Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Perkelahian dan perdebatan



Jika Amara saat ini sedang menikmati waktunya bersama Daniel dan Clara di pusat perbelanjaan. Untuk menikmati makan siang bersama dan membeli kebaya wisuda di sebuah butik ternama.


Berbeda dengan Erdi yang kini tengah merana. Ia terpaksa dimasukkan ke dalam sel oleh pimpinan tertingginya. Setelah sebelumnya, Bastian datang dengan penuh emosi memukuli dirinya membabi buta. Erdi tak kuasa melawan Bastian yang merupakan salah satu atasannya. Karena Bastian merupakan orang tertinggi nomor dua di kesatuannya.


Kejadian pemukulan Erdi yang terjadi di luar kantor itu dapat dilihat langsung oleh Daniel yang baru saja tiba di kantor kesatuan Erdi.


Kejadian ini bisa terjadi di luar kantor dan menjadi konsumsi publik karena kebetulan saat Bastian datang, Erdi sedang berada di luar kantor bersama beberapa teman kerjanya.


Meski Erdi sudah berteriak minta ampun pada Bastian. Bastian tetap tak berhenti memukulinya. Hingga akhirnya orang nomor satu di kesatuan mereka datang untuk melerai perkelahian tak sebanding ini.


Ya, hanya beliaulah satu-satunya orang yang berani menghentikan aksi Bastian yang dikuasai api amarah. Pak Burhan pun juga tak segampang itu untuk menghentikan aksi Bastian yang dikuasai oleh emosi. Pak Burhan harus melepaskan sebuah tembakan demi untuk menghentikan aksi Bastian yang sudah membabi buta.


Kedatangan kepala pimpinan mereka yang sedikit terlambat dan sulitnya menghentikan aksi Bastian. Membuat kondisi wajah Erdi sudah tak berbentuk lagi. Darah mengalir deras dari sekejur wajahnya yang mengalami luka robek karena pukulan mematikan dari Bastian. Penampilannya sudah seperti maling yang tertangkap basah oleh warga.


Daniel yang menyaksikan kejadian pemukulan Erdi dari mobilnya kala itu, hanya menyunggingkan senyum di bibirnya. Sementara teman-temannya hanya bertanya-tanya, penyebab apa yang membuat Erdi mendapatkan serangan dari atasan mereka yang terkenal murah hati ini.


Andai Amara melihat ini, dia pasti akan bersorak gembira melihat kondisi mu yang menyedihkan ini, Erdi. Dan kau tahu Erdi kedatangan ku saat ini, akan melengkapi penderitaan mu. Aku pastikan ini akan menjadi awal mula pembalasan dendam Amara yang akan aku ambil alih. Perlahan tapi pasti aku akan membuat hidup mu lebih terpuruk dari wanitaku. Batin Daniel.


Kini di ruangan kerja orang nomor satu di kesatuan Erdi, yaitu ruangan kerja Pak Burhan. Daniel tengah duduk dengan jamuan istimewa setelah diminta menunggu beberapa saat sebelumnya. Karena Pak Burhan harus menyelesaikan masalah Bastian dan Erdi terlebih dahulu.


Setelah berbicara ke sana dan kemari. Daniel akhirnya mulai menceritakan maksud dan tujuannya menyambangi teman baiknya di kelas menembak ini. Setelah bicara panjang lebar dengan maksud dan tujuan kedatangannya pada Pak Burhan.


Daniel segera memberikan bukti pelecehan yang dilakukan Erdi pada Amara, di mana Erdi terus berusaha mendekati Amara, meski Amara sudah terkulai tak berdaya.


Tak lupa Daniel juga memberikan bukti keributan yang terjadi di club malam saat itu antara dirinya dan Erdi. Tak hanya itu, Daniel juga memberikan rekaman Cctv tempat kos Amara, di mana Erdi kerap kali mengintai gerak-gerik Amara tanpa izin.


"Dia wanita saya Pak Burhan. Sebagai seorang pria, saya berkewajiban memberikan perlindung padanya. Dan saya meminta tolong pada Anda untuk segera menindak tegas anak buah Anda yang kurang ajar itu!"


"Ya, saya paham itu Pak Daniel. Saya akan pelajari dan dalami terlebih dahulu kasus ini." Sahut Pak Burhan yang membuat Daniel tak puas.


Daniel menarik senyum tipisnya dan mulai mengeluarkan taring dan kekuasaanya demi Amara, wanitanya.


"Jadi bagaimana Pak Burhan? Anda mau pelajari dulu? Baiklah. Saya dengar ketiga anak Pak Burhan sedang menempuh pendidikan di universitas XYZ ya?" Ucap Daniel yang mulai mengintervensi Pak Burhan.


