Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Berani melawan



Kini Amara sudah berada di sebuah ruangan konseling antara wali murid dan juga wali kelas. Ia duduk berhadapan dengan Miss Rachel yang terus mengamati guratan wajah Amara, sejak kedatangannya.


Sepertinya keluarga Clara memang sedang menghadapi sebuah masalah. Wajah Nyonya Amara saja masih terlihat jelas, jika ia sudah menghabiskan banyak waktunya untuk menangis. Mungkin permasalahan keluarga mereka karena kehadiran Nyonya Hanna di acara Camping kemarin. Tebak Miss Rachel hampir mendekati benar.


Miss Rachel memang mengenal Hanna. Karena Hanna terus berusaha untuk bertemu dengan putrinya, ia mendekati Miss Rachel dan guru-guru lainnya, tanpa sepengetahuan Daniel dan keluarganya.


Tak akan ada seorang ibu yang sanggup untuk dipisahkan oleh anak kandungnya sendiri. Sehari saja rasanya sudah berabad-abad. Apalagi Hanna yang sudah merasakan bertahun-tahun terpisah dan dipisahkan dengan anaknya sendiri secara paksa oleh Daniel dan juga keluarganya.


Meskipun Hanna selalu tidak pernah berhasil untuk menemui Clara dari dekat. Namun Hanna tetap berusaha mendekatkan diri dengan memberikan perhatian kecil melalui guru-guru yang pernah menjadi wali kelasnya seperti Miss Rachel saat ini. Untungnya guru-guru lain dan juga Miss Rachel mau bermurah hati membantu seorang ibu yang tidak beruntung seperti Hanna.


Dengan tersenyum kaku pada Miss Rachel yang terus memandangi wajahnya, Amara memilih lebih dahulu membuka pembicaraan diantara mereka.


"Maaf Miss, bisa kita mulai saja pembicaraan penting mengenai Clara, karena setelah ini saya masih ada sesuatu yang harus saya kerjakan."


Dengan membalas senyum Amara terlebih dahulu, Miss Rachel pun memulai topik pembicaraan mereka mengenai Clara.


"Oh, maaf. Jika panggilan saya ini mengganggu waktu Anda, Nyonya. Jadi begini saya berhatikan beberapa hari ini setelah acara Camping, Clara terlihat muram dan mengucilkan diri. Dia sama sekali tidak mau berbaur ataupun bersosialisasi dengan temannya. Jika Clara sedang tidak enak badan, sebaiknya Clara diistirahatkan di rumah saja Nyonya. Tidak perlu dipaksakan untuk pergi ke sekolah."


Dan bila ada permasalahan keluarga cepat di selesaikan, kasihan anak sekecil Clara harus terkena dampak keegoisan suami Anda. Tambah Miss Rachel di dalam hatinya. Ia tak berani mengatakan hal ini secara gamblang pada Amara, karena merasa tidak elok untuk mencampuri urusan keluarga dari wali muridnya.


"Saya rasa anak saya baik-baik saja Miss. Mungkin nanti saya akan tanyakan penyebab apa yang membuatnya seperti ini." Tanggap Amara diakhiri dengan senyum kakunya.


Heh, dia terus mengamati wajah sembabku. Seharusnya tadi aku tolak saja ajakan bertemunya hari ini. Pasti dia sudah menebak dan mengait-ngaitkan kondisi Clara dan wajah sembab ku ini. Batin Amara.


"Itu sangat baik Nyonya, membangun komunikasi dengan anak adalah hal yang paling utama. apalagi bagi ibu sambung seperti Nyonya. Maaf jika saya lancang."


Sejenak Amara terdiam dalam lamunannya seusai mendengar perkataan Miss Rachel. Tentang ibu sambung.


Ibu sambung? Anda salah Miss, saya ini hanya ibu pura-pura, bukan ibu sambung Clara. Rasanya ngilu sekali hati ini, Miss bicara seperti ini pada saya. Apalagi jika saya mengingat bagaimana sikap Papinya Clara pada saya disaat pertemuan terakhir kami. Pedih sekali, dia meninggalkan saya di saat saya sangat membutuhkan dia. Sahut Amara di dalam hatinya.


Ia jadi melamun, mengingat kejadian hari Minggu kelam itu, hingga tanpa sadar pintu ruangan konseling terbuka, dan masuklah seorang pria tampan yang membuat Miss Rachel terkejut akan kedatangannya yang tidak ia undang.


"Apa aku datang terlambat sayang?" Tanya pria tampan itu yang tak lain adalah Daniel.


Amara mengabaikan pertanyaan sekaligus sapaan Daniel, karena ia terlalu larut dalam lamunannya.


