Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Kepergok Daniel



Di rumah sakit.


Nyonya Anne langsung saja mendatangi ruangan kepala rumah sakit, yang itu berarti adalah ruangan kerja Dokter Frans.


"Frans, cepat lakukan segera! Panggil Dokter Obgyn terbaik rumah sakit mu." Perintah Nyonya Anne sambil menggandeng Amara dengan tergesa-gesa.


Amara nampak bingung dengan perintah Mommy mertuanya terhadap sahabat suaminya ini.


"Mommy, mau melakukan apa dengan Dokter Obgyn? Apa Mommy sedang hamil lagi?" Tanya Amara dengan tampang bodohnya.


Seketika Nyonya Anne memutar bola mata malasnya. Menanggapi pertanyaan menantunya yang sedikit polos ini. Sementara Dokter Frans berusaha menahan tawanya yang hampir saja pecah karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan Amara. Bisa-bisanya istri Daniel ini mengira Nyonya Anne yang sudah menopause ini berbadan dua.


"Kenapa Anda datang dalam keadaan tergesa-gesa seperti ini Nyonya? Apa Anda sedang dikejar-kejar saat ini?" Tanya Frans yang mendekati keduanya untuk mempersilahkan duduk.


"Tak perlu kau tanya, Frans. Kau sudah tahu kelakuan sahabat mu bukan?" Sahut Nyonya Anne yang malah balik bertanya pada Dokter Frans.


Dokter Frans hanya menanggapi jawaban Nyonya Anne dengan senyum simpul yang cukup memesona kaum hawa.


"Cepat lakukan, sebelum dia datang menyusul keberadaan kami, Frans!" Lanjut Nyonya Anne mendesak Dokter Frans.


Saat ini Mommy Daniel benar-benar ketakutan setengah mati. Ketika ia sadari, sejak kepergiannya bersama menantunya ini para Bodyguard sewaan Daniel terus mengikuti kepergian mereka.


Jika ditanya kenapa Nyonya Anne takut diikuti para Bodyguard. Tentu saja karena ia tidak ingin Daniel dan anggota keluarga lainnya tahu apa yang hendak ia lakukan bersama Amara di rumah sakit. Dia khawatir jika semua keluarga tahu apa yang ia lakukan pada Amara, pastinya ia akan kena masalah dengan Daniel dan juga Christiano suaminya yang berharap Amara segera melahirkan generasi penerus Jaya Crop.


Kau yang main api Nyonya, tapi aku yang akan terbakar sebentar lagi oleh amarah putramu, Nyonya. Batin Dokter Frans sembari mengirimkan pesan pada salah seorang Dokter Obgyn untuk datang keruangannya.


"Amara, duduklah di sini? Aku akan menyuntikan vitamin untukmu." Dokter Frans mempersilahkan Amara untuk duduk di kursi yang memang sudah ia sediakan untuk Amara. Di mana sudah tersedia obat yang ia butuhkan untuk membuat istri Daniel ini tertidur.


Ya, istri Daniel ini harus dibuat tertidur agar tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat pada bagian intinya.


"Vitamin? Untuk apa? Aku sedang tidak sakit, Kak." Tanya Amara dengan tatapan penuh tanya kearah Dokternya Frans lalu ke Mommy mertuanya.


"Vitamin agar kau cepat memiliki Dede bayi. Bukankah kamu ingin segera memberikan Clara adik?" Jawab Dokter Frans berbohong.


Mendengar jawaban Dokter Frans, Amara pun diam menuruti perintah Dokter Frans tanpa menjawab sepatah kata apapun. Ia segera duduk di tempat yang di sediakan Dokter Frans. Dokter Frans pun segera menyuntikan sebuah obat ke dalam tubuh Amara, dan tak lama kemudian. Obat itu pun bereaksi. Amara merasakan matanya yang berat dan lama kelamaan ia pun terlelap dalam tidurnya.


Tidurlah yang nyenyak sayang, aku senang melihat mu bahagia dengan keluarga baru mu yang bisa menerima mu dan juga menyayangimu. Batin Dokter Frans sembari menatap manik mata Amara.


Dokter Frans segera menggendong tubuh mungil Amara ke sebuah brankar yang memang tersedia di ruangan kerjanya. Tak lama kemudian seorang Dokter Obgyn wanita terbaik di rumah sakit yang Dokter Frans pimpin pun datang. Ia segera mengerjakan tugasnya melepas pagar pengaman di bagian inti milik Amara.


Ketika pekerjaan mereka hampir selesai, tiba-tiba suara pintu ruangan Dokter Frans dibuka dengan paksa.


