
Suasana senja di sore itu begitu cerah, namun tak secerah suasana hati Daniel dan Amara. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan sang mantan istri, Daniel makin bersikap dingin pada Amara.
Amara yang tidak tahu apa yang membuat Daniel berubah terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa penyebab Bosnya ini berubah selalu menghantui pikiran di dalam dirinya selama perjalanan. Apakah perubahan sikap Daniel ini karena ada sebuah kesalahan yang tanpa sadar telah ia lakukan? Pikirannya.
Selama perjalanan pulang, Amara yang duduk di kursi belakang bersama Clara terus terfokus menatap Daniel dari kaca spion tengah mobil. Ia terus mengamati guratan amarah yang terpendam, yang tergambar jelas di wajah Daniel.
Saya salah apa Pak? Katakanlah saya salah apa? Tolong jangan diamkan saya seperti ini! Lebih baik Bapak menghardik saya daripada mendiamkan saya seperti ini. Sungguh ini sangat menyiksa saya.
Daniel sendiri sadar, jika Amara terus saja memandanginya dari kursi belakang. Namun hatinya yang sedang tak baik-baik saja, dan keengganan dirinya untu berbagi masalah dengan Amara. Membuat dirinya terpaksa membangun benteng pertahanan yang cukup tinggi dengan Amara.
Hal ini semata-mata ia lakukan, agar emosinya tak meledak-ledak pada orang yang tak ingin ia sakiti. Meski pada kenyataannya, sikapnya yang seperti ini sudah menyakiti hati Amara yang terlalu sensitif.
Ya, perasaan hati Amara terlalu sensitif, karena ia terlalu sering disakiti dan dikecewakan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Wajar saja jika hati Amara setipis dan serapuh selembar tisue.
Sementara Clara yang sadar akan perubahan Papinya dan juga Amara, yang disebabkan kemunculan sang ibu kandungnya sendiri di acara Camping sekolahnya, memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu akan hal ini.
Sang Hyang Adi. Siapa yang harus aku percaya, Papi atau Ibu kandungku sendiri? Kak Amara tolong tetaplah bersama ku. Kuatkan aku dari permasalahan orang dewasa yang selama ini telah memudarkan kebahagiaan ku. Batin Clara yang pura-pura tertidur di dalam pangkuan Amara.
Gadis ini menangis dalam diam di atas pangkuan Amara selama dalam perjalanan pulang.
Satu jam berlalu, setelah Daniel berhasil membelah kemacetan jalanan menuju kota. Mereka pun tiba. Gadis kecil yang semula berpura-pura tertidur. Kini benar-benar telah terlelap di pangkuan Amara.
"Kita sudah sampai." Ucap Daniel datar dari balik kemudinya, saat mobilnya telah berhenti di depan pintu gerbang tempat kos Amara.
Tanpa menanggapi ucapan Daniel, dengan perlahan Amara memindahkan kepala Clara yang menjadikan pahanya sebagai tumpuan kepala gadis kecil ini. Ia menggantikan tumpuan kepala Clara dengan sebuah bantal yang memang sudah tersedia di mobil Daniel.
Daniel melirik dari kaca spion, bagaimana Amara memperlakukan putrinya dengan baik. Teduh, itulah yang Daniel rasakan ketika melihat sikap Amara pada Clara.
Usai memindahkan posisi tidur Clara. Amara keluar dari mobil dan membuka pintu bagasi yang sudah tak terkunci, tanpa sosok Daniel yang ikut keluar untuk membantunya seperti sebelumnya. Daniel benar-benar sudah berubah, pikir Amara saat ini.
Dengan sedikit merasakan sesak di dada atas ketidak pedulian dan sikap acuh Daniel padanya. Amara menurunkan sebuah tas miliknya yang cukup berat karena terdapat banyak pakaian basah di dalam tasnya.
Saat ia kesulitan mengangkat tasnya. Sebuah tangan kekar yang ia harap tangan Daniel, datang membantunya.
Mata Amara membola seketika. Ketika ia melihat pemilik tangan kekar yang membantunya adalah milik seseorang yang tak ia harapkan.
