Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Erdi Tumbang



Pagi hari yang tak biasa kembali terjadi di kediaman Pak Tomo. Kali ini bukan lagi Amara yang menjadi topik keributan ataupun kericuhan, di keluarga itu.


Melainkan kini, seorang ibu hamil yang tak lain adalah Novita. Ia tengah menangis meraung-raung di depan keluarganya. Ketika ia mendapati kabar, jika sang suami, Erdi dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri, setelah mendapatkan tindakan sanksi dari atasannya.


Ya, Erdi memang dilarikan ke rumah sakit oleh rekan-rekannya, setelah tak sadarkan diri semalam. Hal itu terjadi bukan karena Erdi kembali mendapatkan bogem mentah dari Bastian.


Tapi karena Erdi menolak semua makanan dan minuman yang disediakan dan diberikan oleh para rekan kerjanya. Padahal para rekannya sudah berbaik hati dan juga mengasihani keadaannya saat itu.


Namun Erdi yang tak mau dikasihani, karena harga dirinya yang menjulang terlampau tinggi, setelah ia mendengar sebagian dari para rekannya yang berdinas pagi bersama dengannya telah mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh Erdi pada adik Bastian, mulai mencemoohnya dengan menyindirnya secara terang-terangan.


Banyak yang menganggap Erdi adalah sosok anak buah yang tidak tahu diri, dikasih hati minta jantung. Kurang baik apa Bastian pada Erdi. Erdi yang juga menyukai motor besar. Selalu berkeinginan untuk memilikinya, namun apa daya. Ia tak bisa mudah dalam mendapatkannya. Karena ia harus membagi penghasilannya antara istri, orang tuanya dan juga sang adik yang kini kuliah di kota besar.


Erdi mendapatkan motor besar yang ia gunakan sehari-hari dengan harga yang sangat di bawah standar, ia membelinya bahkan tidak sampai seperempat harga dari motor itu. Bastian memberikan motor besarnya pada Erdi dengan harga sangat murah karena melihat kegigihan Erdi dalam bekerja, bahkan sering mencari pekerjaan sambilan diluar, hanya karena untuk memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya.


Tak jauh dari mulut wanita, sebagian besar pria yang bertugas malam juga melakukan hal yang sama seperti rekannya yang bertugas pagi hingga sore hari. Mereka yang tahu mengapa Erdi berada di dalam sel, malah memperolok-olok apa yang telah dilakukan Erdi pada keluarga atasannya itu, sengaja di depan sel di mana kini Erdi meringkuk merasakan sakit yang kini menderanya.


Praktis sejak siang sampai malam Erdi terus saja menolak belas kasih dan bantuan para rekan kerjanya, ia tetap mempertahankan harga dirinya yang sudah terinjak-injak. Hingga akhirnya pertahanan tubuh Erdi pun tumbang dan harus di bawa ke rumah sakit.


Kini Novita dan kedua orang tuanya, begitu pula dengan Chandra dan keluarga kecilnya. Segera mendatangi rumah sakit. Hanya Amara yang sama sekali tak mendapati kabar mengenai kondisi buruk Erdi saat ini. Ia seperti terbuang dan tersisih dari keluarganya sendiri.


Meski pun ia tahu akan hal ini, mungkin ia tak akan datang walaupun hanya sekedar menjenguk mantan kekasih yang berstatus kakak iparnya ini.


Sesampainya di rumah sakit Novita nampak begitu terkejut dengan penampakan wajah suaminya yang babak belur. Sekujur wajahnya dipenuhi luka memar dan beberapa luka sobek kecil karena cincin yang digunakan Bastian saat memukul, berhasil membuat guratan luka yang cukup dalam di wajah Erdi. Bahkan bentuk bibir Erdi seperti luka akibat diantok tawon.


[ Author jadi kebayang ya, jontornya kaya gimana bibir si Erdi. Hehehe....]


"Aa, kenapa bisa begini? Siapa orang yang tega melakukan hal ini pada Aa? Jahat sekali dia." Tangis Novita dengan suara yang memilukan. Ia menangis sembari memeluk tubuh suaminya.


Bukannya senang dengan tangis kepedulian sang istri. Erdi malah terlihat kesal dan juga takut. Ya, ia takut suara tangis dan caci maki istrinya terdengar di telinga Bastian. Menurut nya hal ini bisa saja memperburuk keadaannya.


"Berhentilah untuk menangisi Aa, Nov! Jangan buat masalah yang sedang Aa hadapi semakin besar dan runyam karena tangis mu. Kamu mau Aa dipecat?" Bisik Erdi ditelinga Novita sembari tersenyum kaku ke arah kedua mertuanya.


Erdi sengaja berbisik agar kedua mertua dan kakak iparnya tak mendengar kecaman yang ia layangkan pada Novita.


Saat mendengar kata dipecat. Novita seketika berhenti menangis. Ia tak ingin suaminya dipecat dari pekerjaan yang membuat dirinya memiliki derajat yang cukup tinggi di lingkungan rumah kedua orang tuanya, hilang begitu saja.


