
"Papi kenapa nanya kaya gitu sih sama Kak Amara? Dimsum ini tuh dari Abang Ojek Online tadi Pih. Clara lihat sendiri kok, Dimsum ini turun dari motor Abang Ojek Online bukan dari langit. Tidak akan pernah terjadi di bumi ini, ad Dimsum turun dari langit. Memangnya di langit ada dapur dan Koki. Papi ini bicara mengada-ada sekali." Seloroh Clara.
Gadis kecil ini mencoba membantu Amara yang terdiam cukup lama. Entah apa karena Amara tak ingin menjawab pertanyaan Daniel atau merasa takut untuk menjawab pertanyaan Daniel yang mulai menunjukkan sisi posesifnya yang sangat berlebihan itu.
Praktis jawaban Clara, putri semata wayang Daniel ini malah makin membuat Daniel mengerutkan kedua alisnya. Secara bergantian Daniel melirik kedua gadis beda generasi yang terlihat akrab, walau baru mengenal satu sama lain.
Heran, itulah yang terlintas di pikiran Daniel saat ini. Tak hanya heran dengan Clara, ia juga heran dengan Amara.
"Abang Ojek Online?" Tanya Daniel, saat ia menatap Amara yang masih terlihat betah berdiam diri.
Ya, aku memang melihat paket Dimsum itu diantara Ojek Online, aku juga melihat Amara memberikan uang. Tapi aku tidak yakin dia membayar Dimsum ini sendiri. Darimana ia punya uang sebanyak itu? Apalagi dia katakan tadi tidak membelinya, lantas siapa yang membelinya dan darimana Dimsum ini jika dia tak membelinya? Aku butuh dia buka suara dan menjelaskan. Aku berharap kamu tidak seperti Tara, Amara. Batin Daniel bermonolog.
Amara masih betah berdiam diri. Ia merasa hidupnya sebentar lagi akan menjadi rumit, jika Daniel tahu semua Dimsum yang ia miliki adalah pembelian dari Thomas. Entah apa yang akan dilakukan Daniel padanya atau pada dua box Dimsum yang ada di atas meja, saat Daniel mengetahui Thomas-lah yang membelikannya.
Melihat Amara betah berdiam diri. Sorot manik mata Daniel terus saja memandanginya. Sorot mata Daniel seakan menuntut Amara untuk segera menjelaskan secara detail, tentang asal Dimsum yang masih menjadi teka-teki di dalam pikirannya.
Menyebalkan sekali. Dia terus menatapku seperti ini, berusaha mendesak ku, mengintimidasi diriku dengan sorot matanya yang menyeramkan. Dia seperti ingin menguliti diriku hidup-hidup. Ahhh, bagaimana ini? Tidak dijawab salah, dijawab pun akan tambah salah. Aku benci sekali dengan sikapnya yang satu ini. Duda posesif yang menyebalkan. Umpat Amara dalam hatinya.
Clara yang juga terus mengamati ekspresi wajah Amara, yang ia yakini tengah menggerutui Papinya di dalam hati. Lagi-lagi berinisiatif membantu Amara untuk menjawab pertanyaan sang Papi. Ia paham betul Kakak baik hatinya ini, sangat tidak nyaman dengan sikap dan pertanyaan yang terus dilontarkan sang Papi.
"Iya Papi, Abang Ojek Online. Apa kurang jelas jawaban yang aku berikan? Sepertinya Papi harus banyak makan sayuran untuk menutrisi otak Papi, agar lebih cerdas dan cepat tanggap menanggapi suatu hal. Bertanya terus seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa di usia Papi saat ini, itu sangat menyebalkan sekali. Seperti tidak pernah duduk di bangku sekolah saja. Bagaimana bisa memimpin perusahaan Oppa kalau begini caranya?"
Bola mata Daniel seketika membola mendengar putrinya berbicara merendahkan dirinya sedemikian tega, hanya karena membela Amara. Daniel berkacak pinggang, ia mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya. Kemudian memandangi kedua wanita yang kini sangat menyebalkan baginya.
Apa kamu bilang Clara? Sialan betul putriku ini, berani sekali dia bicara seperti itu pada ku. Haduh dia sudah benar-benar teracuni dan terkontaminasi oleh Mommy. Clara benar-benar sangat cocok menjadi duplikat Mommy. Kalau kamu bukanlah putri kandung ku, sudah ku sobek-sobek mulut mu itu sayang. Rutuk Daniel dalam hatinya.
Daniel menghela nafas kasar. Mencoba meredam kekesalan pada putrinya. Kemudian ia kembali bertanya dengan kesabaran yang tersisa pada Amara, lagi-lagi masih mengenai Dimsum yang masih mengusik pikirannya.
"Amara, jawab pertanyaan saya! Apa kamu pesan Dimsum itu secara online kolektif bersama teman kerja satu ruanganmu?"
