Don'T Leave Me This Way

Don'T Leave Me This Way
Pagi yang mengejutkan



Dikediaman Tomo pagi ini.


Novita memandang curiga dengan pemandangan luka di wajah tampan suaminya. Ia tak henti memandang sinis wajah suaminya yang terlihat santai menyantap sarapan paginya.


Tomo yang baru saja selesai bersepeda pagi ini, dan baru saja duduk di meja makan. Begitu terkejut dengan luka lebam pada wajah menantu kebanggaannya ini.


"Kenapa wajahmu Er?"


"Berkelahi dengan maling di jalan Yah." Jawab Erdi berbohong dengan santainya.


Lebih tepatnya maling cintaku, Yah. Tambah Erdi di dalam hatinya.


"Oh ya. Kuat juga maling itu mukul kamu ya. Sampai bengep begitu. Rajin olahraga pastinya itu malingnya." Ucap Tomo yang makin menambah kedongkolan Novita.


"Pasti kamu berantem sama Rendra di belakang aku, Aa. Kamu masih ada hati sama Amara. Tega kamu Aa. Aku sudah mau melahirkan buah cinta kita, kamu malah masih belum bisa melupakan perasaan kamu sama adik aku." Batin Novita yang selalu dipenuhi kecurigaan.


Novita memang selau mengira luka lebam yang ada di wajah suaminya akibat perkelahian antara suaminya dengan Rendra, kekasih sang adik. Padahal kenyataannya tidak demikian.


Andai Novita tahu suaminya berkelahi dengan Daniel, entah apa yang akan terjadi pada rumah tangganya yang di mulai dengan sebuah kesalahan ini.


Ya, pernikahan keduanya adalah sebuah kesalahan. Di mana keduanya membangun biduk rumah tangga di atas penderitaan Amara yang merupakan adik kandung Novita sendiri. Tak sepantasnya mereka berdua menyakiti Amara dengan begitu kejam.


Usai sarapan, Erdi yang masih harus pergi dinas pagi ini pun diantarkan Novita seperti biasanya hingga ke halaman depan rumahnya.


"Kamu kenapa cemberut begitu? Gak baik suami mau berangkat kerja di cemberutin kaya gitu De," tanya Erdi yang sudah berada di atas motor gedenya.


"Gimana Dede gak cemberut, pasti Aa bonyok kaya gini berantem sama Rendra kan? Aa masih ada hati sama Amara. Tega sekali kamu Aa sama Dede. Anak kita sudah mau lahir, kamu malah masih kaya gini. Apa lebih baik Dede dan anak kita mati aja? Supaya kamu sama Amara bisa bersatu gitu." Cetus Novita sembari menitikan air mata yang menjadi senjata ampuhnya meluluh lantahkan perasaan Erdi.


"Jangan ngomong kaya gitu Dede! Kamu jangan terus-terusan nuduh Aa masih punya perasaan sama adik kamu. Aa sudah bilang 'kan kalau luka Aa ini karena berkelahi dengan maling di jalan. Kalau kamu gak percaya dengan alasan yang Aa berikan ke kamu. Kamu bisa hubungi saja Rendra, yang kamu tuduh berkelahi sama Aa, kamu video call dia kalau perlu, supaya kamu bisa pastikan apa dia punya luka lebam kaya Aa begini?" Jawab Erdi yang pandai menyakinkan Novita.


Novita yang yakin dengan perkataan suaminya segera saja memeluk tubuh kekar suaminya. Ia merasa bersalah telah menuduh suaminya yang tidak-tidak.


"Maafin Dede ya Aa. Dede begini karena terlalu sayang dan cinta sama Aa. Dede takut Aa berpaling dari Dede dan anak kita." Ucap Novita sembari terisak di dalam pelukan Erdi.


"Itu tak akan pernah terjadi. Aa sangat mencintai Dede." Balas Erdi dengan bualannya dan bodohnya Novita dengan mudahnya percaya dengan kata-kata manis suaminya.


Sementara itu di apartemen Daniel.


Cahaya matahari yang malu-malu masuk dari jendela kamar apartemen Daniel membuat Amara menggeliat malas di ranjang tidur Daniel.


Ya, ranjang tidur Daniel, di mana dirinya tengah berbaring dengan memeluk dada bidang si pemilik ranjang. Alih-alih beranjak bangun dari tidurnya, Amara malah mengeratkan pelukannya pada dada bidang Daniel yang ia anggap sebagai guling.


Sedikit demi sedikit bulu mata lentik Amara terbuka bersamaan dengan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Kelopak mata Amara yang terbuka pun menampilkan bola mata coklat karamel yang indah namun menyimpan berjuta kesedihan di dalamnya.


Pandangan Amara mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Amara sadar betul bahwa dirinya berada di kamar yang sangat asing baginya.