"Ya, betul Pak Daniel. Ketiga anak saya menempuh pendidikan di universitas swasta ternama di negara ini dengan program undangan beasiswa." Jawab Pak Burhan dengan bangganya.


"Ketahuilah Pak Burhan Universitas XYZ adalah milik keluarga besar saya, jika Bapak tidak bisa menyingkirkan Erdi dari kota ini. Maka saya akan berat hati akan mencabut beasiswa itu atau lebih parah lagi menyingkirkan ketiga anak Bapak dari universitas XYZ."


Glekk!!


Pak Burhan hampir tersedak dengan salivanya sendiri. Baru kali ini ia mendapatkan ancaman dari Daniel yang selama ini terlihat tenang saat bergaul dengannya. Tak pernah ia berkesempatan melihat Daniel mengeluarkan taringnya seperti saat ini.


"Ba-baik Pak Daniel. Saya akan segera memprosesnya hari ini juga." Jawab Pak Burhan sedikit tergagap pada Daniel.


Memang perusahaan Angkasa Jaya bukanlah perusahaan besar yang berpengaruh di negara ini, tapi perusahaan Jaya Crop milik sang Daddy adalah deretan perusahaan yang sangat berpengaruh di negara ini. Dan Daniel adalah satu-satunya pewaris tunggal dari kerjaan bisnis Jaya Crop. Karena Christiano sang Daddy hanya memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.


"Saya tunggu hasilnya Pak Burhan. Buatlah sehalus mungkin kepindahannya."


"Ba-baik Pak Daniel. Anda bisa percayakan semuanya pada saya."


"Sekali lagi saya dengar kamu berani mengancam adik saya, bukan hanya wajah mu yang saya buat babak belur. Camkan itu baik-baik Erdi. Saya bisa membuat anakmu lahir tanpa seorang Bapak. Persetan dengan jabatan dan hukuman, saya tidak perduli. Berani sekali kamu menginjak harga diri keluarga saya. Brengs(e)k kamu! Karena kamu adik saya sampai masuk rumah sakit. Kalau sampai adik saya kenapa-kenapa, saya pastikan kamu akan mendapatkan hukuman lebih berat dari ini!" Pekik Bastian yang belum puas mencaci Erdi yang sudah tak berdaya di dalam sel, seperti layaknya seorang penjahat.


Erdi yang berada di dalam sel hanya bisa diam menahan segala rasa sakit yang kini ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ditambah kata-kata Bastian yang terus mengumpati dan merendahkan harga dirinya di hadapan rekan kerjanya, dan tak hanya rekan kerjanya saja yang ada di sana tapi juga para kriminal yang ada disamping selnya yang mendadak diam mendengar kemarahan Bastian yang berapi-api.


Malu setengah mati, itulah yang kini Erdi rasakan. Sudah tak terbayangkan bagaimana dirinya setelah ini. Entah harus menjelaskan bagaimana dengan orang rumah nantinya. Dapat dipastikan ia tak akan pulang malam ini. Karena jelas terdengar pimpinannya memerintahkan rekannya untuk mengurung dirinya hingga esok hari.


Daniel yang baru keluar dari ruangan Pak Burhan menyempatkan dirinya untuk melihat Erdi yang ada di dalam sel. Daniel menghentikan langkahnya sejenak. Ia memandangi kondisi Erdi dengan senyum mengejek. Hal ini berhasil menambah kepedihan hati Erdi, yang merasa harga dirinya kembali diinjak-injak.


Piuh...piuh... Fuhhhh


Daniel bergaya menembak ke arah Erdi dengan senyum mengejek.


Sialan. Awas saja kau. Batin Erdi mengumpat pada Daniel.


"Loser." Ucap Daniel pada Erdi tanpa suara dari kejauhan.


Erdi yang dapat memahami ucapan Daniel tanpa suara itu, berhasil terpancing emosinya. Namun sayang ia tak bisa melakukan apapun di balik jeruji besi selain mengepalkan kedua buku tangannya.


Saat ini di Mall Xxx, Amara dan Clara tengah lahap memakan Dimsum bersama. Keduanya asyik menikmati Dimsum hingga melupakan keberadaan Daniel, yang hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan keduanya.


Padahal hanya sekedar Dimsum, tapi kalian terlihat begitu bahagia menyantapnya. Batin Daniel yang tersenyum bahagia menatap Clara dan juga Amara.


"Clara, kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan Papi tentang sekolah mu? Cepat katakan sekarang! Papi sudah memiliki waktu luang untuk mendengarmu bicara." Ucap Daniel pada putrinya.


Baru ingin menjawab Clara malah mendapatkan teguran dari Amara.


"Habiskan makannya dulu baru bicara, saat makan dilarang bicara! Nanti kamu bisa tersedak."