Amara hanya menjawab dengan menggeleng. Ia masih enggan untuk bicara.
"Jika kamu tidak membelinya sendiri dengan uang mu dan juga tidak memesan online bersama teman kerja mu. Lalu siapa yang mengirimkan Dimsum pada mu dalam jumlah banyak seperti ini? Jangan bilang kalau pengirimannya adalah seorang laki-laki." Tanya Daniel dengan tatapan mengintimidasi.
Daniel menebak dengan tepat. Ekspresi wajah Amara pun kini terlihat berubah. Ia tahu sebentar lagi ia akan dalam sebuah masalah.
Kali ini kesabaran Daniel telah habis. Daniel mulai paham, Amara tengah menutupi seseorang yang telah membelikannya Dimsum dalam jumlah banyak seperti ini. Tidaklah mungkin Rendra. Karena ia tahu dimana Rendra saat ini. Tidak mungkin pula Erdi yang ia tahu kondisinya seperti apa sekarang.
Daniel yakin yang membelikan Dimsum adalah seorang laki-laki yang memiliki perasaan lebih pada Amara. Terbukti dengan perubahan ekspresi dan gesture tubuh Amara yang terlihat cemas bercampur rasa takut padanya.
Papi nih gimana, Abang Ojek Online 'kan laki-laki. Kenapa pula Papi semarah ini pada Kak Amara hanya karena Dimsum? Orang dewasa itu menyebalkan sekali sih. Egois dan kebanyakan kepengen tahu urusan orang. Kak Amara juga ribet banget, tinggal jawab dari Mba Tiara, kan selesai. Kenapa senang sekali buat Papi penasaran? Haduuhhh....Batin Clara dengan kepolosannya.
"Kenapa marah kaya gitu sih Pih, sama Kak Amara? Udah jelas-jelas Abang Ojek Online itu laki-laki, pakai di tanya lagi. Kalau Papi mau tahu pengirimnya siapa, Clara tau kok, siapa pengirimnya. Tadi Abang Ojek Onlinenya bilang Dimsum ini kiriman dari Mba Tiara, berarti yang membelikan Dimsum itu Mba Tiara, Pih."
Gadis kecil ini kembali mewakili Amara menjawab pertanyaan yang ditujukan Daniel pada Amara. Kekesalan Daniel pun akhirnya membuncah, karena sikap Clara yang terus ikut campur sejak tadi. Baru kali ini Daniel merasa sikap kepedulian putrinya sangat menyebalkan baginya.
"Papi tidak sedang bertanya dengan kamu, Clara. Bisakah kamu diam dulu dan tidak menjawab pertanyaan yang bukan tertuju untukmu? Kunci mulut bawel mu itu saat Papi tidak mengajak mu bicara!" Balas Daniel dengan tatapan tajam, sembari menunjuk putrinya dengan jari telunjuknya.
Rahang pria tampan itu pun nampak mengeras sempurna saat berbicara dengan putrinya sendiri. Bertanda jika ia sudah sangat marah pada sikap dan kelancangan putrinya ini.
Alih-alih takut dengan kemarahan Daniel. Clara malah makin menjadi mengoceh pada Papinya ini.
"Papi terlalu banyak bertanya seperti wartawan pada Kak Amara. Aku ini sudah sangat lapar dan tak sabar untuk makan. Tapi masih diminta menunggu Papi berdebat dengan Kak Amara yang hanya diam membisu." Gerutu Clara yang kemudian duduk di sofa dengan wajah ditekuk.
"Kamu tidak akan mati kelaparan hanya karena terlambat makan siang Clara. Jadi bersabarlah! Kamu pikir Dimsum ini makanan istimewa hah? Kamu seperti anak yang tak pernah makan Dimsum saja. Kampungan!" Cetus Daniel dengan suara tinggi dan tatapan tajam pada putrinya.
Jujur kali ini Daniel sangat tidak menyukai sifat putrinya yang tidak sabaran. Padahal jika saja Daniel sadari, sifat tidak sabaran Clara jelas adalah turunan dari dirinya.
"Pak Daniel. Jangan bicara sekasar itu dengan Clara. Dia masih anak-anak." Protes Amara dengan nada bicara sedikit tinggi untuk pertama kalinya.
Jujur Amara hanya refleks memprotes Daniel. Namun Daniel seketika cukup tersentak dengan keberanian Amara memprotes dirinya. Daniel menarik senyum tipis di bibirnya, saking tipisnya hingga Amara dan Clara tak dapat melihat senyum tipis yang terukir di wajah Daniel.
Kalian saling membela satu sama lain, kalian berdua hari ini sangat menyebalkan hanya karena makanan ini.
