
"Kurang ajar, ternyata dia hampir menjebak saya dengan kehamilannya yang tidak saya ketahui. Pantas saja dia minta break lalu menghilang begitu saja berbulan-bulan. Pandai sekali kamu mengelabui saya Tara." Geram Daniel dengan membanting amplop coklat yang berisi bukti-bukti kebusukan Tara.
Terdapat hasil tes DNA anak yang di kandung Tara, yang menyatakan anak perempuan yang dilahirkan Tara bukanlah putrinya, melainkan putri seorang pria asing yang menjadi kekasih gelap Tara selama ini.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang PaK Daniel?" Tanya Anto setelah selesai merapikan bukti-bukti kebusukan Tara yang berserekan di lantai.
"Anto. Apa keluarganya mengetahui akan hal ini?"
"Tentu Pak. Saat Nona Tara melahirkan mereka datang untuk mendampingi."
"Lalu di mana keberadaan putrinya itu sekarang?" Tanya Daniel lagi.
"Sesuai perjanjian yang dibuat oleh kekasih gelap Nona Tara. Nona Tara hanya akan melahirkan putrinya tanpa mau merawatnya. Jadi anak itu sekarang berada bersama dengan Bapak biologisnya." Jawab Anto sesuai dengan apa yang ia ketahui.
"Gila. Ibu macam apa dia itu. Sial. Bagaimana bisa saya pernah mencintai wanita macam dia itu? Lakukan apa yang harus kamu lakukan Anto. Keluarkan taring mu untuk menumpasnya orang-orang yang hampir menipu saya dan keluarga saya!" Pungkas Daniel.
Dalam waktu dua jam, saham perusahaan milik keluarga Tara anjlok. Mereka hampir terancam bangkrut. Tara mulai mencari keberadaan Daniel yang sulit untuk ditemui. Ia datang untuk meminta bantuan Daniel menstabilkan saham perusahaan milik keluarganya. Yang tidak ia ketahui jika saham perusahaan keluarganya anjlok karena ulah Daniel sendiri.
Sementara Tara sibuk mencari-cari Daniel. Daniel terus menghabiskan waktu bersama Amara dan Clara. Seolah pernikahan antara Amara dan Rendra tidak pernah terjadi.
Setelah seratus hari kepergian Tomo. Riana kembali ikut tinggal bersama Novita, di tanah kelahiran Erdi. Selain untuk membantu mengasuh putra Novita. Maksud Riana ikut tinggal dengan Novita, agar ia tidak terus teringat dengan mendiang suaminya.
Riana sama sekali tidak mengetahui kondisi pelik rumah tangga yang tengah di hadapi putri bungsunya, yang sama sekali belum menemukan titik temu. Kedua kakak Amara sengaja tidak memberitahukan masalah yang tengah dihadapi Amara, agar tak menambah beban kesedihan Riana yang baru saja ditinggal oleh Tomo.
Chandra sebagai anak laki-laki satu-satunya, yang seharusnya menggantikan posisi Tomo, terlihat acuh tak acuh dengan permasalah yang dihadapi oleh Amara.
Ia sama sekali tidak memihak pada Rendra ataupun pada Daniel. Ia sengaja melakukannya demi mencari posisi aman untuk dirinya sendiri.
Sementara Erdi, tak lagi mengganggu Amara karena mendapatkan ancaman langsung dari Nyonya Anne yang menemuinya.
"Saya tidak perduli, siapa kamu. Sekali saja saya lihat dan dengar kamu masih mengusik masalah pribadi putra saya dan Amara. Saya tidak akan main-main untuk menghancurkan masa depan adik perempuan mu, keluarga kamu dan terutama kamu, Erdi!" Ancam Nyonya Anne yang menemui Erdi di pemakaman Tomo kala itu bersama dengan suaminya Tuan Cristiano.
Semenjak saat itu Erdi sama sekali tidak bersuara, atau pun mengganggu Amara. Ia tidak ingin bermain-main dengan Nyonya Anne yang terkenal kejam.
Usai kepergian Riana ke tanah kelahiran Erdi. Amara kembali tinggal di tempat kosannya. Ia menolak untuk tinggal bersama dengan Rendra. Rendra tidak dapat memaksa Amara untuk tinggal bersamanya, karena sang Mami melarangnya dengan keras untuk memaksa Amara tinggal bersama dengan mereka.
Selama seratus hari itu, Amara sama sekali tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Meski ia sudah dinyatakan tidak hamil oleh seorang Dokter Obgyn. Amara selalu menolak saat Rendra ingin menyentuhnya.
Sakit, ya sakit rasanya hati Rendra mendapati penolakan Amara. Amara seakan menjaga tubuhnya hanya untuk Daniel. Suami yang belum halal menyentuhnya.
