
Saat pesawat dalam proses landing, Amara terbangun karena pesawat sedikit mengalami gangguan. Hampir saja pesawat yang Ditumpangi mereka tergelincir karena faktor cuaca. Hingga terjadi guncangan yang cukup hebat di dalam pesawat.
Amara menjerit ketakutan, seperti para penumpang lain.
"Tenanglah Amara, ada saya di sini. Kita akan baik-baik saja." Ucap Daniel yang berusaha menenangkan Amara yang ketakutan, ia lantas memeluk Amara dengan erat.
Ketika Amara sudah merasa tenang dan laju pesawat pun sudah berhenti. Amara langsung mendorong tubuh Daniel menjauh.
"Bapak ngapain di sini?" Tanya Amara sinis.
"Duduk." Jawab Daniel singkat.
"Ya, tahu duduk. Kenapa duduk di samping saya?"
"Ya, gak tahu. Saya tinggal duduk sesuai dengan sheets yang tertera di tiket."
"Ishhh... pasti ini rencana Bapak!" Tuduh Amara dengan tebakannya yang tepat.
"Rencana apa? Saya gak punya rencana." Daniel mengelak namun Amara tak percaya.
Satu persatu penumpang mulai turun dari cabin pesawat, tapi kedua anak manusia ini malah asyik ribut dan berdebat, hingga tersisa keduanya saja di cabin pesawat dengan beberapa pramugari yang menonton perdebatan mereka.
"Saya gak suka cara Bapak kaya gini. Capek tahu gak?"
"Cara saya yang bagaimana? Saya gak ngapa-ngapain kok. Kamu lihatkan saya sudah ngejauhin kamu seminggu ini?"
"Iya seminggu doang, sekarang buktinya apa? Bapak bawa saya ke sini pakai alasan pekerjaan. Pasti Bapak juga kan yang minta Mba Dias ngasih perintah saya buat ikut ke sini?" Tuduh Amara lagi.
"Nggak kok, saya gak nyuruh Dias. Sumpah!"
"Bohong!"
"Benar sayang, saya gak bohong. Tapi saya cuma nyuruh Anto buat kamu ikut." Jawab Daniel pada akhirnya.
"Tuh kan benarkan dugaan saya. Bapak tuh keterlaluan. Saya tuh capek banget tahu gak. Habis event ini saya mau resign. Saya gak kuat kerja kaya kerja rodi tahu gak. Bodoh amat di tuntut juga. Saya bakal tuntut balik Bapak kalau Bapak tuntut saya." Ucap Amara yang langsung memukuli Daniel tanpa henti.
"Sakit, kamu tuh KDRT terus sama saya hari ini. Ayo turun yuk! Kamu gak malu ribut sama saya dilihatin sama Mba-mba pramugari itu, hum?" Ucap Daniel sembari menunjuk ke arah Pramugari yang ingin menegur keduanya untuk segera turun, tapi tak enak hati karena keduanya sedang berbebat.
"Biarin, ketemu sama mereka cuma sekali ini saja, ngapain malu." Balas Amara yang masih saja memukuli Daniel.
"Ayo turun yuk! Kita kan harus beli oleh-oleh buat anak kita, kamu gak ingat tadi Clara bilang apa? Mami Papi jangan lupa belikan aku oleh-oleh ya!" Bujuk Daniel pada Amara.
Amara akhirnya mau beranjak dari kursinya, ia berdiri sembari mendumel. "Anak kita-anak kita, anak Bapak bukan anak saya."
"Kan kamu Maminya, saya Papinya, ya anak kita kan jadinya?" Sahut Daniel sembari sibuk mengambil tasnya dan juga tas Amara. Keduanya sama-sama tak perduli dengan pandangan para Pramugari yang mulai berbisik membicarakan mereka.
"Mana ada punya anak tapi gak nikah?" Sahut Amara lagi yang berjalan dengan digandeng Daniel.
"Ya, habis event ini, ayo kita nikah! Asal kamu gak marah-marah terus kaya gini sama saya." Balas Daniel yang hanya dianggap angin lalu oleh Amara.
