
"Kenapa Bapak bersikap seperti ini pada saya?" Amara merengkuh lengan kekar Daniel yang memeluknya.
Tak dapat dipungkiri Amara merasa nyaman dalam dekapan Daniel.
"Karena saya telah tertarik kepada mu dari sejak awal kita bertemu. Tatapan bola mata mu memberikan kedamaian dan mampu mengalihkan duniaku." Jawab Daniel sembari membalikkan tubuh Amara menghadap dirinya.
"Owhh...karena itu rupanya."
"Ya, karena itu." Jawab Daniel dengan menganggukkan kepalanya sembari merapikan anak rambut Amara yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
Amara terus saja menatap manik mata Daniel yang juga tengah fokus menatap bola mata indah milik Amara. Keduanya terdiam saling menatap dalam satu sama lain. Merasakan gelenyar aneh yang kini menjalar di sanu bari mereka.
"Bukankah semua ini terasa sungguh aneh?" Tanya Amara dengan mata yang masih memandangi manik mata Daniel.
"Di mana letak keanehan yang kamu maksud Amara?" Tanya Daniel yang juga masih menatap bola mata indah Amara, dengan jemarinya yang tak henti membelai wajah gadis yang mampu memberikan rasa nyaman dan kedamaian pada dirinya.
"Cara Bapak bicara dan bersikap pada saya, seakan ingin terus melindungi saya dan ingin saya tetap berada di sisi Bapak. Tapi alasan Bapak hanya karena rasa tertarik pada saya, ini sungguh lucu dan tidak masuk akal bagi saya, Pak. Saya ini bukan siapa-siapa dan tak pantas mendapatkan semua kebaikan Bapak yang berlebihan seperti ini." Ungkap Amara.
Amara terus mencoba menghentikan pergerakan tangan Daniel di wajahnya dengan menyingkirkan tangan Daniel yang terus membelai wajahnya. Bukan karena tak suka diperlakukan seperti itu oleh Daniel. Namun Amara tidak tahan dengan sensasi geli yang begitu terasa dari sentuhan lembut jemari Daniel di wajahnya.
"Sudut pandang mu terlalu rumit, Amara. Berhentilah untuk terus melontarkan pertanyaan dan pernyataan tidak penting yang ada di isi kepala kamu pada saya. Kamu hanya perlu tetap di sisi saya dan saya akan memberikan perlindungan pada kamu. Tidak perduli siapapun kamu yang terpenting saya menginginkan kamu untuk tetap di sisi saya."
"Saya perlu banyak bertanya dan menyatakan sesuatu yang ada di otak saya, demi untuk mempercayai semua perkataan Bapak terhadap saya."
"Kamu tidak perlu terlalu percaya pada saya, kamu hanya perlu yakin akan ucapan saya, Amara. Kita akan saling melengkapi tanpa saling menyakiti dan menuntut satu sama lain." Pungkas Daniel.
Dengan gerakan cepat Daniel menarik tengkuk Amara. Ia mendaratkan kecupan manis di bibir Amara yang banyak bicara saat ini. Hanya sebuah kecupan hangat yang sama sekali tidak menuntut lebih.
"Kamu akan menjadi wanita saya mulai saat ini," cetus Daniel saat ia usai mengecup bibir Amara.
"Bagaimana jika saya menolak Pak?"
"Saya akan memaksa mu, karena saya tidak suka menerima penolakan." Tegas Daniel.
"Saya tidak suka dipaksa Pak. Bagaimana jika saya melarikan diri, pergi dan menghilang?"
"Saya akan mencari mu, mengejar mu sampai ke ujung dunia." Jawab Daniel yang terus berusaha meyakinkan Amara.
Seketika senyum terbit dibibir Amara yang masih terlihat pucat. Daniel yang melihat Amara tersenyum pun ikut pula tersenyum.
"Jadi?"
"Jadi apa Pak?"
"Jadilah wanita saya, Amara." Pinta Daniel kembali.
"Tapi saya memiliki kekasih Pak."
"Saya tidak perduli. Kamu masih muda Amara. Masih memiliki kesempatan untuk memilih yang terbaik dari yang baik. Saya siap untuk kamu duakan tapi saya tak akan siap untuk kamu tinggalkan." Jawab Daniel yang kembali membuat Amara tersenyum.
"Saya hanya ingin bekerja di perusahaan Bapak untuk bertahan hidup, saya tidak ingin bertingkah yang aneh-aneh Pak."
"Huum, teruslah bekerja di perusahaan saya dan bertahanlah hidup di sisi saya. Itu tidak aneh bukan?"
"Pemaksa."
"Ya, saya memang pemaksa."
Daniel kembali mengecup bibir Amara. Sejenak bibir mereka hanya saling menempel satu sama lain.
Daniel yang merasa Amara tak menolak sentuhannya, kini mulai memainkan bibirnya. Ia menyesap bibir mungil Amara yang terasa kenyal dan lembut.
Bibir Amara yang terasa berbeda membuat Daniel merasa candu. Ia terus menyesap dan mel(u)mat bibir Amara hingga Amara melenguh nikmat. Suara decapan bibir keduanya begitu merdu terdengar di kesunyian kamar apartemen Daniel.
Saat Daniel mulai menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ia pun membawa Amara ke atas ranjang. Namun suara deringan ponsel berhasil menghentikan pergulatan bibir mereka.
