
Tomo kembali tertidur hingga jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Amara dan Daniel yang sudah bangun sudah bersiap-siap akan pergi meninggalkan ruang rawat Tomo. Setelah sebelumnya Amara menghubungi Chandra dengan susah payah. Karena Chandra enggan mengangkat panggilan telepon dari adik bungsunya ini.
Aku hanya ingin mengabarkan, jika Ayah mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit XCB. Tulis Amara melalui pesan singkatnya pada Chandra.
Pergilah dari rumah sakit itu sekarang! Jika mengharapkan aku datang mengurus Ayah! Jika kamu masih di sana, jangan harap aku akan datang, meski kamu menangis darah sekalipun!!! Jawab Chandra dengan cepat di dalam pesan singkatnya.
Hati Amara seperti tersayat pisau belati saat membaca pesan Chandra yang mengusir dirinya. Sangat wajar jika ia menitikan air mata saat ini. Betapa tidak sudinya kakak laki-laki satu-satunya yang ia miliki begitu membencinya.
Daniel yang ikut membaca pesan Chandra menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Ia paham, mengapa semalam Amara berkata seperti itu pada dirinya. Ternyata Chandra begitu tidak sudi untuk bertemu dengan Amara. Sebagai seorang kakak, dia tidak pernah berkat kasar seperti itu pada Angel, sang adik yang begitu ia sayangi.
"Sabarlah sayang, kamu tidak sendiri. Ada aku. Jika dia tidak menginginkan keberadaan mu, ada aku, Clara dan keluarga ku yang selalu ingin berada di sampingmu. Jangan bersedih! Ayo kita pergi sebelum Ayahmu bangun!" Ajak Daniel sembari menenangkan tangis Amara yang akhirnya pecah.
Keduanya akhirnya segera pergi sebelum Tomo yang mereka kira masih tertidur itu terbangun. Usai kepergian Amara dan Daniel, Tomo membuka matanya dan menitikkan air matanya. Ia merasa sedih mengetahui apa yang terjadi pada putrinya dari ucapan Daniel yang ia dengar.
Lima hari Tomo di rawat di rumah sakit. Amara sama sekali tidak diizinkan untuk datang ke rumah sakit oleh Chandra walaupun hanya sekedar menjenguk sang Ayah. Chandra terus mengancam Amara jika nekat menjenguk sang Ayah yang dirawat dan ditunggui oleh teman-temannya yang datang silih berganti bersama dengan dirinya.
Sedangkan Rendra, semenjak pertemuan terakhirnya dengan Amara dan Daniel pada tengah malam itu. Rendra kembali menghilang dari peredaran. Ia tidak menghubungi Amara ataupun untuk datang menjenguk Tomo.
Daniel yang sudah mengetahui jika Rendra banyak mengeluarkan banyak uang saat menolong Tomo pun segera mengirimkan uang ganti rugi ke perusahaan Rendra atas nama Amara. Rendra yang menerimanya sudah tahu, jika uang yang ada di tangannya saat jni bukanlah uang Amara. Melainkan uang dari Daniel. Karena ia yakin Amara tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu.
Siang ini tepat di hari ke enam Tomo dirawat di rumah sakit. Chandra terpaksa kembali menghubungi Amara melalui pesan singkat. Di mana ia mengabarkan jika Tomo sudah diperbolehkan pulang. Di dalam pesannya Chandra pada sang adik. Ia meminta Amara untuk menyelesaikan pembayaran administrasi perawatan Tomo.
Ayah, sudah pulang diperbolehkan pulang. Tapi Ayah tidak bisa pulang karena belum menyelesaikan administrasi. Selesaikan administrasinya sekarang juga! Karena pacarmu yang sudah menempatkan Ayah di ruang VVIP rumah sakit ini. Tulis Chandra dalam pesannya.
Aku tidak punya uang banyak untuk menyelesaikan administrasinya, Kak. Bagaimana kalau kita tanggung bersama? Balas Amara dalam pesannya.
Tanggung bersama? Apa kamu sudah TIDAK WARAS? Mau makan apa keluarga ku kedepannya nanti jika harus membayar tagihan rumah sakit Ayah? Balas Chandra yang terlihat marah dan tidak suka terbebani dengan biaya rumah sakit.
Lalu harus bagaimana kak? Aku hanya punya uang sepuluh juta saja. Apa itu cukup? Tulis Amara dalam pesan singkatnya pada Chandra.
Tentu saja tidak. Bahkan itu tidak ada setengahnya dari tagihan biaya yang harus kamu bayar. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kamu membayarnya, yang pasti dalam satu jam ke depan kamu harus segera membayarnya. Kalau tidak aku akan meninggalkan Ayah seorang diri di sini. Balas Chandra kembali mengancam Amara.
Kak, tolong aku sungguh tidak memiliki uang lebih, hanya sepuluh juta yang aku punya. Bagaimana jika kekurangannya kakak pinjam dulu pada teman Kakak? Aku akan menggantinya nanti setiap bulannya.