Semenjak kejadian di pesawat Amara terus menekuk wajahnya. Ia mulai berbuat ulah dengan bekerja sesuka hati. Bagaimana tidak bekerja sesuka hati. Sejak semalam, saat panggung mulai dibangun. Di job deskripsi yang ia dapat dia harus mengerjakan pekerjaan A, namun saat ia ingin mengerjakannya pekerjaan itu sudah dikerjakan oleh orang lain. Ia benar-benar merasa dipaksakan untuk ikut. Yang sebenarnya tenaganya sungguh tidak sama sekali dibutuhkan disini.
"ARGHHH!!!" Pekik Amara yang kini duduk di tengah panggung. Menunggu para pemain band melakukan check sound di sambung dengan GR.
"Kenapa Lo Ra? Kesambet?" Tanya Mba Tri yang menghampirinya.
"Ara baru ngerasain jadi orang yang gak berguna saat ini, Mba Tri. Ara udah lihat job deskripsi Ara ternyata sama dengan punyanya si Lili. Pekerjaan yang dikasih Ara itu cuma bisa dikerjain satu orang dan itu kerjaan si Lili sehari-hari, terus buat apa Ara di sini Mba?"
"Buat penyemangat dia. Hahaha..." jawab Mba Tri sembari melirik Daniel yang ada di ruang FOH.
"Nyebelin."
"Udah sih, nikmatin aja. Gak usah terlalu dipikirin. Anggap aja Lo lagi jalan-jalan. Habis event ini kita mau happy-happy Lo harus ikut Ra. Biar gaul hahaha..."
Acara event pun berlanjut. Acara berakhir dengan sebuah kesuksesan. Client sangat puas dengan acara yang disuguhkan. Seperti rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Setelah event Daniel dan karyawannya akan bersenang-senang di sebuah night club. Tentunya night club itu sudah disewa secara privat oleh Daniel.
Malam itu Amara datang bersama dengan Mba Tri. Kedatangan keduanya terlambat karena Mba Tri tidak sengaja bertemu dengan mantan kekasih Bulenya yang sedang berlibur di Bali.
Daniel mengira Amara tak akan datang ke acara malam ini, karena trauma kejadian waktu lalu. Kini Daniel tengah duduk satu table dengan para wanita-wanita cantik yang berprofesi sebagai usher.
Di antara wanita-wanita cantik yang duduk bersama Daniel. Ada salah satu diantara mereka yang sangat mengagumi Daniel, bahkan pernah satu ranjang dengan Daniel. Adisti, ya wanita yang pernah satu ranjang dengan Daniel bernama Adisti. Biasa dipanggil Adis.
Adis terus saja duduk menempel dengan Daniel. Dan Daniel sama sekali tidak risih dengan apa yang dilakukan Adis padanya. Sementara Amara yang melihatnya dari kejauhan merasa jengkel dan cemburu.
Tadi ngajak nikah, sekarang kelakuannya kaya gini. Dasar laki-laki brengsek! Umpat Amara di dalam hatinya.
"Kalau kesal, cemburu. Samperin dong! Jangan ngedumel dalam hati!" Ucap Dias yang meledek Amara.
"Cih, siapa bilang cemburu sama dia. Buang-buang tenaga aja." Balas Amara dengan mengelak. Yang malah membuat satu tim kerjanya menertawakan Amara. Karena lagi-lagi Amara salah meminum minuman yang ada di mejanya.
"Apaan nih? Wueekkkk..." Amara berusaha memuntahkan minuman yang terlanjur tertelan ke dalam kerongkongannya.
Suara riuh tertawaan satu tim kerja Amara yang cukup heboh, berhasil mencuri perhatian Daniel. Sorot mata Daniel mendapati Amara memegang gelas yang berisi dengan bir. Yang mungkin Amara anggap sebuah es teh manis.
Dia salah minum lagi. Batin Daniel.
Kedua manik mata Daniel dan Amara pun bertemu, saat Amara kembali melihat kearah meja Daniel. Amara makin tersulut emosi saat melihat salah satu tangan Adis berada di bagian paha Daniel.
"Cewek kegatelan, cowoknya juga haus belaian. Cocok deh!" Umpat Amara yang termakan api cemburu.
Sisa minuman yang masih ada ditangannya pun ia tengguk sampai habis.
"Hemm, cemburu buta Lo, Ra." Ucap Mba Tri saat Amara kembali menengguk minuman beralkohol itu lagi.
"Sudah Ra, inget kejadian lalu, jangan kebawa emosi!" Tegur Mba Tri saat Amara kembali menengguk segelas bir.
