Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Pemakaman dan Penjelasan



Usai melakukan prosesi pemakaman. Amara yang sudah melihat ada mobil Daniel diantara mobil yang terparkir. Langsung saja meninggalkan keluarganya.


Rendra yang sibuk mengurusi pemakan ayah mertuanya, sama sekali tidak menyadari kepergian Amara. Sedangkan Thomas yang terus memperhatikan Amara tersenyum miring saat melihat Amara berjalan ke arah mobil Daniel yang ia kenali.


Kamu ternyata benar-benar mencintainya. Baiklah. Aku akan membantu mu mendapatkan cinta mu, Amara. Jika dia memang laki-laki pilihan mu dan akan menjadi sumber kebahagiaan mu. Aku rela, asal kamu tidak terus menderita seperti ini. Aku muak melihat wajah sedihmu yang penuh dengan penderitaan dan juga tekanan. Batin Thomas.


"Matikan seluruh CCTV jalanan hari in! Berikan alasan yang masuk akal ketika seseorang bernama Bastian dan Rendra menghubungi untuk meminta rekaman CCTV hari ini." Perintah Thomas pada seseorang melalui sambungan teleponnya.


"Lo, lakuin apa?" Tanya Tiara yang berada tepat di samping Thomas.


"Gak usah kepo!" Jawab Thomas ketus.


"Ishhh... menyebalkan!" Umpat Tiara yang akhirnya menyadari keberadaan mobil Daniel dan Amara yang sedang datang menghampiri mobil itu, melalui arah tatapan Thomas yang tak lekang menatap Amara.


Daniel yang masih berada di dalam mobil, terlihat terkejut dengan sosok Amara berani mendekati mobilnya.


"Bawa aku pergi dari sini!" Ucap Amara ketika ia masuk ke dalam mobil Daniel.


Tanpa menjawab Daniel kemudian melajukan kendaraannya. Daniel membawa Amara ke apartemennya, tidak membawanya ke tempat kosan Amara, di mana semua orang akan mudah menemukan mereka.


"Katakan padaku, siapa wanita itu?" Tanya Amara pada Daniel yang baru melepaskan kacamata hitam yang ia gunakan untuk menutupi mata sembabnya.


"Wanita itu adalah wanita yang ada di masa lalu ku. Dia mantan calon istriku. Aku tidak jadi menikah dengannya, karena aku tidak bisa dan mau untuk pindah keyakinan dengan paksaannya." Jawab Daniel jujur.


"Lalu kenapa dia datang lagi?"


"Mommy membawanya dengan sengaja. Agar aku menyelesaikan hubungan ku dan dia secara pasti di depan Mommy. Karena hubungan ku dan Tara belum benar-benar berakhir. Saat aku bersama mu. Hubungan ku dan dia sedang break. Keberadaan dia pun seperti menghilang ditelan bumi. Dan Mommy ingin ketika kita menikah dia tidak kembali untuk merusak rumah tangga kita." Jawab Daniel lagi sembari menatap lekat wajah Amara yang tidak kalah sembab seperti dirinya.


"Terus? Apa sudah?"


"Aku belum menyelesaikannya, karena fokus mengejar mu pergi. Tapi apa yang aku dapat..." Daniel menghentikan ucapannya, karena ia terasa berat untuk mengungkapkannya.


Daniel menghela nafasnya panjang, ia menatap Amara dengan senyum yang di paksakan. Nampak jelas betapa sakit hati Daniel mendapati pahitnya kenyataan hidup yang baru saja ia terima.


"Maafkan aku, aku terpaksa. Karena Ayah memaksa ku."


"Aku tahu. Aku tahu itu, sayang.Kamu berhasil melukai hatiku dan Clara. Tapi ini bukan salah mu, tapi aku. Aku yang bodoh. Membiarkan mu pergi dan terlambat mengejar mu hingga semua ini terjadi." Ucap Daniel dengan berlinang air mata.


Keduanya rapuh dan saling menangis.


"Maafkan aku Papi, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu. Bawa aku pergi. Sejauh mungkin. Mereka tak akan pernah mengerti bagaimana perasaan ku dan juga dirimu . Bawa aku pergi!"


Amara terus memaksa Daniel membawanya pergi. Mengguncangkan tubuh Daniel yang terus menatap Amara dengan linangan air mata. Keduanya saling menangis dan menyatukan kening mereka bersama.


"Membawa istri orang lain pergi adalah tindakan ilegal Amara." Tolak Daniel yang tak ingin. Membawa Amara pergi dengan cara seperti ini.


"Aku hanya menikah secara sirih dengannya, hanya seorang ustadz yang menikahkan kami semalam. Secara hukum negara, aku bukanlah istrinya Papi."


