Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Berakhir



Di rumah sakit tempat di mana Rendra dirawat. Kini dengan diantarkan oleh Asep, Amara sudah tiba di rumah sakit. Ia berjalan seorang diri melewati lorong rumah sakit tanpa Asep yang menemaninya.


Ya, Asep hanya mengantar dan menunggu dengan setia Amara di lobby rumah sakit. Driver antar jemput Amara yang disediakan oleh Thomas ini, adalah tipe orang yang sangat irit bicara dan tidak pernah mau tahu urusan penumpangnya.


Ceklek! Pintu ruang rawat Rendra terbuka.


Muncul Amara dari balik pintu. Ia masuk sembari memberikan salam pada Rendra yang tengah duduk di atas ranjang tidurnya.


"Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, Ara. Cepat sekali datangnya, apa kamu kebut-kebutan untuk cepat sampai di sini?"


"Tidak, Mas. Aku tidak kebut-kebutan." Jawab Amara singkat.


Amara menghampiri Rendra dan mencium punggung tangan sang kekasih. Setelah itu ia mulai merapikan barang-barang Rendra yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali. Bahkan sebenarnya tidak perlu ia rapihkan.


"Mas, aku boleh bicara sesuatu yang sangat penting pada mu?" Tanya Amara saat ia sudah duduk di samping ranjang tidur Rendra.


"Bicara penting? Tentang apa?" Tanya Rendra sembari mengerutkan alisnya.


"Tentang kita."


"Tentang kita?"


"Ya, tentang hubungan kita Mas."


"Kenapa lagi dengan hubungan kita? Apa kamu masih marah dengan ku?"


"Tidak. Bukan itu. Aku tidak pernah marah pada mu Mas."


Tapi hanya kecewa. Sambung Amara di dalam hatinya.


"Lantas?" Tanya Rendra makin penasaran. Ia menatap dalam sang kekasih yang terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Sebelumnya, tolong bukakan pintu maaf yang seluas-luasnya untuk diriku, Mas!"


"Kamu minta maaf atas dasar apa? Apa kamu sudah melakukan kesalahan, hingga kamu meminta maaf dengan kata-kata tak biasa seperti ini pada ku?" Tanya Rendra penuh selidik.


"Ya, aku sudah melakukan kesalahan di belakang mu, Mas. Aku sudah mengkhianati hubungan kita. Aku sudah menodai hubungan kita dengan berselingkuh di belakang mu." ungkap Amara jujur. Kemudian ia kembali menundukkan pandangannya.


Amara tidak berani menatap guratan keterkejutan dan kecewa yang jelas terpancar di wajah Rendra kini.


"APA?? Kamu selingkuh??" Tanya Rendra yang tak percaya.


Meski ia pernah melihat dan mendengar Daniel mengklaim Amara sebagai wanitanya. Tapi Rendra tidak yakin Amara dan Daniel memiliki hubungan di belakang dirinya. Karena Rendra percaya, cinta Amara hanya untuk dirinya dan tak mungkin mengkhianatinya.


Amara menganggukkan kepala, mengiyakan atas pertanyaan yang Rendra lontarkan.


Melihat jawaban Amara. Rendra mengusap wajahnya kasar, menyesali kebodohannya yang terus mengikuti kemauan Erdi. Hingga akhirnya Amara bermain api dibelakangnya. Ia yakin Amara melakukan ini, karena tingkah perbuatannya yang buruk selama ia menuruti kemauan Erdi.


Rendra tidak bisa marah dengan kesalahan yang dibuat oleh Amara. Ia memahami posisi Amara dan bagaimana rasanya di posisi Amara kemarin dan juga saat ini. Jika ia menjadi Amara. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama, tentunya dia tidak akan mengaku seperti yang Amara lakukan saat ini.


"Aku yang salah, Ra. Kamu tidak salah sama sekali. Kamu jangan merasa bersalah dan terbebani. Jika saja aku tidak bersikap buruk pada mu, pasti kamu tidak akan melakukannya bukan?" Ucap Rendra yang kini duduk bersimpuh di hadapan Amara.


Amara kembali mengangguk, mengiyakan perkataan Rendra. "Maafkan aku, Mas. Aku wanita yang buruk."


"Aku akan selalu memaafkan mu, Ara. Kita akan memulainya dari awal lagi. Lupakan semuanya. Anggap semua ini tak pernah terjadi." Ucap Rendra sembari menarik dagu Amara, agar ia dapat mentap wajah cantik kekasihnya yang tengah menitikkan air mata penyesalan.


"Tidak Mas, aku tidak bisa memulai kembali hubungan kita dari awal." Tolak Amara yang kemudian makin berderai air mata.


