
Sabtu pagi yang indah untuk Clara. Dengan semangat 45 Clara menyambut Sabtu pagi kali ini dengan ceria. Tepat pukul 04.00 pagi, langit masih terlihat gelap, matahari juga belum memancarkan sinarnya. Tapi Clara sudah bangun dari tidur nyenyaknya.
Setelah beranjak bangun dari ranjang tidurnya. Clara segera bergegas. Ia berlari masuk ke kamar Daniel, yang berada tepat di samping kanan kamar pribadinya.
Clara langsung saja menaiki ranjang tidur Daniel. Di mana Daniel masih terlelap dalam tidurnya. Gadis kecil ini segera saja melompat dan menaiki tubuh Daniel. Hingga Daniel tersentak dalam tidurnya.
"Heepp...Auuu...Astaga ya Tuhan Clara, kau hampir membunuh Papi." Rintih Daniel.
Ia membuka mata merahnya dengan terpaksa. Mendapati putrinya dengan muka bantal sedang menaiki perutnya yang terekspos sempurna. Karena saat ini ia sedang tak mengenakan baju, alias bertelanjang dada. Ya, Daniel terbiasa tidur hanya mengenakan boxer sejak kecil, dan terbawa hingga dewasa.
Dengan mata merahnya, ia menatap kesal Clara yang tidak mau beranjak dari atas tubuhnya, meski ia sudah mengguncang tubuh Clara agar menyingkir.
"Papi tidak akan mati hanya karena aku duduki." Balas Clara sembari berkacak pinggang, masih di atas tubuh Daniel.
"Ya-ya, tapi Papi bisa mati karena terkejut akan kebiasaan buruk mu ini." Sahut Daniel tak mau kalah.
"Itu karena Papi sangat sulit untuk dibangunkan..." Balas Clara lagi, yang kemudian membuang wajahnya kesembarang arah.
"Wajar saja jika Papi sulit untuk dibangunkan, tubuh Papi ini lelah karena seharian bekerja, mencari uang. Tidak seperti kamu, yang kerjanya hanya bermain-main dan menghabiskan uang Papi bersama Omma dan Tante mu itu." Sahut Daniel yang masih tak mau kalah debat dengan putrinya.
"Jadi Papi tidak rela uangnya aku gunakan bersama Omma dan Tante begitu? Ok baik. Clara akan adukan hal ini dengan Omma dan Tante. Tanpa Papi berikan uang, kami akan tetap dapat berbelanja, karena uang Oppa jauh lebih banyak dari Daddy." Ancam Clara yang kemudian merendahkan Daddy-nya.
Ancaman dan penghinaan Clara ini berhasil membuat Daniel bertambah kesal pada putrinya sendiri.
Daniel menghela nafas panjang. Ia berusaha kembali bersabar menghadapi putrinya yang sudah terkontaminasi oleh kebiasaan dan cara berpikir Mommy dan adik satu-satunya yang Daniel Miliki.
"Kamu serius mau mengadukan perkataan Papi ini pada mereka? Kamu mau Papi dimarahi oleh mereka? Kamu senang Papi disakiti oleh mereka nanti? Kamu yakin Clara?" Tanya Daniel dengan memasang wajah sendu.
Aku tidak akan kena dengan tatapan nanar dan wajah sendu mu itu Papi. Tidak akan. Papi, aku akui Papi sangat pintar berakting, aku pastikan aku akan menuruni bakat mu itu. Seru Clara di dalam hatinya.
Clara paham betul jika sang Papi tengah mencoba memainkan perasaannya, agar tersentuh dan tak mengadukan perkataan Papinya yang salah ini pada Omma dan juga Tantenya. Clara paham Daniel paling tidak suka dengan keributan dari kedua wanita dewasa yang jika sudah tersinggung dan marah, bisa menganiaya Daniel tanpa ampun.
"Ahh... Sudahlah jangan terlalu mendramatisir keadaan Papi. Clara sedang tak ingin berdebat dan bersedih ria dengan Papi. Sekarang Papi harus segera bangun. Kita harus berangkat pukul 05.00 pagi. Kalau tidak kita bisa terjebak macet! Aku tidak mau menjadi orang terakhir yang datang ke tempat Camp." Jawab Clara mencoba menyudahi perdebatan mereka.
"Arghh...tua sekali cara bicaramu. Bisakah kamu belajar perduli perasaan Papi sedikit. Jangan tiru gaya bicara Omma mu, Clara! Sadar usia mu baru delapan tahun." Kesal Daniel karena mendengar jawaban Clara yang terkesan tidak memperdulikan perasaannya.
"Iya Papi, Clara akan menyadarinya, ketika Papi juga sudah sadar dengan usia Papi sendiri." Balas Clara.
Arghhh... Anak siapa kau ini hah? Dasar kau ini bedebah kecil. Umpat Daniel dalam hatinya.
"Ya-ya terserah apa kata mu sajalah. Perlu kamu tahu sayang. Seharusnya memiliki anak seusiamu, hidup Papi akan terasa manis. Tapi tingkah laku dan tutur kata mu itu jauh dari kata manis. Kamu sudah dewasa sebelum waktunya sayang."
