
Drastis semenjak hari Minggu sore itu. Hari-hari ketiga orang anak manusia kini dilanda kesedihan, kesunyian dan juga sepi. Mereka merasa bagian terindah dalam hidup mereka telah menghilang. Sirna tertempa badai keegoisan dari amarah yang tak dapat terkendalikan.
Ya, ketiga orang anak manusia itu adalah Daniel, Clara dan juga Amara. Ketiganya tak dapat menutupi kesedihan mereka. Kesedihan dan kesengsaraan hidup mereka ini adalah buntut dari keputusan untuk berpisah yang Daniel dan Amara ambil, saat meraka dalam kondisi emosi, Minggu sore itu.
Jika Daniel dan Clara tetap menjalani rutinitasnya. Namun tidak dengan Amara. Ia memilih untuk tidak keluar dari kamar kosnya, berhari-hari lamanya.
Apalagi ia mendapatkan kabar dari dua sahabatnya, jika acara wisuda mereka tiba-tiba di mundurkan dengan alasan tidak jelas, hingga tiga pekan ke depan.
Seolah-olah penundaan ini suatu kebetulan yang sangat menguntungkan bagi Amara, di mana suasana hatinya saat ini masih dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Andai saja Amara tahu, Daniel-lah dalang dari penundaan acara wisuda Amara. Entah apa yang akan Amara lakukan? Mungkin berterima kasih atau mungkin makin membenci sikap Daniel yang semena-mena.
Setelah bersama dengan Amara, apa yang dikatakan dari mulut Daniel tidak lagi sinkron dengan sikapnya. Di mana ia berkata tak akan lagi perduli pada Amara, namun kenyataannya. Ia terus memperhatikan, mengamati dari jauh dengan apa yang dilakukan Amara setelah hari itu. Bahkan ia banyak melakukan sesuatu yang menunjukkan betapa ia sangat perduli pada Amara.
Tepat, hari Kamis pagi ini. Amara memutuskan untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia keluar kamar kosnya guna mendatangi kamar kos Dias, kepala bagian di tempatnya bekerja yang merupakan perusahaan milik Daniel itu. Kamar kos Dias ini berada tepat di samping kamar kos Amara. Sungguh mudah bagi Amara untuk menemui Dias pagi ini.
Tok...tok...tok! Amara mengetuk pintu kamar kost Dias.
"Ya, tunggu." Pekik Dias dari dalam.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
"Amara?" Sapa Dias dengan manik mata yang mengamati wajah sembab Amara yang begitu nampak jelas ia lihat.
"Mba Dias, boleh titip ini untuk Pak Daniel?" Ucap Amara sembari memberikan amplop berisi kartu ATM dan kredit yang pernah Daniel berikan padanya.
Amara berniat mengembalikannya, karena hubungannya dan Daniel sudah berakhir. Lagi pula kartu itu sama sekali tak pernah ia pergunakan.
"Apa ini Amara?" Tanya Dias sembari menerima amplop yang berisikan dua kartu milik Daniel itu.
"Ini milik Pak Daniel, Mba." Jawab Amara.
"Kenapa kamu tidak memberikannya langsung saja Amara? Kenapa pula kamu tidak masuk bekerja tiga hari ini? Apa kalian sedang ada masalah? Sebenarnya banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di meja kerja kamu dan harus kamu selesaikan." Tanya Dias dengan hati-hati.
"Kami sudah berakhir, dia tidak mengizinkan saya untuk bekerja lagi di perusahaan miliknya. Maafkan saya Mba." Jawab Amara dengan suara dan bibir yang bergetar, sebuah tanda jika ia sedang menahan kesedihannya.
Dias sedikit terkejut dengan jawab yang Amara berikan. Tak dapat Dias berkata-kata untuk menanggapi apa yang baru saja ia dengar dari mulut Amara.
Dias benar-benar tak menyangka, sekepulangan mereka dari camping malah membuat hubungan mereka yang baru seumur jagung berakhir.