Ia terpanjat bangun dari ranjang tidur yang ia tempati semalam bersama Daniel. Saat ia sadar bukanlah guling yang kini ia peluk, akan tetapi tubuh atasan sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Atasan yang selalu membuat detup jantungnya bergemuruh.


"Au..." Rintih Amara. Ketika gerakannya yang tiba-tiba itu membuat jarum infus yang menempel di punggung tangannya terlepas dengan selang infus yang tersambung dengan jarum tersebut.


Daniel yang ikut terkejut dan terbangun dari tidurnya segera loncat dari ranjang tidurnya dan berlari ke arah Amara. Ia menekan punggung tangan Amara, guna menghentikan darah yang keluar begitu deras dari tangan Amara.


Ia membawa Amara ke kamar mandi. Membersihkan tangan Amara dan mencabut jarum infus yang masih menancap di tangan Amara dengan hati-hati.


"Au... Sakit, Pak." Rintih Amara lagi.


"Tahan, ini hanya sakit sebentar Amara." Balas Daniel yang kemudian menutup lubang bekas jarum infus di tangan Amara dengan sebuah plester karakter yang lucu milik sang putri.


"Sudah." Ucap Daniel yang kemudian meninggalkan Amara begitu saja di kamar mandi.


Amara menatap punggung Daniel yang pergi meninggalkannya begitu saja. Pria itu mendadak bersikap dingin setelah selesai memplaster punggung tangannya.


Di depan wastafel, di mana ia berada saat ini. Amara terkejut dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.


"Gue pakai baju siapa nih? Baju Pak Daniel kah ini? Siapa yang ganti? Gak mungkin gue, pasti dia dong. Astaga dia udah liat semua dong! Hadduh mau kemanain nih muka." Amara sibuk bermonolog di depan cermin sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Mau sampai kapan kamu di sana? Kemarilah!" Ucap Daniel yang tengah berdiri di ambang pintu kamar mandi.


Tanpa menjawab Amara segera menghampiri Daniel.


"Pak, kenapa saya ada di sini? Seingat saya, saya ada di club malam bersama Mba Tri dan ____" ucapan Amara terpotong oleh Daniel yang menyelanya.


"Dan Kakak iparmu yang memiliki perasaan dengan mu. Bukan begitu?" Sela Daniel yang seketika membuat ekspresi wajah Amara berubah murung.


Amara terdiam, tak lagi mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Kenapa diam? Apa saya salah bicara?" Tanya Daniel yang tak peka jika Amara tengah bersedih karena ia menyinggung tentang pria yang tak ingin ia dengar.


"Pak Daniel, terima kasih atas kebaikan Bapak tadi malam. Pastinya Bapak telah menolong saya. Dan mungkin saya bisa ada di sini karena kebaikan hati Bapak yang membawa saya. Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih pada Bapak. Entah dengan apa saya bisa membalas kebaikan Bapak terhadap saya. Terlepas dari itu saya rasa sekarang saya harus pamit. Permisi. Mohon maaf karena mungkin semalam saya sudah merepotkan hidup Bapak." Ucap Amara dengan suara bergetar.


Amara yang melihat tas ranselnya berada tak jauh dari meja rias pun segera menghampirinya. Namun baru satu langkah ia berjalan dari posisinya. Lagi-lagi Daniel memeluknya dari belakang.


"Kamu tidak boleh pergi. Tetaplah bersama saya Amara. Tolong obati luka hati saya dan saya akan melindungi kamu dari semua orang yang ingin menyakitimu. Saya bersedia menjadi sandaran hidupmu."


Deg!


Detup jantung Amara kembali bergemuruh dan Daniel mendengar detup jantung Amara yang bergemuruh itu. Tak hanya Amara yang merasakan detup jantung bergemuruh begitu pula dengan Daniel. Hanya saja Daniel dapat menutupi dan meredamnya, agar Amara tak mengetahuinya.


"Jangan tolak saya! Karena saya tidak bisa menerima penolakan mu Amara." Ucap Daniel saat Amara mulai berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Daniel.


"Lepas Pak! Saya ini punya seorang kekasih dan saya sangat mencintai kekasih saya." Tolak Amara dengan suaranya yang lirih.


Ada rasa teriris pedih ketika ia menolak permintaan Daniel, demi Rendra yang telah mengecewakan hatinya.


"Saya tidak perduli. Saya rela menjadi yang kedua, ketiga, keempat bahkan keseratus. Asal kamu tetap bersama dengan saya."


"Jangan paksa saya Pak! Saya orang yang tidak bisa dipaksa."


"Dan saya orang yang tidak bisa di tolak. Please, stay with me Amara." Balas Daniel sembari menciumi pucuk kepala Amara.