Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Tugas mendadak



Waktu pun kembali berlalu. Seminggu sudah Amara dengan kesendiriannya. Ia merasa begitu bahagia dengan kesendiriannya. Hidupnya tak lagi terbebani dengan rasa bersalah pada Rendra akan pengkhianatannya.


Sebagai laki-laki sejati, Rendra benar-benar menepati janjinya pada Amara, untuk tidak menggangu Amara dengan kesendiriannya.


Rendra pun berhasil menutup rapat-rapat tentang kondisi hubungannya dengan Amara yang telah kandas dari seluruh anggota keluarganya, terkecuali Bastian.


Jujur saja, niat terdalam Rendra menutupi rapat-rapat tentang kondisi hubungannya yang telah kandas dengan Amara dari keluarganya, semata-mata hanya ingin keluarganya tetap memandang baik wanita yang sangat ia cintai ini. Wanita yang ia harapkan akan kembali kepelukannya suatu saat nanti.


Rendra tidak bisa membohongi Kakak sulung pengganti sang Papi ini, karena Bastian sudah mengetahui jika ada orang ketiga lain di dalam hubungan cinta sang adik bersama Amara, selain Erdi.


Pak Burhan atasan Bastian, sudah memberikan wejangan untuk Bastian agar tidak ikut campur dalam pusaran masalah sang adik dan berhati-hati dalam mengambil tindakan, karena orang yang sedang dihadapi sang adik bukanlah orang dari kalangan biasa.


Ya, yang di maksud Pak Burhan adalah Daniel. Daniel memiliki kekuasaan yang dapat dengan mudah membuat musuhnya menjadi kerdil dalam sekejap mata, dan Pak Burhan tak ingin Bastian mengalami hal serupa seperti Erdi saat ini.


Kini Rendra yang juga memilih sendiri dan setia menunggu Amara kembali, sengaja menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Ia berusaha melupakan rasa sedih dan kecewanya dengan terus bekerja tanpa mengenal waktu.


Bastian yang sangat memahami kondisi hati adiknya selalu berusaha menguatkan sang adik.


"Tak selamanya seekor singa terus mengaum untuk menakuti lawannya. Kamu hanya perlu bersabar, berusaha, bertahan dan menyusun strategi yang tak terbaca oleh musuhmu, Ren. Jika kamu masih menginginkan wanita yang kamu cintai kembali."


"Iya Bang." Sahut Rendra singkat.


"Abang harap kamu tak akan gentar dalam menghadapi badai yang menerpa hidup mu ini, Ren. Selama musuh mu itu masih memakan nasi. Itu artinya dia masih sama dengan kita. Kamu tenang saja, Abang akan tetap ada dibarisan terdepan untuk membantumu setiap saat. Semangatlah Ren!" Tambah Bastian sembari menepuk pundak sang adik cukup kuat. Sebelum ia berlalu pergi dari hadapan sang adik.


Sementara itu, Daniel yang sudah mengetahui segala keinginan Amara dan juga isi hati Amara, tidak lagi menjadi pengganggu, apalagi menjadi penguntit Amara seperti waktu sebelumnya.


Daniel melakukan hal yang sama seperti Rendra. Memberikan waktu untuk Amarah menikmati kesendiriannya. Hal ini dapat dibuktikan ketika di suatu kesempatan saat Daniel bertemu dan bertatap muka di perusahaan dengan Amara. Daniel terkesan mengacuhkan dan tak menganggap keberadaan Amara.


Namun, saat Amara sedang fokus melakukan pekerjaannya, diam-diam Daniel terus memperhatikan wanita yang ia biarkan menyendiri itu. Jujur matanya sangat sulit berpaling dari wajah Amara yang selalu ia rindukan.


Saat ini di ruang kerja Daniel. Terlihat Anto tengah memberikan laporan penting mengenai perusahaan Jaya Crop milik sang Daddy dan juga menyelipkan informasi tentang Thomas, sahabat Amara yang cukup mengejutkan dirinya.


"Jadi seperti itu Pak, informasi yang saya dapatkan. Kantor pusat sudah sangat membutuhkan kehadiran Bapak untuk menggantikan kepemimpinan Tuan Besar Christiano, dan mengenai Tuan Muda Thomas, saya tidak berani untuk mencari tahu lebih dalam lagi."


Sepanjang Anto memberikan seluruh informasi yang ia dapat, Daniel justru hanya terfokus pada topik mengenai Thomas yang berkaitan dengan Amara.


Tidak. Aku tidak percaya. Sainganku kali ini adalah adik sahabatku sendiri. Aku tak bisa bersantai-santai jika seperti ini. Aku tidak bisa biarkan Amara terus bersamanya. Aku harus segera bertindak. Batin Daniel ketika ia mengetahui jika Thomas, sahabat Amara adalah putra bungsu dari Tuan Monarco, sekaligus adik kandung dari sahabatnya, Rio.


"Anto. Saya ingin mulai saat ini Amara dilibatkan dalam semua event besar yang kita tangani. Event Minggu ini paksa dia untuk ikut ke Nusa dua Bali! Beri dia tugas sesuai pekerjaannya dan pastikan pekerjaan itu tidak terlalu berat. Katakan pada Endah, pesankan tiket penerbangannya yang sama dengan saya!" Perintah Daniel.


"Lalu bagaimana dengan kantor pusat Pak? Bapak harus segera menggantikan posisi Tuan Besar?"


"Akan aku pikirkan nanti." Jawab Daniel yang pikirannya hanya terfokus pada Amara.