Melihat Dias hanya diam saja, Amara pun undur diri. Ia sadar diri jika atasannya ini sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Usai dari kamar Dias, Amara kembali lagi ke dalam kamarnya. Ia mengambil ponsel guna menghubungi Tiara.
"Hallo Assalamualaikum," sapa Tiara dari seberang sana.
"Waalaikumsalam, Bu Ustadzah." Balas Amara.
"Hahaha, amiin jadi Ustadzah. Ada apa Ra, nelepon pagi-pagi?"
"Anterin nengokin Mas Rendra, mau nggak?"
"Kapan?"
"Hari ini."
"Loh, emang Lo gak kerja?"
"Nggak, gue free hari ini."
"Ok, tunggu dengan sabar ya. Gue langsung on the way nih."
"Makasih Mama Tya."
"Sama-sama Nak Ara,"
"Assalamualaikum Mama,"
"Waalaikumsalam Nak Ara,"
Daniel yang sudah berada di perusahaan, tepatnya di ruang kerja Amara dan tengah duduk di kursi kerja gadis yang tak lagi ia claim sebagai wanitanya. Tersenyum sinis mendengar percakapan Amara dan Tiara yang ia sadap.
Ya, Daniel memang menyadap ponsel Amara. Apapun yang Amara lakukan dengan ponselnya, Daniel pasti dapat melihatnya dan juga mendengar ketika Amara melakukan panggilan dengan siapapun.
Lepas dariku, kamu ingin kembali lagi pada Rendra rupanya. Setelah mengetahui laki-laki itu berubah karena kakak iparmu. Kamu berhasil membuatku terluka Amara. Kamu anggap aku ini apa? Tidakkah kamu berpikir bagaimana perasaanku saat ini? Mungkin ini yang dirasakan Erdi saat kamu bersama pria lain. Batin Daniel.
Tiga puluh menit pun berlalu, Tiara sudah datang di tempat kos Amara. Jangan panggil Tiara, jika dia tidak melakukan interogasi terlebih dahulu pada sahabatnya yang selalu membuatnya khawatir.
"Yuk, kita cus!" Ajak Amara namun di tolak oleh Tiara.
Tiara menarik Amara untuk duduk kembali di ranjang tidurnya yang telah ia rapikan, namun terlihat berantakan karena ulah Tiara.
"Wait, cerita dulu. Kenapa muka sebengep ini. Habis nangis berapa hari lo hah? Sudah memenuhi berapa galon air mata lo itu, Ra?"
"Sialan lo. Gak sampai menuhin juga kali. Udah yuk kita cus! Nanti aja ceritanya pas kita di jalan." Tolak Amara.
Namun penolakan Amara sama sekali tidak mempan untuk Tiara yang duduk terpatri tanoa mau beranjak. Dengan terpaksa Amara pada akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya dari awal hingga akhir.
"Rendra terlalu pengecut, Ra. Dia tidak pantas untuk dipertahankan. Sebagai pria seharusnya dia tidak bersikap lembek. Bagaimana nanti rumah tangga kalian. Jika kepala rumah tangganya seperti ini. Dan Erdi, Kak ipar Lo itu brengs(e)k banget, rasanya pengen gue pites aja dia. Nah si Bos lu itu juga sok berkuasa banget. Sok jadi pahlawan kesiangan tau gak. Siapapun dia gak bisa dia asal berbuat sesuka hati kaya gitu, apapun alasannya gue gak bisa terima. berarti sekarang kedua orang tua lu udah gak ada di kota ini dong?"
"Iya, katanya rencananya ayah akan bolak-balik, karena beliau 'kan harus kerja."
"Terus acara wisuda lo gimana nanti?" Tanya Tiara yang malah membuat Amara menitikan air matanya.
"Gak tahu, mungkin gue akan datang sendiri tanpa mereka. Karena ayah dan ibu sudah bilang dari awal tidak bisa datang. Mereka nyuruh Kak Chandra, tapi lo tahu sendirikan, dia itu gimana sama gue." Jawab Amara sambil terisak tangis.