Drttt...drttt...
Suara dering ponsel yang dikhususkan untuk sang putri nyaring terdengar, memaksa Daniel harus melepaskan Amara yang berada di bawah kungkungannya. Karena Amara terus meminta Daniel mengangkat panggilan ponselnya.
"Angkatlah Pak, siapa tahu penting!"
"Arghhh...!" Daniel meninju ranjang tidurnya kesal.
Daniel bangkit dengan keterpaksaan dan rasa kesal, karena kesenangannya terusik. Ia berjalan menghampiri ponselnya yang tak berhenti berdering sejak tadi.
Owh... Clara, bisakah kau tidak menjadi pengacau kecil sayang? Rutuk Daniel di dalam hatinya.
Daniel segera mengambil ponsel kemudian keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan telepon dari putrinya itu.
Melihat Daniel keluar, Amara mulai mencari pakaiannya yang semalam ia kenakan. Beruntungnya pakaian itu masih terlihat bersih dan Daniel tidak meletakkannya di tempat yang basah ataupun mencampurnya dengan pakaian kotor.
Amara segera mengganti pakaiannya di kamar mandi dan bersiap pulang ke kosannya. Tak lama setelah Amara mengganti pakaiannya. Pintu kamar Daniel terbuka, muncul Daniel dari balik pintu dengan wajah sedikit kusut.
"Kamu mau kemana? Pakaian mu itu sudah kotor, kenapa dipakai lagi?" Tanya Daniel yang segera menghampiri Amara.
"Saya harus pulang ke kosan Pak, saya khawatir kedua orang tua saya akan datang mengunjungi saya ke kosan." Jawab Amara yang benar adanya.
Disetiap akhir pekan memang terkadang Tomo dan Riana mengunjungi Amara di kosan putri bungsunya ini. Sekedar menengok atau membawakan makanan kesukaan sang putri.
"Owh... Begitu ya. Baiklah, kalau begitu saya antar kamu. Tunggu saya ganti pakaian dulu!"
"Tidak perlu pak. Saya bisa pulang sendiri." Tolak Amara yang tak ingin merepotkan Daniel.
Seketika Amara mendapatkan tatapan tajam dari Daniel karena ia lupa jika atasannya ini sangat tak suka dengan penolakan.
"Bukankah sudah saya katakan, saya tidak suka mendapatkan penolakan Amara. Mulai hari ini kamu harus menuruti semua perkataan saya dan menerima semua bentuk pemberian dari saya."
"Iya Pak. Maafkan saya." Jawab Amara yang tersenyum kaku pada Daniel.
Jujur tatapan tajam Daniel sungguh menakutkan dan ia baru kali ini mendapatkan tatapan tajam Daniel ini.
Pagi itu Daniel mengantarkan Amara pulang ke kosannya. Amara sedikit terkejut ketika Daniel mengetahui di mana tempat kosan dirinya berada.
"Pak, kok Bapak tahu tempat kosan saya?"
"Tidak ada yang saya tidak tahu tentang kamu, terkecuali isi hati dan pikiran kamu." Jawab Daniel dengan mata yang fokus menatap lurus jalanan di depannya.
Mendengar jawaban Daniel ada sedikit rasa bahagia terukir di hati Amara. Ia merasa menjadi wanita yang istimewa saat ini.
Ya Tuhan, semoga ini bukan hanya sekedar mimpi. Jika dia jodoh yang terbaik untukku dekatkan dia selalu padaku. Sudahilah penderitaan ku dan izinkan aku merasakan kebahagiaan kembali.
Salahkah jika Amara berharap lebih pada Daniel yang datang menawarkan perlindungan? Salahkah jika suatu saat nanti Amara benar-benar jatuh cinta pada sosok Daniel yang sempurna sebagai seorang kekasih? Biarkanlah semua kisah ini berjalan atas kehendak Tuhan. Dan semoga Tuhan mentakdirkan kebahagiaan untuk Amara dan Daniel bersama selamanya.
"Kita sarapan dulu sebelum pulang ya? Di dekat kosan kamu ada tempat makan yang cukup enak dan viral. Kamu mau coba?" Ucap Daniel dari balik kemudi.
"Hemm iya saya ikut saja," jawab Amara yang terus memandangi wajah Daniel.
"Jangan memandangi saya seperti itu! Nanti kamu jatuh cinta."
"Hahahaha... Bapak narsis juga ya. Saya lihatin Bapak, karena merasa Bapak mirip banget sama Jaemin. Lagi pula saya bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta Pak. Pengalaman mengajarkan saya untuk tak semudah itu mencintai."
Dan saya akan membuatmu jatuh cinta pada saya Amara.
"Jaemin? Sepertinya saya sering sekali mendengar kamu menyebutkan nama itu. Sebenarnya siapa itu Jaemin? Bukankah pacar kamu itu Rendra?"
"Katanya Bapak tahu semua tentang saya, masa Jaemin saja Bapak gak tahu."
"Yang saya tahu itu Jaeman bukan Jaemin. Jaeman itu tukang bakso langganan kamu sama Tri kan? Kalau Jaemin siapa? Saya gak tahu."
Amara tertawa bahagia mendengar perkataan Daniel. Sebegitu paham pria dewasa ini tentang dirinya. Ia benar-benar merasa menjadikan orang spesial saat ini.