Lancang sekali otak mu itu menyuruhku meminjam uang! Kamu berniat membuat ku malu dan merendahkan harganya diri ku, hah? Seharusnya sebelum menyuruhku, kau suruh saja pacarmu itu membayar tagihan rumah sakit Ayah. Kamu bisa mengembalikan uangnya dengan tidur bersama dengan Rendra pacar tercinta mu itu. Balas Chandra.
Kata-kata kasar Chandra yang merendahkan harga diri Amara berhasil membuat goresan luka di hati Amara kembali menganga.
Amara tidak lagi membalas pesan dari Chandra itu. Ia hanya terdiam menahan tangisnya sembari menatap wajah lugu tanpa dosa dan beban murid-murid yang berada di hadapannya.
Amara terkadang iri pada muridnya yang terlihat hidup tanpa beban dan terlihat begitu bahagia. Tidak seperti dirinya dan juga Clara. Air mata dan hatinya telah terperah karena kejamnya dunia memukul hidup mereka.
Sementara itu Daniel yang sedang memimpin rapat penting, tidak bisa fokus karena suara notifikasi pesan yang ia pastikan itu adalah notifikasi pesan yang terkirim ke ponsel Amara.
Semenjak pertemuannya dengan Rendra. Hati Daniel kembali resah dan terus mengait-ngaitkan mimpi buruk putrinya dengan kemunculan Rendra lagi di tengah-tengah hidup Amara.
"Gantikan saya! Saya ada urusan yang sangat penting!" Ucap Daniel pada Anto saat ia beranjak pergi meninggalkan meeting yang sedang berlangsung begitu saja.
Dengan di antarkan Tarman, supir pribadinya. Daniel datang ke rumah sakit XCB. Ia melangkahkan kakinya dengan emosi untuk membayarkan seluruh tagihan rumah sakit Tomo.
Kemudian berjalan tergesa-gesa dengan emosi yang membara di ubun-ubun, menuju ruang rawat Tomo yang ia yakini keberadaan Chandra saat ini ada di sana.
Daniel tidak bisa menahan emosinya ketika wanita yang kini ia klaim sebagai calon istrinya ini, harga dirinya diinjak-injak oleh kakak kandung dari calon istrinya sendiri.
Brakk!! [Suara pintu terbuka dengan kasar].
Seisi orang di ruangan itu terlonjak kaget dengan ulah kasar Daniel.
"Maafkan saya!" Ucap Daniel ke arah Tomo dan juga Riana yang tengah mengelus dada mereka masing-masing karena terkejut.
"Apa kamu yang bernama Chandra?" Tanya Daniel pada Chandra yang terkejut dengan kedatangan Daniel.
Bohong jika Chandra tidak mengenal siapa Daniel. Karena Chandra bekerja disalah satu anak perusahaan Jaya Crop, milik Tuan Cristiano.
"I-iya saya, Tuan." Jawab Chandra terbata.
Mendengar jawaban Chandra, tanpa ragu Daniel menghampiri Chandra.
"Kau menyuruh calon istri saya untuk tidur dengan Rendra, sebagai ganti jika ia membayarkan biaya rumah sakit Ayah kalian?" Tanya Daniel yang kini berdiri hampir tidak berjarak dengan Chandra.
Tomo dan Riana terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan Daniel pada putra sulungnya itu.
"Ca-calon istri? A-amara calon istri Tu-tuan?" Tanya Chandra dengan suara terbata. Ia terkejut dan juga tak percaya jika adik ya adalah calon istri dari pewaris tunggal Jaya Crop.
"Kamu tidak berhak bertanya pada saya, jika masih mau menghirup udara di dunia ini. Jawab pertanyaan saya! Iya atau tidak?" Kecam Daniel.
"I-iya Tuan. Saya menyuruhnya." Kembali Chandra membalas dengan suara terbata.
"Dengar baik-baik. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk mu. Saya tidak perduli kamu itu kakak kandungnya Amara atau bukan. Yang pasti, sekali lagi kamu menyakiti hatinya dengan sikap dan kata-kata kasar mu padanya. Bersiaplah berhadapan dengan saya, Daniel Prayoga. Kau tahu siapa saya buka?" Kecam Daniel lagi yang hampir membuat Chandra terkencing-kencing.
Bagaimana tidak, saat ini Daniel terkenal dengan ketegasannya dalam memimpin perusahaan. Ia baik dan loyal pada karyawan yang bekerja dengan baik, tapi juga kejam dan beringas pada karyawan yang tidak bekerja sesuai dengan standar yang ia berikan.
Usai mengancam Chandra, Daniel menghampiri Tomo dan juga Riana yang mematung di posisinya.
Kira-kira apa ya yang dilakukan Daniel?
Tunggulah dengan sabar ya!
Yuk, kalau kamu suka dengan karya aku vote, komen dan like karya aku. Inget ya. Jangan di boom like..