"Tentu saja, sampai kapanpun dia tidak akan bisa melegalkan pernikahan kalian. Karena secara hukum kamu adalah istriku." Jawab Daniel sembari mengeluarkan surat nikah mereka.


Amara menghentikan tangisannya. Ia menatap lekang kedua buku nikah yang ada di tangan Daniel.


"Tanda tangani buku nikah kita Amara! Aku sudah menandatanganinya, hanya tinggal dirimu yang belum menandatanganinya." Pinta Daniel pada Amara.


Amara menatap Daniel, perasaan tak ingin dipisahkan dengan Daniel. Membuat Amara kemudian menuruti permintaan Daniel untuk menandatangani buku nikah mereka. Keduanya kemudian berpelukan.


"Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya. Aku akan memintanya untuk menceraikan dirimu. Aku juga akan menyelesaikan permasalahanku dengan Tara. Percayalah kita akan bersatu setelah menyelesaikan semua ini." Ucap Daniel sembari membelai rambut panjang Amara.


Amara mengangguk patuh dalam dekapan Daniel yang selalu mendamaikan jiwanya. Begitu pula dengan Daniel.


"Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah dan kurang istirahat! Aku tidak mau kamu sakit kembali " Tambah Daniel yang segera mengajak Amara masuk ke dalam kamar pribadinya.


Kamar yang pernah ia tiduri saat mabuk pertama kalinya. Kamar yang menjadi saksi bahwa Daniel tidak pernah mau kehilangan Amara.


Sedangkan di pemakaman, keluarga Amara dan Rendra heboh karena kehilangan sosok Amara. Thomas dan Tiara pura-pura tidak tahu kemana Amara pergi, bahkan mereka berakting ikut mencari Amara. Keduanya sama-sama menyembunyikan Amara yang mereka ketahui pergi bersama Daniel.


Bastian segera mengerahkan anak buahnya dan meminta bagian terkait untuk melihat rekaman CCTV, namun sayang Bastian mendapatkan kabar jika beberapa CCTV dalam perbaikan sejak dua hari belakangan ini. Hingga tidak dapat melihat jejak kemana menghilangnya Amara.


Di kediaman Rendra.


"Rendra, lepaskanlah Amara, sebelum kamu sakit hati terlalu jauh! Amara yang sekarang bukanlah Amara yang dulu lagi. Dia sudah tidak mencintai mu. Mami tidak mau melihat putra bungsu Mami hancur karena cinta bertepuk sebelah tangan." Pinta Nadia pada putranya.


"Aku masih sangat mencintainya Mih. Aku yakin bisa mendapatkan hatinya kembali."


"Rendra sayang, menghilangnya Amara, pasti karena dia tidak mau hidup bersama mu. Tolong jangan memulai suatu ikatan pernikahan dengan memaksakan kehendak mu. Yang sakit nantinya adalah kalian berdua." Nadia terus berusaha menasehati putranya.


Ketika Rendra kembali ingin menyahuti nasehat Maminya, tiba-tiba Bastian datang dengan ekspresi wajah tak biasanya.


"Apa Bang?" Tanya Rendra begitu penasaran.


"Saat Abang bersama Chandra membuat laporan hilangnya Amara dan nomor identitas Amara di input, tertera bahwa status Amara sudah menikah dan tidak satu alamat lagi dengan keluarganya, namun ia sudah satu alamat dengan keluarga Christiano Prayoga." Terang Bastian yang berhasil membuat adiknya terkejut.


Sebenarnya jika seseorang belum hilang selama 2x24 jam, belum diizinkan membuat laporan, namun Bastian yang menggunakan kekuasaannya dapat melakukan hal itu.


"Apa??"


"Jika benar Amara sudah menikah dengan Daniel. Artinya kamu sudah menikahi istri sah orang lain Ren."


"Tidak. Ini tidak mungkin. Aku dengar sendiri pengakuan Amara pada Ayahnya, jika ia belum sempat menikah dengan Daniel, Bang. Aku tahu Amara bukanlah pribadi yang suka berbohong di depan orang tuanya." Bantah Rendra yang masih tidak percaya.


"Kita harus selidiki Ren, jika benar Amara belum menikah dengan Daniel, kita harus segera meluruskannya." Ucap Bastian yang selalu bersedia menolong adiknya.


Kembali ke apartemen Daniel


Amara terbangun dari tidurnya setelah matahari sudah kembali ke peraduannya. Ia dapati Daniel tengah menyendiri sembari menyesap sebatang rokok di balkon.


Amara datang menghampiri Daniel dan memeluknya.


"Kamu mau pulang atau tetap di sini?" Tanya Daniel pada Amara yang memeluk tubuhnya.


"Pulang, aku harus hadir di acara pengajian Ayah." Jawab Amara.


Daniel mengangguk paham.


"Bersiaplah aku akan mengantarmu!"


