Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Mengetahui siapa Daniel part 1



"Hai, Amara. Kok aku gak kebagian Dimsumnya?" Sapa Siska saat melihat Amara yang baru saja tiba di muka pintu ruang Daniel.


Berita Amara membagikan Dimsum cepat sekali tersebar, banyak yang mengira Amara dapat mentraktir teman satu ruangannya, karena ia mendapatkan fasilitas kartu kredit dan ATM yang diberikan Daniel untuknya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Meskipun diberikan kartu ATM dan kartu kredit oleh Daniel. Amara sama sekali belum mempergunakannya. Bukan karena ia naif. Tapi karena ia takut dan selalu ingat pesan Tiara.


Menurut Tiara. Jika laki-laki sudah menjadi provider wanita sebelum menikah. Biasanya sebagian besar dari kaum laki-laki itu akan banyak menuntut lebih pada wanitanya. Cara mereka memandang wanitanya pun terkesan merendahkan. Hal itu terjadi karena sebagian dari kaum laki-laki itu merasa besar hati, menganggap diri mereka terlalu penting dan sangat dibutuhkan oleh para wanita yang sudah terlanjur bergantung hidup pada mereka.


Dan hal inilah yang menjadi cambuk bagi Amara. Ia takut bergantung pada Daniel. Ia juga takut dipandang rendah baik oleh Daniel atau pun orang-orang disekitar Daniel. Amara berusaha menghindari sesuatu yang akan menyakiti dan mengecewakan dirinya kembali.


"Ah, maaf banget ya Mba. Lain kali ya kalau aku di traktir teman aku lagi, aku gak akan lupa sama Mba Siska." Balas Amara yang merasa tak enak dengan teguran Siska yang ternyata mengetahui jika Amara membagikan Dimsum di ruangannya.


Siska sedikit mengernyitkan kedua alisnya saat mendengar balasan Amara yang mengatakan ia ditraktir oleh temannya.


"Ditraktir?"


"Iya, tadi aku pergi sama teman-teman kampus aku Mba. Nyari kebaya wisuda di Mall xxx dan pulangnya di traktir sama salah satu sahabat aku." Jawab Amara yang mengetahui kecurigaan Siska dengan pertanyaan yang dilontarkan sekertaris Daniel itu padanya.


Amara paham, pastinya kebanyakan karyawan di perusahaan Daniel termasuk Siska, sekertaris Daniel ini. Akan selalu mengira apa yang Amara bawa dalam jumlah banyak pasti menggunakan uang pemberian Daniel. Seperti Tara, kekasih Daniel. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Thomas-lah yang membelikannya.


"Owhh dibelikan teman kamu. Aku kira___ ya sudah Amara, tidak usah dibahas. Sebaiknya kamu segera masuk. Pasti kedatangan mu sudah ditunggu-tunggu Pak Daniel." Seloroh Siska yang dapat di pahami oleh Amara, yang kini tersenyum kaku pada Siska


"Iya Mba. Aku permisi dulu ya." Pamit Amara berusaha tetap bersikap ramah, meski ada secuil rasa kecewa dengan pemikiran Siska padanya.


"Iya Amara." Jawab Siska merasa tak enak hati telah salah menduga tentang Amara karena sebuah Dimsum.


Semoga kamu gak kaget ya, Amara. Karena di dalam ada anak Pak Daniel. Aku yakin Pak Daniel belum menceritakan tentang Clara sama kamu. Anak Pak Daniel itu sangat sulit menerima wanita baru untuk menggantikan posisi Maminya. Sampai saat ini saja ia belum bisa menerima Tara. Apalagi kamu, aku tak yakin. Batin Siska sembari memandangi punggung Amara yang menghilang dibalik pintu ruang kerja Daniel yang ia ketuk.


"Siang Pak, Bapak panggil saya ada apa?" Tanya Amara yang kini sudah berada di dalam ruang kerja Daniel, ia berdiri tepat di depan meja pria yang terus memandangi wajahnya sembari tersenyum penuh makna.


"Jam berapa kamu sampai di kantor tadi?" Tanya Daniel yang mulai beranjak dari kursi kebesarannya untuk menghampiri Amara.


"11.30 Pak kalau gak salah." Jawab Amara. Ia terus memandangi Daniel yang berjalan menghampirinya dengan perlahan.


"Kalau gak salah berarti benar." Ucap Daniel yang kemudian mendaratkan kecupan di pucuk kepala Amara.


"Ih, Pak Daniel. Jangan cium-cium saya kalau lagi di kantor. Saya takut Pak." Tolak Amara yang kemudian melangkah mundur menjauhi Daniel.


"Kamu berani menolak saya, Amara? Siapa yang kamu takutkan di kantor ini? Tidak ada yang harus kamu takutkan di kantor ini, terkecuali saya."


