Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Hanya dijadikan sampah



"Ikut makan," jawab Daniel cuek.


"Hah?"


Daniel kembali mengukir senyum di wajah tampannya melihat keterkejutan Amara yang menggemaskan.


"Makanlah! Saya hanya ingin melihat mu makan."


"Jangan Pak, saya malu! Saya gak bisa makan kalau di lihatin kaya gini." Tolak Amara dengan menundukkan wajahnya.


"Saya tidak suka di tolak dan menerima penolakan. Makanlah cepat! Atau makanan mu saya makan." Balas Daniel memaksa.


Akhirnya Amara yang sudah sangat lapar pun menyantap makanannya dengan terus dipandangi oleh Daniel. Meski merasa canggung Amara yang lapar tetap menyantap makanannya hingga habis.Usai makanannya habis. Amara menanti apa yang akan dibicarakan Daniel padanya.


Namun Daniel yang ditunggu-tunggu malah terlihat sibuk dengan ponselnya. Kini malah giliran Amara yang terus memperhatikan ketampanan atasannya yang mirip dengan Jaemin itu dari dekat.


"Jangan terus memandangi saya seperti itu! Nanti kamu jatuh cinta." Ucap Daniel yang masih sibuk membalas pesan dengan client-nya.


"Andai Bapak Jaemin, pasti saya sudah klepek-klepek sama Bapak." Sahut Amara tanpa sadar.


"Apa? Siapa itu Jaemin?" Pekik Daniel yang merasa tak suka dan kesal ada nama pria lain yang di sebut oleh Amara.


Pekikan suara Daniel ini berhasil menyadarkan Amara yang terbuai akan ketampanan atasannya itu.


"Hah? Kenapa Pak? Jaemin kenapa, Pak Daniel?" Amara malah balik bertanya dengan wajah linglung-nya.


Amara terus menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari Jaemin yang tak mungkin ada di ruangan kerjanya.


Daniel kembali tersenyum melihat ekspresi Amara yang bertambah lucu ketika linglung seperti ini.


Kamu lucu sekali. Batin Daniel


Amara menunduk kepalanya kemudian menyembunyikan kepalanya itu di lengannya, guna menutupi rasa malu atas tingkahnya yang bodoh barusan.


Daniel mengusap lembut kepala Amara yang tertunduk malu.


"Malam ini kita akan makan malam bersama merayakan kemenangan pitching kita pagi tadi, kamu harus ikut. Ok?" Ucap Daniel sebelum ia beranjak pergi meninggalkan ruangan kerja Amara.


Usai kepergian Daniel. Mba Tri datang menghampiri Amara.


"Lo ada hubungan khusus sama Pak Daniel?" Tanya Mba Tri dengan suara berbisik.


"Nggak ada Mba." Jawab Amara jujur, akan tetapi Mba Tri tak mempercayainya. Ia terus mendesak Amara membenarkan kecurigaannya.


"Jangan bohong?" desak Mba Tri dengan tatapannya yang mengintimidasi.


"Serius gak ada Mba. Kalau pun ada pasti Ara cerita sama Mba Tri. 'kan Mba Tri teman curhatnya Ara." Jawab Amara sekali lagi meyakinkan Mba Tri.


Mba Tri pun pergi menjauh setelah merasa yakin dengan jawaban yang diberikan Amara padanya.


Tepat pukul 16.30 semua orang bergegas merapikan berkas-berkas pekerjaan mereka di atas meja. Mereka sedang bersiap untuk pulang dan ikut dalam acara makan malam bersama dengan Pak Daniel.


"Mba Dias, Ara nebeng mobil Mba ya?"


"Emang kamu gak bawa motor?" Tanya Dias pada Amara.


"Lagi di bawa ke bengkel sama Thomas, Mba. Tadi mogok pas mau ke kampus." Jawab Amara.


Thomas adalah salah satu sahabat Amara di kampus. Yang selalu ada di saat Amara membutuhkan bantuan.


"Ok Ara. Kamu boleh ikut." Jawab Dias dengan senyum ramahnya.


Amara pun ikut dengan mobil Dias menuju sebuah restoran seafood cukup mewah di tengah kota, tentunya Mba Tri ikut serta bersama mereka. Di restoran Amara sangat lahap memakan lobster asam manis kesukaannya. Hal ini tak luput dari manik mata Daniel yang terus memandangi Amara.


Tatapan mata Daniel yang terus tertuju pada Amara, sangat mencuri perhatian karyawannya, terutama Siska sekertaris Daniel.


Pak Daniel sepertinya menyukai anak magang itu. Baguslah, dia bisa mengalihkan dunianya dari wanita sombong itu. Batin Siska.


Ketika makanan Amara hampir habis, secara kebetulan manik mata Amara menangkap sosok Rendra datang ke restoran itu dengan seorang gadis cantik.


Seketika nafsu makan Amara hilang, manik matanya terus mengikuti kemana Rendra dan gadis cantik itu melangkah.