Kini tanpa berkata-kata Daniel datang menghampiri Amara yang berdiri tak jauh dari putrinya. Daniel mengikis jarak dengan Amara yang mulai berdiri dengan gemetar.
"Kamu berani sekali memprotes saya, Amara. Hanya karena membela Clara kamu bicara dengan suara yang meninggi seperti tadi." Bisik Daniel tepat di telinga Amara.
"Memang kenapa Pak? Tidak bolehkah saya memprotes Bapak? Apa sama peraturannya dengan tidak boleh menolak? Jika iya seperti itu, mulai saat ini saya lebih baik tidak lagi memiliki hubungan dengan Bapak. Saya lelah hidup tertekan. Jika Bapak mau pecat saya, silahkan! Saya akan dengan senang hati menerima pemecatan dari Bapak. Tolong jangan lampiaskan kemarahan Bapak pada Clara. Di sini saya yang salah, bukan Clara." Balas Amara dengan mata yang tak kalah tajam menatap Daniel. Ia berusaha melawan rasa takutnya dan tak ingin lagi merasa terkekang.
Daniel tersenyum kecut mendengar balasan Amara yang berani mengakhiri hubungan mereka dan siap dipecat olehnya.
"Clara, kakak pergi dulu ya, sampai jumpa dilain kesempatan. Maaf karena Kakak, kamu jadi dimarahi oleh Papi mu."
"Tidak apa-apa Kak, sudah biasa."
"Jika Papi mu melarang mu untuk memakan Dimsum pemberian Kakak. Tolong jangan dibuang, karena tidak baik membuang makanan, dikala orang lain harus berjuang keras untuk dapat merasakan makanan enak. Kamu bisa berikan pada Sekertaris Papi mu. Sepertinya dia ingin mencoba dimsum itu, hanya saja ia tidak beruntung untuk mendapatkannya."
"Baik Kak Amara, Kakak tenang saja."
Amara tersenyum, "Bye Clara... Kakak pergi ya?"
"Bye kak... Sampai ketemu lagi."
Setelah berpamitan dengan Clara, Amara melenggang pergi. Ia melewati dan meninggalkan Daniel yang hanya diam mengamati pergerakan yang dilakukan Amara sejak tadi.
Brukk...
Pintu ruangan yang sedang Amara buka kembali tertutup karena ulah Daniel. Suara pintu ruangan Daniel itu berhasil mengejutkan karyawan yang memilih istirahat di meja kerjanya masing-masing, termasuk dengan Siska yang tengah menikmati bekal yang ia bawa.
"Mereka pasti sedang bertengkar. Tak mudah memang untuk berada di samping Pak Daniel. Selamat berjuang Amara." Gumam Siska sembari menatap pintu ruangan Daniel yang berada tepat di depan meja kerjanya, kemudian kembali menyantap makan siangnya.
"Balik badan mu, Clara!" Perintah Daniel pada putrinya.
Tanpa menjawab Clara segera membalik badannya, berusaha untuk tidak melihat apa yang akan dilakukan sang Papi pada Kakak baik hatinya ini. Meskipun ia merasa begitu penasaran.
Saat sudah memastikan putrinya berbalik badan, Daniel yang mengunci pergerakan Amara kini menatap manik mata Amara yang nampak kesal padanya.
Entah mengapa ia yang ingin marah pada Amara tiba-tiba mengurungkan niatnya, setelah menatap bola mata Amara yang selalu bisa mendamaikan hatinya.
"Kamu marah?" Tanya Daniel dengan suara berbisik.
Suara Daniel yang amat sangat pelan, Mungkin hanya mampu didengar oleh dirinya dan Amara.
"Saya minta maaf. Mau maafkan saya?"
Untuk pertama kali dalam hidup Daniel ia meminta maaf pada seorang wanita, terkecuali Mommy, adiknya dan juga putri semata wayangnya. Dengan Tara ia sama sekali tak pernah mengucapkan kata maaf hingga akhirnya Tara meminta break dalam hubungan percintaan mereka.
Amara mengangguk. Namun ia masih betah membuang pandangannya kesembarang arah.
"Kenapa kamu menjawab pertanyaan saya dengan membuang pandangan mu? Tolong lihat saya, Amara!"
Daniel menarik dagu Amara dengan jemarinya. Agar Amara kembali menatapnya.
"Jangan!" Tolak Amara, saat Daniel mencoba ingin mengecup bibirnya.
"Kenapa?"
"Ada Clara. Jangan mencontohkan yang tidak baik di depan anak kecil." Jawab Amara dengan alasannya yang tepat.
Daniel tersenyum mendengar alasan Amara yang menolak kecupannya demi tidak mencontohkan yang tidak baik pada putrinya. Padahal saat bersama Tara, ia dan Tara selalu melakukannya walaupun di depan Clara. Dia dan Tara sama sekali tidak perduli dengan kemesraan yang mereka pertontonkan pada Clara yang masih di bawah umur.