Ihhh, itu sudah pasti. Bapak adalah orang pertama dan paling saya takutkan di kantor ini. Batin Amara.


"Bukan berani menolak, tapi saya takut ada yang lihat. Saya malu Pak."


"Kenapa harus malu? Memangnya kamu punya malu humm?"


Punyalah masa gak punya. Haduh kadang-kadang mulut Pak Daniel rese juga. Sahut Amara di dalam batinnya.


"Semua orang di perusahaan ini sudah tahu kalau kamu itu wanita saya. Lantas kenapa harus malu. Mencium wanitanya sendiri itu tidak salah bukan? Kecuali cium istri orang itu sudah pasti salah dan memalukan." Daniel kembali mendekat bahkan menarik pinggul Amara agar menempel padanya.


Saya ini kekasih orang Pak, Apa Bapak lupa. Haduh seharusnya Bapak malu dong cium-cium kekasih orang. Batin Amara lagi.


Amara sama sekali tak memiliki keberanian untuk menjawab ataupun menanggapi perkataan Daniel saat berada di perusahaan. Karena ini adalah daerah kekuasaan Daniel. Berbeda jika mereka sedang berada di luar. Daniel akan bersikap wajar dan tidak sok kuasa seperti saat ini.


Menurut Amara saat di luar kantor Daniel adalah sosok pendengar yang sangat baik, meski dalam kondisi memejamkan mata sekali pun. Ia bahkan dapat mengulangi semua ucapan yang Amara lontarkan padanya.


Kini saat Daniel ingin kembali mengecup Amara. Clara yang baru selesai dari toilet setelah ritual seabadnya itu pun keluar dengan membulatkan mata. Bagaimana tidak membulatkan matanya?


Gadis kecil ini mendapati sang Papi sedang menempelkan diri dengan mesra ke tubuh seorang wanita yang belum jelas ia lihat bagaimana rupa wajahnya.


"PAPI!!! APA YANG PAPI LAKUKAN?? TERNYATA INI KESIBUKAN PAPI SELAMA INI DI KANTOR!! AH... JAHAT SEKALI PAPI PADA CLARA!" pekik Clara yang cukup mengejutkan Daniel dan Amara.


Gadis kecil Daniel ini mengomel dengan gaya bicara layaknya seorang gadis dewasa yang sedang mencemburui kekasihnya. Jangan merasa heran, hal ini dapat terjadi karena hasil didikan sang Nenek yaitu Mommy Anne, pada putri Daniel ini.


"Suara itu mirip sekali dengan Clara, anak kecil yang aku temui di lobby tadi. Papi? Jika itu benar Clara, berarti Clara anak Pak Daniel? Pak Daniel sudah punya anak? Punya istri juga dong? Ahh... Gimana i**ni?" Cicit Amara sembari memandangi Daniel.


Daniel yang dipandangi Amara dengan rasa terkejut dan penuh tanya, hanya melayangkan senyum kakunya pada Amara.


Alih-alih menjawab, Daniel malah meninggalkan Amara, ia malah mendekat pada Clara yang sedang bertolak pinggang sembari memandang tajam dirinya.


"Sayang, tidak boleh bersikap seperti ini pada Papi. Tante ini adalah ___" ucapan Daniel terpotong saat Clara dapat melihat jelas wajah Amara yang membalikkan badan ke arah mereka.


"KAK AMARA!!" Pekik Clara saat dapat melihat jelas rupa wajah wanita yang dipeluk sang Papi beberapa menit yang lalu.


"Clara?!" Panggil Amara yang kini terlihat terkejut dan juga bingung.


Hah, tuh kan bener suaranya Clara. Ya Tuhan gimana ini? Pak Daniel sudah punya anak, dia sudah berkeluarga.


Clara yang senang dapat berjumpa lagi dengan Amara, segera saja berlari ke arah Amara. Ia mengabaikan begitu saja sang Papi yang tengah berjongkok dihadapannya.


Clara yang berlari menjatuhkan pelukan hangatnya pada Amara, hatinya begitu berbunga-bunga dapat kembali bertemu dengan Amara. Sedangkan Amara masih nampak terkejut dengan kenyataan yang ia dapati saat ini. Entah harus senang ataupun sedih.


Jadi Clara benarkan anak Pak Daniel. Berarti benar ini Pak Daniel punya keluarga, pasti ada istrinya dong, terus gue apa dong? Pelakor kah? Haduh suratan takdir macam apa ini, Tuhan? Sebutan wanitaku ternyata kamuflase dari simpananku. Ternyata dia sama jahatnya dengan Erdi dan Rendra. Tapi kenapa seisi kantor gak ada yang ngasih tahu aku akan hal ini? Pasti mereka takut sama Pak Daniel. Batin Amara berkecamuk.