"Hehehe... aku pun begitu Papi. Seharusnya diusia ku saat ini, aku menjalani hidup yang manis dan bahagia bersama kedua orang tua yang lengkap. Disayangi, dimanja dan selalu bisa menikmati hari libur bersama diakhir pekan, seperti teman-teman ku. Tapi apalah dayaku, aku hanya hidup berdua saja dengan Papi. Omma, Oppa, Tante hanya sebagai pelengkap, agar kita tidak kesepian bukan. Jika Papi katakan aku dewasa sebelum waktunya, itu karena Omma selalu menguatkan ku, agar tidak lemah menghadapi kenyataan hidup yang kejam." Balas Clara.
Kata-kata Clara berhasil menampar diri Daniel, bahkan relung hatinya terasa tertusuk dari setiap kata yang di ucapkan oleh sang putri yang masih berusia delapan tahun.
Sejenak Clara terdiam dengan wajah sedihnya, begitu pula dengan Daniel.
"Maafkan Papi yang tidak bisa memberikan keluarga yang utuh pada mu, sayang." Ucap Daniel tulus.
Ia membelai rambut panjang putrinya yang nampak berantakan.
"Hemm, tidak apa. Aku bisa memahami itu. Semoga Papi segera memberikan aku seorang Mami. Agar aku bisa hidup normal seperti teman-teman ku."
Daniel menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya, tak lupa dengan senyum kaku yang sangat ia paksakan.
"Tapi ingat Papi. Mami yang aku inginkan bukanlah Tante Tara."
"Why?" Tanya Daniel
"She's not my type."
"Oh my God." Keluh Daniel dengan suara yang sangat keras.
Sadar dengan perubahan ekspresi Clara. Daniel pun terdiam. Ia menatap dalam kedua manik mata Clara yang nampak bersedih karenanya. Kali ini keduanya tidak lagi berdebat mulut, tapi mereka saling berdebat dalam batin mereka masing-masing.
Clara sayang, tidakkah kamu bisa mengerti betapa Papi sangat mencintai Tante Tara. Bisakah kali ini Papi egois, Nak? Batin Daniel.
Jangan harap aku mau mengerti akan perasaan Papi pada Tante Tara. Aku tidak mau mengerti dan akan selalu menjadi penghalang Papi dan Tante Tara bersatu. Aku amat sangat percaya akan kekuatan doa, seperti yang diajarkan sahabatku Camilla. Untuk selalu memanjatkan doa pada Tuhan dan terus memohon padaNya tanpa henti, sampai apa yang aku harapkan untuk kebahagiaan kita bersama terwujud. Bukan hanya kebahagiaan Papi saja tapi juga aku. Batin Clara yang seakan menjawab kata hati Daniel yang ia mengerti.
Pukul 05.30, Clara dan Daniel sampai di kosan Amara. Amara sudah berdiri di pos security kosan untuk menunggu kedatangan mereka yang sudah telat kurang lebih tiga puluh menit.
"Kak, maaf ya kita telat. Habis Papi tuh ngajak debat pagi-pagi." Ucap Clara yang terlihat sangat menyesal.
"Iya tidak apa-apa, Clara." Balas Amara dengan senyuman khasnya yang begitu meneduhkan hati Clara pagi ini.
Amara masih dapat tersenyum meski ia harus melawan rasa ngantuk dan bosannya menunggu keduanya.
"Papi duduklah di sini sendiri. Aku akan duduk bersama Kak Amara di belakang." Ucap Amara pada Daniel yang menekuk wajahnya sejak tadi, karena tak diizinkan Clara untuk sarapan ataupun menengguk secangkir kopi penghangat tubuhnya yang kedinginan karena harus mandi terlalu pagi.
"Terserah," ketus Daniel yang hanya ditanggapi sebuah pukulan dari Clara.
"Sakit Clara! Kamu itu...."
Daniel hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga Clara dan Amara tak dapat melihatnya ketika mendengar kepercayaan diri putrinya yang sangat tinggi.
Tidak sampai satu jam Daniel melajukan kendaraan sedan mewahnya, mereka pun sudah hampir tiba di area Camping.
"Arghhh... Perut Papi lapar sekali Clara. Kamu benar-benar kejam!" Cetus Daniel.
Saat ia menghentikan kendaraannya, Daniel berhenti tepat disebuah warung tenda pinggir jalan di daerah puncak.
"Papi, tidak akan mati hanya karena tidak sarapan pagi ini. Ayo jalan kembali Pih!" Celetuk Clara yang selalu meniru perkataan Daniel.
"Iya kau benar Papi tidak akan mati hanya karena meninggal sarapan, tapi hanya akan pingsan. Dan Papi yakin kalau Papi pingsan, tidak akan ada satu orang dari kalian berdua sanggup untuk menggendong Papi. Jadi Papi mau sarapan dulu daripada pingsan, dan tidak mendapatkan pertolongan." Balas Daniel yang selalu memiliki stok jawaban untuk mengalahkan putrinya dalam berdebat.