Tak mau dikhianati kembali, Amara pun segera mengambil ponselnya di dalam tas. Ia segera menghubungi kekasihnya itu.


"Kamu dimana Mas?" Tanya Amara saat Rendra mengangkat panggilan teleponnya.


"Di restoran seafood." Jawab Rendra jujur.


"Sama siapa?" Tanya Amara lagi.


"Evelin, anak Tante Diandra." Jawab Rendra kembali jujur.


Amara mengenal Tante Diandra yang merupakan sahabat baik Ibunda Rendra, Tante Nadia. Namun ia tak sama sekali mengenal Evelin.


"Owhh... Ok." jawab Amara yang bingung ingin bicara apa lagi.


"Hemmm... Ya sudah kalau begitu. Aku mau makan dulu. Lagi pula pesanan ku sudah datang." Ucap Rendra yang kemudian menutup panggilan teleponnya.


Manik mata Amara yang terus terfokus pada Rendra dan Evelin pun tak luput dari pandangan mata Daniel.


Kenapa Amara terus melihat kedua orang itu? Apa dia mengenal mereka? Daniel bermonolog di dalam hatinya.


Mereka punya hubungan apa sih? Kenapa main suap-suapan segala? Kamu saja gak pernah nyuapin aku, Mas. Geram Amara di dalam hatinya.


Rendra dan Evelin lebih dahulu meninggalkan restoran dibandingkan Amara dan rekan kerjanya yang masih bercakap-cakap di meja makan.


Hati Amara mendidih ketika melihat Rendra menggandeng mesra tangan Evelin saat meninggalkan restoran. Amara yang termakan api cemburu pun akhirnya mengikuti langkah keduanya hingga keluar.


Tepat di parkiran motor yang persis berada di pinggir jalan raya, di mana Rendra tengah memakaikan helm untuk Evelin. Amara yang terbakar api cemburu langsung mendorong tubuh Evelin menjauh dari Rendra.


Brukkk...!


Evelin terjatuh ke aspal.


"Aduhhh....!" Rintih Evelin.


"AMARA! APA-APAAN KAMU?" pekik Rendra yang malah marah dengan apa yang dilakukan Amara.


Rendra segera membantu Evelin bangun tanpa memperdulikan perasaan Amara yang tengah marah, kesal dan cemburu padanya.


"Mas, kamu ngapain bantuin dia?"


Amara menarik lengan Rendra yang langsung dihempas kasar oleh Rendra. Rendra sangat tak menyukai tindakan kasar Amara yang mendorong Evelin hingga terjatuh seperti itu.


Plak!


Suara hempasan tangan Rendra yang sangat kuat itu begitu nyaring terdengar.


"Au..." Rintih Amara yang merasa sakit karena hempasan kuat tangan Hendra.


"Sakitkan? Begitu pula dengan Evelin. Kamu datang-datang main dorong dia sampai jatuh kaya gitu." Omel Rendra membela Evelin tanpa mendekat ataupun melihat tangan Amara yang memerah karena perbuatannya.


"Aku ngelakuin itu, karena aku ngeliat kamu..." Ucapan Amara terhenti karena Rendra berhasil memotong ucapannya.


"Lihat aku apa hah? Kamu pikir aku kaya mantan kamu yang sekarang jadi kakak ipar kamu Hah? Come on Amara, tidak semua pria seperti itu. Dan lagi kita masih pacaran belum menikah. Aku masih bebas untuk berteman dan jalan dengan siapapun. Tolong jangan over protektif. Aku gak suka dikekang seperti ini."


"Tapi Mas, kamu seharusnya bisa jaga perasaan aku dong, aku ini pacar kamu. Cewek mana yang terima cowoknya jalan mesra sama cewek lain Mas?" Sanggah Amara.


"Kenapa sih kamu tuh selalu menuntut aku harus ngerti perasaan kamu? Kamu aja gak bisa jadi apa yang aku mau, gak bisa ngerti perasaan aku gimana Kenapa harus aku terus- aku terus? Aku bosan di tuntut terus tau gak. Bosan. Aku bosan. Kamu ngertikan arti kata bosan? Balas Rendra yang selalu bisa membalikkan kata-kata Amara.


"Tapi Mas..."


"Gak ada tapi-tapi. Minggir aku mau pulang." Rendra menyingkirkan tubuh Amara dengan sedikit mendorongnya.


"Mas..." Panggil Amara yang terus mendekati Rendra ke motornya.


Rendra terus mengabaikan panggilan Amara dan melajukan motor gedenya meninggal Amara begitu saja. Amara terus memandangi motor Rendra yang semakin lama menjauh dari pandangan matanya.


"Hah...hahaha...cantik sekali jalan cinta gue. Sampah. Lagi-lagi gue jadi sampah." Ucap Amara yang kemudian menitikan air matanya.


Saat ia menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tiba-tiba sebuah tangan kekar meremas bahunya.