"Clara senang sekali bisa ketemu dengan Kak Amara lagi loh, Kak Amara gimana?" Ungkap Clara yang terlihat riang gembira, putri Daniel ini masih terus memeluk erat tubuh Amara. Seakan enggan untuk melepaskannya.


Kali ini aku yang nggak senang ketemu kamu, Clara. Aku ini pelakor. Perempuan jahat yang sudah menyakiti kau dan Mami mu. Kasihan sekali Mami mu di rumah. Pasti dia akan tersakiti jika mengetahui akan ha ini. Ternyata Pak Daniel tak jauh berbeda dengan pria brengs(e)k diluar sana. Suka sekali serong di belakang istri. Batin Amara.


Amara hanya tersenyum kaku menanggapi ungkapan kebahagiaan Clara sembari membalas pelukan hangat yang diberikan Clara padanya, yang mungkin akan menjadi pelukan terakhir yang diberikan Amara untuk gadis kecil ini.


Ya Tuhan, tolong maafkan aku. Tolong jangan takdirkan aku jadi seorang yang jahat untuk anak tak berdosa ini. Jika aku hanya menjadi seorang pelakor yang akan merusak kebahagiaan anak tak berdosa ini dan wanita yang menjadi istri Pak Daniel. Mungkin lebih baik hari ini adalah hari terakhir aku kerja di sini. Sepertinya pergi dan menghilang harus aku lakukan. Demi kebahagiaan Clara dan Maminya. Sebagai sesama wanita aku tidak boleh egois.


Pasti kamu sedang berpikir yang tidak-tidak dan berniat meninggalkan aku. Batin Daniel


Daniel yang menyadari apa yang ada di dalam pikiran Amara segera menghampiri Amara dan Clara. Ia menjelaskan tentang dirinya yang selama ini tak pernah ia ceritakan.


"Dengar Amara, satu hal penting yang belum pernah saya ceritakan pada mu. Saya ini adalah seorang duda dengan satu anak. Saya sudah hampir lima tahun berpisah dengan mantan istri saya. Clara ini adalah putri saya satu-satunya dari pernikahan saya terdahulu. Semenjak perpisahan kami, Clara ikut tinggal bersama saya. Jadi sekarang kamu jangan berpikir kalau kamu sedang jadi pelakor di rumah tangga saya. Buang jauh-jauh praduga dan niat kamu yang ingin pergi meninggalkan saya. Karena saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ungkap Daniel yang dapat membaca isi pikiran Amara.


Apa yang diungkapkan Daniel ini sedikit melegakan hati Amara. Daniel mengusap lembut pucuk kepala Amara yang masih terus di peluk erat oleh putrinya.


Gak apa-apalah berjodoh sama Duda. Asal dia sayang dan setia itu tak akan jadi masalah. Pantesan nyosor mulu. Ternyata Pak Daniel seorang Duda. Duda kan selalu haus akan belaian. Duh harus hati-hati nih, benar kata Tiara. Dia pasti mengincar s(e)x dalam berhubungan dengan setiap wanita. Batin Amara saat ia terbuai dalam lamunannya.


Puas memeluk Amara, Clara mukai mengurai pelukkannya. Ia menatap wajah Amara yang tengah melamun.


"Kak...Kak Amara." Panggil Clara dengan menggoncangkan dan menarik lengan Amara.


"Hah, i-iya," sahut Amara yang tersadar dari lamunannya.


"Kak Amara melamun?"


"Tidak," bohong Amara.


"Clara ada apa panggil Kakak? Ada yang bisa Kakak bantu?" lanjut Amara.


"Tidak, Clara tidak minta bantuan. Clara hanya mau ajak Kakak makan Dimsum. Ayo kita makan bersama Dimsum yang Kakak berikan tadi! Pasti kakak belum makan kan?"


Amara mengikuti kemana langkah kaki Clara yang menariknya dengan antusias. Belum sempat mereka menyentuh Dimsum pembelian Thomas. Daniel malah menghentikan mereka.


"Tunggu! Jangan dimakan dulu! Kamu bawa Dimsum banyak darimana? Apa kamu membelinya?" Tanya Daniel yang menaruh curiga. Pasalnya ia tahu betul keuangan wanitanya ini.


Membayar kuliah dan keperluan kuliahnya sendiri, ditambah harus ngekos dan menanggung biaya makannya sendiri dengan gaji yang sangat kecil di mata Daniel, sangatlah tidak masuk akal bagi Daniel, jika Amara membeli Dimsum dalam jumlah porsi yang banyak seperti saat ini. Terlebih ia sama sekali tak pernah mendapatkan notifikasi pemakaian ATM dan kartu kredit yang ia berikan pada Amara.


"Tidak Pak saya tidak membelinya." Jawab Amara jujur.


"Terus, darimana Dimsum ini kalau kamu tidak membelinya? Jangan bilang ini turun dari langit!" Desak Daniel yang berhasil membuat Amara ketar-ketir.