca-kaca dengan kedatangan rekan-rekannya yang secara khusus datang untuk dirinya.


Mereka pun berfoto bersama untuk mengabadikan moment bersejarah bagi Amara, dan acara wisuda Amara berakhir dengan acara makan bersama di sebuah restoran bintang lima yang sudah disewa secara khusus oleh Daniel.


Acara wisuda yang Amara sangka akan menjadi lautan kesedihan baginya, karena ketidak adaan kedua orang tuanya bersamanya dihari bersejarahnya ini, malah menjadi lautan kebahagiaan bagi Amara, karena semua rencana Daniel berhasil. Ya, Daniel berhasil mengukir pelangi di hidup Amara kali ini.


Ya, Tuhan terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah mengelilingi ku dengan orang-orang baik dan perhatian. Terima kasih atas anugerah terindah mu hari ini. Batin Amara yang sangat bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan padanya.


Malam hari di kosan Amara.


"Kamu gak pulang Pih?" Tanya Amara yang baru saja selesai mandi.


"Kamu ngusir?" Daniel balik bertanya tanpa memandang Amara. Karena ia tengah sibuk membalas email client-nya.


"Ohh, Mami lagi ngasih kode ya? Mami maunya kita tidur berdua saja gitu, tanpa pengganggu cilik ini hum?" Balas Daniel yang langsung menghampiri Amara di meja rias.


Daniel memeluk Amara, dan tangan nakalnya mulai mengeksplor kelekuk tubuh Amara.


"Jangan mulai ya Pih! Mami gak mau disentuh Papi kalau belum halal. Mami gak mau jadi pelampiasan dari kehausan Papi akan belaian." Ucap Amara sembari menyingkirkan tangan Daniel.


"Hahaha.... ya-ya, Oke-oke. Kapan orang tua Mami balik, Papi mau melamar Mami secepatnya, biar Papi bisa halalin Mami, seperti yang Mami mau?"


"Gak tahu. Mereka lagi nunggu Kak Novi lahiran, sampai tahun jebot kali." Jawab Amara yang tiba-tiba jutek.


"Sabar sayang, masih ada Papi disini yang setia menemani Mami, huumm. Jangan sedih dan marah-marah dong!" Ucap Daniel yang mencoba menenangkan Amara. Ia memeluk sembari mendaratkan kecupan di pipi Amara.


"Sudah, jangan ngambil keuntungan!" Ucap Amara ketika Daniel menarik dagunya untuk mengecup bibirnya.


"Dikit aja dikit,"


"Nggak. Pasti bablas." Tolak Amat tegas.


"Kan masih palang merah, ayo dong!"


"Nggak."


"Yo wisss lah. Pelit!" Ucap Daniel yang menjauh dari Amara.


Ia berjalan menghampiri ranjang di mana Clara tengah tertidur di atasnya.


"Clara, ayo pulang sayang! Kita sudah diusir Mami mu." Ucap Daniel yang sengaja membangunkan putrinya yang pasti tidak akan mau pulang.


"Gak mau. Papi saja yang pulang. Mami pasti usir Papi bukan aku." Tolak Clara yang menendang-nendang tubuh Daniel. Menolak untuk dibawa pulang.


Daniel melirik Amara sembari mengangkat kedua tangannya, bertanda dia tidak berhasil membawa putrinya untuk pulang.


"Papi emang sengaja." Ucap Amara yang kemudian menyikut perut Daniel.


Amara tahu Daniel tidak benar-benar berniat untuk pulang. Daniel yang disikut Amara hanya tertawa cengengesan.


"Sana mandi sudah malam ini! Papi mau mandi jam berapa?"


"Ngerokok dulu ya di depan, baru mandi. Boleh ya Mih?"


"Heemmm." Amara berdehem.


Kemudian ia naik keranjang, ia tidur di samping Clara yang kembali tertidur pulas.


Usai menghabiskan sebatang rokok di luar kamar, Daniel kembali masuk dan mendapati Amara sudah tertidur. Ia pun segera membersihkan diri dan ikut bergabung tidur bersama dengan Amara dan juga Clara.


Minggu pagi yang cerah, ketiganya kompak berolahraga bersama di sekitar lingkungan kosan Amara. Mereka berhenti di sebuah taman kota yang cukup hijau dan dipadati banyak pengunjung dan juga penjual kaki lima.


"Pih, kalau Mami berhenti kerja di perusahaan Papi. Mami masih bakalan di tuntut gak ya?" Tanya Amara ketika mereka sedang menyantap bubur ayam bersama.


"Kenapa memang?"


"Mami mau nerima tawaran pekerjaan dari kampus Pih."


"Ambil saja, gak ada yang larang." Balas Daniel.


"Terus boleh dong Mami berhenti kerja di perusahaan Papi?"


"Sapa bilang boleh."


"Lah terus, gimana sih Pih?"


"Ya kan kamu ngajar gak sampai sore, paling jam dua siang sudah selesai. Kan bisa setelah itu ke kantor?"


"Cape dong aku Pih, habis itu aku kerja di cafe nyanyi."


"Ya berhenti saja nyanyinya, gampangkan."


"Ishhhh... gak maulah, nyanyi tuh hobby Mami, kan enak nyalurin hobby tapi dapat uang."


"Emang berapa banyak sih Dokter sialan itu bayar Mami, sampai gak mau ditinggalin kerjaan dari dia dan ngerelain kerjan dari Papi yang Mami kalahin?" Sungut Daniel yang merasa cemburu pada Frans. Padahal Frans tidak melakukan apa-apa. Ia tidak suka hanya karena Amara lebih memilih pekerjaan Frans yang dipertahankan.


"Papi marah? Baper banget sih Pih, gak asyik."


"Siapa yang marah. Orang seneng kaya gini dibilang marah. Kalau marah tuh banting mangkok kaya gini."


Prank!! Daniel membanting mangkok yang ia pegang.


"PAPI!! CLARA, LIHAT PAPI MU ITU! YA ASTAGA!!" Pekik Amara sambil geleng-geleng kepala.


Clara hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan Papinya pada Amara. Sedang Daniel terkesan cuek dan tidak perduli dengan pekikan suara Amara.


"Mang, biar nanti mangkoknya saya ganti ya." Ucap Amara tak enak hati pada Emang penjual bubur.


"Buatkan satu mangkok lagi Mang! Jadi lapar lagi saya." Pinta Daniel sembari melirik Amara dan Clara secara bergantian.


Padahal mangkuk yang Daniel lempar itu sudah tidak tersisa sedikit pun bubur di dalamnya.


"Papi doyan apa laper ya Mih?"


"Dua-duanya kayanya sayang." Jawab Amara.


Kemudian keduanya terkikik geli menertawakan tingkah Daniel itu, dan Daniel yang tahu sedang ditertawakan hanya membalas keduanya dengan menurun naikkan kedua alisnya sembari tersenyum tipis pada keduanya.