Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Firasat



Waktu kembali bergulir. Amara akhirnya menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh pihak kampus.


Di tahun ajaran baru ini, Amara sudah di amanahkan untuk mengajar di kelas 3 Sekolah Dasar bertaraf internasional yang menerimanya menjadi salah satu staf pengajar di sana.


Pada Akhirnya pula, Amara tetap bekerja part time di perusahaan Daniel, hingga kontrak satu tahunnya di perusahaan Daniel ini berakhir, hal ini sesuai dengan kesepakatan antara dirinya dan juga Daniel.


Begitu pula dengan pekerjaan menyanyinya di Cafe milik Dokter Frans, ia bekerja sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh Dokter Frans.


Dalam satu minggu, ia hanya dijadwalkan dua kali masuk bekerja, dan di saat ia masuk. Cafe Kokoro selalu dipadati dengan banyak pengunjung setia, yang ingin mendengar suara emas yang dimiliki oleh Amara.


Kesepakatan ini Amara dapat setelah ia menemui Dokter Frans secara langsung bersama dengan Daniel tentunya.


Daniel tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk Amara menemui Dokter Frans tanpa dirinya. Duda tengil ini begitu posesif pada Amara.


Rasa takut kehilangan Amara menjadi alasan satu-satunya dia bersikap seperti ini. Ia terus mengikuti kemana pun Amara pergi terkecuali saat mengajar di sekolah.


Bahkan putrinya pun sengaja ia pindahkan di sekolah tempat Amara bekerja. Selain karena keinginan Clara sendiri, Daniel pun punya maksud tertentu dengan kepindahan putrinya di sana.


Ya, Daniel ingin Clara memata-matai pergerakan Amara di sana. Clara harus terus melaporkan calon ibu sambungnya ini berdekatan dengan siapa saja saat di sekolah.


Entah bagaimana suatu saat nanti, jika Tara telah kembali. Akankah Daniel tetap mempertahankan rasa takutnya kehilangan sosok Amara dan sifat posesifnya yang sangat berlebihan ini? Atau bahkan sebaliknya ia melepaskan Amara dan melupakan bagaimana sikap posesifnya yang selalu bikin geleng-geleng kepala?


Di sekolah Xxx, saat jam istirahat pertama tiba.


"Mami!" Panggil Clara saat putri Daniel itu menghampiri Amara di kelasnya.


Clara tidak beruntung, saat kepindahannya ke sekolah Xxx. Ternyata Kepala Sekolah menempatkan dirinya di kelas yang berbeda dengan Amara.


Namun hal ini sangat menguntungkan bagi Amara. Karena ia bisa mengajar lebih leluasa tanpa menghadapi sifat Clara yang sangat manja padanya. Walau bagaimanapun Amara harus menjaga profesionalnya sebagai seorang guru di sekolah.


Saat di sekolah Amara dan Clara membuat sebuah perjanjian, di mana Clara hanya boleh memanggil Amara dengan sebutan Mami, jika mereka sedang berdua saja, tidak dengan di depan umum.


Amara memberikan pengertian pada Clara dengan susah payah, untuk tidak memulai sesuatu yang baru dengan sebuah kebohongan. Beruntungnya putri Daniel ini dapat mengerti penjelasan Amara dan mau menurut, meskipun Clara masih merasa keberatan untuk menjalaninya.


"Ya, sayang. Ada apa? Kenapa kamu tidak ke kantin?" Tanya Amara yang kemudian sedikit menundurkan kursi duduknya.


Amara membiarkan putri Daniel ini naik ke atas pangkuannya seperti biasa. Kebetulan saat ini suasana kelas kosong, hanya ada dirinya di sana.


"Tidak, aku tidak lapar. Aku hanya ingin di sini bersama Mami." Jawab Clara yang sudah berada di atas pangkuan Amara. Kemudian Clara menyandarkan tubuh lemasnya ke tubuh Amara.


"Apa kamu sakit sayang, kok lemes begini?" Tanya Amara yang kemudian sibuk mengecek suhu tubuh Clara.


"Tidak, aku tidak sakit Mami. Aku baik-baik saja." Jawab Clara yang membalikkan badannya, ia memeluk erat dan menciumi Amara kemudian bersembunyi di curug leher Amara.


"Mami, apa boleh hari ini aku menginap di kosan Mami?" Tanya Clara setelah cukup lama terdiam menikmati belaian kasih sayang dari tangan Amara, sembari menatap sendu wajah Amara tanpa melepaskan pelukannya yang sedikit ia uraikan.


"Tentu boleh sayang. Sebenarnya ada apa dengan mu, Clara? Kenapa kamu bersikap seperti ini? Apa ada terjadi sesuatu? Apa ada anak yang nakal lagi di sekolah ini yang mengganggu mu?" Tanya Amara yang merasa curiga dengan sikap aneh Clara.


Saat ini Amara benar-benar sangat mengkhawatirkan Putri Daniel ini.


"Aku tidak apa-apa Mami. Tidak terjadi sesuatu dan tidak ada satu pun anak nakal di sekolah ini yang mengganggu mu. Hanya saja, semalam aku bermimpi buruk dan mimpi itu sangat mempengaruhi ku sampai sekarang." Jawab Clara masih dengan wajah sendunya.


