Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Terpaksa mengambil jalan yang salah



Sore itu, tepat pukul 15.00 di perusahaan Angkasa Jaya. Daniel memanggil Amara ke ruangan kerjanya.


Amara yang dipanggil sudah mengetahui jika ia sudah harus bersiap membayar kebaikan Daniel padanya. Meski hatinya tidak baik-baik saja setelah membaca pesan dari Chandra.


Jujur saat ini Amara sudah menon-aktifkan ponselnya. Ia tak ingin diganggu oleh keluarganya yang selalu membuatnya kecewa.


Ceklek! Pintu ruangan kerja Daniel terbuka.


Daniel tersenyum manis melihat bidadarinya datang memenuhi panggilannya. Ia segera menekan remot kunci otomatis dari balik kursi kebesarannya. Dapat dipastikan tidak akan ada satupun orang yang akan mengganggu aktivitas mereka saat ini di ruang kerja Daniel.


"Ahhh, pegal sekali tubuhku ini sepertinya sudah sangat ingin dibelai oleh mu, sayang." Ucap Daniel yang langsung beranjak dari kursi kebesarannya, kemudian berjalan menuju sofa panjang yang biasa Amara dan Clara tempati.


Daniel membaringkan tubuhnya di atas sofa, setelah sebelumnya ia melepaskan jas kerja yang ia kenakan. Saat ini Daniel berusaha untuk terus menyembunyikan kesedihannya atas penolakan Tomo dengan lamarannya.


Bukannya mengusap-usap dan membelai tubuh Daniel seperti biasanya. Amara malah mencubiti tubuh Daniel. Ia kesal karena Daniel sangat pintar menyembunyikan sesuatu darinya.


"Arghh sakit, sayang." Rintih Daniel seraya menyilangkan tangannya di depan kedua dadanya.


"Ishh, katakan darimana Papi tahu, Ayah akan pulang dan harus dibayar tagihan perawatannya?" Tanya Amara yang tidak berhenti menyubiti Daniel.


"Aaa-aaa sakit, aku tahu dari pihak rumah sakit-lah dari mana lagi. " bohong Daniel yang dengan mudah dipercayai oleh Amara.


Mendengar jawaban Daniel yang ia percayai, Amara langsung saja memeluk tubuh Daniel.


"Makasih sudah berbaik hati padaku, Papi."


Meskipun aku tahu, mereka sudah melukai hatimu. Dengan menolak niat baik mu pada ku. Sambung Amara di dalam hatinya.


"Huumm sama-sama Maminya Clara yang galak." Sahut Daniel dengan gelak tawanya. Daniel kemudian membalas pelukan Amara dengan memeluk erat tubuh Amara tanpa ingin ia lepaskan.


Aku akan terus memeluk mu dengan erat, meski mereka akan berusaha memisahkan kita. Batin Daniel saat memeluk Amara.


Cukup lama mereka berpelukan. Daniel membiarkan Amara memeluk tubuhnya lebih lama tanpa menuntut lebih, meski dirinya ingin sekali melakukan hal lain selain sekedar pelukan.


Namun tanpa diduga, ketika Daniel memejamkan mata untuk menetralisir keinginannya. Amara malah mendaratkan kecupannya di bibir Daniel. Tak hanya itu Amara malah naik ke atas tubuh Daniel. Ia menyerang bibir Daniel dengan liarnya.


"Sudah nanti aku bisa kebablasan! Kamu tidak usah melakukan yang itu, aku hanya perlu usapan tanganmu di punggung ku, seperti biasanya." Ucap Daniel yang berusaha menghentikan aksi Amara. Ia mendorong tubuh Amara untuk menyingkir dari atas tubuhnya.


Namun Amara yang masih menginginkannya, sama sekali tidak mau menyingkir. Ia malah kembali mendaratkan kecupan buasnya di bibir Daniel.


Hamili aku, agar kita tidak terpisahkan. Jangan bicarakan tentang dosa dan kesepakatan kita! Kerena keadaan yang membuat kita harus melakukan dosa ini. Batin Amara yang mulai berpikir dangkal.