Amara menegur karena Clara ingin menjawab dengan mulutnua yang terisi penuh Dimsum.


Daniel kembali tersenyum tipis mendengar Amara berani melarang putrinya menjawab perintahnya.


"Jangan marah! Clara bisa tersedak jika dipaksa bicara."


"Ya, baiklah. Saya akan bersedia menunggu."


Daniel berusaha sabar menunggu keduanya selasai menghabiskan Dimsum, entah untuk porsi yang keberapa. Yang pasti di atas meja makan mereka sudah bertumpuk piring bekas makan keduanya yang sudah menjulang tinggi karena mereka berdua gabungkan.


Beralasan sepiring berdua saat menambah porsi Dimsum. Akhirnya malah melahirkan piring-piring selanjutnya hingga menjulang tinggi dan hampir menutupi wajah Clara dari pandangan Daniel


"Jika sudah kenyang, sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papi, Clara! Papi sudah siap mendengar cerita mu." Pinta Daniel sembari menggeser tumpukan piring yang menutupi wajah putrinya yang duduk di samping Amara dan tepat dihadapannya.


"Oh itu. Sepertinya Clara tak hanya ingin Papi dengarkan saja. Tapi Clara juga ingin Papi mengabulkan permintaan Clara. Lebih tepatnya permohonan Clara ini wajib dikabulkan tanpa alasan." Jawab Clara kemudian menengguk smoothies strawberry-nya hingga tandas.


"Hu-um, baiklah cepat katakan." Sahut Daniel dengan jumawa sembari mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya terus menerus. Seakan tak sabar dan penasaran dengan apa yang ingin diceritakan dan dipinta sang putri.


"Permintaan Clara masih sama seperti permintaan Clara dua bulan yang lalu. Apa Papi ingat?"


"Lupa. Jangan pinta Papi untuk mengingat! Papi sedang malas berpikir." Jawab Daniel sembari menggerakkan jarinya agar sang putri melanjutkan ceritanya.


Ishhh.... Papi ini, selalu mengatakan gunakan otakmu untuk berpikir, Clara. Nah Papi sendiri, malas sekali menggunakan otak Papi untuk berpikir. Kalau saja Papi bukanlah Papiku. Mungkin aku akan membuangnya ke planet Pluto. Gerutu Clara di dalam hatinya.


"Cepatlah bicara jangan terbiasa kurang ajar dengan mengumpat orang tua mu ini di dalam hatimu." Cetus Daniel yang hafal betul dengan kebiasaan putrinya yang suka mengumpati dirinya.


Amara yang menjadi penonton interaksi antara anak dan ayah ini sedikit mengulas senyum tipis, merasa betapa lucu hubungan keduanya.


"Ishhhh...Papi ini seperti paranormal yang memiliki indera keenam saja." Kesal Clara kemudian ia menekuk wajahnya sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kamu mau ngambek? Silahkan, itu artinya tidak ada kesempatan untuk mu untuk bercerita tentang kemauan mu yang entah apa itu." Cetus Daniel saat ia menduga putrinya akan merajuk.


"Aish, Papi. menyebalkankan sekali. Kak Amara, lihatlah Papi ku itu menyebalkan! Tak hanya karyawannya yang kesal padanya. Aku pun putrinya selalu di buat kesal."


Daniel seketika menyernyitkan kedua alisnya, sementara Amara malah tersenyum dan membelai lembut rambut panjang Clara yang tergerai.


"Hei, anak kecil. Jangan meracuni wanitaku. Cepat cerita atau Papi akan meninggalkan mu di sini sendirian!" Ancam Daniel pada putrinya.


Wanitaku? Sebutan macam apa itu. Kenapa Kak Amara disebut wanitaku? Apa Kak Amara calon istri Papi yang baru? Terus kemana Tante Tralala Trilili itu? Jika benar Kak Amara calon istri Papi, berarti harapanku tadi langsung terkabul dong. Wah, pas sekali ini. Ini moment yang sangat pas. Clara hidup mu amat sangat beruntung hari ini. Batin Clara.


Bukannya sedih dan merasa takut dengan ancaman Daniel. Ia malah menunjukkan senyum bahagianya pada Daniel dan juga Amara.


Melihat hal itu, Daniel yang merasa ada yang tidak beres dengan putrinya segera mendekat pada Clara. Ia mengecek suhu tubuh putrinya itu.


"Kamu baik-baik saja Clara?"


"Ya, tentu saja aku baik Pih, bahkan lebih baik."


"Oh, ya? Papi tidak yakin." Sahut Daniel sembari menopang dagunya dengan kedua jarinya.