"Aa?" Cicit Amara.
Mata Amara makin membola ketika ia mendapati dengan jelas kondisi wajah Erdi yang terlihat babak belur. Meski saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Kamu darimana? Beginikah kelakuan mu setelah tinggal di luar rumah, terbebas dari pengawasan ayah dan ibu?"
Pertanyaan Erdi ini sungguh merendahkan harga diri Amara. Amara berdecih lalu tersenyum sinis ke arah Erdi.
"Terima kasih atas bantuannya, A. Kemanapun aku pergi dan bagaimana kelakuan ku saat ini, itu bukan urusan Aa." Ucap Amara yang kemudian merebut tasnya dari tangan Erdi.
Ia menutup kap bagasi mobil Daniel dan segera beranjak pergi. Namun baru membalikkan tubuhnya, Erdi langsung saja menarik tubuh Amara hingga tubuh Amara terhuyung dan terjatuh ke dalam pelukannya.
"Aa masih mencintai kamu! Aa tidak rela kamu dimiliki oleh siapapun. Meskipun orang yang saat ini bersama mu lebih berkuasa dari pada si bocah ingusan itu. Aa tidak perduli. Dia berhasil menjauhkan Aa dari mu, tapi Aa akan membuat kedua orang tuamu jauh dari mu karena tindakannya terhadap Aa. Ingatlah Amara betapa Novita sangat bergantung pada Ayah dan juga Ibu mu."
"Lepas, apa maksud Aa? Amara tidak paham." Tanya Amara yang tak mengerti arah pembicaraan Erdi.
Amara terus memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Erdi.
"Hahaha... Apa dia tidak menceritakan apa yang dia perbuat pada Aa mu ini Amara? Apa dia juga tidak memberitahukan kabar kekasih mu yang malang itu saat ini hum? Egois sekali dia rupanya." Jawab Erdi yang malah membalikkan pertanyaan pada Amara.
"Pintalah dia untuk menjelaskan semua yang telah ia ketahui tentang bocah ingusan itu, dan pintalah ia untuk menceritakan apa yang dilakukan oleh Kakak bocah ingusan itu pada Aa dan apa pula yang ia lakukan pada Aa mu ini, hingga akan membuat mu berjauhan dengan kedua orang tuamu yang sangat kamu sayangi, Amara?" Bisik Erdi yang begitu menggelikan di telinga Amara.
"LEPAS!!" Pekik Amara dan meronta sekuat tenaga. Ia sangat jijik dengan bagaimana cara Erdi berbisik di telinganya.
Suara Amara yang begitu nyaring, akhirnya terdengar oleh Daniel yang tengah memainkan ponsel sembari menunggu Amara mengambil tasnya di bagasi.
Daniel segera melihat kondisi belakang mobil dari kaca spion tengah mobilnya, ia dapati Amara tengah di peluk oleh Erdi, pria yang menjadi musuh bebuyutan Daniel sejak malam di club waktu itu.
Naik pitam, itulah yang terjadi saat ini. Suasana hati yang tak baik-baik saja karena kehadiran Hanna, di tambah lagi kemunculan Erdi yang menyentuh wanitanya. Berhasil membuat emosi yang sejak kemarin tertahan, pecah. Daniel segera keluar dari mobil dan menghampiri keduanya dengan emosi yang membara.
Cece, adik Erdi yang ikut bersama Erdi ke tempat in the kost Amara, yang kebetulan saat ini baru saja keluar dari toilet scurity, setelah sebelumnya ia izin untuk buang air kecil pada scurity in the kos Amara. Segera saja berlari, ketika ia menyadari sosok pria yang keluar dari mobil, di mana Amara dan Erdi berdiri tepat dibelakang mobil pria tersebut, terlihat begitu marah.
"Brengs(e)k sudah ku bilang jauhi Amara!" ucap Daniel dengan suara yang lantang.
Ia menarik kasar tubuh Erdi menjauh dari Amara. Kemudian Daniel mengayunkan tangan kanannya ke arah Erdi.