Adapun Daniel sebelumnya meminta Clara berbalik badan bukan karena takut putrinya melihat ia menyentuh ataupun mengecup Amara. Tapi karena ia tak ingin memperlihatkan pada putrinya saat ia sedang berdebat ataupun bertengkar dengan Amara.
"Baiklah, jika itu alasannya. Sekarang katakan darimana Dimsum itu? Jawablah dengan jujur pertanyaan saya!"
Kali ini Amara tidak lagi diam membisu. Ia tak ingin karena sikap diamnya. Daniel melampiaskan amarahnya pada Clara.
"Dari Thomas," jawab Amara singkat.
"Tiara atau Thomas?"
"Thomas yang beli, Tiara yang kirim."
"Kenapa bisa begitu?"
"Ya emang begitu, Meraka berdua itu saling melengkapi. Mungkin jodoh kali." Jawab Amara yang masih kesal dengan Daniel.
"Beli dimana mereka Dimsumnya?"
"Mall xxx,"
"Kamu jadi beli kebaya tadi di Mall Xxx? Mana kebayanya?"
"Gak jadi."
"Kenapa?"
"Mahal,"
"Seberapa mahal?"
"Paling murah delapan juta,"
"Kamu bisa pakai kartu ATM atau kredit yang saya berikan bukan?"
"Iya bisa, tapi gak kepikiran."
"Gak kepikiran atau gak bisa memakainya. Mau saya ajarin?"
"Bisa kok. Nggak usah diajarin."
"Benar bisa?"
"Iya."
"Saya suka kamu marah seperti ini, terlihat lucu. Irit bicara, padahal biasanya kamu kalau cerita panjang kaya kereta, seperti menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur." Ucap Daniel sembari tersenyum dan mengusap lesung pipi Amara berulang kali.
"Pih, mau sampai kapan ngobrol sama Kak Amara di situ? Clara sudah lapar. " pekik Clara dengan nada bicara yang kesal.
Ah Clara. Kenapa kamu selalu berhasil menjadi pengganggu ? Rutuk Daniel di dalam hatinya.
"Ya, tunggu." Sahut Daniel yang kemudian menarik tangan Amara untuk duduk di samping putrinya.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Anto, asistennya.
"Ambilkan tas Amara diruangannya. Antar ke mobil sekarang!" Perintah Daniel pada Anto.
"Kita mau kemana Pak?" Tanya Amara ketika Daniel sudah menutup sambungan teleponnya dengan Anto.
Tanpa menjawab pertanyaan Amara. Daniel keluar ruangannya, dengan berdiri di muka pintu, Daniel memanggil Siska yang sedang menyantap bekal makan siangnya di meja kerja.
"Siska, apa kamu mau dimsum?"
Siska cukup terkejut dengan tawaran Daniel. Di dalam pikirannya terbesit Amara sudah mengadukan apa yang ia bicarakan tadi sebelum Amara masuk ke ruangan Daniel. Sungguh Siska menyesal telah sempat merendahkan Amara tadi.
"Ma-mau Pak." Jawab Siska sedikit tergagap. Ia sudah khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Kalau mau kemarilah!" Daniel meminta Siska untuk masuk keruangannya.
Siska pun segera masuk keruangan atasannya ini dengan rasa khawatir dan takut. Ia dapati Amara dan Clara tengah duduk di sofa dengan wajah yang sama-sama ditekuk.
"Ambillah dua box Dimsum itu untuk mu, Siska!" Perintah Daniel yang seketika berhasil membuat Amara dan Clara kompak membulatkan matanya.
"Papi kok di kasih ke Tante Siska semuanya?" Protes Clara yang mewakili Amara.
Siska yang sudah mengambilnya jadi tak enak hati karena mendengar protes yang dilayangkan Clara. Ia berdiri menatap Daniel dan Clara dengan tatapan bingung.
Daniel yang menyadari kebingungan Siska lantas tetap meminta Siska membawa Dimsum itu pergi dari hadapannya.
"Kita akan makan di tempatnya langsung. Ayo kalian berdua cepat bangunlah! Tidak boleh anak Papi makan dari pemberian pria lain, termasuk kamu, Amara!" Jawab Daniel yang kemudian menggandeng dua gadis beda generasi ini.
Owalah, kirain bertengkar karena Clara menolak Amara. Ternyata karena Dimsum. Tunggu-tunggu tadi Pak Daniel bilang Pria lain, berarti yang traktir Amara, cowok dong. Jangan-jangan tuh cowok ada hati sama Amara! Wah, pantes aja sampai braaak bruuukk nih pintu! Pak Daniel oh Pak Daniel. Sikap Bapak selalu penuh dengan kejutan. Batin Siska.