Melihat Amara melamun, Daniel mengambil kesempatan, ia langsung saja mengecup pucuk kepala Amara tanpa permisi, hingga Amara membulatkan kedua bola matanya, karena terkejut.


Amara melirik tajam ke arah Daniel yang bersiap untuk duduk dengan melepaskan kancing jas yang ia kenakan.


Bagaimana ia bisa ada di sini? Apa Miss Rachel mengundangnya juga? Ah, seharusnya aku memang tidak harus datang tadi. Aku belum siap bertemu dengannya lagi. Apalagi kondisi wajahku sembab seperti ini. Sesal Amara di dalam hatinya.


Tadi dia bilang apa? Sayang? Hahaha... Apa dia mambuk saat ini, memanggil ku dengan sebutan sayang? Aku yakin dia sedang berakting saat ini lagi. Hahaha... drama lagi- drama lagi. Mana sudi ia memanggilku dengan sebutan sayang dengan kesungguhan hatinya. Aku ini hanya seorang jal(a)Ng miskin di matanya, yang ia claim sebagai wanitanya, agar bisa dijamah olehnya sesuka hati dan dapat ditukar bahkan dibeli dengan uangnya. Sambung Amara lagi di dalam hatinya.


"Sayang, kamu kenapa diam saja? Kamu sakit humm?" Tanya Daniel yang memainkan perannya sebagai suami yang sangat baik dan perhatian.


"Tidak," jawab Amara ketus.


"Kenapa kamu bisa di panggil ke sini, ada apa dengan anak kita?" Tanya Daniel sembari memperhatikan wajah sembab Amara yang masih jelas terlihat.


Kamu menangisi aku, Rendra atau Kakak ipar mu itu heh? Wajahmu sampai sembab seperti ini.


Apa dia bilang anak kita. Clara itu anak mu Pak, bukan anak saya. Saya masih singel ya. Sahut Amara di dalam hatinya.


Ia sama sekali tidak mau melihat kearah Daniel yang ia ketahui terus saja memandangi wajahnya.


"Tanyakan saja pada Miss Rachel, kenapa saya di panggil ke sini!" Jawab Amara masih dengan nada ketus.


Miss Rachel hanya tersenyum kaku, melihat drama perang dingin antara Amara dan Daniel yang ia kira adalah pasangan suami istri.


Kamu masih marah padaku rupanya hum? Berani sekali kamu bicara seketus ini padaku apalagi di depan guru anakku. Sepertinya kamu ingin seluruh dunia tahu kita sedang bertengkar dan bermasalah. Ok baik, jika itu mau mu.


Alih-alih bertanya pada Miss Rachel, Daniel malah meminta izin untuk membawa putrinya pulang dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Miss Rachel, apa boleh saya bawa Clara pulang lebih awal? Sepertinya Maminya masih ngambek dengan saya, dan kami perlu quality time bersama untuk memperbaiki hubungan kami." Ucap Daniel yang seketika membuat bola mata Amara membola menatap Daniel.


Omongan ngawur apa yang di ucapkan Duda bengek ini hah? Ngambek? Siapa yang ngambek? Dia mau banget masalah pribadi diumbar ke semua orang. Ya salam. Bengek-bengek deh ini. Umpat Amara di dalam hatinya.


Daniel terus mengamati ekspresi kesal Amara. Ia tahu betul Amara tengah mengumpati dirinya di dalam hati. Dia tidak marah, ia tahu dia salah. Jujur Daniel menyesal dan ingin menarik kata-katanya tentang perpisahan mereka kemarin.


"Tentu saja Pak Daniel. Itu yang saya harapkan. Semoga dengan melewati waktu bersama,Clara dapat ceria kembali. Kalau begitu mari saya antar ke kelas untuk menjemput Clara!" Ajak Miss Rachel.


Daniel tersenyum mendapati penolakan Amara.


Arghhh, aku merasa kembali ABG saat menghadapi sikap merajuk mu ini Amara.


Sesampainya di dekat kelas Clara. Baik Daniel dan Amara langsung saja memandangi Clara yang sedang sibuk menggambar di sebuah canvas. Rupanya saat ini Clara sedang ada kelas seni. Gadis kecil itu sedang sibuk menggambar dirinya, Daniel dan Amara saat di acara Camping pada beberapa hari yang lalu.


Ada rasa bahagia dan sedih yang gadis itu rasakan ketika ia menggambar dirinya bersama Daniel dan juga Amara. Bahkan sesekali ia menitikan air mata tanpa teman-temannya sadari.