"Tidak usah, biar aku pulang sendiri." Tolak Amara yang membuat mata Daniel seketika membola.


"Aku hanya tidak ingin ada kegaduhan. Tolong kali ini mengerti diriku." Terang Amara yang kini dapat dimengerti oleh Daniel.


"Ok baiklah. Akan aku pesankan taksi. Hidupkan selalu ponselmu sayang, agar aku tahu kabarmu di sana. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu." Ucap Daniel yang kemudian mengecup kening Amara.


Keduanya kembali berpisah. Kembalinya Amara ketengah-tengah keluarganya, membuat keluarganya bertanya-tanya kemana Amara pergi siang tadi. Namun Amara saat ditanya anggota keluarganya bahkan ibunya sekalipun tidak mau menjawab satu patah kata pun.


Rendra dan Bastian pun yang hadir diacara pengajian cukup terkejut dengan keberadaan Amara yang mereka kira menghilang.


Ditengah-tengah keluarganya, Amara seperti orang asing yang banyak berdiam diri tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Banyak orang yang mengira mata sembab Amara disebabkan oleh kepergian Tomo. Tapi kenyataannya tidak hanya itu. Ia juga menangisi takdir hidupnya yang terlalu malang.


Usai acara pengajian selesai, Rendra mengajak Amara untuk pulang ke kediamannya. Namun Amara menolaknya.


"Aku tidak bisa pulang ke rumah mu, Mas. Aku tidak bisa menjalani kewajiban ku sebagai istri mu." Tolak Amara saat bicara berdua bersama Rendra di halaman belakang.


"Kenapa? Apa karena Daniel?" Tanya Rendra yang berusaha menahan segala rasa yang ada di benaknya. Ia berusaha bersabar menghadapi Amara yang tidak ia kenali lagi.


"Ya, salah satunya itu." Jawab Amara jujur dan cukup menusuk relung hati Rendra.


Rendra mengusap kasar wajahnya. Ia ingin sekali marah bahkan bersikap kasar seperti dahulu pada Amara, yang akhirnya ia jadi kehilangan Amara seperti saat ini. Hanya raganya yang bersama dengan Rendra tapi tidak dengan hati, jiwa dan pikirannya yang hanya tertuju pada Daniel.


"Dengar Amara saat ini kamu adalah istriku. Bukan istrinya. Jadi sudah sepantasnya kamu ikut bersamaku pulang ke rumah ku."


"Ya, aku memang istri mu, tapi aku juga istrinya dan mungkin di dalam rahimku sudah tumbuh buah cinta kami."


Duar!


Pengakuan Amara sungguh mengejutkan Rendra.


"Tega kamu Ra. Aku tidak pernah sekejam ini memperlakukan kamu. Sekasar-kasarnya aku. Aku tidak pernah mengkhianati hubungan kita. Kamu bilang kamu juga istrinya? Kamu jangan bercanda, ini tidak lucu!"


Meski Rendra sudah tahu akan hal ini dari Bastian, namun tetap saja Rendra tidak terima mendengar akan hal ini langsung dari mulut Amara.


"Aku sudah katakan pada mu, Mas. Jika aku sangat mencintainya. Maafkan aku jika kamu menganggap diri ku tega dan kejam terhadapmu. Tapi aku berhak bahagia dan menentukan siapa orang yang pantas aku cintai. Mengenai aku juga istrinya. Memang benar adanya. Secara hukum aku ini adalah istrinya sedangkan dimata agama aku ini istri mu."


"Jangan mempermainkan pernikahan Ara! Aku yakin pernikahan mu dan dia cacat hukum. Dia pasti menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hal ini. Ingat satu hal Ara, jika kamu dinyatakan tidak hamil dalam kurun waktu satu bulan ini, aku tidak akan pernah menceraikan mu, dan akan melegalkan pernikahan kita dan menuntut dirinya. Ingat itu!" Ucap Rendra yang kemudian pergi meninggalkan Amara dengan rasa kesal, marah dan kecewa.


Waktu pun kembali bergulir, Daniel terus berusaha mengakhiri hubungannya dengan Tara. Namun hal itu sulit dilakukan karena Tara selalu dapat membalikkan perkataan Daniel dan juga menagih-nagih janji Daniel yang pernah Daniel ucapkan.


Melihat kegigihan Daniel mengakhiri hubungannya dengan Tara. Tuan Christiano yang belum sempat memberikan bukti kebusukan Tara pun menitipkan bukti kebusukan Tara pada Anto, assisten pribadi putranya.


Gimana ya saat Daniel lihat bukti-bukti yang dibawa Anto tentang si Tara Tere Tiri Turu Toro itu. Cap cus tungguin Bab selanjutnya ya..


Jangan lupa tinggalin like, komen, vote, dan recehan kalian hahahha...🫰🫰🫰🫰🤣😂😅