"Kenapa tidak bisa Amara? Aku memaafkan mu. Aku bersedia melupakan kesalahan yang kamu perbuat di belakangku. Kita akan membuka lembaran baru kisah kita, sayang."


Rendra terus menatap dalam Amara yang terlihat begitu bersedih. Tangan Rendra terus sibuk menghapus air mata yang terjun bebas membasahi lesung pipi Amara.


"Aku mencintainya. Maafkan aku, Mas. Aku sangat mencintainya, karena itu aku tidak bisa memulai kembali kisah kita berdua lagi, Mas."


Duar!!


Kata-kata Amara barusan bagaikan sebuah bom yang meledak dan meluluh lantahkan hati Rendra.


"Tidak. Tidak Amara. Bagaimana bisa ini terjadi? Tolong jangan tinggalkan aku. Hapus dia di hati mu. Tolong hapus dia! Jangan cintai dia, Amara! Cukup cintai aku saja. Tolong ingat bagaimana perjuangan ku mendapatkan restu Ayahmu! Tolong ingat aku, betapa sakitnya posisiku saat ini."


Tangis Rendra pun pecah, begitu pula dengan Amara. Rendra terus memeluk erat pinggang Amara, dengan kepala yang bertumpu pada kedua paha Amara.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan atas perbuatanku yang menyakitkan hati mu. Aku tidak bisa bersama mu lagi Mas. Bukan karena aku tak lagi mencintai mu. Tapi aku merasa terpenjara dengan rasa bersalah ku pada mu. Aku yang bodoh, tidak tahu bagaimana tertekannya dirimu. Aku ingin kita berpisah bukan karena aku ingin bersamanya, aku ingin sendiri. Hanya ingin sendiri."


"Tidak. Tidak!" Tolak Rendra yang terus menangis dan makin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku. Maafkan kesalahanku dan kebodohan ku. Aku sangat mencintaimu, Ara. Tolong jangan seperti ini." Ucap Rendra yang kini menatap dalam manik mata Amara, sembari menangkup wajah Amara.


"Tidak! Jangan sekejam ini padaku, Ara. Lebih baik aku mati dari pada kehilangan mu." Tolak Rendra.


Ia kembali memeluk erat tubuh Amara. Rendra takut, sangat takut kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


"Jika, kamu tak mengizinkan aku pergi. Perlahan namun pasti, kamu akan membunuhku dengan rasa bersalah yang kini menguasai diriku, Mas. Lihatlah kondisi mu saat ini, kamu sakit karena aku. Kak Bastian mendapatkan teguran dari atasannya karena aku. Perusahaan yang kamu pimpin mulai goyah juga karena aku. Semua hal buruk yang terjadi pada keluarga mu, karena aku. Tolong biarkan aku pergi Mas! Bersatu atau tidaknya kita nanti, kita serahkan pada Takdir Tuhan saja." Kembali Amara memohon pada Rendra untuk menerima keputusannya berpisah.


Rendra terdiam sejenak memikirkan kata-kata Amara. Ya, Rendra menyadari semua yang dikatakan Amara memang benar. Semua yang terjadi pada keluarganya saat ini disebabkan karena cintanya pada Amara.


"Aku akan mengizinkan mu untuk menenangkan diri, menyendiri seperti apa yang kamu mau. Aku berjanji tak akan menganggu hidupmu saat kamu menjalani kesendirian mu. Namun ketahuilah, aku akan tetap menunggu mu kembali kedalam dekapanku. Karena aku sangat mencintaimu." Ucap Rendra pada akhirnya.


"Terima kasih Mas, terima kasih." Amara memeluk Rendra dengan suka cita, karena pada akhirnya Rendra mau melepaskan dirinya untuk sendiri.


Pergilah Ara! sejauh mana kamu ingin berlari, sejauh itu pula aku akan mengejarmu tanpa kau ketahui. Yang perlu kamu tahu, ketika kamu ingin kembali, aku sudah berada di belakang mu. Batin Rendra.


Lima belas menit kemudian, Amara pamit pulang dengan Rendra, karena ia harus kembali bekerja di Cafe Kokoro, dan Rendra mengetahui hal itu.


"Mas, aku harus pamit. Aku harus kembali bekerja. Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"


"Huum, tidak apa-apa, aku biasa sendiri dan harus terbiasa sekarang. Jaga dirimu, Ara! Jangan terlalu banyak makan mie instan! Ingat sakit lambung mu."


"Iya Mas, kamu juga ya. Semangat perbaiki perusahaan mu."


"Huum, tentu saja. Aku akan kembali memperbaiki perusahaan ku setelah keluar dari rumah sakit. Karena aku tak akan membiarkan dirimu hidup susah saat kamu kembali bersama ku nanti."


Amara tersenyum dan mengelus pipi Rendra yang bicara cukup manis padanya.


