Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Serangan Jantung



Di rumah sakit XCB, usai mengirim pesan pada Amara tentang apa yang baru saja terjadi. Dimana lamaran Daniel telah ditolak mentah-mentah oleh Tomo. Selanjutnya terjadi perdebatan sengit antara Tomo dan Chandra.


"Kenapa ayah tolak lamaran Tuan Daniel tanpa dipikir lebih dahulu?" Cecar Chandra yang terlihat sangat emosi pada sang Ayah yang baru saja dinyatakan sehat oleh Dokter.


"Chandra! Pelankan suaramu! Ini rumah sakit. Kamu jangan kurang ajar dengan ayah mu!" Ucap Riana seraya mendorong tubuh Chandra menjauh dari suaminya.


Namun usaha Riana menjauhkan Tomo dari Chandra gagal. Chandra dengan kasar menghempas tubuh tua Riana yang nampak begitu lemah dan letih.


Brukk!! [Riana terjatuh].


"CHANDRA APA YANG KAMU LAKUKAN? JANGAN KASAR PADA IBU YANG MELAHIRKAN MU!" Pekik Tomo dengan kedua matanya yang membola.


"Seharusnya aku yang bertanya apa yang telah Ayah lakukan. Kenapa ayah menolak lamaran Tuan Daniel? Apa Ayah tidak tahu, aku ini bekerja di anak perusahaan miliknya? Apa yang akan terjadi padaku esok hari setelah Ayah terus menolak permohonannya? Secara tidak langsung Ayah sudah menjerumuskan aku dan keluarga ku ke jurang kesengsaraan." Balas Chandra dengan berapi-api.


Ya, Chandra membela Daniel bukan karena mendukung Amara mendapatkan cintanya, tapi ia membela Daniel karena takut kehilangan pekerjaannya.


"Apa? Ayah tidak menyangka picik sekali cara berpikir mu Chandra. Kamu sudah berumah tangga, seharusnya kamu tahu tugas seorang kepala keluarga seperti apa, Chandra. Tanggung jawab Ayah dan dirimu bukan hanya di dunia ini. Tapi juga diakhirat nanti."


"Aku tahu itu Ayah, tidak perlu mengajari dan menceramahiku. Apa salahnya Ayah korbankan satu anak ayah, agar anak Ayah yang lain tidak mendapatkan masalah. Karena sekali aku didepak dari perusahaan milik Tuan Daniel, tidak akan pernah ada perusahaan yang mau menerima ku bekerja. Anak istri ku mau aku beri makan apa? Apa kata mertua ku nanti? Apa Ayah tidak berpikir sampai di situ hah? Bagaimana masa depan anakku? Karena Ayah menyelamatkan satu orang, banyak orang yang akan menderita karena keputusan Ayah ini."


Plak!! [Satu tamparan mendarat di pipi Chandra]


"Sampai mati pun Ayah tidak akan pernah menikahkan adikmu dengan Tuan Daniel yang kamu agung-agungkan itu. Ayah hanya akan menikahkan Amara dengan Rendra. Jika kamu ingin Amara menikah dengan Tuan Daniel mu itu. Langkahi dulu may(a)t Ayah!" Pungkas Tomo dengan berapi-api usai menampar Chandra.


Tiba-tiba Tomo merasa sesak nafas usai bicara dengan Chandra. Dada terasa nyeri seperti terbakar atau tertekan benda berat. Rasa nyeri pada dadanya hingga menjalar ke punggung, ulu hati, leher, bahu dan kemudian lengan kiri. Tomo mencengkram kuat dada kirinya dengan ekspresi wajah yang menahan nyeri. Tak lama kemudian tubuh Tomo melemas lunglai, kepalanya terasa berkunang-kunang. Ia hampir saja terjatuh ke lantai, jika saja Chandra tidak sigap menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh mencium lantai.


"AYAH!!!" Pekik Riana.


"Panggil Dokter Bu! Jangan hanya teriak memanggil Ayah saja!" Perintah Chandra yang masih terlihat emosi.


Sementara itu, Amara yang sudah mematikan ponselnya setelah membaca pesan singkat dari Chandra. Kini sudah dalam perjalanan menuju Bali untuk melangsungkan pernikahan mereka yang telah disiapkan Anto pukul 21.00 malam nanti.


Maafkan aku Ayah. Izinkan aku bahagia dan memilih jalan hidupku sendiri. Tidak perduli seberapa banyak dosa yang akan aku cetak untuk mu nantinya. Aku hanya bisa meminta maaf dan memohon padamu, untuk mengizinkan aku bahagia sekali saja dalam sisa hidup ku yang rumit ini. Batin Amara yang terus menyandarkan kepalanya di lengan Daniel.


