
"Maaf mengganggu waktu kalian, boleh aku bertemu dengan Amara, istriku?" Ucap Rendra berusaha berbesar hati.
Melihat pria yang sangat dicintai Amara hendak keluar dari kamar kost istrinya.
"Dia baru saja tidur. Apa kau mau aku membangunkannya?"
"Boleh, jika kau tidak keberatan." Balas Rendra dengan menahan seribu pisau yang menancap tepat di relung hatinya.
Tanpa menutup pintu, Daniel kembali masuk menghampiri Amara yang terlihat terlelap bersama putri Daniel dan Rendra melihat jelas akan hal itu.
Inikah yang dikatakan Thomas kehangatan keluarga yang dibutuhkan Amara, yang tidak dapat kuberikan karena kepecundanganku? Batin Rendra teriris.
"Mami, Mih... bangun!" Daniel menggoncangkan tubuh Amara, berusaha membangunkan Amara yang sangat sulit dibangunkan.
Terdengar jelas di telinga Rendra, sebutan Mami saat Daniel memanggil Amara.
Mami? Manis sekali dia memanggil Amara dengan sebutan Mami. Ya Tuhan betapa bodohnya aku selama ini yang tidak bisa bersikap manis padanya. Aku bodoh telah menyia-nyiakan mu selama ini Ara.
Dengan masih memejamkan mata, Amara mulai merespon. "Hemmm... apa sih Papi ini ahh? Ganggu aja!"
"Bangun, ada tamu cari kamu!" Sahut Daniel sembari menarik lengan Amara untuk beranjak dari ranjang tidurnya.
"Siapa sih ahh? Jangan bilang tukang kredit panci! Aku ga kredit kaya gitu-gituan." Balas Amara masih memejamkan mata, namun sudah dalam posisi duduk.
"Buka dulu matanya, lihat siapa yang datang!"
"Ngantuk aku PAPI AHHH!! Mata aku masih lengket kaya di lem." Balas Amara yang ingin kembali tidur namun tubuhnya segera ditarik kembali oleh Daniel.
"Eitsss... jangan alasan! Bangun! Mau aku ceburin di kamar mandi kalau kamu gak mau bangun humm? Cepat buka matanya sekarang!" Ancam Daniel yang sangat ditakuti oleh Amara.
Dengan terpaksa Amara membuka matanya. Ia memukul-mukul pipi Daniel berkali-kali. Daniel dapat melihat manik mata Amara yang benar-benar memerah, tanda ia memang masih sangat mengantuk.
Daniel hanya tersenyum mendapati pukulan yang sama sekali tidak terasa sakit baginya.
"Nakal! Pengganggu kemerdekaan orang saja! Awas nanti ku balas kau Papi!" Ucap Amara yang kemudian memeluk tubuh kekar Daniel seperti biasa. Setelah menyakiti Daniel Amara akan memeluk erat tubuh Daniel. Seakan ia menyesali telah menyakiti Daniel dengan tangannya.
Saat ini Amara sama sekali tidak sadar jika di depan pintu ada suami yang begitu mencintai dirinya, tengah melihat jelas keromantisan mereka berdua.
"Ada Rendra disini. Dia datang ingin menemui mu. Temuilah dia, bicara baik-baik. Jangan pakai emosi dan ego mu!" Bisik Daniel di telinga Amara.
Amara terkejut, ia lantas melihat ke arah muka pintu di mana Rendra tengah berdiri mematung, memandangi mereka.
Aku melihat mu, Ara. Melihat mu mengukir luka di hatiku. Sakit sekali rasanya melihatmu begitu mencintai dia. Tidak bisakah kamu meninggalkannya dan kembali padaku. Kita teruskan rumah tangga kita ini, hingga ajal menjemput kita nantinya.
Amara segera berlari ke arah pintu dan menutup pintu. Tanpa perduli tatapan nanar yang diberikan Rendra padanya.
"Aku pakai baju dulu Mas." Ucap Amara saat menutup pintu.
Rendra tersenyum miring mendengar ucapan Amara.
*Aku suami mu Ara. Aku berhak melihat tubuhmu, bahkan menyentuhnya pun aku sangat berhak. Kenapa kamu harus menutupnya dan malah membiarkan dia melihat tubuhmu yang masih haram untuk disentuh olehnya. Ini sebuah kekeliruan Ara. K*ekeliruan! Batin Rendra.
"Papi nih gimana sih? Aku tuh malu cuma pakai baju kaya gini doang. Kamu buka pintu lebar banget. Kamu niat mau ngobral tubuh aku ya, hah?" Omel Amara sembari memakai pakaian yang lebih tertutup. Karena saat ini ia hanya mengenakan celana short dan teng top bertali satu.
"Maafkan aku gak sengaja." Sahut Daniel singkat.
Daniel tidak mau mencari masalah dengan Amara, yang jika kalau sudah mengomel pasti akan merepet kemana-mana jika Daniel terus menanggapi panjang kali lebar kali tinggi perkataan Amara.
