Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Kenyataan pahit



Melihat keributan di depan kos yang ia jaga, seorang security segera datang menghampiri mereka berempat.


"Pak Daniel," sapa security sembari memberikan hormat pada Daniel yang ia kenal dengan baik.


Daniel mengangguk dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Amara.


Dengan memberikan kode pada sang security. Security itu segera saja mengusir keberadaan Erdi dan juga Cece.


"Sebaiknya Mas dan Mbanya segera pergi! Untuk menghindari keributan kembali, yang akan menggangu kenyamanan para penghuni kos." Pinta Security itu dengan sopan.


"Maaf Pak, jika kedatangan kami telah membuat keributan dan mengganggu kenyamanan penghuni kos lain. Kalau begitu kami pamit undur diri. Saya pastikan kedepannya kami tidak akan membuat keributan di sini lagi." Balas Cece yang kemudian menarik tangan Erdi untuk meninggalkan Amara dan Daniel yang masih berdiri di posisinya.


Dengan langkah terpaksa Erdi pun mengikuti langkah Cece yang menarik kuat dirinya.


Sementara itu setelah kepergian Erdi dan Cece. Amara untuk kali ini memberanikan diri menatap tajam ke arah Daniel. Di mana tatapan mata Daniel saat ini masih terfokus pada Erdi yang juga menatap dirinya jauh lebih tajam dari tatapan Amara.


"Tolong katakan apa yang Bapak sembunyikan dari saya! Apa yang sudah Bapak lakukan dibelakang saya dan saya tidak mengetahuinya? Katakan!"


Amara berkata dengan suara yang sangat tinggi, ia menghempas tangan Daniel yang masih menggenggam erat tangannya.


"Bukan urusan mu!" Sahut Daniel datar, yang kemudian pergi berlalu begitu saja meninggalkan Amara.


Amara tidak terima dengan jawaban Daniel yang berusaha menutupi apa yang telah Daniel ketahui dan Daniel perbuat, hingga ia mengejar langkah Daniel dan menarik kuat lengan Daniel.


"Bukan urusan saya, Bapak bilang? Ini menyangkut hidup saya, Pak. Kenapa Bapak bisa bilang ini bukan urusan saya? Tolong jangan mempersulit hidup saya dengan Bapak ikut campur di masalah hidup saya yang sudah sangat rumit seperti benang kusut ini! Tolong!" Ucap Amara dengan suara bergetar.


"Semua yang saya lakukan hanya ingin melindungi kamu. Kamu wanita saya, saya berkewajiban memberikan perlindungan pada kamu." Balas Daniel dengan intonasi bicara yang di penuhi emosi yang berapi-api.


Ia tak dapat lagi meredam amarahnya yang terpendam.


Sementara Amara malah tersenyum sinis mendapati balasan Daniel atas ucapannya. Sedangkan Daniel malah menanggapi senyum sinis Amara dengan mengerutkan kedua alisnya. Ia merasa heran dan tak suka dengan respon wanitanya akan kata-katanya barusan.


"Saya tidak suka senyummu yang seperti itu Amara! Benar-benar menjengkelkan." Protes Daniel yang malah membuat Amara makin tersenyum sinis padanya.


"Entah harus bagaimana saya menyikapi ucapan Bapak? Haruskah saya bangga Bapak Claim dengan sebutan seperti itu? Atas dasar apa Bapak terus menclaim saya adalah wanita Bapak? Cintakah? Pasti tidak, bukan? Karena Bapak tidak pernah menyatakan perasaan apapun terhadap saya. Bapak hanya mengclaim saya sesuka hati Bapak sebagai wanita Bapak, tanpa kejelasan status hubungan kita seperti apa."


Jika tadi Amara yang tersenyum sinis, kini giliran Daniel yang tersenyum sinis kepada Amara.


"Kamu menuntut status dari saya?"


"Heh, rupanya kamu masih perduli dengan mereka. Apa rasa perduli kamu pada mereka ini, karena kamu masih memiliki rasa cinta untuk mereka hah?" Tanya Daniel sembari mencengkram lengan Amara.


Marah dan kecewa. Itulah yang Daniel rasakan, ketika Amara kembali mendesaknya mengatakan apa yang tak ingin ia katakan. Secuil rasa cemburu mengusik hatinya, jika Amara masih memiliki perasaan pada kedua laki-laki yang menjadi rivalnya saat ini.


"Saya masih cinta atau tidak, bukan urusan Bapak. Yang penting sekarang, saya harus tahu apa yang Bapak perbuat pada Kakak Ipar saya. Karena apa yang telah Bapak perbuat akan berdampak pada hidup saya." Ucap Amara yang kembali menghempas pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh Daniel.