"Aku pergi ya Mas?" Pamit Amara lagi.


"Huum pergilah." Jawab Rendra yang sebenarnya berat melepaskan kepergian Amara.


Rendra sangat yakin kedepannya nanti, ia akan sulit untuk bertemu dengan Amara.


Saat Amara ingin keluar dari ruangan rawat Rendra. Seorang pria yang sedang menguntit, buru-buru menyingkir dan bersembunyi. Ya, Pria penguntit itu tak lain dan tak bukan adalah Daniel.


Baru beberapa langkah kaki Amara meninggal muka pintu ruangan rawat Rendra dan Daniel ingin menyusul langkah kaki Amara. Pintu ruangan rawat Rendra kembali terbuka. Muncul Rendra yang ingin melihat kepergian Amara. Hal ini membuat Daniel menghentikan langkah kakinya untuk mengejar Amara.


Namun siapa sangka kedua pria yang telah ditinggal Amara ini malah melihat kedatangan Thomas, yang datang dengan tergesa-gesa. Di mana ia datang dan langsung memeluk erat tubuh Amara.


Cemburu dan marah. Pasti keduanya rasakan saat ini. Namun keduanya tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Lo gak apa-apa kan? Kenapa ke rumah sakit? Lo sakit apa huh? Mana yang sakit, Ra? Bilang sama gue." Tanya Thomas, sambil terus memperhatikan Amara dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Gak ada. Gue gak sakit. Kata siapa gue sakit."


"Terus ngapain ke rumah sakit, kalau gak sakit?" Tanya Thomas yang masih saja mengkhawatirkan Amara.


"Ihh, gue ke sini cuma mau nengokin Mas Rendra. Dia yang sakit bukan gue." Jawab Amara yang menyingkirkan tangan Thomas yang sedikit mencengkram bahunya, karena terlalu khawatir.


"Owhhh... Rendra yang sakit. Tapi kenapa muka Lo sembab begini? Lo nangisin dia ya? Emangnya dia sakit parah dan udah mau koit ya Ra, sampai sesembab gini lo nangisin dia?" Tanya Thomas yang terlihat berharap Rendra segera pergi ke alam baka.


"Sembarang banget kalau ngomong. Dia sudah baik-baik aja. Bahkan besok sudah boleh pulang. Gue nangis karena senang, dia udah boleh pulang. Begitu ceritanya Malih." Bohong Amara pada Thomas.


"Lagi Lo ngapain nyusulin ke sini, sih?"


"Khawatirin Lo lah, memangnya mau apalagi Juminten."


"Ya ampun Thomas so sweet banget sih. Sekarang Tiara mana?" Tanya Amara yang yakin dimana ada Thomas pasti ada Tiara.


"Dia di bawah sama Asep." Jawab Thomas yang kemudian menggandeng tangan Amara untuk pergi menyusul keberadaan Tiara bersama Asep di bawah.


Sebenarnya Tiara sudah mengatakan pada Thomas, jika Amara baik-baik saja dan kedatangannya kerumah sakit hanya ingin menjenguk Rendra.


Tapi Thomas yang terlanjur kalang kabut ketika Asep mengatakan, ia sedang mengantar Amara ke rumah sakit, tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan Tiara. Dan beginilah hasilnya. Di mana kekhawatiran Thomas tidak terjadi dan apa yang dikatakan Tiara benar adanya.


Melihat keduanya pergi sambil bergandengan tangan, baik Daniel dan Rendra hatinya makin meradang. Rendra memang tahu jika Amara bersahabat dengan Thomas. Tapi sebagai seorang pria, Rendra juga tahu dan tidak bodoh, jika Thomas menaruh rasa terpendam pada Amara.


Saat Amara dan Thomas tak lagi terlihat, Rendra pun ingin kembali masuk kedalam ruang rawatnya, dan saat ia sedang membalikkan tubuhnya. Ia tanpa sengaja melihat sosok Daniel yang tengah berdiri tak jauh di belakangnya.


Keduanya saling bertatapan satu sama lain dalam diam.


Amara saat ini memang sedang mencintai mu, tapi aku yakin dia akan pulang kembali ke dalam dekapanku. Batin Rendra saat menatap Daniel.


Kamu sudah melepaskannya dan aku akan mengambil kesempatan untuk berusaha memiliki Amara seutuhnya mulai saat ini. Jangan harap dia akan kembali ke dalam pelukanmu! Karena itu tak akan pernah terjadi dan aku biarkan dia kembali seperti harapan mu. Batin Daniel.


Daniel kemudian pergi berlalu tanpa berkata-kata pada Rendra yang terus menatap dirinya dengan tatapan tajam layaknya seorang musuh bebuyutan.