Setelah Miss Rachel membuka pintu dan mempersilahkan Amara dan Daniel masuk. Seluruh mata siswa dan siswi di kelas Clara memandangi mereka termasuk Clara tentunya.


"MAMI!!!" Pekik Clara ketika ia menyadari sosok yang datang ke kelasnya.


Clara langsung saja berlari menghampiri Amara dan menjatuhkan tubuh mungilnya di dalam pelukan Amara.


"I Miss you Mami, jangan pergi dan tinggalkan aku, please." Ucap Clara sembari menangis di dalam pelukannya.


Amara tidak menjawab, ia hanya membelai Clara dengan penuh kasih sayang. Sementara Daniel segera ke meja putrinya. Merapikan buku-buku dan alat tulis putrinya.


"Ayo kita pulang!" Ajak Daniel sembari menggendong tas ransel putrinya.


"Pulang?" Tanya Clara yang segera mengurai pelukannya.


"Ya, kita akan pulang. Kamu mau pulang bersama Mami mu 'kan?"


Clara dengan cepat mengangguk.


"Kalau begitu pamitlah pada kedua guru mu itu sayang! Setelah itu kita pulang." Pinta Daniel pada putrinya.


Clara yang senang langsung saja menurut. Usai berpamitan mereka pun keluar dari kelas. Clara terlihat sangat bahagia. Awan gelap sepertinya telah pergi dan sirna dari dirinya saat ini.


Saat berjalan bersama, Daniel terus berusaha mendekatkan diri pada Amara. Ia berusaha menggandeng bahkan merangkul tubuh Amara. Namun usahanya selalu di tepis oleh Amara, yang enggan di sentuh oleh Daniel.


Sesampainya di mobil. Daniel membukakan pintu belakang untuk putrinya masuk. Amara membiarkan Clara masuk ke dalam mobil sedan mewah milik Daniel itu tanpa ia ikut serta ke dalam mobil itu.


"Bye Clara, sehat selalu ya." Ucap Amara sembari melambaikan tangan.


"Mami, kenapa tidak ikut?" Tanya Clara yang kembali bersedih.


"Tidak. Mami ada janji dengan sahabat Mami hari ini. Lain kali kita ketemu lagi ya." Jawab Amara.


"Kalau begitu kenapa aku harus pulang, tadi Papi bilang kita akan pulang bersama Mih?" Tanya Clara dengan mata yang mulai mengembun.


"Tanyakan pada Papi mu, sayang. Kenapa kamu diminta untuk pulang lebih dahulu? Mami sudah ada janji bertemu dengan sahabat Mami. Maafkan Mami ya?" Jawab Amara.


Clara hanya bisa mengangguk kecewa.


Saat ia ingin bertanya dengan Daniel. Tiba-tiba Daniel yang sejak tadi diam, segera menutup pintu mobil dan menguncinya dari luar. Kemudian ia menarik tubuh Amara sedikit menjauh dari putrinya.


"Kamu maunya apa sebenarnya hah?" Tanya Daniel.


"Bapak yang maunya apa? Tidak jelas!" Jawab Amara lebih berani dari sebelumnya.


Tidak ada alasan untuk tidak berani melawan Daniel saat ini. Karena ia sudah tidak bekerja dan tidak ada sangkut paut apapun dengan Daniel.


"Apa kamu bilang saya tidak jelas? Berani kamu bicara seperti itu sama saya?"


"Jelas berani, memangnya Bapak siapa? Atasan saya? Bos Saya? Bapak saya? Kakak saya? Pacar saya? Atau suami saya? Bukan 'kan? Bapak ini cuma orang asing! Orang asing!" Jawab Amara dengan menekankan kata orang asing pada Daniel.


Seketika kata orang asing yang Daniel dengar. Membuatnya merasa tercekik dan tertusuk dengan ribuan pisau yang menghunus jantung hatinya.


Saya bukan orang asing bagimu Amara. Tolong jangan bicara seperti itu pedih sekali mendengar kamu mengatakan saya ini orang asing. Batin Daniel lirih.


"Sepertinya kita perlu bicara empat mata. Kamu harus ikut saya! Atau saya akan melakukan hal yang sangat buruk pada semua orang yang ada di sekitar kamu!" Kecam Daniel dengan paksaannya.


"Dasar pemaksa!" Umpat Amara.


"Ya, saya memang pemaksa!" Balas Daniel.


Daniel kembali menarik Amara untuk masuk ke dalam mobilnya. Amara terus melawan dan menolak untuk ikut bersama Daniel. Namun perlawanan Amara tidak berarti apa-apa ketika Daniel mencoba bertahan dengan kekuatan yang ia miliki.