Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Berusaha mendekati



Jantung Amara berpacu dengan cepatnya saat Daniel terus memeluknya sangat erat. Daniel benar-benar tidak ingin kehilangan Amara yang terlihat begitu berharga di matanya saat ini.


"Tetaplah bersama dengan saya, Amara Ayudia. Akan saya berikan apa pun yang kamu mau, asal kamu tetap bersama saya. Teruslah berikan saya kedamaian seperti ini." Lanjut Daniel dengan makin mengeratkan pelukannya sembari menyesap aroma tubuh Amara tepat di curug leher gadis itu.


Aroma yang begitu memabukkan, ingin rasanya Daniel menerkam Amara dalam kungkungannya saat ini. Namun Daniel tahu Amara akan menolak keinginan gilanya itu, karena tubuh wanita di dalam pelukannya terus berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Jujur pelukkan Daniel sangat membuat Amara kesulitan bernafas dan merasa sangat tak nyaman.


Akan memberikan apa yang gue mau? Memangnya dia anggap gue cewek apaan? Serendah itu dia memandang gue hanya karena gue biarkan dia memeluk gue semalam? Dasar lelaki semua sama. Batin Amara yang merasa sedih mendengar perkataan Daniel.


Tak ingin direndahkan oleh atasannya. Segera saja Amara menyikut tubuh Daniel, hingga Daniel mundur beberapa langkah karena kesakitan.


"Arghhh.... Aduh Amara..." Rintih Daniel sembari memegangi perutnya yang sakit karena di sikut Amara cukup kuat.


Sayang sekali rintihan Daniel diabaikan begitu saja oleh Amara yang melenggang pergi keluar dari ruangan kerja Daniel setelah sebelumnya ia meminta maaf pada Daniel atas perbuatannya yang menyakiti atasannya itu.


"Maaf Pak, sepertinya Bapak masih terpengaruh minuman alkohol yang semalam Bapak minum. Permisi saya harus ke kampus."


Daniel dengan berat hati harus melepaskan Amara. Ia tahu gadis itu masih harus pergi ke kampus yang letaknya tak jauh dari gedung perusahaannya.


Di luar ruang kerja Daniel, Amara yang baru keluar langsung saja berlari kearah pintu lift. Ia ingin segera keluar dan menjauh dari Daniel yang ia anggap sedang mabuk dan bicara ngawur itu.


Sementara itu sekepergian Amara, Daniel terus menarik senyum tipis sembari menatap layar CCTV yang menampilkan gambar di mana Amara terus mengoceh dan berlari keluar dari perusahaannya.


"Kamu suka sekali mengumpati ku rupanya," gumam Daniel yang terus menatap layar CCTV hingga bayangan Amara tak lagi tersorot oleh camera CCTV.


Ya, Amara memang terus mengumpati apa yang telah diucapkan dan dilakukan Daniel padanya, sepanjang ia melangkah kakinya keluar dari perusahaan.


Jujur kehadiran Amara disaat Daniel mengalami polemik asmara dengan Tara, seakan menjadi pengobat lara hati bagi Daniel.


Hampir seluruh perhatian Daniel teralih begitu saja pada Amara. Ruang kosong di hati Daniel yang ditinggalkan Tara dengan cepat terisi oleh Amara yang mampu memberikan rasa damai untuk Daniel, meskipun Amara tak pernah melakukan sesuatu apapun untuk Daniel.


"Jam berapa Amara datang ke kantor?" Tanya Daniel santai sembari duduk manis memandangi layar komputer di meja kerja Amara. Lalu pandangannya berpindah memandang pada Dias yang terlihat keheranan dengan tingkah atasan sekaligus pemilik perusahaan.


Hal yang tak pernah terjadi sepanjang ia bekerja di perusahaan ini. Daniel turun gunung ke ruangan Account Eksekutif. Apalagi hanya menanyakan karyawan magang seperti Amara.


"Biasanya tepat jam dua belas siang Pak,"


Daniel segera mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangannya. Di mana ia memandang jam mewah yang ia kenakan, demi mengetahui berapa lama lagi dia menunggu untuk bertemu kembali dengan penyejuk hatinya.


"Sepuluh menit lagi." Ucap Daniel dengan senyum sangat tipis dan hampir tak terlihat.


"Iya Pak, sepuluh menit lagi." Ulang Dias yang tak tahu harus bicara apa lagi dengan Daniel.


"Pergilah beristirahat lebih awal! Saya akan menunggu Amara di sini." Perintah Daniel.


Seketika Dias terkejut hingga membulatkan mata dan tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa diam dan menatap keanehan pada Daniel di hadapannya.


Apa menunggu Amara di sini? Ada apa? Ada angin apa seorang Pak Daniel rela meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk menunggu Amara, karyawan magang? Batin Dias.


"Assalamualaikum, selamat siang. Ara datang!" Ucap Amara yang baru saja tiba lebih awal dari biasanya.


Ceria sekali dia. Batin Daniel dengan mata yang terus menatap gadis yang mencuri perhatiannya.