Srekkk!! Bugh! Tangan Daniel terhempas dan mengenai bagian pintu depan mobilnya.


Kamu berbuat sekasar ini pada saya karena rasa peduli mu pada mereka Amara? Kamu telah mengecewakan saya dengan sikap kasar mu ini. Batin Daniel.


"Oh, jadi menurut mu, urusan hati kamu bukanlah urusan saya, begitu? Ok baik kalau kamu mau seperti itu. Fine. Mulai besok jangan lagi muncul di hidup saya. Tidak saya izinkan kamu untuk datang ataupun bekerja di perusahaan milik saya." Ucap Daniel dengan nada bicara penuh penekanan.


"Ok, baik saya tidak akan bekerja lagi diperusahaan Bapak, sesuai mau Bapak. Dan saya akan berusaha untuk tidak muncul lagi di kehidupan Bapak, baik sekarang atau pun ke depannya nanti. Tapi sebelum itu, katakan apa yang Bapak lakukan pada Kakak Ipar saya?" Sahut Amara dengan merasakan sesak di dada.


Bagaimana tidak, dengan kata-kata Daniel barusan yang ia dengar dan balasan yang ia berikan pada Daniel. Amara telah menyetujui kata-kata Daniel yang sudah mengusir dirinya dari kehidupan kedua orang yang baru saja memberikan dirinya kehangatan sebuah keluarga yang tak lagi ia rasakan, setelah kehadiran Erdi yang berhasil memporak-porandakan hidupnya yang bahagia.


Kamu menyetujuinya, baiklah jika ini mau mu. Saya akan melepaskan mu dan tak akan lagi perduli dengan hidup mu. Pers(e)tan dengan rasa sakit hatimu. Batin Daniel kecewa.


"Saya sudah meminta atasannya untuk membuang jauh dirinya dari kota ini, agar dia tidak lagi mengganggu hidup mu. Saya lakukan itu karena saya perduli pada kamu, karena kamu kemarin adalah wanita saya dan tidak untuk sekarang. Jika kamu ingin tahu juga apa yang saya lihat, ketika saya datang ke kantornya. Saya akan katakan sekarang juga, karena setelah ini saya tidak akan pernah bicara dengan kamu lagi Amara."


Karena kamu kemarin adalah wanita saya dan tidak untuk sekarang. Itu tandanya aku dan dia sudah berakhir. Hubungan tidak jelas ini akhirnya berakhir juga. Tapi kenapa rasanya begitu sakit dia bicara seperti ini pada ku,Tuhan? Aku terlalu bodoh karena terlalu banyak berharap pada dirinya yang tak akan pernah sudi mencintai diriku. Aku ini siapa? Aku ini bukanlah apa-apa baginya dan tidak ada artinya apapun baginya. Batin Amara pilu.


Lagi-lagi Amara harus kembali sadar telah kehilangan sandaran ternyaman dalam hidupnya beberapa bulan belakangan ini.


"Ya katakan saja, saya bersedia untuk mendengarkan Bapak bicara untuk terakhir kalinya pada saya." Sahut Amara dengan menitikan air mata yang tak dapat terbendung lagi.


Daniel sejenak terdiam, ia tak tega melihat air mata Amara yang turun dengan deras di hadapannya. Ingin ia minta maaf dan menarik ucapannya. Namun hal itu urung ia lakukan karena Amara kembali mendesaknya untuk bicara.


"Saya melihat Erdi baku hantam dengan atasannya, yang ternyata adalah Kakak dari kekasih mu. Dia memukuli Erdi membabi buta, karena kekasih mu sedang di rawat di rumah sakit. Dan bukan hanya itu yang menjadi alasan Kakak kekasihmu itu memukuli kakak iparmu, tapi karena selama ini Erdi terus memerintah kekasih mu untuk melakukan apa yang ia mau, semata-mata agar kamu dan kekasihmu berpisah."


Deg!


Jantung Amara terasa ingin berhenti saat mengetahui kenyataan, jika selama ini perubahan sikap Rendra yang kasar padanya karena ulah Erdi, mantan kekasih sekaligus kakak iparnya.


Amara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis dan menjerit tertahan. Amara merasa hidupnya sudah berhasil Erdi permainkan.


"Saya tidak mau menceritakan padamu, bukan karena ingin mengambil keuntungan dari masalah ini. Tapi saya tidak mau melihat kamu terluka seperti ini. Wajar jika saya berusaha menjauhkan Erdi dari hidup kamu, Amara. Karena saya ingin melihat kamu bahagia." Ucap Daniel yang kemudian memilih pergi meninggalkan Amara yang masih bersedih.