Bughh!!! Suara pukulan keras terdengar.
Tak lama berselang suara orang terjatuh pun ikut terdengar. Bruk!!
Suara orang terjatuh itu berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka ikut memusatkan perhatian dan pandangan mata mereka pada seorang gadis yang kini terduduk sembari menundukkan pandangannya .
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah adik perempuan Erdi, yang berusaha melindungi Erdi dari pukulan mematikan Daniel, hingga membuatnya terjatuh tersungkur ke aspal.
"Cece!" Pekik Amara dan Erdi bersamaan.
Kekompakan keduanya memanggil adik perempuan Erdi ini, makin membuat hati Daniel makin memanas.
Amara dan Erdi segera membantu Cece yang tersungkur.
"Aku tidak apa-apa Amara, kamu tidak perlu membantu ku." ucap Cece berbohong.
Meski darah terus mengalir deras dari lubang hidung gadis yang tak kalah cantik dengan Amara ini.
Daniel yang melihat posisi Amara begitu dekat dengan Erdi pun segera menarik tubuh Amara menjauh dari keduanya.
"Jauhi mereka! Bisakah kamu tidak bersikap terlalu baik? Aku benci sekali dengan kebiasaan mu yang terlalu baik ini." ucap Daniel saat menarik tubuh Amara.
Sedang Amara hanya diam tak menanggapi, manik matanya terus terpusat pada Cece.
"Aa, kenapa melakukan kesalahan lagi? Aa bilang hanya mau pamit. Kenapa seperti ini Aa? Apa lagi yang Aa perbuat? Sudah cukup Aa! Jangan usik lagi Amara, dia berhak bahagia!" Cecar Cece pada Erdi dengan suara bergetar. Rasa sedih, sakit, dan kecewa bercampur menjadi satu.
Erdi hanya diam. Meski dalam hatinya menyesali dan merutuki kesalahannya, hingga membuat adiknya terluka seperti saat ini.
Sialan. Kau sudah membuat adikku terluka. suatu saat nanti aku akan membalas apa yang kau perbuat saat ini. Dan sampai kapanpun aku tak akan membiarkan dirimu memiliki Amara ku, meski kau sudah berhasil membuang ku ke tempat terpencil di kota kelahiran ku.
Saat penglihatan mata Cece yang semula kabur dan berbayang, kini sudah dapat terfokus kembali. Segera saja Cece melihat ke arah Daniel, pria yang telah memukul dirinya. Pria yang masih diam berdiri di posisinya semula, masih dengan sejuta emosi yang membara di dalam dadanya.
Pak Daniel? Benarkah itu Pak Daniel? Kenapa Amara bisa bersama dengan Pak Daniel? Apa Bos Amara yang Aa maksud adalah Pak Daniel? Oh Tidak.. tidak. Tuhan tolong jangan sakiti Amara lagi, cukupkan Pak Rendra saja yang menjadi jodohnya! Pak Daniel sangat mencintai Tara, kakak perempuan Hera, sahabatku. Aku tahu hubungan mereka tengah bermasalah. Tolong jangan jadikan gadis baik hati ini sebagai pelampiasan dari rasa sakit pria yang tak mencintanya ini, Tuhan. Cicit Cece dalam hatinya.
Seketika ia langsung mengalihkan pandangan matanya yang terlihat sedih dan tak percayanya pada Amara. Yang terlihat masih mengkhawatirkan kondisi dirinya.
Jangan khawatir aku, Amara. Aku tahu kamu sedang mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja. Yang perlu kamu khawatirkan adalah dirimu sendiri. Kenapa orang sebaik dirimu, selalu saja mudah dibodohi dan dimanfaatkan banyak orang disekitar mu? Ya, Tuhan. Kenapa kau ciptakan takdir Mu seperti ini padanya? Entah bagaimana jadinya nasib mu, Amara. Ketika Tara sudah kembali ke negara ini, terlebih kembali menjalin kasih dengan mantan calon suaminya yang tengah menggenggam tanganmu. Batin Cece lagi.