Amara yang kini sudah mabuk, benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Daniel. Ia panas saat Adis bergelayut manja di bahu Daniel.
"Ra, Lo mau kemana?" Tanya Mba Tri khawatir.
"Ngasih pelajaran ke Duda tengil itu Mba." Jawab Amara sambil berlalu pergi.
"Awas!!" Pekik Amara saat melewati beberapa teman Adis.
Ia menendang bahkan menginjak kaki mulus para wanita berpakaian seksi di dekat Daniel itu. Banyak diantara mereka meneriaki Amara, tapi Amara yang mabuk sama sekali tidak perduli.
"Minggir Lo, menjauh dari suami gue!" Ucap Amara yang membuat Daniel tersenyum.
Ya, Daniel tersenyum karena diakui sebagai suami oleh Amara.
Adis tertawa mendengar Amara mengaku-ngaku sebagai istri Daniel dalam kondisi mabuk. Adis sama sekali tak mau menyingkir. Ia malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Daniel.
"Hallo, Mbak. Kalau mabuk jangan halu deh. Hahaha... mana mau Pak Daniel sama Lo!" Ledek Adis sembari tertawa dan meremehkan Amara.
"Siapa yang halu? Gue apa Lo hah? Jelas Pak Daniel mau sama gue, karena gue gak menjajakan tubuh gue secara cuma-cuma kaya Lo, yang diobral murah." Sahut Amara yang tak terima dikatakan halu.
Adis tak menjawab, ia malah sibuk menertawakan Amara sembari menahan kesal atas hinaan Amara.
Melihat Amara ditertawakan Daniel masih diam saja. Ia ingin melihat sejauh mana Amara akan merebutnya dari Adis yang bukan siapa-siapanya.
"Heh, Pak Kudanil. Kamu senang ya duduk dipeluk-peluk sama dia, iya? Senang saya di tertawa mereka, iya?" Tanya Amara sambil menunjuk-nunjuk Daniel dan Adis.
Daniel diam tak menjawab, ia hanya menatap wajah Amara yang terlihat sangat cemburu padanya.
"Kenapa diam hah? Diam berarti iya kan? Ok kalau Anda masih terus mau di sini bersenang-senang sama dia. Jangan pernah menyesal kalau saya benar-benar pergi dari hidup Anda, Pak Kudanil! Saya akan menitip pesan terakhir saya pada Anda, Pak Kudanil. Tentunya untuk anak saya tercinta, Clara. Tolong katakan pada Clara, anak kita itu, kalau saya, Maminya sudah mati dibuang ke laut oleh keegoisan Anda. Karena Anda sangat hobby dengan perselingkuhan dan pengkhianatan!" Ucap Amara dengan suara yang meninggi.
Usai mengomeli Daniel, ia langsung membalikkan tubuhnya, ia menendang tulang kering Adis yang ia lewati, hingga Adis menjerit kesakitan. Dan Amara yang tak perduli dengan rintihan kesakitan Adis pun pergi begitu saja.
Melihat Amara berlalu, Daniel pun mengejar Amara. Ia tidak perduli dengan Adis yang terus memanggil-manggil namanya sembari merintih kesakitan. Berharap Daniel memperhatikannya dan mengobati luka pada kakinya akibat ulah Amara.
"Arghh! Lepas!! Cowok brengsek! Tukang selingkuh! Pembual ulung!" Umpat Amara yang tak ada habisnya saat Daniel membawanya masuk ke dalam mobil untuk kembali ke hotel.
"Saya tidak seperti itu! Berhenti mengumpati saya seperti itu!" Balas Daniel yang masih diam saja di hujani pukulan dari Amara. Meski tubuhnya sudah merasa sangat kesakitan. Karena Amara memukul dirinya tidak dengan tangan kosong, tapi dengan sepatu high heels yang ia gunakan.
Sesampainya di hotel, Daniel membawa Amara ke kamarnya. Ia menidurkan Amara yang sudah tertidur karena mabuk, kelelahan mengomel dan memukuli Daniel sepanjang perjalanan. Daniel menidurkan Amara di ranjang tidurnya yang sudah ia tempat selama satu malam yang lalu seorang diri.
Usai menidurkan Amara di ranjang, Daniel mengobati pelipis wajahnya yang terluka karena sepatu high heels Amara.