"Jangan salahkan aku, jika aku kebablasan ya!" Ucap Daniel yang kini malah membalikkan posisi Amara.


Kini Amara berada di bawah kungkungan Daniel. Daniel melucuti pakaian yang Amara kenakan, tanpa melepaskan pangutan pada bibir Amara.


Amara terus melenguh, menikmati sentuhan Daniel yang memabukkan dan membuat gair(a)hnya membuncah.


"Ahhhh...." lenguh Amara saat Daniel sedikit menyesap bagian Curug lehernya. Daniel terus menciptakan tanda kepemilikan yang cukup banyak di sana.


Kecupan Daniel semakin lama, semakin turun ke area bawah. Tubuh Amara terus bereaksi dengan sentuhan yang diberikan Daniel. Namun saat Amara berharap Daniel melanjutkan sentuhannya. Daniel malah menghentikannya. Ia teringat dengan kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya.


Mata Amara sedikit membola saat Daniel kembali menutup bagian tubuhnya yang terekspos.


"Cukup sampai di sini saja sayang, aku tidak mau mengingkari kesepakatan kita," ucap Daniel yang segera beranjak dari atas tubuh Amara.


Amara yang sudah takut kehilangan Daniel akhirnya tanpa ragu menyusul kepergian langkah kaki Daniel yang sedang menuju kamar mandi, untuk menuntaskan hasratnya seorang diri seperti biasanya.


Amara menarik tubuh Daniel hingga tubuh Daniel berbalik menghadapnya.


"I want you," ucap Amara sembari membuka kemeja kerja Daniel yang sudah nampak berantakan.


"Tidak, sayang." Ucap Daniel yang berusaha menolak.


"Kali ini aku tidak menerima penolakan mu Papi." Sahut Amara seraya menyusuri dada bidang Daniel dengan jemarinya.


"Amara...." Daniel mend(e)sah dengan mata terpejam menikmati setiap sentuhan jemari Amara dan juga kecupan dari bibir mungil yang selalu menjadi candu untuk Daniel, terus tanpa henti dihujani oleh Amara.


Amara terus menyusuri bibirnya ke dada dan bahu Daniel, mengecupi setiap inci bagian tubuh Daniel hingga Daniel menger(a)Ng nikmat. "Eeeghhh.... Amara... Sayang!"


"I want you," bisik Amara di telinga Daniel kemudian mengecupnya.


Daniel kembali menger(a)ng dengan apa yang dilakukan Amara. "Eeeghhh... me too.." balas Daniel dengan mata yang terpejam, ia begitu menikmati sentuhan Amara pada tubuh atletisnya.


Aku seperti jal(a)ng saat ini karena keadaan, agar kita tidak terpisahkan oleh mereka yang selalu tidak mengerti bagaimana perasaan ku. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa mu dan Clara yang selama ini memberikan ku kehangatan sebuah keluarga yang tidak lagi aku dapatkan dari mereka. Batin Amara lirih.


Dengan gerakan cepat, Amara mengarahkan Daniel ke kamar pribadi Daniel yang tersembunyi di balik rak buku. Tanpa melepaskan pangutan bibirnya.


Amara mendorong tubuh Daniel, hingga kini tubuh duda tengil ini terbaring telentang di atas ranjang. Amara segera naik ke atas tubuh Daniel. Ia duduk tepat di atas junior Daniel. Kemudian melanjutkan kembali mengecupi setiap inci tubuh Daniel.


"Kamu milikku, hanya milikku," ucap Amara kembali berbisik di telinga Daniel.


"Ya, aku ini milik mu. Nikmatilah milik mu ini sayang." Balas Daniel sembari meng(e)rang nikmat. Kabut gairah telah membutakan akan sehat Daniel, hingga melupakan kesepakatan yang telah mereka buat.


"Ini permainanku, dan hanya aku yang boleh memimpin permainan kita kali ini. Ingatlah selalu di dalam otak mu ini Tuan Daniel Prayoga yang terhormat. Hanya aku yang boleh menyentuhmu, tidak dengan wanita lain. Aku akan mengutuk juniormu mati suri saat bersama wanita lain selain diriku." Kecam Amara yang membuat Daniel tersenyum.