"Waalaikumsalam," jawab semua rekan Amara di ruangan itu tanpa terkecuali.


"Mba Tri, ini ketopraknya. Dikasih hadiah telor rebus sama abangnya karena dia lagi ulang tahun. Dia titip salam buat Mba Tri, katanya dia minta di kadoin." Ucap Amara sembari memberikan sebungkus ketoprak untuk Mba Tri.


"Hahaha, seriusan dia ulang tahun?" Tanya Mba Tri tak percaya. Amara pun mengangguk dengan senyum khasnya yang memesona.


Suara tawa Mba Tri cukup keras terdengar hingga membuat semua orang menyernyitkan kedua alis mereka. Di ruangan ini hanya Mba Tri yang tak merasa tegang ataupun canggung dengan keberadaan Daniel.


Mba Tri terlihat sangat santai, karena ia paham keberadaan Daniel di ruangannya bukan menyangkut pekerjaan tapi menyangkut sebuah perasaan.


Usai memberikan ketoprak di meja kerja Mba Tri. Amara yang belum menyadari keberadaan Daniel pun melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya dengan riang seperti biasanya.


Jantung Amara mulai tak baik-baik saja, ketika ia melihat sosok Daniel yang berada di balik meja kerjanya.


Hadduh... Pak Daniel. Mau apa nih kembaran Jaemin di meja kerja ogut? Apa proposal yang gue kerjain semalam ada yang salah.


"Se-selamat siang Pak," sapa Amara yang sedikit tergagap.


"Hemmm siang," sahut Daniel yang kemudian memainkan matanya meminta Dias membawa anak buahnya keluar dari ruangan.


Dias yang paham segera mengistirahatkan anak buahnya. Seluruh anak buah Dias keluar dari ruangan terkecuali Amara dan juga Mba Tri.


Mba Tri sengaja menulikan pendengarnya saat Dias meminta dirinya untuk keluar. Ia yang biasa bekerja dengan earphone berpura-pura sedang mendengarkan lagu sembari menggoyangkan kepalanya agar tetap bisa berada di ruangan, guna mengetahui apa maksudnya Daniel mendekati Amara.


Sementara itu melihat semua rekannya pergi, Amara pun ingin ikut beranjak pergi guna mengambil piring dan sendok.


"Mau kemana? Kamu berani sekali meninggalkan saya." Tanya Daniel yang tak lepas memandangi Amara yang pergi masih dengan menggendong tas ranselnya.


"Ke pantry Pak ambil piring." Jawab Amara.


"Letakkan dulu tas mu!"


Daniel beranjak mendekati Amara yang sudah dua langkah menjauh dari meja kerjanya. Ia mengambil tas yang masih berada di pundak Amara.


Dug...dug...dug!


Kembali jantung Amara bergemuruh saat Daniel melakukan perhatian kecil padanya.


Ya Tuhan. Tolong kondisikan jantung Ara. Ara gak mau mati kena serangan jantung dekat dengan kembaran Jaemin ini. Batin Amara.


"Ja-jangan Pak! Biar saya letakkan sendiri." Tolak Amara yang sedikit menarik tasnya kembali.


"Saya tidak menerima penolakan Amara." Paksa Daniel yang kini menarik tas Amara dan membawanya ke meja kerja Amara.


Sejenak Amara terdiam terpaku dengan apa yang dilakukan Daniel padanya. Lalu tersadar kembali saat ia mendapatkan sebuah senyuman tipis dari Daniel yang kembali duduk di kursi kerjanya.


Dia kenapa? Kenapa seperhatian ini sama gue? Lagi mabok genjerkah? Batin Amara yang kemudian beranjak pergi ke pantry mengambil dua piring dan juga dua sendok untuk dirinya dan Mba Tri.


"Mba Tri ini piring dan sendoknya," ucap Amara sembari memberikan piring dan sendok pada Mba Tri.


"Terima kasih anak baik," ucap Mba Tri ketika menerima piring dan sendok yang dibawakan Amara.


Amara kembali ke mejanya, di mana Daniel masih duduk diam memperhatikannya.


"Kamu belikan Tri makanan setiap hari?" Daniel bertanya sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


Amara mengangguk. Daniel tersenyum sembari membuang pandangannya ke arah Mba Tri yang mulai membuka bungkus ketopraknya.


"Setiap hari?"


"Tidak Pak, hanya saat kita ingin makan ketoprak saja."


"Owh...."


"Bapak, apa ada yang mau dibicarakan sama saya?" Tanya Amara yang masih setia berdiri di depan meja kerjanya.


"Ya tentu. Tapi makanlah dulu. Setelah itu mari kita bicara." Jawab Daniel yang kemudian berdiri dan mempersilahkan Amara untuk duduk di kursinya.


Alih-alih pergi, Daniel malah menarik kursi di meja meeting yang ada di tengah ruangan Account Eksekutif.


"Bapak mau ngapain?" Tanya Amara yang melihat Daniel kembali duduk di dekatnya.