Tiara ikut menitikan air mata, andai dia diposisi Amara. Memiliki keluarga tapi seperti hidup sebatang kara di dunia ini. Mungkin ia akan lebih sedih dan tak setegar Amara dalam menghadapi kenyataan hidup sepahit ini.
"Lo jangan sedih, Ra. Ada gue, Thomas dan Mba Tri yang akan temenin Lo di acara wisuda lo nanti."
"Hu-um. Iya. Itu pasti. Mba Tri udah siap untuk datang sama ayangnya. Hehehe..." sahut Qmamra dengan tawa getirnya.
Setelah menghapus air mata yang membasahi pipi mereka. Mereka pun memutuskan untuk segera pergi menjenguk Rendra dan berencana untuk pergi bersenang-senang bersama-sama setelahnya.
Sementara itu di ruang kerjanya, Daniel hatinya merasa mulai terusik. Ia tak bisa membiarkan Amara pergi ke rumah sakit menjenguk Rendra. Ia tak mau hubungan Amara dan Rendra kembali harmonis.
Daniel sadari ia begitu egois. Semula ia yakin bisa tanpa Amara. Seperti ia yang bisa tanpa Tara. Namun pada kenyataannya Daniel tidak bisa tanpa Amara. Tapi betapa bodohnya Daniel yang masih saja tak bisa menyadari jika ia begitu mencintai Amara.
Saat ini bukannya bekerja, meski event besar yang ditanganinya sudah hampir di depan mata. Ia malah uring-uringan tidak jelas.
"Arghhh.... Amara!!!" Pekik Daniel hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru lantai ruang kerjanya.
Daniel menjambak rambutnya sendiri, saking frustrasinya ia membayangkan Amara dan Rendra kembali menjalin kasih bersama. Bermesraan, bahkan bercumbu di ruang rawat rumah sakit.
"Tidak. Kamu milikku. Kamu wanitaku." Pekik Daniel lagi.
Prankk!!! Daniel kembali memecahkan barang yang ada di atas mejanya.
Tok...tok...tok! Dias mengetuk pintu, meski ia ragu untuk masuk ke dalam, di mana seekor singa jantan tengah menggaung sejak tadi tanpa henti.
"Masuk!" Perintah Daniel yang berusaha tenang namun tidak bisa.
Dengan langkah ragu Dias masuk keruangan Daniel. Ia dapati tangan Daniel terus mengalirkan darah segar, dengan kaca meja yang sudah pecah dan isinya yang sudah bertebaran di atas lantai.
Sepertinya berat sekali masalah yang mereka hadapi hingga Pak Daniel sekacau ini.
"Pak, tangan Bapak?" Ucap Dias khawatir.
"Abaikan saja! Katakan ada apa kamu datang ke sini?" Sahut Daniel dengan penampilannya yang kacau.
"Saya hanya ingin memberikan titipan Amara untuk Bapak." Jawab Dias sembari meletakkan amplop putih yang berisi kartu ATM dan Kredit miliknya.
Daniel menatap nanar amplop yang sudah ia ketahui isinya. Senyum getir terbit di wajah tampan Duda beranak satu ini. Perlahan namun pasti Daniel mulai menitikkan air matanya.
"KELUAR!! KELUAR KAMU!!!" Pekik Daniel yang berhasil membuat Dias terlonjak kaget, karena ia tengah mengamati air mata yang terjun bebas dari kelopak mata tegas atasannya.
Buru-buru Dias keluar, dengan rasa takut menggelayuti dirinya.
"ARGHHH!!!" Pekik Daniel lagi.
Tara saja tidak pernah mengembalikan pemberianku, kenapa kamu mengembalikannya tanpa pernah menggunakannya? Kamu sudah menghina pemberian ku, Amara. Jahat sekali kamu padaku. Ucap Daniel yang kemudian kembali menangis.
