Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Camping Ground 3



Kini tiba saatnya mereka akan beristirahat di tenda yang superekslusif ini. Tenda yang tak pernah Amara nikmati ketika camping bersama teman kuliahnya dahulu.


Sebelum tidur Amara meminta Clara untuk menyikat giginya terlebih dahulu. Keduanya kini sibuk menyikat gigi mereka bersama di kamar mandi.


Terdengar gelak tawa dari keduanya yang sesekali bersenda gurau, menceritakan tentang banyak hal, terutama teman-teman Clara yang nampak iri dengan kemenangan Clara tahun ini.


Ketika keduanya asyik di kamar mandi, Daniel malah terlihat sibuk dengan ponselnya di atas ranjang. Entah dengan siapa ia bertukar pesan saat ini. Yang pasti ekspresi wajahnya makin muram.


Usai membersihkan gigi, Amara meminta Clara untuk berbaring di atas ranjang, di mana ia melihat Daniel sudah lebih dahulu tertidur di sana.


"Tidurlah di samping Papi mu, Clara. Semoga kamu mendapatkan mimpi yang indah sayang." Ucap Amara, kemudian mencium kening Clara.


Saat Amara ingin meninggalkan Clara, Clara menarik pergelangan tangan Amara.


"Mami, tidurlah di sampingku, malam ini. Boleh ya?" Pinta Clara dengan wajah memohon.


Amara terdiam memikirkan permintaan Clara, sejenak ia menatap wajah Daniel yang tertidur dengan alis yang terlihat berkerut. Sebuah tanda jika pria itu pergi tidur dalam suasana hati tak baik-baik saja.


Tidak. Aku tidak bisa tidur satu ranjang dengan mereka. Aku tak ingin melampaui batasanku yang bukan siapa-siapa bagi mereka. Bukankah sosok Mami yang ku emban hanya sebuah sandiwara. Aku tak ingin terus terlihat murahan di mata Pak Daniel. Batin Amara.


"Mami. Please! Kita hanya punya kesempatan satu kali bermalam bersama. Belum tentu hari ini akan datang kembali." Kembali Clara memohon dengan wajah memelas.


Merasa tak tega. Pada akhirnya Amara mengabulkan permintaan Clara.


"Tidurlah! Mami akan menemanimu."


Maafkan saya Pak Daniel. Maafkan kelancangan saya tidur satu ranjang dengan Anda. Batin Amara sembari menatap wajah Daniel yang tertidur.


Dengan terpaksa Amara naik ke atas ranjang. Berbagi selimut dengan putri Daniel. Ia meminta Clara berada di sisi Daniel dan juga dirinya. Sebelum pergi tidur, Amara mematikan lampu agar Clara dapat tertidur dengan nyenyak.


Selama berbaring bersama Amara, Clara terus memeluk erat tubuh Amara, seolah tak ingin Amara pergi meninggalkannya. Amara pun terus membelai rambut panjang putri Daniel itu dengan penuh kasih sayang.


Jujur, saat ini Amara jadi merindukan sosok sang Bunda di rumah. Karena ia mengingat bagaimana dirinya saat masa kecil dahulu. Selalu tertidur dalam dekapan sang Bunda yang senantiasa membelai rambutnya.


Di saat suasana tenda sudah dalam keadaan gelap. Daniel mulai membuka matanya. Sebenarnya Daniel memang tidak benar-benar tertidur, ia hanya memejamkan matanya. Ia sama sekali tidak dapat tidur jika tidak membuka pakaiannya. Di tambah kondisi perasaannya tengah tak baik-baik saja. Melihat sosok wanita di masa lalunya dan sebuah pesan dari orang dimasa lalunya, telah membuatnya berubah sikap pada Amara.


Setelah memastikan Clara telah tertidur. Amara yang tak ingin dianggap lancang dan mencuri kesempatan oleh Daniel, perlahan turun dari ranjang. Daniel yang sejak tadi memperhatikan Amara dalam kegelapan pun melihat gadis malang yang ia claim sebagai wanitanya pergi menjauh dari ranjang.


Amara membaringkan tubuh lelahnya di atas sofa. Ia segera memejamkan mata. Berharap tak akan terjadi apapun di saat ia terlelap nanti. Daniel yang tahu Amara tidur di sofa pun hanya membiarkannya begitu saja. Tanpa ingin mendekat apalagi mengganggunya.


Malam pun berlalu, sang fajar pun datang. Amara yang terlihat sangat lelah bangun paling lambat dari Daniel ataupun Clara. Ia bangun ketika merasa tubuhnya tertindih beban berat.


"Hemmm... Clara, kamu cukup berat," ucap Ara ketika ia mendapati Clara-lah yang menindih tubuhnya.


"Kenapa Mami pindah?"


"Ranjangnya terlalu sempit dan kamu tahu Mami kalau tidur tidak bisa diam. Itu pasti akan mengganggu tidurmu." Jawab Amara berbohong.