Blemmm! Suara pintu mobil yang di banting Daniel.
Melihat Daniel berjalan ke warung tenda, Clara segera membuka kaca jendela pintu mobil.
"Papi boleh sarapan tapi di bungkus saja! Aku akan terlambat jika harus menunggu Papi makan di tempat!." Pekik Clara.
"Ya-ya," sahut Daniel sambil manggut-manggut.
Tak sampai lima menit Daniel sudah kembali ke mobil dengan membawa sebuah kantong plastik besar berisikan sarapan untuk mereka bertiga.
"Pindah ke depan Clara! Kamu harus menyuapini Papi sarapan selama sisa perjalanan kita." Perintah Daniel pada putrinya.
"Tidak mau. Kak Amara saja. Aku tidak mau baju seragam Camping ku kotor." Tolak Clara dengan tatapan mata yang kini tertuju pada Amara.
Amara sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Clara. Alih-alih menolak saran putrinya. Daniel yang juga kini menatap Amara segera saja memerintahkan Amara dengan tatapannya.
Mau tak mau dengan tatapan Daniel yang terasa mengintimidasi dirinya. Amara segera saja mematuhi permintaan sekaligus perintah Ayah dan anak yang bersamanya ini.
Amara kini duduk di samping kursi pengemudi. Ia mulai membuka sebuah kotak plastik yang berisikan bubur ayam dengan aroma yang sangat menggugah selera.
Wangi sekali aromanya, aku jadi ikut lapar. Batin Amara.
"Jangan diberikan sambal! Saya tidak bisa makan pedas." pinta Daniel saat Amara hendak menuang sebungkus sambal ke dalam bubur milik Daniel.
"Iya," sahut Amara singkat, lalu menyingkirkan sambal yang ada di tangannya.
Amara mulai menyuapini Daniel yang kembali fokus pada jalanan di hadapannya, dengan berdoa terlebih dahulu. Sewaktu Amara berdoa, Daniel mengulas senyum manisnya. Meski senyum itu tak mengarah pada Amara yang terfokus pada bubur yang ada di tangannya.
Hangat. Itulah perasaan Daniel ketika mendapatkan suapan dari tangan Amara. Setelah sekian lama, setelah perceraian dirinya dengan sang mantan istri, baru kali ini Daniel merasakan suapan dari tangan seorang wanita.
"Enak gak Pih?" Tanya Clara dari kursi belakang.
Ia terlihat tergiur, ketika Daniel begitu menikmati bubur dari tangan Amara.
"Hemmm..." Sahut Daniel singkat.
"Serius?"
"Hemmmm," Daniel kembali berdeham untuk menjawab pertanyaan putrinya. Kemudian kembali membuka mulutnya ke arah Amara. Amara yang paham segera memasukkan kembali sesuap bubur ke dalam mulut Daniel.
Clara terus memandangi sendok bubur yang masuk ke mulut sang Daddy. Ia sampai menelan salivanya karena tergiur.
"Kak Amara, aku mau. Aaaaa dong!" Ucap Clara sembari menyembulkan kepalanya ke arah Amara, tentunya dengan mulut yang terbuka lebar.
Amara segera saja memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Clara.
Eummm...enak buburnya. Bertambah enak karena makan dari suapan tangan Kak Amara. Beginikah rasanya kalau disuapin dari tangan seorang ibu. Andai aku punya seorang ibu yang bisa menyuapini ku setiap hari. Pasti aku sangat bahagia. Batin Clara yang sedikit merasa sedih dengan kondisi dirinya yang sangat haus akan kasih sayang sosok seorang ibu.
"Habis," ucap Amara. Sudah dua bungkus bubur yang ada di tangannya habis tak tersisa.
"Tambah!" Ucap Daniel dan Clara serentak.
"Tidak ada lagi, tinggal punya...." Ucap Amara terpotong karena Clara dan Daniel sudah menyambar ucapannya sembari menatapnya.
"Kita join, jangan pelit!" sambung Daniel dan Clara dengan kompaknya.
"Apa join?" Tanya Amara dengan rasa tak percayanya.
Tak pernah sekalipun dalam hidup Amara. Ia makan dengan sendok yang sama dengan seseorang. Sekalipun itu kekasihnya.
"Kenapa? Kamu jijik satu sendok dengan kami?" Tanya Daniel dengan membulatkan mata.
"Ti-tidak." Sahut Amara yang selalu takut jika ditatap Daniel dengan mata yang hampir lepas dari cangkangnya itu.
"Kalau tidak, ya sudah kita makan bersama. Bukankah berbagi itu indah? Ya tidak Clara?"
"Betul. Seratus untuk Papi." Jawab Clara yang kali ini kompak dengan Daniel.
Akhirnya dengan terpaksa Amara menikmati bubur miliknya bersama dengan Daniel dan juga Clara, hingga tak tersisa. Meski pada awalnya ia mengalah tidak menyuap sedikitpun bubur yang ada di tangannya. Semata-mata agar Ayah dan Anak ini kenyang.