Tara, dengan aku menikahi Amara. Aku sudahi penantian ku padamu. Hubungan kita tidak hanya sekedar break tapi benar-benar berakhir. Izinkan aku memilih Amara untuk meraih hidup bahagia bersamanya dan juga putriku. Batin Daniel yang sedikit teringat tentang Tara yang Daniel tidak tahu di mana rimbanya saat ini.


Sebenarnya mudah bagi Daniel untuk mencarinya, namun hal itu tidak ia lakukan. Karena hidupnya sudah terfokus pada Amara.


"Tuan Tomo, mengalami serangan jantung. Kami sudah berusaha semampu kami, namun kondisi Tuan Tomo saat ini sudah tidak ada harapan. Karena tubuhnya sudah menolak obat yang kami berikan. Dengan berat hati saya katakan kita hanya tinggal menunggu keajaiban Tuhan saja. Untuk membangunkan pasien dari kondisinya saat ini." Ucap salah seorang Dokter pada Chandra dan juga Riana.


Erdi dan Novita yang juga sudah ada di sana karena dihubungi oleh Riana hanya dapat tertunduk lemas dan sedih.


"Hubungi adikmu, Chandra. Dia harus tahu kondisi ayah." Pinta Riana yang tidak berhenti menangis.


"Sudah. Dia tidak bisa dihubungi, Bu. Sepertinya dia mematikan ponselnya." Jawab Chandra.


"Kalau begitu hubungi Rendra. Hanya dia yang bisa membawa adikmu ke sini." Pinta Riana lagi.


Chandra terlihat bingung karena tidak memiliki nomor ponsel Rendra. Namun disaat kebingungannya. Erdi mendekati Chandra dan memberikan nomor Rendra yang ia miliki.


Tak hilang akal, Rendra mencoba menghubungi Tiara.


"Ya, ada apa Mas Rendra?" Sahut Tiara dari sambungan teleponnya.


"Bisa bantu aku, bawa Amara ke rumah sakit XCB sekarang. Ayahnya kena serangan jantung dan dalam keadaan koma saat ini." Jawab Rendra yang membuat Tiara terlonjak dari duduknya.


"A-apa? koma?"


"Iya, kamu bisa bantu aku kan Tiara?"


"Mas Rendra, kenapa gak telepon Amara langsung?"


"Ponselnya tidak aktif begitu pula dengan Daniel."


"Mas Rendra sudah ke kosannya?"


"Sudah, dia belum kembali sejak pagi tadi."


"Ok, aku akan segera membawa Amara ke rumah sakit, serahkan padaku." Jawab Tiara yang kini berusaha mencari keberadaan Amara.


Rendra memutuskan menunggu Amara di rumah sakit setelah Chandra kembali menghubunginya untuk segera ke rumah sakit, karena Pak Tomo sudah sadar dan ingin bicara dengannya.


Hubungan Tiara yang masih tidak baik-baik saja dengan Thomas, memutuskan untuk datang kekediaman Thomas dengan Dokter Frans.


"Ada apa kalian datang ke sini?" Tanya Thomas dengan wajah datar dan dingin.


"Bantu gue cari Amara. Bokapnya kritis karena kena serangan jantung. Dia menghilang sama Kak Daniel. Hanya lo yang bisa nemuin dia."


"Dia ke Bali. Kak Daniel dan Amara mau kawin lari. Susul saja sendiri. Gue gak mau ikut." Jawab Thomas yang masih terus mengawasi kehidupan Amara.


"Pinjam pesawat Lo, Tom." Pekik Tiara pada Thomas yang pergi berlalu darinya.


"Silahkan. Lo sudah tahu harus apa bukan?" Sahut Thomas.


Dokter Frans hanya menggelengkan kepalanya melihat keterpurukan Thomas yang masih gagal move on dari Amara.


Tiara segera menghubungi pilot yang biasa mengendarai jet pribadi milik Thomas. Seperti biasa ia akan mengatas namakan perjalanannya ini dengan membawa nama Thomas.


Dokter Frans dan Tiara pun bertolak ke Bali dengan informasi mendetail yang diberikan detektif yang disewa Thomas untuk membuntuti Amara.


Bohong jika Tiara tidak merasakan nyeri melihat betapa Thomas masih begitu mencintai Amara, meski Amara sudah membangun benteng yang tinggi antara dirinya dan Thomas.


Ketemu gak yah Tiara sama Amara?


Terus gimana dengan pernikahan dadakan mereka?


Cuss pantengin Bab selanjutnya ya!