Sementara di sekolah Clara. Clara nampak murung dan lebih murung dari biasanya. Ia bahkan memilih menyendiri, tak mau bersosialisasi dengan teman-temannya.
Gadis kecil ini kecewa dengan kenyataan, di mana ia mendengar jelas. Jika sang Papi mengakhiri hubungannya dengan Mami pengganti yang berhasil membuat hidupnya kembali berwarna.
Miss Rachel, sebagai wali kelas Clara sudah berusaha melakukan pendekatan pada Clara, yang tiba-tiba berubah tak seceria saat acara camping. Namun sayang, usahanya tak berhasil.
Pada akhirnya demi kebaikan Clara, Miss Rachel yang memiliki nomor ponsel Amara. Segera saja menghubungi Amara untuk membicarakan mengenai Clara.
"Selamat pagi, benar ini nomor telepon Nyonya Amara, Maminya Clara?" Sapa Miss Rachel dari sambungan teleponnya.
Sejenak Amara terdiam. Ia nampak bingung. Haruskah ia teruskan kebohongannya ketika hubungan dia dan Daniel sudah berakhir. Jika ia teruskan bagaimana nantinya, tapi jika ia hentikan bagaimana perasaan Clara yang tak tega ia sakiti hatinya.
"Ya, Miss Rachel." Sahut Amara pada akhirnya.
"Oh, saya kira saya sudah salah menghubungi nomor seseorang, Nyonya." ucap Miss Rachel.
"Tidak Miss. Anda tidak salah menghubungi seseorang."
Tapi salah terus menganggap diriku Mami sungguhan dari putri Pak Daniel. Tambah Amara di dalam hatinya.
"Nyonya Amara, apa ada waktu luang hari ini? Ada yang saya ingin bicarakan sangat penting mengenai Clara, putri Nyonya."
Bicara penting tentang Clara. Memang ada apa dengan anak itu? Batin Amara.
"Jam berapa ya Miss, kalau pagi ini saya tidak bisa karena ada sedikit urusan." Jawab Amara.
"Pukul 11 siang, bagaimana? Karena pada jam tersebut saya tidak ada jam mengajar."
"Ok baiklah, saya akan datang ke sekolah tepat pukul 11 siang."
Di ruang kerjanya Daniel tersenyum senang, Amara masih perduli dengan Clara. Meski ia tahu kepedulian Amara mungkin hanya didasari rasa kasihan pada sang putri.
Dengan bersemangat Daniel meninggalkan ruang kerjanya yang berantakan. Ia meminta kunci mobilnya pada sang supir pribadi yang sedikit terkejut dengan penampakan tangan Daniel yang berlumuran darah, yang hampir mengering dengan sendirinya.
"Siapa?" Tanya Tiara pada Amara yang berjalan di sampingnya.
"Gurunya anaknya Pak Daniel."
"Ngapain?"
"Dia mau ketemu, mau ngobrol tentang anaknya Pak Daniel, kayanya sih penting."
"Terus Lo mau pergi?"
"Anaknya gak salah, Tya."
"Ya, gue tahu itu. Tapi apa gak akan jadi masalah kalau Lo datang. Bukannya Bapaknya tuh anak gak mau Lo muncul lagi di kehidupannya."
Amara terdiam mendengar perkataan Tiara.
"Gue gak akan muncul di kehidupannya. Gue hanya memenuhi undangan Miss Rachel dan sebisa mungkin gak buat orang sekitar Clara curiga dengan kenyataan yang ada."
"Sepandai-pandainya Lo sembunyikan ini ban(g)kai, pasti bakal ketahuan juga Ra. Tapi terserah deh. Yang penting Lo jangan sampai kesandung dan terjebak dengan kebohongan anaknya Pak Daniel itu. Karena yang merugi diri Lo sendiri." Timpal Tiara.
Kedua menghentikan pembicaraan ketika mereka sudah sampai di depan pintu kamar rawat Rendra.
"Assalamualaikum." Sapa Amara dan Tiara pada Rendra yang tengah menikmati sarapan paginya di bantu sang Mami.