"Gak sengaja-gak sengaja. Alasan!" Omel Amara yang hanya buat seorang Daniel garuk-garuk kepala karena mendapati tatapan tajam Amara.
Usai mengenakan pakaiannya, Amara lantas kembali membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Rendra untuk duduk di kursi yang ada di depan jendela kamar kosan Amara.
"Ada apa Mas datang menemuiku?" Tanya Amara sembari memandang Rendra yang terus tersenyum tipis padanya.
"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, bersama kamu dan juga Ibu mu." Jawab Rendra dengan suara sedikit bergetar. Ia tengah berusaha menahan segala rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Ingin marah rasanya ia tak mampu dan tidak ada gunanya. Karena tak akan merubah keadaan.
Rendra yang awalnya memandangi wajah Amara kini membuang pandangannya ke sembarang arah, sembari menunggu jawaban kesediaan Amara untuk ikut dengannya.
"Aku ambil tas dulu. Tunggulah di sini Mas!" Jawab Amara yang kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki.
Amara masuk ke dalam, ia menatap Daniel tengah duduk di sofa yang menempel pada jendela kamar kosan Amara. Dengan duduk di sofa itu Daniel mengetahui apa yang Amara bicarakan dengan Rendra.
"Pih, aku mau pergi sama Mas Rendra sebentar. Ada yang ingin dia bicarakan dengan aku dan Ibu. Aku titip Clara ya?" Ucap Amara sembari sibuk mengambil tasnya.
Manik mata Daniel terus memperhatikan Amara yang terlihat sangat cuek, ia pergi tanpa memperdulikan muka bantalnya saat ini. Amara sama sekali tidak berniat untuk mencuci muka atau memoles sedikit wajahnya.
"Hemm, hati-hati. Ingat nyalakan terus ponselmu!" Sahut Daniel dengan berat hati.
Amara mengangguk dan lantas pergi meninggalkan Daniel. Sesaat setelah Amara pergi Daniel segera menghubungi adiknya untuk segera datang menjemput Clara. Setelah itu ia segera bergegas mengikuti mobil Rendra yang membawa Amara pergi.
Di dalam mobil Rendra, Amara sama sekali tidak berkata apapun. Ia malah melanjutkan tidurnya di kursi depan, menemani Rendra yang tengah mengemudi.
Di perjalanan Rendra sesekali menatap lekat wajah istrinya yang begitu damai saat tertidur lelap seperti ini. Ingin rasanya ia mengecup bibir Amara yang begitu menggodanya, namun saat ia ingin mendekat. Sorot lampu dim dari belakang mobilnya berhasil mengusik niatnya.
Rendra kembali tersenyum tipis saat menyadari Daniel tengah mengikutinya.
Dia tak ingin aku menyentuh sedikit saja istriku. Ini gila sekali. Pernikahan macam apa ini? Batin Rendra yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengecup bibir Amara.
Seharusnya aku mengantarmu dan tidak membiarkan mu pergi bersamanya, dasar putri tidur. Penyakit tidurmu ini harus segera diobati, sayang! Batin Daniel dibalik kemudinya.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan. Mobil Rendra pun berhenti di sebuah area pemakanan. Ya, Rendra membawa Amara ke pemakaman Tomo. Di mana Riana sudah datang terlebih dahulu dengan anak buah Rendra.
Tepat setelah mobil Rendra berhenti ponsel Rendra berdering.
Daniel calling.
Rendra segera mengangkat panggilan Daniel itu.
"Kau hanya perlu membangunkannya, tanpa mencuri kecupan ataupun mencoba menyentuhnya lagi." Ucap Daniel memperingati Rendra.
Rendra kembali tersenyum miring dengan kenyataan aneh dihadapannya.
"Aku ini masih suaminya Daniel."
"Aku juga suaminya, aku suami sah Amara di mata hukum. Aku bisa menuntut mu atas tindakan pelecehan jika kau menyentuh sedikit saja Amara ku." Ucap Daniel kembali mengancam.
Kau sama sekali tidak rela Daniel. Kalian berdua saling menjaga satu sama lain. Ough... betapa kerdilnya aku saat ini berada diantara kalian. Batin Rendra teriris perih.
Tanpa berkata-kata lagi Rendra kemudian menutup sambungan telepon Daniel. Ia membangunkan Amara yang masih terlelap.
"Ara, bangunlah! Kita sudah sampai." Ucap Rendra dengan suara yang pelan.
Mendengar suara Rendra, Amara segera terbangun dan membuka matanya yang kembali memerah.
"Kok kita di pemakaman? Mau ngapain kita ke sini?" Tanya Amara saat melihat pemandangan makam-makam yang tertata rapih disekitarnya melalui kaca jendela mobil.
"Turunlah! Kasihan ibu terlalu lama menunggu kita!" Pinta Rendra pada Amara.
Hayooo mau ngapain nih si Rendra ngajakin ngobrol tapi bukannya di Cafee...
Cuss tungguin dengan setia episode selanjutnya ya.. jangan lupa tekan tombol update, vote, like, favorit, gift, iklan dan recehan kalian hahaha...
Canda recehan...🤣😂😅🫰