Seorang pria dengan tatapan mata penuh amarah datang. Ia langsung saja menatap tajam ibu kandungnya dan juga sahabatnya secara bergantian, setelah itu matanya berselancar mencari keberadaan sosok istri yang teramat sangat ia cintai.


"Di mana istri ku?" Tanya Daniel dengan intonasi suara yang meninggi. "Apa yang kalian lakukan pada istri ku? Lanjutnya lagi.


"Mo-Mommy hanya...." kalimat Nyonya Anne yang penuh dengan kegugupan terpotong karena Daniel segera menyingkap tirai horden yang menutupi ruang tindakan yang ada di ruang kerja Dokter Frans. Karena ia yakini istrinya berada dibalik tirai itu.


Srekkkk!!


"AMARA!!!" Seru Daniel yang terkejut melihat Amara terpejam dengan posisi tidur yang tidak biasa.


Sialan, apa yang dilakukan Mommy dan Dokter Tengik itu? Batin Daniel.


Mata Daniel makin membola, rahangnya mengeras, suara gertakan gigi pun terdengar jelas. Hingga tubuh Dokter Obgyn yang menangani Amara bergetar karena merasa takut. Daniel terlihat sangat marah. Tanpa banyak berkata-kata lagi. Daniel dengan langkah cepatnya menghampiri Dokter Frans yang langsung menutup wajahnya.


"Please. Jangan wajah tampanku!" Pekik Dokter Frans yang menyembunyikan wajahnya. Karena ia tahu Daniel akan memberikan hadiah pukulan membabi buta untuknya.


"Kau apakan istriku, Dokter Tengik?" Tanya Daniel sembari mencengkram kedua lengan Dokter Frans.


"Aku hanya orang suruhan, tanya saja sama Mommy mu itu Kudanil!" Jawab Dokter Frans.


"Kau tidak berhak memerintahkan ku. Jawab pertanyaan ku dengan benar, atau aku ratakan rumah sakit kebanggaan mu ini dengan tanah!" Paksa Daniel pada sahabatnya.


Dokter Frans terus menghindari tatapan mata Daniel yang sungguh menyeramkan. Kali ini Dokter Frans benar-benar tidak berani menatap sahabatnya karena ia sadar, ia telah melakukan kesalahan. Dengan ikut berperan menyembunyikan perbuatan tidak baik Nyonya Anne terhadap Amara.


"Mommy mu sudah memasang alat kontras(e)psi pada istrimu, dan sekarang aku hanya membantunya untuk melepaskan alat kontras(e)psinya itu." Jawab Dokter Frans jujur yang makin membuat Daniel marah dan terkejut.


Nyonya Anne membuang pandangannya, saat mendengar kejujuran Dokter Frans yang terdengar begitu menyebalkan ditelinganya.


Frans mulut mu itu benar-benar tidak bisa disumpal sedikit saja. Aku harus bersiap menghadapi masalah dengan putraku dan juga suamiku. Batin Nyonya Anne.


Daniel melepaskan cengkraman yang di lengan dokter Frans dengan kasar. Hingga tubuh dokter Frans sedikit terhuyung. Daniel mengusap kasar wajahnya kemudian melirik ke arah sang Mommy yang sudah siap mendapatkan amarah dari putranya.


"Tega sekali Mommy lakukan itu padanya. Tidak tahukah Mommy dia selalu bersedih setiap kali men(s)truasinya datang. Hanya karena dia tidak ingin mengecewakan aku dan Clara." Ucap Daniel pada Nyonya Anne dengan wajah sedihnya.


"Maafkan Mommy, Daniel. Mommy dulu melakukannya demi kebaikan kalian. Terutama Amara. Mommy sadar Mommy salah. Tolong jangan marah Nak!" Ucap Nyonya Anne sembari berjalan menghampiri putranya.


"Mommy tahu saat itu kamu berada di persimpangan dilema antara Tara dan Amara. Mommy takut kamu menghamili Amara dan meninggalkannya hanya demi Tara. Maka dari itu Mommy mengambil tindakan ini Nak." Lanjut Nyonya Anne mencoba menjelaskan pada putranya yang terlanjur marah padanya.


"Akan aku pikirkan permohonan Mommy ini. Tapi aku tidak bisa dengan mudah memaafkan kesalahan Mommy ini." Balas Daniel yang segera pergi dan menghindari Nyonya Anne yang berjalan menghampirinya. Tanpa kata-kata lagi, Daniel segera membawa Amara pergi dalam gendongannya.