"Sepatu sialan, kau sudah melukai wajah tampan ku ini. Besok-besok tak akan aku biarkan dia pakai sepatu macam itu lagi." Umpat Daniel saat merasakan perih yang teramat sangat ketika mengobati lukanya sendiri.
Usai mengobati lukanya, Daniel menghubungi Anto untuk membelikan sepatu flat shoes untuk Amara gunakan esok hari, kemudian ikut berbaring satu ranjang bersama Amara. Ia mengusap rambut dan wajah cantik Amara yang begitu damai saat tertidur.
"Tadi kamu bilang apa? Aku suamimu hum? Kalau aku suamimu, berarti aku boleh menyentuh mu, Amara." Ucap Daniel dengan suara yang berbisik pada Amara yang tertidur.
Daniel langsung saja meraup bibir Amara yang beraroma alkohol sangat menyengat itu. Seperti biasa, Amara selalu membalas ciuman Daniel, meski matanya terpejam. Seolah tubuhnya tak menolak dengan sentuhan Daniel. Berbeda saat Rendra melakukannya saat Amara tertidur. Amara seketika bangun karena terkejut.
Mendapati balasan dari Amara, Daniel pun melancarkan aksinya. Ia melucuti pakaian Amara satu persatu. Tanpa melepas pangutannya pada bibir Amara.
Daniel melepaskan pangutannya pada bibir Amara yang seakan tak rela untuk dilepaskan. Bibir Amara terus berdecak mencari keberadaan bibir Daniel.
Daniel mulai menelusuri bagian leher jenjang Amara dengan lidahnya yang menari-nari dengan lincah. Kembali Amara berhasil dibuat melenguh oleh Daniel.
Sadari jika Amara menyukai permainannya, Daniel mulai bermain-main dengan aset milik Amara yang cukup menyembul dan terlipat padat berisi.
Amara menjambak rambut Daniel dan sedikit menekan kepala Daniel agar menyesap miliknya lebih dalam lagi.
Kembali lenguhan Amara terdengar. Ia begitu menikmati sentuhan Daniel yang mulai memabukkannya dengan kabut gairah.
"Ahhh.... Pak Daniel," racau Amara dalam tidurnya.
Suara lenguhan Amara terdengar begitu seksi di telinga Daniel.
"Teruslah sebut namaku sayang!" Pinta Daniel yang tersenyum puas.
Daniel dapat menebak selama ini Amara suka memimpikan sesi bercinta bersamanya.
"Mmmphhhh... Pak Daniel." Lenguh Amara ketika junior Daniel menerobos masuk kemiliknya.
"Tahan sedikit sayang, milikmu masih terlalu rapat... mmmmmphhh!"
Masih terasa sempit dan rapat itu yang Daniel rasakan. Meski Amara sudah tidak perawan lagi. Tapi Daniel merasa miliknya masih terhimpit rapat dibagian inti milik Amara. Itu menandakan jika Amara sangat jarang melakukannya dengan Rendra.
Daniel terus memompa Amaradengam ritme pelan, sedang kemudian berapi-api. Amara terus melenguh nikmat. Gadis ini belum sadar jika kali ini dia tak hanya sekedar bermimpi bercinta dengan Daniel, tapi sedang melakukannya secara langsung.
Pengaruh Alkohol benar-benar membuat Amara lupa daratan. Meski ia kini sudah membuka matanya, ia masih menganggap semua ini hanya sebuah mimpi seperti biasanya.
Ketika Daniel mulai kelelahan, Amara bersedia menggantikan Daniel untuk memimpin permainan. Amara bergoyang dengan lihai di atas sang junior. Amara benar-benar memanjakan milik Daniel. Tak hanya Amara yang melenguh nikmat selama permainan mereka tapi juga Daniel.
Daniel kembali memimpin permainan, ketika ia hampir mencapai puncak kenikmatan surgawinya.
"Amara, Kamu milikku sayang, aku sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi dariku, dan jangan dekat-dekat dengan pria lain lagi! Aku akan membuat mu mengandung anak kita. Kita akan membuat adik untuk Clara. Dan aku akan segera menikahi mu."
Ucap Daniel setelah ia menumpahkan cairan hangat yang akan berlomba-lomba berenang ke dalam rahim Amara. Kemudian ia ambruk di samping Amara yang kembali melanjutkan tidurnya karena kelelahan.