Meski Amara bersikap dingin dan tidak menganggap dirinya sebagai suami, yang nyatanya sangat sah secara agama untuk mengaulinya. Rendra terus berusaha menjadi suami yang baik untuk Amara.
Ia tetap menafkahi Amara, meski semua nafkah yang Rendra berikan hanya Amara simpan di laci nakas kamarnya.
Di sisi lain Rendra dan Bastian terus berusaha mengungkap pernikahan Amara dan Daniel yang menurut mereka cacat hukum.
Namun usaha mereka selalu saja menemukan jalan buntu. Setelah Bastian selidiki. Musuh mereka bukan hanya Daniel. Tapi juga Thomas, sahabat Amara yang terus menjadi penghalang usaha Rendra dan Bastian untuk melegalkan pernikahan Rendra dan Amara.
"Musuh mu bukan hanya Daniel, Ren. Sahabat istri mu ternyata adalah musuh dalam selimut. Selama ini ternyata dia mendukung Daniel. Dua anak penguasa itu berkomplot untuk mematahkan usaha mu. Sekarang Abang serahkan keputusan padamu. Sampai mati pun kita tidak akan menang melawan mereka." Ucap Bastian yang akhirnya merasa patah arang.
Rasa cinta Rendra yang begitu besar pada Amara. Membuatnya nekat merendahkan harga dirinya untuk menemui Thomas dan memohon untuk berhenti membantu Daniel.
"Aku tahu kamu mencintai istriku sejak lama. Dan aku selalu membiarkan kalian dekat, karena istriku sangat nyaman bersahabat bersama mu. Aku pun tahu kamu tidak menyukai aku menikah dengan Amara bukan? Tapi tolong aku Thom, berhentilah membantu Daniel. Aku sangat mencintai istriku. Biarkan aku bersatu dengannya." Ucap Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya. Semua yang kamu katakan memang benar. Aku tidak menampik akan hal itu. Satu hal yang perlu kamu ketahui Ren. Yang mencintai Amara tidak hanya kamu saja. Ada aku dan juga Dokter Frans, kakak sepupu Tiara. Kami berdua mencintainya, juga ingin memilikinya. Tapi apa daya kami, ketika Amara hanya mencintai Daniel. Daniel adalah hidupnya, Daniel adalah nafasnya. Memisahkan mereka sama saja, kamu menginginkan Amara mati. Hanya Daniel yang bisa memberikan dia kebahagiaan. Apa kami harus terus memaksakan perasaan Amara dengan ego kami yang ingin memiliki Amara? Tidak Ren. Cinta tidak seperti itu." Jawab Thomas panjang lebar.
Rendra terdiam mendengarkan jawaban Thomas.
"Banyak jurang yang memisahkan cinta mereka. Tapi Daniel berusaha untuk tetap mempertahankan Amara. Apa kamu tidak lihat perjuangannya? Jangan berpura-pura buta dan tuli hanya karena keegoisan mu ingin memiliki Amara yang nyatanya sudah berpaling darimu!Apa sebagai laki-laki yang juga mencintai Amara, hatimu tidak tertampar dengan kegigihan Daniel? Apa sampai hati kamu mematahkan usaha Amara untuk menggerakkan hati dan keyakinan Daniel? Sebagai seorang laki-laki, kamu pasti tahu Ren. Betapa tidak mudahnya untuk berpindah keyakinan? Hargai mereka Ren, hargai cinta mereka dengan tidak memaksakan kehendak mu. Apa tidak cukup dirimu melihat Amara hidup menderita? Apa dengan dia bersama mu, kamu bisa melindungi dia dari kakak iparnya yang masih menyimpan rasa dengannya?" Lanjut Thomas yang memberondong Rendra dengan pertanyaan yang menampar dirinya.
Rendra sama sekali tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Thomas. Ia merasa terlalu kerdil saat mendapati pertanyaan Thomas yang menyadarkan dirinya. Betapa tidak pantasnya dirinya untuk mendampingi Amara.
"Kamu tidak perlu berusaha menjawab semua pertanyaanku ini, Ren. Karena aku tahu, kamu tidak sanggup untuk menjawabnya. Ingatlah Ren tidak selamanya cinta harus saling memiliki. Melihat orang yang kamu cintai bahagia, juga akan membuat mu bahagia. Diluar sana aku yakin, ada seorang wanita yang akan Tuhan takdirkan untuk mu, meskipun itu bukan Amara." Tukas Thomas yang kemudian pergi meninggalkan Rendra.
Kira-kira gimana nih, si Rendra auto sadar apa masih kekeh ya pengen sama Amara.
Cus pantengin episode-episode terakhir Novel aku..
Jangan lupa tinggalin vote, like dan komentar kalian ya.