"Sayang, mimpi hanyalah bunga tidur. Kamu jangan terlalu memikirkan sebuah mimpi yang akan membuatmu bersedih seperti ini. Lagi pula kata orang dulu, mimpi buruk itu tidak boleh diceritakan Pamali katanya." Balas Amara seraya berusaha memberikan pengertian.


"Kata Naynay, mimpi adalah sebuah pertanda Mami, aku tidak mau mimpi burukku itu menjadi kenyataan."


"Mimpi akan menjadi kenyataan jika kamu terus memikirkannya. Jadi berhentilah memikirkan mimpi mu itu sayang! Mami ingin melihat mu ceria seperti anak-anak lainnya. Bukankah kamu senang bisa pindah ke sekolah ini?"


Pertanyaan Amara malah membuat mata Clara berkaca-kaca.


Tidak, tidak. Aku tidak mau mimpiku menjadi kenyataan. Aku tidak ingin kehilangan mu,Mami. Aku hanya mau dirimu yang menjadi Mamiku, bukan orang lain. Batin Clara seraya menatap wajah Amara dengan bulir air mata yang berlinang.


"Clara, kenapa kamu menangis, sayang? Apa Mami salah bicara?" Tanya Amara yang nampak bingung dan merasa bersalah dengan Clara yang menangis dalam diam seperti ini.


"Mami, berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku! Aku tidak ingin jauh dari mu Mami." Pinta Clara dengan isak tangisnya.


"Clara, Mami tidak pernah jauh dari mu, bahkan berniat menjauhimu pun tidak sayang. Kenapa kamu bisa tiba-tiba merasa takut Mami akan meninggalkan mu seperti ini, sayang? Jangan bilang jika semua ini karena mimpi mu semalam sayang!"


"Tentu, aku takut. Bukan hanya karena mimpi, tapi karena Mami dan Papi belum juga menikah hingga saat ini." Jawab Clara yang membuat Amara terdiam tanpa mampu menjawab pertanyaan Clara.


Meski Daniel terus mengajak Amara untuk menikah, namun Amara masih menggantung jawaban akan kesediaannya menikah dengan Daniel. Padahal Amara sudah mengantongi restu dari pihak keluarga Daniel. Baik Nyonya Anne, Tuan Cristiano dan juga adik satu-satunya Daniel, Angels.


Tentunya bukan Daniel yang memperkenalkan Amara pada anggota keluarga Daniel yang lain, tapi Clara-lah yang memperkenalkan Amara pada anggota keluarga Daniel itu dengan sebuah jebakan Batman yang di rancang Clara dan juga Angels.


Perbedaan keyakinan adalah salah satu alasan yang membuat Amara ragu untuk menerima lamaran Daniel. Ia masih memikirkan apa kata kedua orang tuanya tentang banyaknya perbedaan diantara mereka berdua. Tak hanya keyakinan tapi juga derajat hidup mereka yang berbeda jauh.


Ingin rasanya Amara bertemu dengan kedua orang tuanya untuk membicarakan hal penting ini. Namun apa daya, sejak kelahiran putra pertama Erdi, kedua orang tua Amara belum juga kembali dari kota kelahiran Erdi hingga saat ini.


Apalagi sang ayah malah memutuskan untuk cuti mengajar pada satu semester ini. Kecil kemungkinan kedua orang tua Amara akan kembali dalam waktu dekat.


Saat ini keduanya sama-sama sedang menanti, dan dalam masa penantian ini, Daniel serta Amara sepakat, untuk saling mempelajari dan memperkenalkan keyakinan mereka masing-masing.


Hal ini bertujuan agar, jika suatu saat nanti salah satu diantara mereka akan berpindah keyakinan. Tidak ada keterpaksaan dalam melakukannya. Karena mereka telah sepakat akan berpindah keyakinan, jika salah satu diantara mereka hatinya tergerak untuk berpindah keyakinan.


Selama berbulan-bulan baik Daniel dan Amara saling mengenalkan keyakinannya masing-masing. Amara menghormati dan menghargai apa yang Daniel ajarkan padanya. Begitu pula dengan Daniel.


Saat Amara mengajar tentang keyakinannya yang sama dengan Tara. Daniel mulai kembali ingat dengan mantan calon istrinya yang menghilang tanpa kabar berita hingga saat ini.


Daniel mengingatkan Tara, bukan karena ia ingin kembali pada Tara. Tapi karena ia menyayangkan sikap Tara yang berbeda jauh dengan Amara, di mana Amara mau bersabar mengenalkan dan mengajarkan dirinya tentang keyakinan mereka. Tidak seperti Tara yang hanya bisa menuntut Daniel untuk berpindah keyakinan sebagai sebuah syarat pernikahan mereka kala itu.


Di perusahaan Jaya Crop.


Seusai pulang sekolah Amara dan Clara di bawa oleh Jono, supir pribadi Clara ke perusahaan Jaya Crop, sesuai dengan permintaan Daniel.