Beberapa menit kemudian di ruang account executive.


"Apa? Aku harus ikut ke Bali? Biasanya aku gak pernah dilibatkan untuk terjun langsung ke lapangan Mba? Kenapa sekarang aku dilibatkan? Boleh nolak gak sih Mba?" Tanya Amara pada Dias dengan wajah memelas.


Amara cukup terkejut dengan perintah tugas yang ia dapatkan secara mendadak seperti ini.


Bukan karena tidak mau meninggalkan pekerjaan sampingannya yang merupakan hobby dan kesenangannya saat ini, tapi karena rasa curiganya yang begitu besar dengan perintah kerja yang sangat mendadak.


Ini pasti ulah dia. Pasti dia yang memberikan perintah pada antek-anteknya ini, supaya aku ikut ke sana. Entah apa yang ia rencanakan saat ini. Aku tidak boleh goyah. Aku harus tetap meninggalkan seseorang yang tak bisa memberikan aku kepastian, meskipun aku mencintainya bahkan merindukannya. Batin Amara.


"Saat ini kita sedang kekurangan personil, karena event yang kita garap kali ini cukup besar. Lagi pula hal ini sudah terbiasa terjadi sebelumnya Amara." Jawab Dias dengan alasan yang masuk diakal.


Dias sudah tahu apa yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Amara, agar mau menerima tugas dadakan yang diberikan Daniel ini.


Amara terdiam sejenak, larut dalam pikirannya sendiri. Ia sangat berpikir keras dengan jawaban yang diberikan Dias padanya. Seakan mencari pembenaran dari ucapan Dias atas kecurigaannya pada Daniel.


Melihat Amara terdiam, dan ia tahu lawan bicaranya masih memikirkan kebenaran atas ucapannya. Dias pun kembali bersuara.


"Kamu tidak perlu berpikir aneh-aneh Amara. Cobalah bersikap profesional. Terjunnya kamu langsung ke lapangan sama sekali tidak ada kaitannya dengan hubungan mu dan Pak Daniel. Karena bukan dia yang meminta mu untuk ikut, melainkan aku sendiri, atasan mu langsung. Jadi kamu tidak perlu takut." Jawab Dias berbohong untuk meyakinkan Amara.


"Maafkan aku Mba yang sudah berpikir terlalu dangkal tadi." Balas Amara tak enak hati.


"Ya, aku bisa paham dengan apa yang sedang kamu rasakan Amara. Jadi bagaimana kamu bisa ikut 'kan? Ini perintah loh Amara bukan sebuah ajakan." Tekan Dias.


"Iya Mba, saya akan ikut serta ke Bali jika diperlukan dan memang ini tugas saya." Jawab Amara yang akhirnya bersedia untuk ikut.


Dias menarik bibirnya. Ia tersenyum lega, Amara mau menerima perintahnya untuk ikut ke Bali.


"Jawaban yang bagus Amara. Kalau begitu, berikan foto copy Kartu Tanda Pengenalmu pada Bu Endah, beliau sangat memerlukannya untuk memesan tiket penerbangan kita ke Bali Kamis sore nanti."


"Iya Mba, baik." Jawab Amara sedikit tertunduk lemas.


Di Cafe Kokoro, Amara yang baru saja datang diantarkan oleh Asep seperti biasanya, terlihat sangat tidak bersemangat hari ini.


"Kenapa Lo Juminten, muka di tekuk kaya dompet tanggung bulan?" Tanya Tiara yang memang selalu menghabiskan waktu luangnya di Cafe Kokoro, milik Kakak sepupunya.


"Maemunah, kayanya gue gak bisa perform deh tiga hari kedepan nanti. Soalnya gue harus ke Bali. Ada event besar di sana dan gue dipinta untuk ikut karena kekurangan crew." Jawab Amara sembari menyadarkan kepalanya di bahu Tiara.


"Slowly aja sih Juminten. Kalo Lo gak perform ya gak apa-apa, cuma ya honor Lo pasti gue pangkas alias gue kurangin. Hahaha..."


"Nah itu, berkurang deh jatah jajan Mie ayam Paijo dekat kosan gue." Balas Amara yang memancing gelak tawa Tiara.


"Mie ayam aja di otak Lo yang Lo pikirin Juminten."


"Ya, habis mikirin siapa lagi. Lebih baik mikirin makanan daripada mikirin perasaan yang ada cuma makan hati."


"Lah, jadi curhat. Udah sih jangan galau mulu. Tuh sepupu gue nganggur. Gak punya cewek dan gak pernah pacaran. Soalnya dia sibuk sama pasiennya. Dijamin gak bakal sakit hati kalau sama dia, asal sabar aja. Karena waktunya lebih banyak sama pasien. Mau gak Lo, kalau mau gue comblangin?" Ucap Tiara yang malah menawarkan sepupunya.


"Gue lagi seneng sendiri kaya gini Maemunah. Rasanya bebas banget." Tolak Amara baik-baik.


Malam itu, Amara seperti biasa bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan diiringi denting suara tuts piano, beberapa lagu ia bawakan untuk menemani para pengunjung menikmati makan malam mereka.


Semenjak Amara menjadi salah satu singer di cafe Kokoro, pengunjung cafe mengalami peningkatan. Banyak diantara mereka datang kembali hanya untuk mendengarkan suara emas Amara yang menyanyikan lagu yang ia bawakan dengan penuh penghayatan. Termasuk Dokter Frans yang ketagihan mendengar suara emas Amara. Yang selalu berhasil menyentuh sanubarinya.