
Aku tak pernah merebut suami mu. Dia yang datang sendiri padaku. Aku memang salah, telah membiarkannya terus mengisi hari-hari ku. Aku tahu kau tersakiti, dengan kehadiran ku ditengah kehidupan rumah tangga yang kalian bina.
Tapi aku bisa apa, ketika hatiku terlanjur melekat pada kehangatan yang Mas Adam berikan padaku. Perlu kau sadari, suami kita lebih mencintai mu daripada aku yang selalu ada bersamanya. Hanya ada kamu di hatinya, hingga ia tega menggadaikan dirinya demi keinginan mu.
Hay guys kali ini aku nulis drama rumah tangga.. mungkin akan menguras air mata. Mungkin juga nggak... tapi tolong simak cerita aku ya guys🫰🫰🫰
"Saya terima nikah dan kawinnya Mona Tari Utami binti Almarhum Pramuji dengan Maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Hari ini, Mas Adam berhasil mengumandangkan ijab kabul dengan suara yang terdengar merdu diseluruh penjuru gedung aula, yang aku sewa untuk pernikahan kami.
Ya, Pernikahan kami yang tidak akan pernah mungkin dianggap sah di mata hukum, karena aku hanya bisa dinikahi Mas Adam secara sirih.
Meskipun aku hanya dinikahi secara sirih oleh Mas Adam. Seharusnya hari ini aku bahagia dengan didandani layaknya seorang Putri Raja, dan duduk di samping pria yang sangat aku cintai.
Namun sayang, saat ini diriku justru dilema. Bukan karena Mas Adam hanya bisa menikahi ku secara sirih. Tapi karena, diriku yang masih terbayang pesan singkat yang aku baca dari seorang wanita, sebelum acara akad nikahku bersama Mas Adam dimulai.
Aku memang wanita yang lemah, aku sadar siapa diriku, dan darimana asalku. Jika mereka membandingkan diriku dengan dirimu. Aku tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dirimu, karena tidak ada yang bisa aku banggakan dari apa yang aku miliki, selain kedua buah hatiku. Selamat berbahagia atas pernikahan kalian. Tolong katakan pada Mas Adam. Aku pamit, bukan untuk menyerah. Tapi aku hanya tidak ingin terluka lebih parah lagi. Dia boleh mengabaikan dan melupakan perasaan diriku, tapi tolong jangan lupakan bagaimana perasaan kedua buah hatinya sendiri.
Pesan itu terus terngiang di pikiranku. Aku akui, aku salah. Aku akui, aku egois. Dan aku akui, aku jahat. Tapi aku juga tidak ingin seperti ini. Cinta dan keadaan telah membutakan kami. Hingga membuat kami terlihat kejam.
Aku meremas sedikit kain kebaya yang membalut lekuk tubuhku dengan indah. Mataku sedikit terpejam dan menitikkan air mata, ketika para saksi berseru bersamaan mengatakan pernikahan aku dan Mas Adam telah sah.
Tanganku cukup berkeringat, jantungku berpacu dengan cepat. Kulihat Mas Adam, memandangiku dengan tatapan sendu. Sembari menggenggam tanganku yang telah basah.
Aku yakin, dia saat ini juga sedang dilema seperti diriku. Namun ia berusaha menutupinya dan malah menguatkan diriku yang mulai goyah.
Tolong jangan katakan, kenapa aku tidak membatalkan saja pernikahan kami hari ini?
Tentu aku sudah mengatakan pada Mas Adam secara langsung, juga pada pihak keluarga inti ku dan keluarga Mas Adam, untuk membatalkan pernikahan kami. Karena sebagai sesama wanita, aku pun masih punya hati.
Namun pembatalan yang aku utarakan tidak dapat terealisasikan, karena mereka tetap mendesak ku untuk melanjutkan pernikahan kami. Dan berjanji akan mengurus Viona.
Ya, wanita yang menjadi prioritas hidup Mas Adam adalah istri yang teramat sangat ia cintai. Meskipun Mas Adam pernah mengatakan jika ia juga mencintai ku, tapi aku yakin dia lebih mencintai Viona, istri sah Mas Adam baik secara agama maupun secara hukum negara.
Aku tahu dia terpaksa menikahi ku. Seperti dia yang dulu datang dengan keterpaksaannya ke kediaman ku. Meminta bantuan atas ketidak berdayaannya.
Mas Adam bukanlah orang asing bagiku, maupun keluargaku. Kami masih memiliki hubungan kekerabatan. Dia adalah anak dari kakak sepupu ibu ku.
Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Mas Adam. Kami akhirnya bertemu diacara silahturahmi keluarga besar Prakarsa, Kakek kami.
Kala itu Mas Adam datang bersama Viona dan juga kedua buah hati mereka. Tidak ada sesuatu yang berkesan dari pertemuan pertama kami kala itu.
Aku yang memang memilih hidup sendiri, melajang tanpa teman hidup. Sama sekali tidak berminat untuk memperhatikan lawan jenisku, baik teman maupun saudara ku sendiri.
Aku lebih fokus pada pekerjaan ku. Aku meniti karir ku dari nol hingga berjaya sampai saat ini. Uang bukanlah sebuah masalah bagiku.
Malam itu, hujan turun cukup deras. Sebuah deru motor terdengar masuk ke dalam pekarangan rumah ku. Seorang asisten rumah tangga segera keluar berlari membawakan handuk, sesuai dengan permintaan Mamiku.
Ya, Mami ku. Aku hanya tinggal berdua dengan Mamiku dan ditemani oleh beberapa pekerjaan yang mengurus kediaman mewahku, setelah Papiku tiada.
Ku intip dari balik jendela, untuk melihat siapa yang datang bertamu malam-malam dalam keadaan hujan seperti ini. Saat aku mengenali sosok tamu yang tengah berdiri bersama Mamiku. Aku pun kembali menghabiskan sisa makan malam ku yang sangat telat aku nikmati, karena aku baru saja pulang bekerja.
Setelah makan malam ku habis, dan aku ingin segera beristirahat di kamar. Tiba-tiba Mami memanggilku. Aku menghampirinya yang duduk bersama dengan Mas Adam di ruang tamu.
"Mon, ada Mas Adam datang kesini. Dia ada perlu dengan mu. Duduklah Mon!" ucap Mamiku yang melirikku dengan mata tegasnya, yang menandakan aku tidak boleh menolak permintaan yang terkesan memerintah ku.
Kira-kira ada perlu apa si Mas Adam datang malam-malam ya?
Yuk, kepoin dengan terus bace ini cerite dari awal hingga akhir...
Tinggalin jejak kalian, dengan komentar kalian, terserah komentar pedas ke atau apa-apalah yang penting komen tapi di like ya... Hahaha... Vote kalau perlu ya guys! Coba itu Authornya begindang🤣🤣🫰🫰🫰