Pekerjaan Amara di perusahaan Angkasa Jaya milik Daniel semakin tidak jelas, karena tingkah Daniel yang semena-mena terhadap dirinya. Jika karyawan lain sama sekali tidak mempermasalahkan tentang kinerja Amara sekarang, berbeda dengan Amara yang merasa tidak enak hati dengan rekan kerjanya.


Kini Amara dan Clara tengah duduk dengan manis di sofa panjang yang ada di ruang kerja presiden direktur perusahaan Jaya Crop yang saat ini dijabat oleh Daniel. Keduanya di sana sedang menunggu Daniel menyelesaikan meetingnya.


Sambil menunggu Amara membantu Clara menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang diberikan oleh Miss Melodi. Wali kelas Clara saat ini.


Putri Daniel ini masih terlihat tidak bersemangat, meski Amara sudah mencoba meminta Clara untuk tidak berfikir yang bukan-bukan dengan mimpi yang ia alami. Sudah berbagai cara Amara lakukan untuk menghibur Clara, namun ia tidak juga berhasil.


"Selamat siang, dua bidadariku!" Sapa Daniel saat ia masuk ke dalam ruang kerjanya.


Ia berjalan dengan semangat menghampiri keduanya. Mengecup satu persatu kening dua gadis beda generasi ini dengan penuh kasih sayang.


Daniel menyernyitkan kedua alisnya saat melihat raut wajah putrinya yang masih terlihat muram seperti pagi tadi. Namun Daniel yang tidak ingin membahas lagi mimpi putrinya yang telah ia ketahui pun hanya mengabaikannya saja. Meski hatinya ikut merisaukan atas mimpi yang dialami putrinya.


Usai menyelesaikan pekerjaannya, Daniel membawa Amara dan Clara ke mall ternama yang cukup besar di tengah kota. Selain untuk makan bersama, Daniel juga berniat untuk mengambil pesanan cincin yang telah ia pesan jauh hari sebelumnya. Daniel membelikan tiga buah cincin untuk mereka bertiga. Dengan model yang hampir mirip.


Wajah muram Clara akhirnya sirna sudah. Ia kembali ceria saat menerima pemberian sang Papi. Ia senang karena memiliki cincin yang sama dengan Daniel dan juga Amara. Daniel memakaikan putrinya cincin yang ia beli ini dengan dibantu oleh Amara.


Saat ia memakaikan cincin pada putrinya, Daniel pun berkata-kata yang cukup menyentuh hati Clara.


"Clara, putri Papi yang paling Papi sayangi. Dengan Papi dan Mami pakaikan cincin ini di tangan mu. Ini adalah sebuah tanda cinta kasih kami pada mu, yang tidak akan pernah terputus sampai maut memisahkan kami dengan mu. Mulai sekarang jangan pernah takut akan kehilangan kami. Jika suatu saat kami berpisah dengan mu. Bukan berarti kami tidak menyayangi mu lagi. Karena di setiap kehidupan selalu ada pertemuan dan perpisahan, sayang. Jadi cobalah untuk lebih kuat lagi mengarungi dunia ini, sayang!" Ucap Daniel saat memakaikan cincin di jari manis tangan Clara.


"Iya Pih, Clara akan lebih kuat lagi demi Papi dan Mami." Jawab Clara dengan senyumnya sembari menatap Amara dan Daniel bergantian.


Amara menatap lekat wajah Daniel yang berkata demikian pada putrinya. Kata-kata Daniel begitu ambigu bagi Amara, hingga membuat Amara berpikir keras untuk memahami setiap makana yang tersirat dari kata-kata Daniel pada putrinya ini.


Tidak ingin meminta kejelasan di depan Clara. Amara pun menyimpan rapat-rapat pertanyaannya yang sangat mengusik hati dan pikirannya saat ini pada Daniel.


Usai memakaikan cincin di jari manis Clara, kini giliran Daniel memakaikan cincin di jari manis Amara.


"Amara Ayudia, saya sangat mencintai mu. Jangan coba-coba tinggalkan saya dan putri saya yang sangat mencintai mu dan menggantungkan hati dan pikiran kami pada mu!" Ucap Daniel dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dan dengan nada bicara yang cukup mengecam Amara.


Entah mengapa saat mengatakannya Daniel tidak bisa menahan kesedihannya. Namun ia masih bisa menyembunyikan kesedihannya agar Amara tak melihatnya.


Amara memukul pelan lengan Daniel saat merespon cepat kata-kata Daniel yang mengecamnya.


"Kamu tuh gak bisa romantis dikit, ngancem terus kerjaannya. Aku gak pernah mikir ataupun berniat ninggalin kalian. Aku malah khawatir kalian yang akan ninggalin aku. Secara aku ini cuma apa sih," Balas Amara yang malah mendapatkan pelukan erat dari Clara dan juga Daniel.


"Kami tidak akan meninggalkan Mami," ucap keduanya kompak.


Kalian berdua kenapa? Ya, Tuhan. Sebenarnya apa yang dimimpikan Clara hingga membuat mereka seperti ini hari ini? Aneh banget sih. Batin Amara yang malah mencemaskan keduanya.