Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Kebaikan Tiara dan Thomas



"Gimana Ra diizinin gak sama sugar Daddy Lo?" Tanya Tiara sembari memainkan mata pada Amara.


Plakk!!


Amara memukul keras lengan Tiara sembari memicingkan kedua bola matanya.


"Lo kalau ngomong bisa nggak sih nggak ember? Kalau Thomas denger bisa ceramah tujuh hari tujuh malam dia." Bisik Amara yang tak hentinya menyakiti sahabat baiknya itu dengan mencengkram kuat lengan Tiara, hingga ia meringis kesakitan.


"Aaaauu...aduh ampun Ra, sakit banget Njirrr... Takut banget lo ama Thomas, tapi gak takut sama dosa." Rintih Tiara dengan celetukannya.


"Mulai deh jadi Bu Ustadzah." Amara melepaskan cengkraman tangannya dan terduduk lemas di depan kap mobil Tiara.


"Kenapa lo, Ra? Dilema? Hemmm... Dosa tuh emang nikmat Ra. Enak banget dan enteng banget ngelakuinnya. Terasa bahagia di sini tapi menderita di akhirat. Kita ini sahabat sudah lama. Sudah seperti saudara angkat. Lo bisa terbuka sama gue, tapi kenapa gak bisa terbuka sama Thomas. Thomas tuh tulus sayang sama kita, Ra. Sampai kapan lo mau rahasiain hubungan terlarang lo sama Bos lo itu dari Thomas? Lama-lama dia bakal curiga kalau lo terus diantar jemput sama Bos lo." Ucap Tiara sembari menasehati Amara.


Amara menghela nafasnya kasar, sembari menatap Thomas yang sedang berbincang dengan beberapa temannya yang lain.


"Thomas emang baik, sangat baik malah. Gue gak mau terus ngerepotin hidup dia dengan beban hidup gue. Dia punya kehidupan sendiri. Gue gak mau cuma gara-gara fokus sama masalah hidup gue yang gak pernah kelar, dia jadi kehilangan masa mudanya. Cowok seumuran dia itu biasanya lagi senang-senangnya berkelana mencari cinta sejati bukan bantuin sahabatnya terus-terusan, karena dia bukan pegawai dinas sosial, Tiara. Hubungan gue sama Bos gue, sejauh ini masih di batas wajar. Gue belum melakukan apapun yang merugikan diri gue sendiri." Balas Amara dengan alasannya panjang lebar.


"Hemmm, belum berarti akan. Dia pria dewasa, isi pikirannya dalam berhubungan pasti gak jauh dari s(e)ks. Gue sebagai sahabat hanya bisa ingetin lo untuk jaga diri lo, jaga kehormatan lo sebagai seorang wanita. Meski lo pernah melakukan kesalahan bukan berarti lo akan dengan bebas mengulanginya kembali Ra, apalagi dengan orang berbeda."


"Gue akan berusaha menjaganya dan jangan sampai terulang lagi, Tya." Sahut Amara tersenyum kaku.


"Gue gak yakin." Seloroh Tiara ketus sembari menatap sinis Amara.


"Jangan sinisin gue gitu dong Mama Tya! Gue sedih nih." Amara memeluk lengan Tiara dengan wajah pura-pura bersedihnya.


Amara kerap kali memanggil Tiara dengan sebutan mama karena Tiara sangat suka menceramahinya.


"Hah, malas deh gue. Pasti omongan gue ini cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Suram dah suram." Lanjut Tiara dengan suara cukup keras.


Ia mendorong tubuh Amara untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Melihat Tiara masuk ke dalam mobil bersama Amara. Beberapa teman wanita mereka yang ingin ikut mobil Tiara pun segera berlari ikut masuk ke dalam mobil Tiara, khawatir ditinggal oleh Tiara yang tak bersedia menunggu mereka.


Setelah semuanya masuk, mobil Tiara pun melaju ke salah satu mall besar di pusat kota Jakarta dengan di ikuti oleh mobil Thomas di belakangnya.


Mereka benar-benar pergi mencari kebaya untuk wisuda, begitu pula dengan para pria yang juga mencari setelan jas untuk wisuda.


Di sebuah toko baju kebaya dan Jas, Amara di temani dengan setia oleh Tiara. Ia terus mencari kebaya yang sesuai dengan budget yang di miliki olehnya..


"Betis gue udah berkonde. Dari tadi udah muter tiga lap ini. Nemu yang cocok gak sih lo, Ra?" Kesal Tiara yang memang memiliki karakter kurang sabar.


"Cocok dalam hal apa? Model mah lo tahu sendiri gue bukan tipe orang yang mengutamakan fashion."


"Harga deh harga. Di otak lo itu kan sangat menerapkan prinsip ekonomi konsumen banget."


"Nah itu dia, gue budget cuma dua ratus ribu, ini harga kebaya nolnya gak kira-kira pada berbaris kaya mau upacara." Jawab Amara sembari menunjukkan bandrol harga kebaya yang ada di tangannya.


"Huahahaha...." Tawa Tiara seketika pecah mendengar jawaban Amara.