Melihat Daniel hanya tersenyum, tanpa mengiyakan ucapannya. Amara lantas menggigit-gigit kecil daun telinga Daniel dan kemudian menjil(a)tinya.


"Eghhh...Amara cukup!" Daniel meng(e)rang sembari mencengkram erat seprai putih yang menyelimuti ranjang tidurnya.


Seakan tak perduli dengan er(a)ngan Daniel. Amara terus saja mengecupi bagian perut Daniel dan sedikit menggesekkan milik Daniel yang sudah menegang, mengeras dan membesar di balik celana kerja yang ia kenakan.


Daniel kembali menggeram, berusaha menahan diri dari permainan Amara yang tidak ingin terganggu, padahal ia sudah tak tahan ingin segera melakukan penyatuan.


Saat tubuh Amara sedikit naik untuk kembali menciumi bibir Daniel, Daniel membuka bagian bawah miliknya yang sudah terasa sesak dengan cepat


"Aku sudah tidak tahan, kamu menyiksaku dengan power pl(a)y yang terlalu lama."


"Ahhh..." lenguh Amara, karena Daniel sudah menancapkan miliknya ke bagian inti Amara.


Keduanya sama-sama membola, merasakan sesuatu yang sedikit berbeda dan janggal. Seperti ada benda asing selain milik Daniel di dalam bagian inti milik Amara.


"Papi, apa kemarin rasanya sama seperti ini?" Tanya Amara saat menari-nari di atas milik Daniel.


"Tidak, aku seperti merasa ada sesuatu yang berbeda pada milik mu saat ini Mami." Jawab Daniel sembari menikmati tarian er(o)tis Amara di atas miliknya.


Amara terdiam sejenak mendapatkan jawaban dari Daniel.


"Bergeraklah, aku hampir sampai. Kita akan periksakan setelah ini." Pinta Daniel yang sudah tak tahan lagi.


"Tidak, jangan urus ini dulu. Aku ingin kita segera menikah hari ini juga." Tolak Amara yang membuat Daniel terkejut.


Bagaimana tidak terkejut, selamat ini Amara selalu menggantung dirinya untuk menunggu kedua orang tuanya. Tapi sekarang Amara malah meminta ia menikahinya saat ini juga.


"Apa kamu sudah mengetahuinya sayang?" Tanya Daniel yang curiga jika Amara sudah tahu penolakan Ayahnya akan lamaran Daniel.


Amara mengangguk sembari terus menari-nari di atas milik Daniel.


"Hamili aku seperti rencana awal mu Papi. Aku tidak ingin terpisah darimu dan Clara. Karena kalian berdua adalah hidupku." Ucap Amara yang seperti menyerahkan dirinya pada Daniel.


"Akan aku lakukan sesuai permintaan mu sayang. Aku pun tidak ingin dipisahkan oleh mu." Sahut Daniel yang kini membalikkan tubuh Amara.


Daniel yang kini memimpin permainan panas mereka. Amara terus mend(e)sah, menikmati puncak kenikmatannya berkali-kali, hingga Amara tumbang dan terlelap dalam tidurnya.


"Anto, tolong siapkan pernikahan saya di Bali dengan Amara! Kau tahu harus berbuat apa sekarang bukan?" Perintah Daniel pada Anto yang sudah ada di ruang kerja Daniel.


"Baik Pak, saya tahu apa yang harus saya lakukan." Jawab Anto mengangguk paham.


"Bagus. Sekarang tolong siapkan pesawat dan penginapan untuk aku dan Amara! Beritahu keluarga ku setelah semuanya siap." Perintah Daniel lagi.


"Baik Pak, saya akan segera melaksanakannya." Jawab Anto kembali menyanggupi perintah dari atasannya.


Kira-kira jadi gak yah Amara di halalin...


jangan lupa tinggalin vote, komen, like dan recehan kalian ya hahahaha... Canda recahan...