"Waalaikumsalam, eh Amara, Tiara. Aduh kamu tuh kemana saja. Nggak bisa dihubungin sama kita-kita. Nih lihat Rendra sampai sakit kurus kering, diabaikan kamu." Jawab Mami Rendra yang langsung saja memeluk Amara, kemudian Tiara.
Tidak bisa dihubungi? Perasaan aku gak pernah Nerima panggilan dari mereka dan gak blokir nomor mereka juga.
Tanpa tedeng aling-aling Mami Rendra langsung saja memberikan mangkuk berisi bubur yang masih utuh tak tersentuh.
Amara segera duduk di tepi ranjang pembaringan Rendra. Karena Mami Rendra yang menuntunnya.
"Tiara, ayo temenin Mami ke kantin! Mami udah lapar sekali ini belum masuk apa-apa." Ajak Mami Rendra seakan memberikan ruang dan waktu untuk Amara dan Rendra untuk bicara berdua.
Tiara yang paham segera saja mengikuti langkah Mami Rendra. Setelah keduanya pergi. Amara memandangi wajah pucat Rendra yang terus saja memandangi dirinya.
"Maafkan aku, Mas. Karena aku kamu jadi seperti ini." Ucap Amara dengan menundukkan kepalanya.
"Aku kira, kamu tak akan pernah datang ke sini, Ara."
"Aku tidak tahu kamu sakit, Mas."
"Huum, aku tahu, kamu tidak tahu keadaanku. Sudah ribuan kali bahkan sampai ratusan ribu kali aku mencoba menghubungi mu, untuk memberitahu keadaan ku. Tapi nomormu tak bisa aku hubungi. Seakan kamu sudah memblokir nomor ku dan keluargaku. Kamu marah padaku?"
"Tidak. Aku tidak marah. Maafkan aku yang tidak mengetahui posisi mu yang tertekan sejak awal. Makanlah Mas, cepatlah sembuh!"
Amara mengarahkan sesendok berisi bubur ke mulut Rendra yang masih enggan untuk memakan apapun. Karena ia terus menggeleng.
"Apa kamu sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rendra sembari menggenggam pergelangan tangan Amara, saat ia berhasil menelaah kata-kata Amara barusan.
"Iya aku sudah tahu. Sekarang Makanlah! Aku datang kesini untuk mu." Rayu Amara dan Rendra akhirnya membuka mulutnya.
Di cela pintu, seorang pria menatap penuh rasa kesal, marah dan cemburu. Ia dapati Amara tengah menyuapini Rendra.
Bayangan di mana Amara pernah menyuapini dirinya dan keteduhan yang ia rasakan saat bersama Amara mulai menggelayuti dirinya. Menyesal meninggalkan emas permatanya pun makin menghantui dirinya yang sudah hampir menggila.
Aku tidak rela kamu memakan makanan mu dari tangan wanita ku. Ingin sekali ku tenggelam dirimu saat ini. Sial sakit sekali hatiku melihat keromantisan kalian!! Batin pria itu yang tak lain adalah Daniel.
Semangkuk bubur pun tandas, masuk ke dalam perut Rendra.
"Apa ada obat yang harus kamu minum Mas?" Tanya Amara saat menyodorkan segelas air mineral untuk Rendra.
"Tidak ada. Obat aku hanya kamu datang. Itu saja cukup." Jawab Rendra dengan sesungging senyum pada Amara.
Amara memukul pelan lengan Rendra yang tengah menggombal padanya.
Tidak, jangan kembali padanya Amara. Jangan tersenyum sebahagia itu padanya. Aku tidak rela. Tidak!!! Batin Daniel yang ingin sekali menarik tangan Amara menjauh dari Rendra.
"Kok kamu jadi pintar menggombal sih Mas?"
"Masa baru bilang begitu saja sudah dibilang pintar gombal."
"Ya jelas. Biasanya kamu tuh gak begini."