"Papi ku tercinta, terkasih dan tersayang. Dengarkan baik-baik dan resapilah apa yang aku katakan. Hari Sabtu besok, dua hari dari sekarang di sekolah aku ada acara camping bersama keluarga. Tidak ada alasan lagi untuk ku tidak ikut Papi. Please, jangan buat aku malu untuk berkali-kali! Berhentilah memintaku untuk berbohong ada acara atau apalah itu. Aku sudah beribu-ribu kali bertanya sejak dahulu kala, lebih tepatnya dua bulan yang lalu dan ini adalah H-2 alias dua hari sebelum mendekati waktu acara. Papi belum juga menjawabnya. Dan Clara minta dengan sangat tidak ada kata tidak tapi iya-iya, kita pergi camping keluarga." Jawab Clara panjang lebar dengan memaksa.


Selama Clara bicara Daniel hanya manggut-manggut seolah mengerti dan sudah siap untuk menjawab permintaan sang putri sedari awal.


"Ya-ya Papi lupa akan hal itu. Papi minta maaf, tapi sayangnya Papi tidak perlu kamu memaafkan Papi. Dan lagi pula Clara, kita mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kita hanya datang berdua, bukan? Tante mu tidak bisa ikut karena sudah memiliki keluarga dan anak sekarang. Sudahlah Clara, lagi pula itu acara yang sangat tidak penting. Di dunia kerja mu nanti tidak akan di tanya pengalaman kamu sudah pernah ikut camping bersama keluarga atau belum." Balas Daniel santai dengan pemikirannya yang membuat kesal Clara.


"Arghhh Papi. Itukan menurut Papi tidak penting, tapi bagi aku acara camping itu penting. Di dunia kerja memang tidak ditanya mengenai hal itu, tapi moment acara sekolah aku tidak akan terulang lagi, Pih. Tidak selamanya aku ini jadi anak kecil. Pengalaman ini pasti akan berguna saat aku sudah berkeluarga nanti." Sahut Clara kesal dan berujung menitikan air mata.


Hah, tua sekali cara berpikir putriku. Mommy, kau sepertinya salah mendidik putriku. Owhh, menjadi single parent sangatlah sulit. Apalagi ada campur tangan Mommy.


Melihat putrinya menangis, hati Daniel tersentuh. Ia merasa sangat bersalah. Terlebih ia kembali mendapatkan sorot mata tajam dari Amara yang terlihat kesal dan marah padanya.


"Ya-ya Oke. Kita akan datang." Jawab Daniel terpaksa dengan suara yang cukup keras pada akhirnya. Hingga hampir seluruh pengunjung restoran melihat ke arahnya.


Hahaha... Kena kau Papi, jebakan air mata buaya ku rupanya berguna juga. Batin Clara merasa menang.


"Dengan?" Tanya Clara yang segera membasuh wajahnya dari tetesan air mata yang deras membasahi pipinya.


"Ya kita berdua, dengan siapa lagi?" Jawab Daniel ketus.


Pertanyaan Clara berhasil membuatnya ingat akan sang kekasih, Tara.


Tidak mungkin aku datang bersama Tara, selain hubungan ku dengan Tara yang sedang break. Clara dan Tara sama-sama tidak cocok dan sering membuat ku pusing dengan pertengkaran mereka. Batin Daniel


"Papi gimana sih, kan minimal harus bertiga?" Protes Clara lagi.


"Ya terus harus gimana, kita cuma berdua. Kamu mau ajak Omma, silahkan."


"Big no Papi,"


"Ya sudah, kita akan pergi berdua."


"Tidak. Kak Amara, ikutlah bersama kami, please." Tiba-tiba Clara menatap Amara sembari memohon.


Amara cukup terkejut dengan permintaan Clara disela perdebatan ayah dan putrinya ini.


"Hah, Clara? Kenapa aku? Memangnya apa boleh orang lain ikut Clara?" Tanya Amara yang masih nampak terkejut.


"Iya boleh kok, yang pentingkan bertiga." Bohong Clara dengan senyum liciknya.


Sebenarnya tidak boleh. Tapi nanti aku akan katakan pada teman-temanku yang selalu meneriaki ku tak punya Mami itu, kalau Kakak adalah Mami baruku yang baik hati. Hahaha... Lagi pula Kakak dan Papi punya hubungan 'kan? Kali ini aku merestui hubungan Papi. Aku dukung seribu juta persen. Batin Clara.


"Kalau memang boleh, Kakak sih mau saja. Asalkan Pak Daniel memperbolehkan Kakak untuk ikut." Ucap Amara lagi sambil melirik Daniel yang tengah menatap dalam wajah putrinya.


Ia seperti ingin membaca isi hati dan pikiran Clara.


Rencana apa yang ada di dalam pikiranmu itu Clara. Papi saja tidak kepikiran untuk mengajak Amara, yang kau panggil Kakak baik hati ini.