"Ya udah pilih aja, nanti gue bayarin." Perintah Tiara pada Amara yang langsung menggelengkan kepalanya.


"Nggaklah. Kebaya cuma dipakai sehari udah gitu ditutup baju toga lagi, sayang-sayang. Gue beli online aja nanti. Kemarin gue lihat di keranjang kuning kebaya yang gue taksir harganya cuma seratus lima puluh ribu." Tolak Amara yang kini memilih duduk di sebuah kursi tunggu.


"Bener gak mau nih?" Tanya Tiara meyakinkan keputusan Amara.


"Huum..." jawab Amara sembari mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum khasnya yang memesona.


"Sudah?" Tanya Thomas yang baru saja menghampiri Amara dan Tiara.


"Gue sih udah tapi si Amara belum?" Jawab Tiara sembari bergelayut manja pada Thomas.


"Loh kenapa belum Ra? Cepat pilih jangan khawatirkan harga. Gue yang bayarin." Lagi-lagi Amara mendapatkan penawaran dibelikan kebaya oleh kedua Sabahat baiknya ini.


"Gak ah, pengen beli yang di keranjang kuning aja. Nanti kalau ternyata yang gue beli, barang yang datang jelek, baru gue minta beliin lo ya Tom?" Amara ikut-ikutan bergelayut manja di lengan Thomas.


"Ok, baiklah."


Setelah Thomas dan Tiara serta teman-temannya yang lain melakukan pembayaran. Mereka pun segera menuju restoran untuk pergi makan siang.


Namun saat berada di depan pintu masuk restoran, Amara ingat pesan Daniel untuk tiba sebelum jam makan siang. Ia pun memutuskan untuk take a way saja dan tak ikut makan bersama teman dan juga kedua sahabatnya.


"Kalau begitu pesankan sekalian untuk teman kerja lo. Gue traktir mereka hari ini." Ucap Thomas yang selalu loyal dan baik hati.


"Seriusan Tom?"


"Humm serius."


"Kalau banyak gitu pasti lama jadi pesanannya, gue jalan duluan nanti kirim pakai Abang Ojol ya. Gue harus absen jari sebelum jam makan siang soalnya."


"Ok. Mau buat berapa orang Ra?"


"Tiga puluh porsi Dimsum boleh gak Tom?"


"Boleh."


"Makasih Thomas ku, kalau gitu gue balik duluan ya?"


"Ya, hati-hati di jalan ya."


Sembari berjalan riang, Amara pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan juga temannya yang lain. Ia menuju perusahaan menggunakan jasa Ojek Online.


Sesampainya ke perusahaan ia langsung berlari melakukan absen jari di dalam lobby perusahaan. Ia melewati begitu saja seorang gadis kecil yang tengah duduk dengan setia menunggu kedatangan sang Ayah di anak tangga lobby perusahaan.


"Hah, akhirnya. Bisa absen tiga puluh menit sebelum makan siang." Ucap Amara sambil mengusap dadanya berulang kali.


Tak lama setelah melakukan absen, ponsel Amara pun berdering. Ia segera mengangkat panggilan ponselnya yang ternyata panggilan dari Tiara.


"Hallo Tya ada apa?"


"Waalaikumsalam...."


"Eh iya, Assalamualaikum Bu Ustadzah."


"Waalaikumsalam, gitu dong utamakan salam.


"Hehehe... Lupa. Ada apa Ty?


"Paket lo udah meluncur tiga puluh box dim sum, gak lebih dan gak kurang. Selamat berbagi Amara. Jangan lupa berdoa dan bersyukur."


"Ahhh cepat sekali? Oke deh. Berkah selalu Bu Ustadzah ku."


Meski yang membelinya adalah Thomas, namun juru bicara Thomas alias Tiaralah yang akan memberitahukan pada Amara, tentang pesanan tiga puluh box Dimsumnya yang sudah meluncur ke perusahaan Angkasa Jaya.


"Bu Ustadzah? Okelah, baik-baik dan jaga diri ya Amara." Balas Tiara dengan pesannya yang tak pernah lupa untuk mengingatkan Amara untuk menjaga dirinya.


"Hu-um baik Mama Tiara. Anak mu ini akan berusaha menjaga diri." sahut Amara riang.


Usai menutup panggilan teleponnya, Amara kembali keluar gedung perusahaan. Ia berdiri di muka pintu lobby menunggu Abang Ojol yang mengantarkan paket dimsum miliknya.


Sangat sedang sibuk menunggu sembari memainkan ponsel, tanpa sengaja manik mata Amara melihat gadis kecil yang masih menggunakan seragam sekolah duduk dengan muram di anak tangga lobby perusahaan.


Dengan rasa perduli yang tinggi, Amara menghampiri gadis kecil yang sibuk memainkan tali sepatunya.


"Hai, sedang apa di sini cantik? Kamu mau permen?" Sapa Amara pada gadis kecil yang kini tengah memperhatikan penampilannya dari atas hingga ke bawah. Seakan tengah menaruh rasa curiga pada Amara yang merupakan orang asing baginya.