"Memang biasanya aku gimana?" Tanya Rendra sembari membenarkan anak rambut Amara yang sedikit berantakan.
"Biasanya kamu galak dan jutek."
"Hahahaha... Itu dulu, sekarang tidak. Mungkin karena rindu berat aku jadi begini." Balas Rendra yang kembali menggombal.
Tidak hanya dia yang merindukan kamu, Amara. Aku juga merindukanmu. Batin Daniel menyahut dari cela pintu.
"Mulai deh gombal lagi." Ucap Amara sambil memukul pelan dada Rendra.
"Auuu..." Rintih Rendra berpura-pura. Berharap Amara lebih memperhatikannya.
"Maaf Mas, sakit ya?" Amara mengusap bagian dada Rendra yang baru saja ia pukul.
"Tidak sesakit saat kamu mengabaikan aku, Ara." Jawab Rendra yang menyadarkan rasa bersalah di dalam diri Amara.
Ya, rasa bersalah atas ketidak tahuannya, dan rasa bersalah telah mengkhianati perasaan Rendra yang tulus mencintainya.
"Maafkan aku Mas, maafkan atas kebodohan ku. Aku sepertinya merasa tak pantas untuk kamu cintai lagi. Kamu terlalu baik dan rela menderita karena aku." Sahut Amara yang bersedih.
"Hustt, jangan bicara seperti itu! Aku yang terlalu lemah dan tak memiliki keberanian untuk melawan. Hingga aku seperti ini. Dan ini bukan salah mu Amara. Ini adalah kesalahan ku." Balas Rendra yang menyadari kekurangannya.
Keduanya terdiam sesaat, Rendra membiarkan Amara larut dalam kesedihannya. Lalu tak lama kemudian Rendra kembali membuka pembicaraan dengan Amara, saat ia dapati Amara jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Kamu selama ini kemana saja hum? Gimana kuliah dan pekerjaan kamu?"
"Baik, semuanya berjalan baik." Bohong Amara.
Ia tak ingin Rendra mengetahui jika ia tak lagi bekerja. Semata-mata tak ingin dirinya membebani Rendra yang pasti akan menawarkan bantuan yang membuatnya terikat jauh dengan Rendra.
"Bagaimana tempat kos kamu? Apa kamu betah? Kalau kamu tidak betah, kamu bisa pakai salah satu unit apartemen yang aku sewakan?"
"Tidak usah, Mas. Aku sangat nyaman dengan tempat kosan aku sekarang. Kamu gak usah repot-repot seperti itu." Tolak Amara.
Ternyata kamu wanita yang tak mudah untuk menerima pemberian orang lain Amara. Termasuk kekasih mu sendiri. Pantas saja tak pernah aku dapati tagihan dari kartu kredit yang aku berikan ataupun pendebetan dari rekening kartu ATM yang juga aku berikan pada mu.
Daniel segera bersembunyi ketika ia melihat dua orang wanita berjalan mendekat ke arahnya. Ya, dua orang wanita itu adalah Mami Rendra dan juga Tiara yang baru tiba dari kantin.
Tepat pukul 10, Amara pamit undur diri, ia beralasan akan pergi bekerja, namun pada kenyataannya ia ingin pergi ke sekolah putri Daniel.
Melihat Amara dan Tiara pergi, Daniel pun mengikuti langkah keduanya.
"Sudah bicara sama dia dengan maksud dan tujuan Lo Ra?"
"Belum, dia masih sakit Ty, gue gak tega."
"Ya, juga. Tunggu deh sampai dia pulang dari rumah sakit. By the way, gue cuma bisa drop Lo di sekolah anaknya Pak Daniel ya, Lo tahukan Thomas kaya apa? Daripada dia curiga dan tahu semuanya. Mending Lo gue tinggal dan Gue akan tunggu Lo di cafe, ok?"
"Rebes Bu Ustadzah."
"Ustadzah gak nongkrong di Cafe cuy. Kasih gue sebutan yang pantesan dikit dong hahahaha...."
"Ya-ya."