Aku tidak mau kamu dipecat Aa. Apapun masalah yang kamu hadapi saat ini. Aku tidak mau kamu dipecat. Jika kamu sampai dipecat, aku pasti akan menjadi bahan olok-olok dan bulan-bulanan mereka. Batin Novita. Ia segera menghapus air matanya.


Setelah berbicara dan membual beberapa saat untuk meyakinkan kedua mertuanya dan juga kakak iparnya. Jika telah terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan sang atasan. Akhirnya kedua orang tua Novita dan juga Chandra, pamit undur diri.


Tomo tak banyak bicara, apalagi bertanya. Ia hanya mengiyakan apa kata menantu yang sempat membuatnya merasa bangga. Tak jauh berbeda dengan Ratna yang sama sekali tak mau membuka suara, meskipun untuk sekedar bertanya mengenai kondisi sang menantu.


Tak lama berselang setelah mereka pergi, Novita pun diminta Erdi untuk kembali ke rumah kedua mertuanya. Ia mengatakan pada Novita, tidak baik bagi ibu hamil terlalu lama di rumah sakit. Erdi juga mengatakan jika dirinya sudah meminta sang adik untuk menemaninya selama mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Meski sempat menolak, Novita akhirnya mau menuruti perkataan suaminya. Karena benar saja tak berselang berapa lama dari ucapan yang baru diselesaikan Erdi, adik bungsu Erdi yang biasa dipanggil Cece pun datang.


Novita sedikit tak senang dengan kehadiran adik iparnya itu, karena sikap Cece yang terkesan selalu tidak bisa menerima baik dirinya. Hai inilah yang membuat Novita memutuskan lebih baik menuruti perintah suaminya daripada ia tetap bertahan dengan rasa tak nyaman.


Setelah Novita pergi meninggalkan suami dan adik iparnya yang tak begitu menyukainya itu. Cece mulai mengintrogasi sang kakak.


"Aa, berantem sama siapa? Kenapa sampai bonyok begini? Pasti Aa ngelakuin kesalahan besar."


"Iya, Aa ngelakuin kesalahan besar Ce. Tapi Aa tidak menyesal sama sekali melakukannya."


"Ihh, Ari Aa tuh kumaha? Seperti orang tidak waras saja. Mana ada orang yang sudah melakukan kesalahan besar sampai dibuat babak belur begini, tidak menyesal."


"Kamu tidak akan mengerti Ce. Pengorbanan cinta memang harus sesakit ini."


"Apa? Pengorbanan cinta mana yang Aa maksud? Jangan katakan ini karena perasaan cinta terlarang Aa sama Amara!"


"Tapi kenyataannya memang begitu."


Cece membulatkan matanya. Seketika api amarah berkobar di manik mata gadis cantik bertubuh mungil ini.


"Ihhh, si Aa. Atuh kalau Aa cintanya sama Amara. Kumaha atuh, nikahin Teh Novi? Jangan serakah mau dua-duanya. Ingat Aa, Aa tuh punya adik perempuan. Kalau adik Aa di giniin sama cowok lain, kumaha Aa? Apa Aa terima Kitu? Aa Ridho kitu Cece diperlakukan seperti mereka berdua?"


Erdi terdiam tak bisa menanggapi lagi ucapan Cece yang berapi-api.


"Lagi Aa teh kumaha, Aa itu sudah tidak pantas lagi sama Amara. Dia teh memang pantasnya sama Pak Rendra. Pak Rendra itu sayang sekali sama Amara. Amara juga sepertinya juga sayang sekali dengan Pak Rendra. Aa jangan ganggu mereka. Move on Aa, Move On!!!" Ucap Cece yang cukup menusuk relung hati Erdi. Apalagi dengan kalimat dan nada bicara memaksa.


Bahagia, dengan Rendra? Tidak. Aku tidak mau melihat mu bahagia dengan Rendra, Amara. Kamu harus bahagia bersama ku. Tidak dengan Rendra atau Boss mu itu. Erdi membatin sembari menitikan air mata


Tak boleh ada pria lain yang mengukir pelangi di hidupmu, Amara. Hanya aku yang bisa dan hanya aku yang boleh menghadirkan pelangi di hidupmu, setelah aku redupkan cahaya hidupmu karena kesalahanku. Lanjut Erdi yang terus menatap Cece dalam diam.


Cece adalah adik Erdi yang kuliah satu kampus dengan Amara, namun beda jurusan. Dengan bantuan Amara, Cece dapat bekerja part time di perusahaan milik keluarga Rendra yang dikelola oleh Rendra.


Perusahaan keluarga Rendra tidak sebanding dengan perusahaan keluarga Daniel yang hampir merajai seluruh sektor industri perdagangan dan jasa di negara ini.


Saat memasukkan Cece ke perusahaannya, Rendra sama sekali tidak mengetahui seluk beluk Cece. Ia sama sekali tidak perduli dan tidak mengurus hal recehan seperti itu.


Dahulu sebelum Erdi mengusik hubungan mereka, apapun permintaan Amara akan selalu dipenuhi oleh Rendra. Tak memandang betapa sulit Rendra harus melakukannya. Termasuk hal kecil, memasukkan Cece ke dalam perusahaannya.