"Oh, ya. Berarti kita sama Mami." Sahut Clara yang terlihat senang memiliki kesamaan dengan Amara.


"Sedang mandi Mami," jawab Clara.


"Mandi? Memangnya sekarang jam berapa?" Tanya Amara.


"Jam tujuh pagi, Mami."


"Apa? Aku kesiangan. Bangunlah Clara! Kita harus bersiap-siap untuk acara penutupan camping sekolahmu dan bersiap untuk kembali pulan!" Amara sedikit mendorong tubuh Clara yang enggan bangun.


"Hemmm, aku tidak mau pulang. Aku masih betah di sini bersama Mami dan Papi." Tolak Clara yang terlihat jelas haus akan kasih sayang dan kehangatan keluarga.


"Clara, tidak bisa begitu sayang. Kita bisa camping lagi diakhir pekan depan nanti. Sekarang ayo bangun! Mami harus menyiapkan keperluan Papi mu. Apa kamu mau Papi marah dan meninggalkan kita di sini?"


"Ok baiklah. Mami selalu bisa membuat ku terpaksa menurut."


Pada akhirnya Clara bangkit dari tubuh Amara. Amara segera beranjak dan bergegas menyiapkan keperluan Daniel. Tak lama setelah Amara selesai menyiapkan keperluan Daniel. Daniel pun keluar dari kamar mandi.


Amara sama sekali tak melihat bagaimana kondisi Daniel saat keluar dari kamar mandi. Karena ia sibuk membereskan barang-barang dan pakaian kotor mereka.


Daniel yang melihat Amara meletakkan pakaiannya di atas ranjang langsung saja mengambilnya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk berpakaian.


Usai berpakaian Daniel tidak melihat Amara ada di dalam tenda, begitu pula dengan Clara, putrinya. Daniel segera keluar dari tenda, bukan untuk mencari keberadaan mereka berdua, tapi untuk meminum kopi di coffee shop yang tersedia di area Camping ground.


Sewaktu Daniel berjalan menuju Coffee shop. Daniel melihat Amara dan Clara tengah mengikuti kegiatan senam bersama.


Di sana rupanya kalian. Batin Daniel.


Di coffee shop, Daniel menikmati secangkir kopi susu hangat dengan sehelai roti lapis dan juga sebatang rokok. Cukup untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.


"Sepertinya, kamu tidur sangat nyenyak tadi malam Daniel." Ucap seorang wanita yang baru saja datang menghampiri Daniel.


"Bukan urusan mu." Jawab Daniel ketus.


"Ya, segala sesuatu tentang mu, memanglah bukan urusan ku lagi. Tapi segala sesuatu tentang Clara akan tetap menjadi urusan ku. Karena aku ibu yang melahirkan dirinya ke dunia ini." Jawab Hanna dengan suara yang pelan, namun cukup menekankan pada Daniel agar tak melupakan status dirinya sebagai ibu kandung Clara.


"Cih... Kamu bicara seperti ini, seakan kamu adalah sosok ibu yang baik untuk putri ku." Sahut Daniel sembari berdecih.


"Aku akan menjadi ibu yang baik, jika Mommy mu dulu tidak ikut campur dalam mengurus Clara dan juga mempengaruhi isi kepalamu." Sarkas Hanna yang berhasil memancing emosi Daniel.


"Tutup mulutmu Hanna! Jangan bawa-bawa Mommy ku untuk menutupi ketidak becusan mu." Geram Daniel hingga ia menggebrak meja dihadapannya.


"Kenapa? Kau tidak terima aku menyangkut pautkan Mommy mu? Buka mata mu, Daniel. Lihatlah kenyataan yang sebenarnya! Rasa cinta dan hormat mu yang berlebihan pada kedua orang tuamu. Telah membutakan mata mu. Sadarlah rumah tangga kita hancur bukan karena orang ketiga, tapi karena Mommy dan juga Daddy mu. Jika aku seperti yang dituduhkan Mommy mu. Mungkin aku sudah menikah dengan pria lain, mempunyai keluarga baru, bahkan anak-anak yang tak akan kalah lucu dan cantik seperti Clara, tapi aku apa? Sampai saat ini aku hanya fokus berjuang untuk mendapatkan hak ku sebagai seorang ibu. Bertemu dan memeluk putriku." Balas Hanna panjang lebar.


Daniel hanya membalas ucapan panjang lebar Hanna dengan sesungging senyum kecut. Merasa apa yang ia ucapkan tak akan membuahkan hasil Hanna pun kembali pergi meninggalkan Daniel.


Pers(e)tan dengan semua ucapan mu, Hanna. Sekalipun semua ucapan mu benar. Tapi tidak seharusnya kau menghina Mommy ku. Bahkan menyebutnya wanita jal(a)Ng, saat kau bertengkar dengan seseorang yang melahirkan ku ke dunia ini. Aku menceraikan mu, karena kau tak bisa berdamai dan mengalahkan ego mu terhadap kedua orang tua ku. Batin Daniel saat melihat kepergian Hanna.